Bertemu Sukesih, adikku yang hilang.

1712 Kata
Episode 12 Akhirnya apa yang aku takutkan terjadi juga, karena stress yang aku alami membuat tensi darahku naik drastis. Akupun kembali dirawat, untungnya kandunganku baik-baik saja. Walau sempat pendarahan tapi syukurnya tak sampai mempengaruhi kandunganku. Mas Aryo yang sangat khawatir dengan keadaanku semakin membatasi kegiatanku. Kemanapun aku pergi dia selalu mendampingi. Aku senang sekaligus sedih, karena aku mas Aryo jadi bahan bully-an teman-temannya, seperti dulu. Bedanya kali ini mereka senantiasa mengejekku, dan menertawakan mas Aryo. Mereka bahkan menghasut mas Aryo, mengatakan kalau dia pria yang sangat bod*h karena mau menanggung beban yang bukan miliknya. Entah siapa yang menebar isu kalau aku sebenarnya hamil bukan benih mas Aryo. Melainkan benih ramai-ramai, membuatku terpuruk dan berujung pendarahan. Awalnya tak pernah kutanggapi, tapi lama-kelamaan bosan juga. Disaat aku ingin melupakan kesalahanku dimasa lalu, disaat itu pula orang lain mengungkitnya. Sedih dan marah terhadap diri dan bayi ini pun membuatku semakin stress. Syukurnya mas Aryo tak pernah ambil pusing dengan semua omongan orang tentang diriku. Aku harus kuat, apapun yang terjadi aku harus bisa keluar dari rasa bersalah terhadap mas Aryo. Aku tahu dia tak pantas menerima semua ini, tapi aku sendiri juga tak sanggup menghadapi dunia ini tanpa dirinya. Aku sangat bersyukur karena dia tak pernah sekalipun meragukan diriku. Hampir seminggu ini aku menjalani pengobatan rawat inap. Hari ini akhirnya aku diperbolehkan dokter untuk pulang ke rumah. Rasanya sangat senang karena bisa segera terbebas dari jarum infus yang sangat menyiksa. "Sayang ... Tadi pas dokter Herdi visit, katanya hari ini aku bisa pulang." Kataku sumringah. "Alhamdulillah, tapi beneran kan badan kamu sudah enakan. Kalau masih lemes mendingan besok saja." "Beneran loh Mas, lagian aku juga dah bosan lama-lama disini. Aku kangen rumah." Kataku manja. "Iya udah, terus apa lagi kata dokternya?" "Minggu depan aku wajib kontrol, tadi juga dokter dah jelasin kalau ada apa-apa langsung ke sini katanya." Kataku semangat. "Terus infusan ini, gimana?" Katanya sembari memegang botol plastik itu. "Ya nunggu habis dululah, hehehe. Lagian kalau aku minta dibuka sekarang juga gak apa-apa kok." "Nanggung Yang dikit lagi ini." Katanya sambil tersenyum. "Ya udah lah tanya susternya udah bisa belum kita pulang." "Iya udah aku pergi dulu." Mas Aryo pun segera pergi keruangan suster yang ada didepan. Letaknya persis di samping kanan pintu ruang rawat inap ini. Namun saat aku tengah berbahagia dengan berita kepulanganku. Tiba-tiba pintu kamar rawat inap ini terbuka. Hal yang wajar karena aku dirawat di ruang kelas tiga, yang memiliki dua brangkar. Kebetulan brangkar sebelah ditempati pasien dokter Hendi juga. Wanita muda yang baru saja selesai melahirkan, wajar jika tamunya banyak. Ketika tamunya datang otomatis pintu akan terbuka. Kebanyakan dari mereka ketika masuk tak mau menutup pintunya kembali. Itulah sebabnya aku bisa melihat dengan jelas siapa saja yang keluar-masuk ruangan. Kebetulan aku menempati ruangan yang letaknya persis didepan pintu masuk lift khusus pasien viv rumah sakit ini, ada sekitar dua belas meter jarak antara pintu kamar dengan pintu lift itu, jadi jika pintu ruangan ini terbuka otomatis pandangan kita akan tertuju langsung ke pintu lift tersebut. Rumah sakit ini sebenarnya rumah sakit besar, ruangan kelas biasa dan Vip tadinya beda gedung. Namun karena ada pembangunan untuk menambah ruangan rawat inap khusus vip, untuk sementara ruangan Vip rumah sakit ini satu gedung dengan ruang rawat inap biasa. Itu sebabnya aku bisa melihat pasien Vip keluar masuk dari ruangan ini. Saking asyiknya memandangi orang-orang yang tengah lalu lalang di pintu lift, tak sengaja mataku melihat seorang pria yang sangat mirip dengan mas Bob. Dia tengah duduk di kursi roda, entah apa yang membuatnya ... tunggu, benarkah itu mas Bob? Apa yang terjadi dengannya? Karena penasaran kukucek beberapa kali mata ini untuk memastikan kalau ini bukanlah mimpi, atau hanya ilusiku saja. Seperti adegan di film-film itu, berkali-kali kukucek mataku untuk memastikan apa yang tengah aku lihat. Hasilnya tetap sama, pria itu masih disitu dan wajahnya memang sangat mirip dengan mas Bob. Pria yang paling kucintai sekaligus sangat kubenci. Karena ditanganku masih terpasang jarum infus serta kondisiku yang baru mendingan membuatku tak berani untuk mendatanginya. Aku hanya bisa memandangnya dari brangkar tempatku dirawat. Duduk diam sembari menetralkan degup jantungku yang tak beraturan. Dia masih disana duduk di kursi roda depan pintu lift yang tertutup rapat. Setelah pintu itu terbuka bersamaan dengan kedatangan seseorang yang membawanya naik kelantai atas. Aku baru menyadari kalau orang yang membawa mas Bob itu sangat mirip dengan Sukesih adikku yang telah lama menghilang. Aku hapal betul tahi lalat yang ada dipipi kanannya, caranya berjalan dan postur tubuhnya, benar-benar mirip dengan adikku. Spontan kuteriakkan namanya dan diapun menoleh mencari sumber suara, sayangnya pintu lift keburu tertutup. "Kesih ...!" teriakanku tertahan, karena tiba-tiba keluarga pasien sebelah menyibakan tirai pembatas antar brangkar membuatku terkejut. "Maaf mbak, kalau mau teriak jangan disini, dilapangan sana! kasihan kakak saya gak bisa istirahat karena teriakan mba!" ketusnya. "Oh, maaf ...." kataku sembari menangkupkan kedua tanganku. Dan wanita itupun menutup kembali tirai pembatas kami, sayup kudengar omelannya terhadapku namun tak kuperdulikan. Wajar saja dia marah, jika aku yang ada di posisinya aku pasti akan melakukan hal sama. ** "Selamat siang ibu Sumira? hari ini sudah boleh pulang ya, sebentar saya buka dulu infusannya." kata suster cantik yang bertugas hari ini. "Iya, suster terimakasih."jawabku semangat. Dengan cekatan suster itu melakukan tugasnya, memintaku untuk menandatangani beberapa berkas. Setelah semuanya selesai akupun bergegas merapikan semua barang-barang bawaan ku. Belum sempat aku membereskan semuanya mas Aryo pun sampai dan segera mengambil alih pekerjaanku tadi. "Yang, tahu gak tadi dibawah Mas ketemu orang yang mirip sama adikmu, sayangnya dia gak denger waktu aku panggil." Mendengar itu akupun langsung menghentikan kegiatanku, main game. "Lah, berarti yang aku lihat tadi itu beneran Kesih Yang." kataku antusias. "Kamu juga lihat Yang, dimana?" kata mas Aryo. "Disitu Yang, pas didepan pintu itu. Pas aku panggil dia gak bisa lihat karena pintunya keburu ketutup." Kataku sembari menunjuk pintu lift. "Nanti aku cari tahu ya Yang, siapa tahu dia lagi nungguin saudaranya disini." "Iya Yang kalau bisa sekarang ya, biar aku nunggu dibawah saja gak enak kalau nunggu di sini kitakan sudah di bolehkan pulang." "Kalau kamu mau biar aku permisikan dulu sama perawatnya, biar kamu tetap disini dulu nunggu sebentar aku keatas, gimana?" "Ya udah, terserah kamu ajalah." "Ya udah, tunggu ya." kata Mas Aryo sembari mengelus rambutku, hal yang selalu dia lakukan ketika hendak pergi. Tak berapa lama mas Aryo pun akhirnya kembali namun wajahnya tak menunjukkan rasa senang. Itu artinya dia tidak menemukan apa yang dia cari. "Diatas gak ada yang namanya Sukesih Yang, gimana coba." katanya menatapku. "Lah, ya jelas gak adalah Yang, kan Kesihnya gak sakit, hehehe." jawabku sambil tersenyum. "Oh, iya ya hehehe." tawanya kemudian. "Ya udah kita pulang ajalah, aku pengen makan seblak, bosen makan makanan rumah sakit. Gak ada pedes-pedesnya." kataku sambil menarik tangannya. "Ya udah, ayo." Kamipun keluar ruangan dan langsung disambut oleh pak satpam dengan kursi roda untukku, agar aku tidak lemas saat turun ke lantai bawah. Setelah sampai bawah dan mengucapkan terimakasih kamipun segera pulang ke rumah. Mas Aryo sengaja menyewa mobil untuk menjemputku. Katanya kalau naik motor pasti ribet, aku gak tahu mobil siapa yang disewanya. Dulu sebelum kami menikah mas Aryo sering mengajakku jalan-jalan naik mobilnya. Awalnya aku selalu mabuk ketika mencium aroma pengharum mobil. Terkadang mas Aryo menyiapkan kantung plastik untukku setiap kali kami bertemu. Jika mengingat itu rasanya diriku sangat malu. Saat diperjalanan pulang, aku yang memang kepingin makan seblak meminta mas Aryo untuk menghentikan mobilnya di depan warung seblak dekat rumah sakit. "Loh, itukan Sukesih Yang!" kata mas Aryo menunjuk seorang wanita yang tengah berjalan seorang diri. Sepertinya dia hendak berbelok masuk ke gang. "Eh, iya Yang panggil Yang!" kataku. "Sukesih ...!" teriak kami bersamaan. Bukannya berhenti wanita itu malah semakin mempercepat langkahnya. Tak ingin kehilangan jejaknya, mas Aryo pun segera menghentikan mobilnya untuk mengejar wanita itu. Sementara aku tetap dimobil karena Mas Aryo melarangku untuk ikut mengejar orang tersebut. Benarkah itu adikku Sukesih? tapi kenapa dia lari saat kupanggil? Jika bukan kenapa wajahnya begitu mirip? Siapa sebenarnya dia? Berbagai macam pertanyaan muncul di dalam hatiku, belum selesai masalah tentang mas Bob, sekarang malah muncul masalah baru. Tak berapa lama Mas Aryo pun kembali, dengan penuh semangat dia memintaku untuk ikut bersamanya menemui wanita itu. "Kita kesana aja Yang, kamu kuat kan?" Katanya sambil memandangku. "Iya udah ayok." " Jalannya pelan-pelan saja, kalau gak kuat nanti aku gendong gak jauh kok. Rumahnya pas banget dibelakang gedung ini." Katanya sembari menunjuk bangunan tinggi didepan kami. Akupun tersenyum sembari mengangguk mendengar ucapannya. "Kayak kuat aja." candaku sambil meliriknya, membuatnya tersenyum lebar menunjukkan giginya yang ompong. ** POV author. Sementara dibelakang gedung itu, seorang wanita muda tengah duduk dirumahnya. Rumah yang sebenarnya tak layak untuk dijadikan tempat tinggal. Karena terbuat dari tumpukan kardus dan karung bekas yang dijahit dengan tali rapia, sehingga membentuk sebuah rumah. Berdiri diantara barang-barang bekas dan tak layak pakai yang sengaja ditumpuk di sisi luar bangunan milik warga. Tempat itu merupakan gudang sekaligus rumah para pengepul barang-barang bekas di daerah ini. Salah satunya suami dari wanita itu, yang telah meninggal dunia enam bulan yang lalu karena suatu kecelakaan. Bukan hanya suaminya yang menjadi korban, kedua anaknya pun yang saat itu tengah ikut turut pula menjadi korban. Mereka memang selalu mencari barang-barang bekas di sekitar jalan raya menggunakan becak kayuh. Saat tengah mengayuh becaknya tiba-tiba sang anak melihat selembar uang kertas berwarna merah terbang terbawa angin, karena gembira mereka pun bersorak kegirangan membuat sang ayah ikut mendongak. Saking senangnya suami wanita itu tak memperhatikan laju becaknya. Dia terus saja memandangi uang kertas yang tengah melayang-layang didepan matanya, sembari tangan kanannya terulur untuk menggapai uang tersebut. Sayangnya dia terlalu fokus pada uang itu, sampai tak sadar bahaya tengah mengancamnya. Didepannya tengah melaju dengan kecepatan tinggi sebuah mobil berwarna hitam. Dan ketika mereka sama-sama menyadarinya semuanya telah terlambat. Karena sama-sama melaju dengan kecepatan tinggi, akibatnya pengemudi becak beserta penumpangnya terpental jauh ketengah aspal. Mengakibatkan pendarahan yang sangat hebat pada ketiganya, sehingga tak ada satupun dari mereka yang selamat. Begitu juga dengan pengemudi mobil yang terbalik itu, karena panik tak sengaja tangannya menarik tuas rem tangan, membuat mobil yang dikemudikannya berputar arah entah berapa lama baru kemudian terbaik. Orang itupun koma selama beberapa bulan, mirisnya saat sadar dia bahkan tak mampu mengingat siapa namanya. Beruntungnya dia membawa kartu tanda penduduk lengkap dengan surat-surat lainnya. Sehingga memudahkan pihak yang berwajib untuk membantu proses penyelidikan dan menemukan keluarganya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN