Berita Duka

1163 Kata
Episode 7 Tepat pukul delapan pagi aku sampai dirumah, kulihat diwarung tak ada siapa-siapa tapi pintu warung tidak dikunci. "Teledor banget sih anak-anak ini."pikirku. Karena penasaran segera kuambil ponsel jadulku yang ternyata mati karena dari kemarin hingga saat ini belum sempat aku sentuh, saking asyiknya bermain dengan ponsel baru pemberian Mas Bob. Aku lupa memeriksa batre ponselku, karena penasaran akupun segera mencarge dan langsung mengaktifkan kembali ponsel itu. Begitu ponsel jadul itu aktif tak henti-hentinya suara dentingan notifikasi pesan dan puluhan panggilan tak terjawab dari anak dan suamiku. "Ada apa ini?" batinku. Segera ku buka satu persatu pesan masuk, mataku memanas saat pesan terakhir k****a berulang-ulang. Pesan yang baru saja masuk itu mampu membuat hatiku bergetar. 07:55 [Ibu dimana, cepat kerumah sakit **** nenek kritis] 08:00 [Bu, nenek udah gak ada] Tak terasa bulir-bulir bening jatuh dari sudut mataku, kuakui selama ini aku jarang sekali berkomunikasi dengan ibuku, walau sering kudengar dari Putri tentang keadaannya. Tak membuatku melunak, hatiku kaku bagai batu karang, berulang kali Putri memintaku untuk menemui ibu, tapi tak pernah sekalipun kuhiraukan keadaannya. Jangankan bertanya mengingatnya saja aku malas. Ada saja alasanku untuk menolak bertemu dengan beliau padahal ibuku hanya ingin bertemu tapi, kenapa rasanya hati ini enggan untuk menemuinya. Bahkan disaat-saat terakhirnya pun aku tak bisa menemani, akulah sianak durhaka itu. Entah apa yang terjadi pada hatiku, yang seakan membeku dan enggan untuk segera menemui beliau. Lama aku terdiam dengan pergulatan batin, yang seolah mencaci-maki keegoisanku sendiri. Setelah puas bergulat dengan perasaanku sendiri, akhinya dengan langkah gontai dan gemetar kuberanikan diri untuk segera menemuinya. Walau terlambat setidaknya aku masih sempat melihatnya untuk yang terakhir kali. Bayangan masa kecil membuatku semakin merasa bersalah, tak sadar aku pun mempercepat langkah. Rada penyesalan memenuhi rongga hatiku, memunculkan berbagai macam pertanyaan yang aku sendiri tak tahu jawabannya, kenapa? dan terus saja kata kenapa yang muncul dibenakku. Ya, kenapa baru sekarang aku merindukan beliau? Kenapa ...? Jika aku tak bisa menemaninya melewati masa kritisnya, setidaknya aku masih punya waktu untuk memberikan penghormatan terakhir kepadanya. Orang yang telah melahirkan dan membesarkan ku dengan penuh kasih sayang. Orang yang dengan sukarela menyerahkan seluruh dunianya hanya untuk membesarkanku. Anak yang tak diinginkan keberadaannya, rasa bersalaha membuatku berlari sekencang-kencangnya. Tak kuhiraukan keadaan orang-orang yang berpapasan denganku, entah mereka jatuh atau tidak aku tak peduli. "Ibu ... maafkan aku, terlalu banyak dosaku padamu, maafkan aku ibu karena belum sempat membahagiakanmu ...." Hanya kalimat itu yang terus saja meluncur dari bibirku. Saat melihatnya tidur dalam keabadian dengan wajah tersenyum seketika itu pula kesadarankupun hilang. "Ibu ... maafkan aku ...." ** Setelah masa berkabung selesai aku pun segera kembali melakukan aktivitas seperti biasanya. Setelah kemalangan itu tak ada yang ingat dan bertanya dimana aku saat ibu tengah kritis waktu itu. Mas Aryo juga tak pernah menyinggung soal itu aku benar-benar beruntung. Setelah satu bulan tutup, kini Warungku buka kembali seperti biasanya. Kali ini aku tak ingin kecolongan lagi, ponsel baru yang dibelikan Mas Bob sekarang selalu kusimpan dalam tas kecil yang selalu melekat di pinggangku. Sampai sekarang belum ada tanda-tanda keberadaan ponselku yang hilang tempo hari. Membuatku yakin bahwa yang mengambil ponsel itu bukanlah Mas Aryo atau pun anak-anakku. "Ah ... biarlah, gak penting juga diingat-ingat." batinku. "Yang, besok aku balik kerja lagi ya? udah lama juga aku nganggur, aku kasihan sama kamu." Suara Mas Aryo membuatku menghentikan aktitas memasak. "Ya, terserah kamu sih Yang, aku sih oke-oke saja." jawabku santai karena itu yang memang aku harapkan. "Kamu gak apa-apa kan Yang kalau aku tinggal? aku takut kamu belum bisa menerima semuanya, gimana Yang?" tanyanya ragu-ragu. "Gak apa-apa loh Yang, kamu gak usah khawatir. Aku memang masih sedih tapi kitakan butuh makan, butuh bayar kontrakan jadi mau gak mau ya harus kuatlah Yang." jawabku. "Syukurlah kalau kamu sudah ikhlas, aku cuma gak mau lihat kamu sedih terus." "Terimakasih ya Yang sudah perhatian." Kataku. Melihatnya yang sangat khawatir dengan keadaanku membuatku semakin merasa bersalah, karena telah menduakannya. Ada rasa nyeri dihatiku saat mengingat kembali pengkhianatan yang aku lakukan. Namun segera kutepis, aku hanya manusia biasa yang juga ingin merasakan kebahagiaan. Apakah salah jika aku mencari kebahagiaanku sendiri? Bukankah setiap orang punya pilihan hidup? Apa aku salah jika aku ingin hidup tenang dan nyaman tanpa harus bekerja keras? Masalah bagaimana cara dan resikonya biarlah aku saja yang menanggungnya. Bukankah semua ini kesalahan Mas Aryo yang tidak mampu memberiku kehidupan yang layak, jika aku tidak ikut membantunya dalam mencari nafkah apa jadinya kehidupan kami? Selama ini Mas Aryo lah yang membuatku jadi seperti ini, untuk apa aku merasa bersalah. Beruntung aku masih mau hidup dengannya, masih mengurus dan perduli dengan dia, jika aku mau aku bisa saja meninggalkannya saat ini juga. Jadi, jika ada yang menyalahkan ku karena perselingkuhan yang kulakukan, salahkan saja suamiku yang buta huruf itu. ** Sudah dua hari tak ada kabar dari Mas Bob, ponselnya pun tak pernah aktif membuatku gelisah. Rasa khawatir karena tak mengetahui keberadaannya membuatku bingung. " Seperti anak ayam yang kehilangan induknya." Seperti itulah gambaran hidupku saat ini. Teman yang selama ini selalu bersamanya pun sudah lama tak nampak lagi batang hidungnya, membuat pikiranku semakin semrawut benar-benar menyiksa. Seminggu sudah kulalui hidup tanpa kabar dari Mas Bob, resah dan gelisah membuatku uring-uringan. Saat ini aku bukan hanya takut kehilangan sosoknya, ada hal yang lebih penting melebihi kerinduan hatiku. Karena itu aku sangat membutuhkan kehadiran Mas Bob, untuk membantuku membayar semua cicilan barang-barang ku yang sudah jatuh tempo. "Duh ... kalau sampai minggu depan dia gak nongol juga, bagimana nasibku."gerutuku. Triing. Suara notifikasi pesan tak lagi kuperdulikan, aku terlalu takut untuk membuka ponselku. Bukan apa-apa, aku hanya malas membaca pesan mesra dari beberapa orang penagih hutang. Aku malas melayani perkataan mereka, tapi rasa penasaran mengalahkan rasa takutku. Dengan malas akupun membacanya, seketika rasa gembira memenuhi hatiku membuatku bersorak-sorai sembari melompat-lompat kegirangan seperti anak kecil saat mendapatkan hadiah. Untung saja tak ada yang melihat tingkahku ini, kalaupun ada aku tak perduli. Pesan yang sudah seminggu kunantikan akhirnya datang juga. Sesuai pesannya sore ini Mas Bob ingin bertemu denganku, katanya ada sesuatu yang sangat penting dan tak bisa dibicarakan lewat telepon. Katanya aku harus bersiap-siap, karena pertemuan ini berkaitan dengan kelanjutan hubungan kami. Pesannya kali ini sukses membuatku deg-degan kira-kira pembicaraan tentang apa ya? Seperti biasa setiap bertemu aku akan berdandan secantik dan sewangi mungkin, agar Mas Bob semakin terpesona. Aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Sesampainya di kafe kulihat Mas Bob tengah sibuk dengan ponselnya, melihatku datang diapun langsung menghentikan aktivitasnya. Seperti biasa saat kami bertemu minuman kesukaan ku telah tersedia tanpa kuminta. "Apa kabar? kangen gak? Mas kangen banget sama kamu cantik." gombalnya sukses membuatku tersipu. "Kangen dong Mas, gak lihat apa badanku jadi kurus begini!" kataku sambil memonyongkan bibir, hal yang paling disukai Mas Bob. Aku tahu dia pasti tak akan pernah bisa menahan diri saat melihatku seperti itu. Cup. Benar saja Mas Bob langsung mendaratkan kec*pannya dibibirku, membuat wajahku seketika memanas. "Ishh ... malu, Mas!" kataku sembari mencubit pinggangnya. Diapun tersenyum memamerkan deretan giginya yang putih bersih. "Sayang ... kita nikah yuk?" "A-apa mas? nikah?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN