Episode 6
"Eh ... Gak ada, gak ada yang hilang, udahlah aku kebelakang dulu. Mau kopi?" Kataku mengalihkan perhatiannya.
"Boleh, sekalian gorengannya ya."
"Iya."
Tak ingin membuat mas Aryo semakin curiga akupun bergegas membereskan belanjaan kedapur, sebelum beranjak sempat kulirik sekilas Mas Aryo yang sedang fokus menonton televisi.
"Huhhh ... hampir saja." gumamku.
Karena masih kepikiran tentang ponsel, akupun jadi tak fokus memasak makanan untuk warungku.
Putri anak tertuaku yang melihat gelagat aneh pada diriku pun bertanya.
"Ibu kenapa sih? perasaan dari tadi gelisah terus, ibu sakit?" tanyanya.
Bukannya menjawab pertanyaanya, aku lebih memilih diam dan tak mau berlama-lama berada didekatnya. Walau aku tak tahu siapa yang telah menelepon Mas Aryo tempo hari, tapi hatiku berkata jika anakku lah dalang dari semua kejadian itu. Hanya dia yang tahu hubungan gelapku dengan Mas Bob. Dia bahkan pernah menasehatiku agar tidak mengkhianati ayahnya. B*do amatlah tahu apa anak itu tentang kehidupan kami.
Aku juga tak akan selingkuh kalau ayahnya itu kaya, ini sudah tua kere lagi. Walaupun Mas Aryo bekerja dan masih memberi nafkah, tapikan tetap saja kurang. Apalagi hidup di kota besar mana cukup ngandelin pendapatannya yang tak seberapa itu.
Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari saja kalau tidak kubantu apa bisa dia makan? gak mikir apa anak itu? dari kecil sampai sekarang, bahkan sudah menikah pun dia masih bergantung hidup pada orang tuanya. Dasar anak tak tahu diri, sudah digaji dan makan gratis sok-sokan pula dia menasehati orang tuanya.
"Huhh ...!" desisku.
Seandainya saja adikku masih tinggal bersama ibuku dikampung, pasti aku tak akan keteteran membiayai kebutuhan ibu. Sudah dibesarkan malah pergi entah kemana, sampai sekarang entah dimana rimbanya bak ditelan bumi dia itu.
"Bu, ibu gak apa-apa kan?" lagi pertanyaan Putri membuyarkan lamunanku.
Tanpa menjawab pertanyaannya akupun bergegas pergi ke warung, bosan juga dekat-dekat dengannya. Kira-kira kemanalah ponselku itu perginya?
Aku yakin bukan maling pelakunya, pasti salah satu dari mereka berdua yang telah menyembunyikan ponsel itu. Tapi kenapa mesti mereka? ya kan yang suka keluar masuk rumah dan kamar itu kan mas Aryo dan Putri.
Kalau Dewi semenjak menikah dan tinggal di kontrakannya dia jarang masuk kerumah, kalau bukan karena urusan yang penting, jadi sangat tidak mungkin kalau dia pelakunya.
"Huhhh ... pusing aku, gimana caranya supaya ponsel itu ketemu ya? Aku takut ada yang melihat isi chat mesraku dengan Mas Bob, duh ... ribet ini mah, bisa kacau dunia persilatan." Gerutuku.
Kuambil ponsel jadul yang memang selalu ada didompetku, mencari nomor ponselku yang hilang, berkali-kali kuhubungi sayangnya tak aktif, membuatku semakin cemas dan gelisah.
"Apa jangan-jangan ada maling yang masuk ke kamarku tanpa ada yang tahu? ya ampun, bisa gawat ini."pikirku.
"Tapikan Mas Aryo gak kemana-mana, masak gak tahu ada orang masuk? atau jangan-jangan memang dia yang ngambil ponsel itu, kemarin kan dia sempat melihat ponsel itu, mati aku."
Aku pun segera mencari nomor Mas Bob, dan mengirimkan pesan padanya bahwa ponselku hilang saat aku belanja tadi pagi. Berharap semoga dia membelikanku ponsel baru.
Tak berapa lama pesan balasan pun masuk, Mas Bob berjanji akan membelikan ponsel baru hari ini juga, asalkan kami bisa bertemu.
Tak perduli dengan keadaan saat ini akupun mengiyakan ajakannya, dan memintanya untuk menungguku dicafe depan mall tempat kami biasa bertemu.
**
"Ya ampun apa yang harus aku lakukan? Ngapain juga tadi aku iyakan ajakan mas Bob." Gerutu Sumira.
Entah berapa lama Sumira mondar-mandir di kamarnya. Mmemikirkan cara untuk dapat bertemu dengan kekasihnya itu, sementara suami dan anaknya mulai mencurigai gerak-geriknya, dalam kebimbangan antara rasa ingin pergi dan juga rasa takut , tiba-tiba Aryo datang menemuinya membuat wanita itu terkejut.
"Huaaa ...!" teriak Sumira.
"Astaghfirullah, kamu kenapa Yang? kok mukanya pucat gitu? kamu saki?" repleks tangan Aryo memeriksa kening Sumira. Merasakan panas melalui punggung tangannya.
"Kamu demam Yang? Kok badannya panas banget." tanyanya pada Sumira yang masih terdiam.
"Iya Mas, sebenarnya sudah dari tadi tapikan aku harus belanja." Kata Sumira sembari menganggukkan kepalanya.
Pengakuannya sukses membuat gurat khawatir pada wajah tua Aryo. Entah apa yang dipikirkan lelaki itu kemudian dia duduk persis didepan istrinya, menatapnya dengan pandangan sendu membuat Sumira semakin gelisah dan salah tingkah.
"Yang, barusan Mas Budi nelpon, ngabarin aku katanya Mas Anton udah gak ada." lirih suara Mas Aryo membuat Sumira terkejut.
Mendengar itu Sumira pun bangkit dari duduknya dan berpindah kedekat suaminya, mengusap punggung pria itu dengan lembut seolah ikut bersedih.
Mas Anton adalah kakak tertua suaminya sedangkan Mas Budi kakak yang ketiga, Aryo empat bersaudara tiga laki-laki dan satu perempuan, Mbak Arum namanya dan Aryo adalah anak terakhir.
"Innalillahi. Aku turut berduka ya Mas, kamu yang kuat ya, kamu gak kesana?"
"Iya, makasih ya Yang, kita pergi ya? nginep disana sampai malam ketiga, aku gak enak kalau gak dateng." kata Aryo sembari menundukkan kepalanya.
"Sebenarnya aku mau Mas, tapikan kamu tahu sendiri keluargamu gak ada yang suka sama aku, dari pada nanti Mas sakit hati, gimana kalau Mas aja yang pergi aku gak apa-apa kok."
"Ya sudahlah kalau begitu, siapkan saja pakaianku."
Sumirah pun mengangguk dan segera mempersiapkan keperluan suaminya. Sebenarnya dia tak enak hati menolak ajakan suaminya, tapi karena seringnya dia mendapat perlakukan tidak baik oleh keluarga suaminya, membuatnya malas berhubungan dengan mereka.
Disatu sisi hatinya bersorak gembira, akhirnya dia punya kesempatan untuk bertemu dengan selingkuhannya tanpa takut ketahuan suaminya.
Selesai mandi dan berpakaian rapi Aryo pun segera pergi kerumah kakaknya yang tengah berduka, untuk tiga hari lamanya. Dengan penuh takzim Sumira melepas kepergian suaminya sampai teras depan rumah.
**
Aku merasa alam pun berpihak padaku, seolah mengerti akan inginku, membuatku tak lagi pusing memikirkan cara bertemu pujaan hatiku, mas Bob.
Aku pun bergegas mempersiapkan diri, memakai pakaian terbaik ku dan merias wajah secantik mungkin. Aku tak ingin penampilanku merusak suasana, aku ingin merlihatnya semakin tertarik padaku.
Masalah warung kuserahkan sepenuhnya pada kedua anakku, aku yakin mereka bisa diandalkan.
**
Kulihat Mas Bob sudah lebih dahulu sampai. Aku yakin hari ini dandanan ku sesuai seleranya, lihatlah bagaimana dia menatapku. Aku yakin binar itu tanda takjubnya dia akan penampilanku. Dipandangi seperti itu sungguh membuatku tersipu malu
Selain tajir Mas Bob itu tipe cowok yang perhatian, sambil menungguku ternyata dia telah memesan minuman kesukaanku, membuatku semakin mengagumi sosoknya.
'Benar-benar pria idaman aku sangat beruntung bisa jadi pacarnya.' batinku.
