Episode 4. Kehilangan ponsel
Melihat mas Aryo yang tengah terlelap dalam buaian mimpi membuat hatiku berdesir, ada rasa yang tak bisa kuungkapkan, antara jengkel, sedih dan iba.
Jengkel karena dia tidur di sofa ruang tamu yang baru saja kubeli, iba karena aku dia jadi seperti ini. Jika dulu wajahnya begitu manis saat dipandang, mengapa sekarang malah memprihatinkan? Cenderung membosankan, huh!
Tubuhnya yang menua seiring usianya yang memang tak lagi muda itu membuatnya terlihat begitu ringkih.
Padahal dulu tubuh itu begitu sempurna, bahu yang dulu kekar tempat ternyaman saat berduaan, kini hanya tinggal tulang dibalut kulit yang bergelambir, tak ada lagi sisa-sisa ketampanan pada wajahnya yang dulu begitu putih bak pualam, sekarang berubah warna menjadi hitam legam, karena saban hari ditempa panasnya sinar matahari dan beratnya pekerjaan. Rambut yang dahulu selalu rapi terawat kini panjang tak beraturan dan berubah warna.
"Harusnya tak begini Mas, jalan hidupmu." Batinku.
Tak terasa setetes bulir bening meluncur tanpa permisi dari sudut mataku, dadaku terasa sangat sesak, ingin rasanya aku teriak tapi aku tak tahu apa penyebabnya.
Ya Allah ... Rasa apa ini, kenapa rasanya sangat menyiksa, ku akui selama ini diriku bukanlah istri yang baik untuknya tapi kenapa justru aku yang merasa sedih saat melihat dirinya seperti ini. Rasa apa sebenarnya ini?
Aku sangat bingung dengan perasaanku, meskipun rasa cintaku sudah lama luntur, tapi kenapa rasanya sedih saat melihatnya seperti ini.
Mungkin rasa bersalah, karena aku telah menduakannya atau rasa penyesalan karena membuatnya seperti ini, jika aku tak hadir di antara dia dan istrinya dan menghancurkan rumah tangga mereka mungkin saat ini mas Aryo masih bersama dengan keluarganya.
Dan sekarang setelah mas Aryo tak lagi mampu menjalankan perannya sebagai suami dan ayah yang baik.
Aku dengan tak tahu malu berselingkuh dibelakangnya. Ada apa denganku? Kenapa aku menyesalinya? Kenapa baru sekarang?
"Maafkan aku mas, aku bukanlah istri yang baik untukmu." lirihku yang hampir tak terdengar.
Derttttt ... derttttt.
Sebuah notifikasi pesan muncul di gawaiku, seolah menyadarkanku dari lamunan masa lalu. Akupun bergegas membuka pesan itu dan membacanya, ternyata pesan dari Mas Bob yang memintaku untuk menemuinya di warung.
Entah kenapa setiap kali menerima pesan darinya moodku seketika membaik.
Kutinggalkan mas Aryo yang masih terlelap dalam buaian mimpinya, biarlah dia beristirahat dulu. Tak tega aku pun membetulkan selimutnya yang sempat terjatuh dilantai segera kupungut kain itu kemudian menyelimutkannya ketubuh mas Aryo.
Sejenak menoleh kecermin yang menyatu dengan meja rias dekat kursi tempat mas Aryo tertidur.
Melihat pantulan wajahku sendiri, ada jejak kesedihan disana, tak ingin buang waktu akupun segera memoleskan sedikit makeup untuk memaksimalkan tampilan wajahku. Tak lupa pula memoles bibirku dengan warna favorit Mas Bob, merah cabe.
Aku sangat menikmati perubahan wajahku, berkat uang pemberian Mas Bob aku mampu membeli satu paket lengkap skincare yang bagus dan aman untuk kugunakan. Tak ada lagi drama perih dan mengelupas pada kulit wajahku, aku sangat puas.
Aku juga memakai rangkaian body care yang membuat perubahan pada warna kulitku, aku tak peduli dengan biayanya yang harus dikeluarkan Mas Bob. Aku tak pernah memintanya, dia sendiri yang menawarkan, apa salahnya kuterima.
Setelah membubuhi sedikit bedak diwajah putihku tak lupa pula kusemprotkan parfum keseluruh tubuh ini karena Mas Bob sangat menyukai perempuan yang wangi.
Kalau sudah tampil begini apapun yang ku minta pasti dengan mudah dikabulkannya, apapun itu. Masalah penampilan aku juga sudah mulai mengikuti trend fashion masa kini masalah harga aku tak pernah tahu karena semuanya mas Bob yang tanggung.
Aku tak habis pikir, uang mas Bob itu banyak tapi kenapa dia tak mencari wanita yang singel saja. Apa dia tak ingin berkeluarga, punya anak misalnya?
Ah ... Bodo amatlah, bukan urusanku juga yang penting saat ini duitnya selalu mengalir untukku.
Setelah penampilanku sempurna akupun bergegas menemui pangeranku, begitu melihatku datang Mas Bob segera menunjuk kearah mobilnya yang artinya kami akan pergi, akupun bergegas masuk kedalam mobilnya.
Sepanjang perjalanan Mas Bob tak henti-hentinya memandangku, membuatku semakin salah tingkah. Pujian serta rayuan yang terlontar dari mulutnya semakin membuatku tersipu. Sesekali tangannya terulur mengelus serta mencubit pipiku, cubitan kecil itu sukses membuatku deg-degan.
Aku seakan kembali ke masa-masa muda dulu. Bersamanya aku bisa bercanda, tertawa dan saling menggoda, aku merasa sangat cocok jika bersama mas Bob mungkin karena usia kami yang hampir sama membuat suasana terasa nyaman.
Dengannya aku menemukan sesuatu yang berbeda yang tak kutemukan saat bersama Mas Aryo.
Dulu saat pergi bersama mas Aryo, aku merasa seperti diawasi, tak leluasa kemanapun. Tak pernah sekalipun kami berani untuk mengumbar kemesraan di tempat-tempat romantis, biasanya jika mas Aryo ingin bertemu denganku bisa dipastikan urusannya tak jauh-jauh dari syahwat saja.
Sangat berbeda saat aku bersama mas Bob, dia tidak begitu perduli dengan urusan syahwat walau tak dipungkiri setiap kali bertemu pasti berakhir dengan urusan itu juga, setidaknya dia memperlakukanku dengan baik, memberikan apa saja yang aku inginkan tidak pernah memaksa jika aku tak suka.
Sangat jauh berbeda dengan mas Aryo, dulu saat aku butuh uang dia akan memberikannya padaku ketika aku telah selesai memuaskan hasratnya, tanpa pernah peduli aku suka atau tidak. Sedih rasanya saat diri ini dihina oleh keluarganya dikatain w************n.
Aku tak pernah tahu latar belakang keluarga mas Bob, bukan tak penasaran hanya saja aku tak ingin terlalu jauh mengetahui siapa dirinya, aku takut jika nanti keluarganya tahu statusku yang sebenarnya mereka pasti menjadikanku bahan hinaan.
Bukan tak cinta hanya saja aku belum berani untuk melangkah lebih jauh, biarlah waktu saja yang menentukan akhir dari hubungan ini, walaupun aku merasa sangat nyaman tapi aku tak pernah berani untuk bermimpi lebih dari ini. Jika suatu hari mas Bob pergi dariku aku pasrah, karena memang statusku tidak bisa untuk terus bersama dengan dirinya.
Padahal niatku sebelum mengenalnya lebih jauh hanya ingin memanfaatkan uangnya saja, namun karena perlakuannya sangat baik akupun tak bisa menolak untuk tidak jatuh cinta padanya. Pesonanya mampu membuatku mabuk kepayang,
saat aku bersama Mas Bob, apapun yang dia lakukan padaku seolah candu untukku membuatku tak kuasa menolak semua permintaannya, seperti saat ini aku yang memang haus akan belaian kasih sayang seperti menemukan lumbung kenikmatan membuatku tak lagi bisa berpikir jernih dan menyadari bahwa yang kami lakukan ini salah.
Kenikmatan cinta yang ditawarkannya padaku seakan membutakan mata serta akal sehatku, bersamanya aku bisa menemukan siapa diriku sebenarnya, aku bisa mengekspresikan perasaanku bahkan berkat dia aku bisa merasakan kenikmatan yang benar-benar berbeda yang tak pernah kudapatkan dari mas Aryo suamiku.
**
Usia mas Aryo dan mas Bob memang jauh berbeda, seperti ayah dan anak. Karena itulah aku merasa lebih cocok jika bersama mas Bob.
Pekerjaan Mas Bob sebagai seorang kontraktor membuatnya dituntut untuk selalu berpenampilan rapi dan bersih, sedangkan mas Aryo bisa mandi setiap hari saja rasanya sudah bersyukur. Ibarat bumi dan langit.
Seandainya aku bisa kembali ke dimensi waktu, akan kubuat mas Aryo menghilang dari dunia ini.
Begitulah hari-hari yang kujalani, berdiri di antara dua pria berbeda generasi, yang mana keduanya memiliki nilai tersendiri di hati dan hidupku, entah apa yang akan terjadi nanti biarlah takdir yang menentukan.
Salahkah aku bila terlalu jauh berharap?
**
Hari ini jadwalnya mas Aryo dirumah kubiarkan saja dia beristirahat sambil ngopi diwarung kami. Seperti biasanya anakku Dewi yang akan mengurus semua kebutuhannya, tugasku hanya membersihkan barang-barang mas Aryo saja selebihnya aku tak peduli.
Ku periksa satu persatu isi tasnya dan mengambil semua pakaian kotornya untuk kubersihkan, selesai mencuci akupun bergegas ke warung untuk sekedar memeriksa dan mencatat apa saja persediaan barang yang kurang diwarungku.
Semenjak berhubungan dengan mas Bob tugasku diwarung hanya memasak dan memastikan kebutuhan warung, sedangkan untuk menjaga dan melayani pembeli kuserahkan semuanya pada kedua anakku. Alhamdulillah walaupun bukan aku yang menghandle tapi semuanya berjalan dengan baik.
Saat aku tengah duduk untuk beristirahat, Mas Aryo tiba-tiba menggeser posisi duduknya agar berdekatan denganku, aku yang kaget dan risih langsung menggeser posisi dudukku sedikit menjauh darinya. Melihatku pindah posisi seketika raut wajah mas Aryo langsung berubah keheranan ada tanya dimatanya tapi tak kuhiraukan.
Entah kenapa aku tak bisa bersikap biasa saja saat didekatnya. Untuk menghilangkan kegugupanku akupun bergegas masuk kembali kedalam rumah, tak berapa lama kulihat Mas Aryo pun ikut masuk mengejarku.
Tanpa kuduga dengan cepat dia memel*kku dari belakang membuatku terkejut, pelukannya sangat erat membuatku tak bisa bergerak aku tahu apa yang diinginkannya, karena seringnya kutolak dengan berbagai macam alasan membuatku akhirnya pasrah dengan semua kelakuannya hari ini, kubiarkan saja dia menikmatiku sepuasnya, aku yakin ini tak akan lama seperti biasanya.
Itulah sebabnya mengapa aku lebih menyukai saat-saat bersama mas Bob, dia tak pernah memaksaku dia juga tak pernah melakukannya dengan kasar dan terburu-buru. Aku maklum usia mas Aryo tak memungkinya lagi untuk bisa membuatku mencapai puncak kenikmatan, jangankan menikmati belum apa-apa dia sudah tepar duluan, benar-benar pekerjaan yang membuang-buang waktuku saja.
Seperti biasa setelah menuntaskan hasratnya dia pun langsung tertidur pulas tanpa perduli dengan keadaanku, itulah yang membuatku merasa tak dianggap ada, bukankah seharusnya dia bertanya apakah aku bahagia? Apakah aku menikmatinya? Selayaknya seorang suami bertanya kepada istrinya. Bukannya malah tidur dan membiarkanku merutuki perbuatannya.
Salahkah aku jika aku berpaling darinya? Dan salahkah aku jika aku mencari kebahagiaanku sendiri?
Bertahun-tahun aku menjalani kehidupan seperti ini, ingin rasanya pergi dan menyudahi semuanya tapi hatiku tak tega meninggalkannya.
Saat hari beranjak malam saat itu pula siksaan bathin datang menuntut haknya untuk segera diakhiri. Jika dulu aku akan memaksanya, sekarang aku lebih memilih untuk berbalas chat dengan mas Bob. Menumpahkan segala macam gundah gulana padanya.
Seperti malam ini aku harus tidur sekamar dan berdekatan dengan Mas Aryo, jika dulu aku biasa saja sekarang rasanya sangat menyiksa. Apalagi suara dengkurannya benar-benar berisik. Jika sudah begini biasanya aku akan pindah tidur keruang tamu.
Aku pikir dia akan kembali ke pasar setelah dua hari dirumah ternyata tidak, dia bilang ingin tinggal lebih lama dirumah alasannya karena capek dan masih rindu denganku. Bukannya makin senang, hatiku malah semakin menderita karena harus bersandiwara setiap kali berdekatan dengannya. Ya ampun, bagaimana ini!
Untungnya Mas Bob pria yang sangat pengertian, saat kuminta untuk tidak menghubungiku diapun bersedia, walau terkadang masih suka mengirimkan pesan cinta dengan alasan rindu, hal yang membuatku semakin bersemangat menghadapi dunia, aku sangat mencintainya.
Saat aku belanja keperluan warung ponsel pintar pemberian Mas Bob lupa kusimpan, ketika aku kembali kulihat ponsel itu tak ada lagi ditempat semula, aku yang kebingungan berjalan kesana-kemari membuat Mas Aryo yang tengah menonton televisi jadi penasaran.
"Cari apa sih Yang? Perasaan dari tadi mondar-mandir terus?"
"Eh ... ndak cari apa-apa kok Yang." kataku gugup.
"Beneran gak nyari apa-apa? Kayaknya panik banget itu?"
"Enggak kok, aku cuma lagi olahraga jalan kaki, habisnya kaki ini kok gak enak rasanya kalau gak digerakkan."
"Lah, bisa gitu ya? Coba sini aku pijitin siapa tahu jadi enakan." Katanya sembari menaikturunkan alisnya menggodaku.
"Idih, apaan sih lebay deh."
Karena penasaran dan lelah mencari akupun bergegas duduk dekat Mas Aryo, mungkin hati yang tenang bisa membantuku memikirkan bagaimana caranya mencari tahu tentang keberadaan ponselku.
"Mas, tadi ada yang datang gak kerumah kita?" kataku mulai menyelidiki.
"Ndak tuh, emang kenapa? ada yang hilang?"
Seketika hatiku berdebar.
"Emm ... itu ...."
**
Orang yang salah dimana-mana pasti gak akan tenang, ya kan gaes?