Sukesih menjanda.

1526 Kata
Sukesih menjanda. Episode 13 Setelah berjalan sedikit masuk ke dalam gang, kamipun sampai kerumah wanita yang mirip dengan adikku tersebut. Keadaannya sungguh sangat memprihatinkan. Keranjang berisikan sampah daur ulang bertebaran dimana-mana, belum lagi tumpukan kardus dan karung bekas yang bejubel memenuhi isi ruangan yang tak seberapa itu. Ternyata kesusahan hidup yang aku alami tak seberapa dibandingkan dengan kehidupannya. Karena kesusahan hidup yang dialami adikku ini membuatnya menua tak sesuai umur, wajahnya yang dulu bulat berisi kini kurus tak berdaging, hingga terlihat lengkung pada matanya. Padahal dulu saat masih remaja aku sering merasa iri dengan parasnya yang manis. Bahkan bentuk tubuhnya jauh lebih indah dariku, aku memiliki tinggi badan kurang dari seratus enam puluh sentimeter. Sedangkan dia memiliki tinggi badan lebih dari seratus enam puluh lima sentimeter. Dulu warna kulitnya pun lebih cerah dibandingkan aku, mungkin karena faktor genetik yang diwariskan dari ayahnya. Karena kan ayah kandung kami memang berbeda, membuat kami berdua tidak memiliki kemiripan yang mencolok. Kemiripan kami berdua hanya tiga puluh persen, meliputi rambut dan bentuk hidung selebihnya aku tak tahu. Karena pandangan setiap orang pastilah berbeda-beda. Seperti mas Aryo yang bilang kalau aku dan adikku sangat mirip, sedangkan kedua anakku mengatakan tidak. Saat melihat kedatangan kami yang tiba-tiba, seketika wajahnya langsung berubah. Dia sangat terkejut, wajahnya itu loh seperti orang yang ketahuan berbuat salah, aneh. Aku heran sepertinya dia enggan bertemu denganku. Tak rindukan dirinya padaku? Padahal aku sangat merindukan dirinya, adikku tersayang. Karena tak kunjung ditegurnya akupun jadi salah tingkah. Ada rasa canggung diantara kami, padahal harapanku tidak seperti ini. Ada apa dengannya? Tak seperti kebanyakan orang akan heboh saat bertemu kenalan atau keluarga yang lama tak berjumpa. Kami berdua hanya saling tatap, tak ada yang berani mencairkan suasana. Untungnya ada mas Aryo. "Loh, kok pada bengong? Katanya kangen." Kata mas Aryo padaku. "Terharu Mas." Kataku. Karena dia masih bergeming terpaksalah aku yang mendekatinya. Perlahan kuurai kebekuan diantara kami. Kudekap tubuhnya, setelah beberapa menit kurasakan tubuhnya bergetar, dia terisak. "Maafin aku Mbak." Katanya pelan. "Iya Dek, gak apa-apa. Mbak juga minta maaf ya." Kataku sembari mengelus punggungnya. Tak kuasa lagi menahan tangis kebahagian. Karena aku telah menemukan adikku yang telah lama menghilang. Sebenarnya kalau dia tak egois harusnya dia yang datang, saat kami kelimpungan mencarinya. Ah, sudahlah mungkin dia punya alasan tersendiri mengapa selama ini dia bersembunyi dari kami. Yang penting saat ini kami telah bertemu kembali. Aku janji akan selalu menjaga ucapan dan perbuatanku, agar tak menyinggungnya lagi. Walaupun aku tak tahu apa sebenarnya salahku. Kamipun menangis bersama menumpahkan segenap kerinduan yang telah lama terpendam. Setelah puas meluapkan rindu, diapun mengajakku untuk masuk kedalam rumahnya. "Ayo masuk Mbak, Mas maaf rumahnya berantakan. Kalian jadi duduk disini silahkan Mbak, Mas ...." Belum sempat dia mengucapkan kalimatnya, aku lebih dulu masuk kedalam diikuti mas Aryo. "Sutt ... Ayo Mas." kataku sembari menutup bibirku dengan jari telunjuk membentuk angka satu, dan tanpa membantah mas Aryo pun mengikutiku. "Suamimu mana Dek? anak-anak juga, kok sepi lagi main ya?" Tanya Mas Aryo. Sukesih diam, tiba-tiba air matanya