Episode 5
Pov. Putri
Terlahir dari keluarga broken home membuat ibuku putus sekolah, dan menikah diusia yang sangat muda. Beban hidup yang dipikulnya sebagai tulang punggung keluarga membuatnya lupa dengan semua cita-citanya.
Beliau tak memiliki kepandaian dan pengetahuan tentang ilmu agama, membuatnya berkali-kali terjerumus dalam lingkaran dosa. Bukan, bukan sebagai pelaku asusila ibu hanya iseng karena seringnya bergonta-ganti pacar. Setiap kali kutanya jawabannya karena dia kesepian semenjak tinggal berjauhan dengan kami, suami dan anaknya.
Kuakui semenjak kami sekeluarga hidup terpisah, tak ada satupun diantara kami yang dekat dan memahami sifat ayah dan ibu. Sekedar untuk berkumpul saja jarang apalagi bercanda bersama, sangat mustahil kami lakukan.
Sedih ... kata itu yang selalu menemaniku saat mengingat tingkah ibu selama ini. Ibu bahkan tak pernah merasa bersalah atas semua perbuatannya.
Aku tahu ibu buta soal aqidah, walau begitu ibu tak pernah menelantarkan kami justru sedari kami kecil ibu selalu memberikan yang terbaik untuk aku dan adikku.
Kuakui demi kami, ibu rela melakukan apa saja asal kami bahagia. Tetapi ibu lupa sebenarnya kami tak membutuhkan semua itu. Menurutku apalah gunanya uang jika tak ada perhatian dan kasih sayang kedua orang tua.
Bukan tak bersyukur, walaupun kedua orang tua kami hidup susah tapi tak pernah membuat kami merasa kekurangan. Justru itulah yang membuat kami berdua manja, ibu secara tak langsung menyuruh kami untuk terus bergantung padanya. Jadilah kami anak-anak yang tak bisa mandiri, hal yang sangat aku sesali setelah menikah.
Dulu saat ibu memintaku untuk belajar dan tetap sekolah sebenarnya hatiku senang, namun keadaan nenek yang serba kekurangan membuatku urung meneruskan pendidikan.
Dari pada uang ibu habis untuk biaya sekolah, lebih baik uangnya untuk kebutuhan kami dan nenek saja. Karena ibu tak begitu peduli dengan nenek, maka aku berinisiatif untuk memberikan uang pemberian ibu kepada nenek.
Aku tahu uang pemberian ibu untuk biaya makan kami berdua sangatlah cukup, jadi untuk apa lagi aku sekolah. Lebih baik uang pemberian ibu kami gunakan untuk membantu nenek yang selalu kekurangan uang.
Sejak kecil aku tinggal bersama nenek aku tahu apa yang nenek butuhkan, itu sebabnya setiap kali ibu memintaku untuk sekolah aku tak pernah perduli. Ibu menitipkan kami berdua pada nenek tapi ibu sendiri benci pada beliau aneh bukan?
Kami tinggal dipinggiran kota B, sementara ibu dan ayah bekerja di tempat yang berbeda pula, meski sama-sama dipasar tapi tempatnya saling berjauhan. Entah keluarga macam apa kami ini.
Ibu bekerja di rumah makan dikawasan pasar induk C, sementara ayah bekerja jadi kuli serabutan di pasar induk K. Bukan tanpa alasan mereka saling berjauhan, dulu saat Ayah belum mengenal ibu, beliau terkenal sebagai salah satu bos pemilik lapak di pasar induk C. Entah apa yang terjadi aku tak begitu faham tapi menurut cerita orang-orang kampung, Ibuku dulunya seorang pel*kor yang telah merebut ayahku dari istrinya, entahlah aku tak peduli.
Kata orang setelah menikah dengan ibu ayah pun jatuh miskin, beliau malu untuk kembali bekerja disana. Awalnya ayah tak ambil pusing dengan pandangan orang tentang dirinya, lama kelamaan mungkin beliau bosan karena selalu jadi bahan olok-olokan teman-temannya. Jadilah ayah kuli di pasar induk.
Walau kami tinggal berjauhan tapi ayah dan ibu selalu hidup rukun, tak pernah sekalipun kulihat mereka bertengkar. Mungkin karena keduanya hobi ngebanyol atau mungkin keduanya tak ingin kami tahu keadaan yang sebenarnya, entahlah.
Aku mengikuti jejak ibu yang menikah muda, bedanya aku menikah dengan pria yang seumuran dengan ku, dan masih berstatus mahasiswa. Kami menikah karena terpaksa, waktu itu saat kami tengah berdua dibelakang rumah warga, sebenarnya kami tidak melakukan apa-apa.
Awalnya aku ingin mencari adikku Dewi yang kata orang sedang pacaran. Kata mereka Dewi sering berduaan dengan preman pasar, dibelakang rumah kosong milik warga yang telah lama tinggal diluar negeri.
Saat itu hari tengah hujan, kami yang tak membawa payung terpaksa berteduh didepan rumah itu. Saat itulah aku seperti mendengar suara orang yang tengah bertengkar, dari suaranya aku yakin itu adalah Dewi adikku.
Karena penasaran kamipun masuk kedalam rumah kosong tersebut, sampai dibelakang rumah kakiku tak sengaja terpeleset dilantai yang tergenang air rembesan hujan, membuatku spontan menarik tangan pacarku akibatnya kami jatuh bersama. Si*lnya posisi kami berdua saling tindih, sekilas nampak seperti orang yang tengah melakukan adegan mes*m. Padahal kami berdua sama-sama jatuh dan kaget, kebetulan letak rumah itu tepat didekat jalanan yang sering dilalui orang, saat kami berdua tertawa disaat itulah ada warga yang melihat posisi kami dan langsung berteriak memanggil warga lainnya.
Hari itu juga dengan terpaksa kami dinikahkan, warga tak percaya dengan penjelasan kami.
Setelah menikah kami berdua malah hidup terpisah. Membuatku harus bekerja untuk memenuhi lebutuhanku sehari-harinya, karena ibu tak lagi memberikan uangnya padaku.
Setelah menikah aku tinggal bersama ibu sementara adikku Dewi, tak lama setelah kejadian itu diapun akhirnya minta dinikahkan. Alasannya karena sudah tak tahan ingin hidup bersama dengan kekasihnya, dasar bucin gara-gara mencarinya malah aku yang dipermalukan warga, sementara dia enak-enakan dipuji karena menurut mereka bisa menjaga diri.
Kami berdua menikah dengan pria yang belum bisa memberikan kehidupan yang layak, jika suamiku belum bekerja karena masih menempuh pendidikan, lain halnya dengan suami si Dewi.
Sebenarnya kalau dia mau bekerja keras tak mungkin adikku kekurangan uang, suaminya itu benar-benar pemalas.
Kata orang suaminya si Dewi itu pernah masuk penjara karena ketahuan mencuri, entah apa yang dilihat adikku itu dari pria selengean seperti si Anto itu. Tiap kali dia datang kewarung ibuku pasti ada saja orang yang kehilangan handphonenya. Bukannya suuzon tapi siapa lagi kalau bukan dia pelakunya.
Karena kedua anaknya sudah menikah, ibu tak pernah mencampuri urusan rumah tangga kami. Namun karena himpitan ekonomi kamipun dengan terpaksa meminta bantuan ibu, syukurnya ibu dengan senang hati membantu kami.
Setelah beberapa hari bekerja diwarung ibu, aku mulai mencium sesuatu yang aneh dengan tingkah lakunya, awalnya kupikir karena ibu harus melayani pembeli wajarlah jika ia selalu tampil cantik dan wangi, ternyata aku salah.
Ibuku punya pria idaman lain dan pria itu salah satu pelanggan tetap diwarung kami. Aku yang tak terima melihat ibu berselingkuh, dan mengkhianati ayah akhirnya mogok kerja tapi tak lama, karena ibu pintar memanfaatkan keadaan.
Sakit rasanya hatiku saat mata ini tak sengaja melihatnya tengah berc*mbu dengan pria lain dikamar tidurnya. Ingin rasanya ku teriaki wanita yang telah melahirkanku itu dengan sumpah serapah, sayangnya aku tak bernyali.
Kususun rencana untuk memergoki kelakuan ibu saat mereka sedang berduaan. Sayangnya ayah tak bisa datang tepat waktu, saat pria itu pergi barulah ayahku datang.
Pelan-pelan kunasehati perempuan yang telah melahirkanku itu, tentang besarnya dosa orang yang berbuat zina.
Bukannya menerima ibu malah mengungkit-ungkit masalah ku dan mengusirku dari rumahnya.
Karena sakit hati akupun meninggalkan rumah ibu dan tinggal bersama nenek dipinggiran kota. Saking kesalnya, aku pun menceritakan semua kelakuan ibu pada nenek dan juga saudara-saudaranya. Sayangnya karena aduanku itu membuat kesehatan nenek semakin memburuk dan nenek pun berpulang tanpa didampingi kedua anaknya.
Karena desakan dari keluarga besarnya ibupun akhirnya berpisah dengan pria selingkuhannya itu. Namum hanya sementara, setelah semuanya kembali tenang ibu malah semakin menggila. Ibuku kembali mengkhianati suaminya.