Setelah kami menghabiskan kopi masing-masing, Mas Bob mengajakku ke gerai ponsel yang ada disekitar mall, memilih model terbaru dan memberikannya padaku.
Karena ada keperluan mendadak di proyeknya Mas Bob pun membatalkan kencan kami, membuatku kecewa menyadari perubahan pada sikapku, Mas Bob pun mengajakku ketempat kerjanya, membuat mood ku kembali ceria.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, kami pun pergi ketempat wisata di kawasan puncak. Aku yang seumur hidup belum pernah sekalipun ketempat itu, rasanya ingin melompat kegirangan.
Hal yang selalu aku impikan akhirnya terwujud juga, bisa lari-larian diantara pohon-pohon teh yang berbaris rapi seperti adegan di sinetron-sinetron yang sering kutonton.
Sembari menikmati keindahan alam, tak lupa akupun meng-upload foto kami berdua dihalaman aplikasi bergambar kamera milikku.
Setelah lelah berkeliling kami memutuskan untuk bermalam di sebuah resort, Mas Bob memesan kamar yang paling besar dan bagus. Aku hanya mendengarkan dia bicara dengan resepsionis melalui sambungan teleponnya, dia meminta paket haneymoon, aku yang memang awam dengan dunia perhotelan hanya bisa pasrah dan nurut saja apapun perkataannya.
Setelah cek in kami langsung menuju kamar yang tadi dipesan mas Bob, saat di dalam kamar itu aku semakin terheran-heran maklumlah ini kali pertama aku diajak Mas Bob menginap di hotel mewah jadi ya, wajar saja jika aku sedikit malu-maluin hehehe.
Biasanya kami hanya bertemu di hotel kelas melati itupun tak pernah bermalam. Tapi kali ini kami akan menghabiskan waktu bersama, membuat jantungku berdebar-debar aku sangat gugup.
"Sayang, mandi bareng yuk, belum pernah kan mandi dalam bak yang ada busanya?" Kata mas Bob sembari menarik tanganku masuk ke kamar mandi.
"Ta--pi Mas, a-aku malu gimana kalau Mas duluan aja." Kataku perlahan.
"Gak asyik dong, lagian biar mempersingkat waktu soalnya hari sudah mulai gelap, ntar kalau mandinya sendiri-sendiri kelamaan." Katanya meyakinkan.
"Ya udah deh."
Namun yang terjadi bukannya mempersingkat waktu, tapi malah sebaliknya.
Mungkin inilah yang dirasakan pasangan yang tengah honeymoon itu, perasaan yang sangat aneh menurutku. Padahal kami bukanlah pasangan muda tapi kenapa aku begitu berdebar-debar, apalagi saat Mas Bob mulai menc*mbuku, aku semakin liar tak karuan. Dia pandai memanfaatkan keadaan, membuatku semakin mendominasi permainan seolah haus akan sentuhan, membuatku berkali-kali mencapai puncak kenikmatan dengan berbagai macam style, hal yang tak pernah aku lakukan saat bersama Mas Aryo.
Setelah puas meluapkan rasa cintanya kulihat senyuman terbit di bibir sensualnya, membuatku semakin mengagumi wajahnya yang benar-benar tampan.
Wajahnya itu seperti wajah orang bule, dengan hidung mbangir serta warna bibir yang kemerahan, tak seperti wajah pribumi. Warna rambutnya yang kecoklatan dan rahang tegasnya itu membuatku semakin terpesona, aku yakin mas Bob berasal dari kalangan atas. Sambil merapikan penampilanku tak henti-hentinya aku mencuri pandang ke arahnya.
"Jangan lama-lama bengongnya, ntar hilang itu hidung." Katanya sembari menoel hidungku yang minimalis ini.
"Yuk keluar, Mas udah laper."
"Oh, ayok aku juga." Kataku sembari tersenyum dan bergegas menggandeng tangannya, kamipun makan malam di restoran yang tersedia di kawasan resort tersebut.
Membuatku tersipu, kapan-kapan akan kutanyakan padanya tentang kehidupan dia dan keluarganya.
Malam ini sengaja tak kuaktifkan ponselku, aku ingin menghabiskan waktu bersama kekasihku, masalah warung biarlah kedua anakku yang mengurusnya, masalah besok biarlah besok saja dipikiran.