kembali menetes. Aku tak tahu kemalangan apa yang telah menimpanya. Melihatnya menangis kembali kudekap tubuhnya. Aku ingat dulu setiap kali dia sedih, dia sangat suka diperlakukan seperti ini. Walaupun tak pernah diungkapkan aku yakin dia pasti ada masalah. Seandainya dulu aku bisa lebih bersabar, mungkin kami berdua takkan pernah terpisah. Setelah kurasa dia tenang barulah kuurai jarak kami. Sembari kuelus punggungnya memberikan semangat. Dia pun mencoba untuk bercerita. "Anu Mas, huuu ...." belum sempat dia berkata-kata kembali tangisnya pecah, membuat kami berdua saling tatap. "Sebenarnya mas Wisnu sudah meninggal Mbak ... huuu ... mereka kecelakaan, waktu mulung dekat tol yang baru dibangun itu." ceritanya sambil terisak. "Innalilahi wa innailaihi rojiun." kataku dan Mas Aryo berbarengan. "Kapan kejadiannya Dek?" tanyaku. "Enam bulan yang lalu Mbak." "Kok kamu gak ngabarin Mbak sih Dek." kataku kembali memeluknya. "Aku bingung waktu itu Mbak, aku kalut. Aku gak tahu harus bagaimana, aku stress Mbak." "Astaghfirullah ... Mereka maksudnya? ... Anak-anak?" Kataku sembari mengeratkan pelukanku. "I-ya Mbak, anak-anakku juga udah gak ada huuu ... Itu salahku, aku yang nyuruh mereka ikut bapaknya huu ... Aku jahat kan Mbak?" "Ya Allah, enggak Dek. Itu semua takdir, sudah jalannya begitu. Kita semua pasti akan kesana, hanya saja jalannya yang berbeda-beda. Insya Allah anak-anak dan suamimu Husnul khatimah, aamiin." Kata Mas Aryo. "Iya Mas ... Insya Allah, aamiin ...." kembali tangisnya terdengar. "Kami turut berdukacita ya Dek. Kamu yang sabar, kalau perlu apa-apa bilang sama Mbak atau sama mas ya." kata Mas Aryo sembari mengusap air matanya. "Iya Mas terimakasih." Untuk sesaat kami bertiga pun larut dalam kesedihan. Melihat kondisinya saat ini pasti dia sangat kesepian. Lama kupandangi wajah pucatnya. Mungkin jika aku diposisi dia, entahlah tak bisa kubayangkan. Perlahanan netraku pun jatuh pada perutnya yang agak membesar seperti perutku. Apakah dia hamil? Aku sangat berhati-hati saat berbicara dengannya. Karena tabiatnya jika tersinggung akan berubah saat itu juga. Aku tak berani bertanya langsung, lebih baik kusimpan saja rasa penasaran ini. Belajar dari pengalaman, apalagi kami baru bertemu setelah belasan tahun terpisah. Kulihat mas Aryo mulai tak tenang, mungkin dia segan untuk berterus terang. Dari tadi kuperhatikan berkali-kali dia merubah posisi duduknya. Kebiasaannya memang seperti itu kalau tak betah, tak heran aku. "Yang, beliin aku seblak dong dibungkus ya, biar aku makannya disini aja bareng adikku" kataku. "Oh iya, tadi kan memang pengen seblak ya, kamu Dek mau dibeliin apa?" tanyanya pada Sukesih. "Eh, gak usah Mas, saya gak pingin apa-apa." "Belikan aja Mas, jangan lupa es dawetnya ya!" pesanku. "Iya sayang, ya sudah Mas pamit dulu ya." "Iya ...." Setelah mas Aryo pergi, kami pun bercerita tentang kehidupan masing-masing. Hal yang tak pernah kami lakukan. Dulu jika kami bersama ujung-ujungnya pasti akan bertengkar. Karena memang kami berdua tak pernah dekat. Jangankan bercanda, tidur pun kami tak pernah mau sekamar. Bak kata pepatah lama, Kami berdua itu seperti air dengan minyak, tak akan pernah bisa menyatu. Padahal sedari kecil hingga dia remaja akulah yang selalu memperhatikannya, mengurus semua kebutuhannya. Tak jarang pula aku selalu menahan lapar jika dia belum merasa kenyang. Entah apa salahku hingga dia sangat membenciku. Bukan aku mengungkit masa lalu, seandainya dia mau menuruti keinginan Ibu, dan tidak bergaul dengan anak-anak jalanan itu. Mungkin kehidupannya saat ini lebih baik dari sekarang. "Ibu, sehat kan Mbak?" Suaranya membuyarkan lamunanku. Aku yang tak begitu jelas mendengar pertanyaanya langsung tergagap kebingungan. "Ta-tadi ... apa ya Dek?" tanyaku. "Ibu, apa kabar Mbak, sehatkan?" "Astaghfirullah, jadi kamu belum tahu ya Dek?" "Belum tahu apa?" "Ya Allah, ibukan udah gak ada Dek." kataku parau. Entah kenapa setiap aku mengingat tentang ibu hatiku rasanya sedih. Rasa bersalah selalu membayangiku. Meskipun kata mas Aryo itu bukan salahku, tetap saja aku tak bisa memaafkan diriku sendiri. Aku selalu dihantui rasa penyesalan yang teramat dalam. Itu juga salah satu penyebab stress yang aku alami. "Astaghfirullah, innalilahi wa innailaihi rojiun ibu ... ya Allah, ampuni hamba yang telah lama melupakan ibu ya Allah." Tangisnya pun kembali pecah, membuatku ikut menangis dan akhirnya kami berdua larut dalam kesedihan, lagi. Setelah puas menumpahkan segala kesedihan, kulihat Sukesih melamun. Pandangan matanya lurus keluar rumah, entah apa yang dia pikirkannya. "Apa mungkin kesusahan hidup yang aku alami ini karena aku tak pernah peduli dengan ibu ya Mbak?" tanyanya tiba-tiba. "Eh, hah ... kok kamu ngomong gitu?" "Ya kan kata pak ustadz, kalau kita selalu membantah perkataan orang tua serta menelantarkannya, hidup kita tak akan pernah senang." Kata Sukesih. "Mungkin saja, bisa jadi begitu. Kan ustadz yang ngomong pasti beliau lebih pahamlah." Kataku menimpali. Aku yang awam akan ilmu agama hanya bisa menjawab seadanya. Membenarkan setiap perkataannya, karena apa yang dikatakannya juga terjadi pada hidupku. Aku sering membantah nasehat ibu. Aku juga tahu Ibuku hidup dalam kesusahan. Anehnya tak ada sedikitpun niat untuk mengurusnya, apalagi merawatnya. Mungkin itulah sebabnya, sekeras apapun aku berusaha tetap saja hasilnya nol. Aku sadar, aku sudah menelantarkan Ibuku. Aku zholim pada ibuku sendiri. Ampuni aku ya Allah. Seandainya ibu masih ada, pasti beliau senang dan bahagia. Melihat kami berdua telah menyadari kesalahan yang pernah kami lakukan. Namun sayang semuanya telah terlambat. Ibu telah tiada untuk selamanya. Benar kata bang haji Rhoma irama. "Kalau sudah tiada baru terasa, bahwa kehadirannya sungguh berharga." Ya, saat ibu ada di dekatku, entah kenapa aku tak perduli dengannya. Sekarang aku malah rindu akan sosoknya. Aku rindu nasehatnya yang selalu mengingatkanku agar tak mengambil yang bukan milikku. Ibu yang selalu melarangku untuk tidak berhubungan dengan pria beristri. Namun selalu kuabaikan. Ku akui hubunganku dengan mas Aryo tak pernah direstui oleh ibu. Walaupun mas Aryo baik padanya tetap saja ibu tak menyukainya. Hingga akhir hayatnya ibu belum memberikan restunya pada kami. Walaupun ibu tak menyukai menantunya itu, tapi dia selalu marah padaku saat aku ketahuan menggoda pria lain. Ibu bahkan mendiamkanku karena aku tak pernah mendengarkan nasehatnya. Kini semuanya telah berlalu, walaupun terlambat setidaknya aku menyadari, selama ini kesusahan yang aku alami karena aku tak pernah perduli dengan nasehat orang tua. Bahkan selalu menelantarkannya, ya walaupun katanya rezeki sudah ada yang mengatur. Jangan pernah sekalipun menyakiti hati orang tua, karena itu salah satu jalan menuju pintu rezeki. Setidaknya begitulah pemahamanku atas ucapan Sukesih tadi. Suatu saat nanti, jika ada kesempatan untukku memperbaiki diri, aku ingin belajar tentang ilmu agama. Semoga ya Allah, aamiin. Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN