POV Mas Aryo

1477 Kata
Episode 16 POV Mas Aryo Jatuh cinta pada lawan jenis bukanlah hal yang tabu. Berpoligami juga bukanlah sesuatu yang dianggap aib, selagi kita mampu dan sanggup kenapa tidak? Aku jatuh cinta untuk kedua kalinya, diusiaku yang tak lagi muda. Aku berharap istriku berbesar hati menerima permintaanku untuk berpoligami. Alasanku selain jatuh cinta aku juga ingin menolong gadis itu keluar dari himpitan ekonomi yang menghimpit keluarganya. Bukannya menerima, istriku malah menggugat cerai tanpa menyisakan sedikitpun harta gono-gini untukku. Membuatku harus bekerja ekstra keras dalam mencari nafkah. Karena terlanjur hidup enak istri mudaku pun mengancam akan meninggalkanku jika aku tak bisa memberinya uang yang banyak. Untungnya uang simpananku masih cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sayangnya karena terbiasa dengan gaya hidup yang serba wah, membuatku lupa untuk berhemat. Berbagai usaha telah kulakukan untuk bangkit dari keterpurukan, tetap saja hasilnya lagi-lagi aku bangkrut. Tak ingin jadi bahan olok-olokan teman-temanku akupun akhirnya memboyong istriku untuk pindah ke ibukota. Ditempat yang baru aku berharap adanya perubahan yang akan menghampiri kami. Entah kenapa lagi-lagi aku gagal. Sebelum menikahi Sumira aku tergolong orang yang sangat disegani, baik di lingkungan rumah ataupun pasar. Tak jarang pula para pedagang kecil meminta bantuanku. Aku juga royal pada siapapun yang ingin bergaul denganku. S*alnya setelah aku jatuh dan terpuruk, mereka yang dulu pernah kutolong seakan amnesia. Bukan hanya keluarga, bahkan teman-teman nongkrong pun seolah-olah lupa dengan semua kebaikanku. Bukannya membantuku, mereka malah menjadikanku bahan olok-olokannya. Pertemanan yang kukira abadi itu hanyalah bualan semata, agar mereka bisa makan dan ngopi gratis, tak lebih. Menjadi bahan gunjingan di seantero pasar membuatku semakin terpuruk, aku stress dan sikapku pun berubah. Aku sempat bergabung dengan beberapa pr*man pasar. S*alnya salah satu dari mereka malah menjadi menantuku. Tak mau jadi bahan olok-olokan lagi karena seprofesi dengan menantuku, akupun mencoba bekerja sebagai tukang parkir. Sayangnya terlalu banyak saingan dan aku tak mampu bertahan. Diusiaku yang lebih dari separuh abad akhirnya aku menyerah, aku tak lagi punya tenaga untuk bersikap angkuh. Aku sadar kerasnya kehidupan mau tak mau aku harus menurunkan gengsiku. Pilihan terakhirku hidup sebagai kuli serabutan di pasar induk, sungguh akhir yang sangat tragis. Apa boleh buat demi sejengkal perut dan kebutuhan anak istri terpaksa aku lakukan. Benar-benar pengalaman hidup yang sangat berharga. Jika ditanya apakah aku bahagia? Jawabnya iya, aku bahagia. Apakah aku menyesal? Prinsipku yang berlalu biarlah berlalu. Puncak kebahagiaan ku ketika itu ialah saat kedua anakku lahir, jika sebelumnya aku tak pernah memiliki anak perempuan. Di pernikahan ini aku malah dipercaya mendapatkannya. Walaupun setelah kelahiran mereka keadaan ekonomi kami semakin terpuruk, aku tak masalah. Sayangnya istriku bukanlah wanita yang sabaran. Dia masih terlalu polos dalam menjalani kehidupan. Akibatnya dia merasa hidupnya semakin menderita. Karena seringnya dia mengeluh membuatku semakin emosi, akibatnya pertengkaran demi pertengkaran mewarnai kehidupan kami setiap hari. Sebenarnya tuntutan dan gaya hidup istrikulah yang membuatku kewalahan mencari nafkah. Jika saja dia mau sedikit bersabar, mungkin keadaan kami tak serumit ini. Dengan berat hati akhirnya kurelakan istriku kembali bekerja di rumah makan tempat kami pertama bertemu. Sedangkan kedua anakku kami titipkan pada mertuaku, dari mereka kecil sampai mereka berdua menikah. Kami menjalani hidup terpisah selama belasan tahun, sungguh keadaan yang tak pernah ada dalam mimpiku atau mimpi siapapun. Sebenarnya hidup terpisah dengan istri dan kedua anakku sangat menyiksa hati dan juga pikiranku. Apalagi istriku masih sangat muda, tak sedikit p****************g yang menggodanya. Aku tahu dan maklum karena pekerjaannya sebagai pelayan restoran, bukanlah hal yang mudah membuatnya harus tahan dengan segala godaan. Aku bersyukur karena istriku tipe wanita yang setia, selain cantik menurutku dia juga pekerja keras. Semenjak kedua anakku menikah, istriku berhasil mengumpulkan modal dan mulai membuka usaha sendiri di rumah kontrakannya. Awalnya hanya berdagang keliling pasar, karena masaknya enak diapun mulai berani menerima pesanan. Lambat-laun usaha yang dirintisnya membuahkan hasil, usahanya pun semakin maju, perlahan hidup kamipun mulai berubah. Seiring berjalannya waktu bukan hanya perekonomian kami yang semakin membaik. Perlahan kulihat banyak sekali perubahan yang terjadi pada diri wanitaku itu. Selain tambah cantik sifatnya pun tak seperti dulu, keras dan pemalu. Sekarang dia terlihat lebih genit, mungkin karena tuntutan profesi yang membuatnya harus bersikap ramah dan menyenangkan, Entahlah. Aku sering mendengar cerita tentang perilaku istriku yang suka menggoda pria lain, saat aku tak di rumah. Namun, aku bukanlah tipe orang yang gampang percaya dengan isu. Jika tidak melihat langsung aku takkan pernah percaya tentang perselingkuhan istriku yang sering dibicarakan orang. Aku hanya menanggapinya dengan gelengan kepala, kuanggap semua berita miring tentang istriku sebagai angin lalu. Karena aku yakin istriku bukanlah wanita seperti itu, terlalu naif bukan? seolah aku lupa siapa dan seperti apa istriku dulu saat kami belum menikah. Mungkin karena cintaku yang teramat besar padanya membuatku seakan menutup mata dengan keadaan yang sebenarnya. ** Saat tengah beristirahat di kontrakan, seseorang dengan nomor yang tak kenal menelponku. Mengatakan padaku jika saat ini istriku tengah berduaan dengan selingkuhannya di dalam rumah. Mendengar itu darahku seketika mendidih, tanpa membersihkan tubuh terlebih dahulu, akupun bergegas pulang ke rumah untuk membuktikannya. Sayangnya saat dalam perjalanan pulang ojek yang kutumpangi terjebak macet, membuatku terlambat sampai dirumah. Dengan penuh emosi kudobrak pintu rumah yang tengah tertutup itu dengan sekuat tenaga. Sayangnya pintu itu ternyata tidak dikunci, membuatku hampir terjerembab. Karena emosi tak kuperdulikan lagi rasa maluku. Dengan tangan terkepal dan nafas memburu kususuri semua ruangan yang ada, sembari menendang apa saja yang menghalangi jalanku dan hasilnya nihil. Tak ada siapapun di rumah ini selain istriku. Bukannya menemukan bukti perselingkuhnya, aku justru terpesona dengan keindahan bentuk tubuhnya yang dari dulu hingga sekarang tetap mempesona. Membuatku seketika lupa dengan tujuan semula. Karena takjub aku pun tak mampu berkata-kata, aku menatapnya tanpa berkedip. Istriku benar-benar mempesona ketika tubuhnya hanya dibalut daster tipis dan pendek itu. Aku yakin siapapun yang melihatnya pasti sependapat denganku. Melihatku yang hanya terdiam membuatnya salah tingkah, membuatku semakin menginginkannya. Aku bahkan tak perduli dengan rengekannya tentang bau tubuhku yang sangat busuk menusuk hidungnya, dengan rakus kukunci tubuhnya dan kunikmati setiap inci kulitnya hal yang sangat kusukai dari dulu hingga sekarang. Usia tua tak membuatku lupa akan kenikmatan, justru saat-saat seperti inilah yang membuatku selalu rindu dan ingin cepat pulang ke rumah. ** Saat kakak tertuaku wafat, aku yang semula dijauhi dan dibuang oleh keluarga akhirnya diterima kembali. Membuatku berhak kembali atas warisan orang tua kami yang sempat dibekukan kakak-kakakku. Mungkin karena sudah sama-sama tua merekapun akhirnya memaafkan semua kesalahanku. Merekapun memintaku untuk tidak lagi bekerja sebagai kuli dipasar. Aku tahu sebenarnya mereka tak tega, tapi karena kecewa dan malu atas segala tingkah lakuku. Mereka pun terpaksa melakukannya, dan aku memakluminya. Saat ini kami semua sudah melupakan yang pernah terjadi, sebagai saudara selayaknya kami saling memaafkan kekhilafan masing-masing. Bagiku apapun yang terjadi biarlah terjadi, dan yang lalu biarlah berlalu. Tak guna lagi diungkit atau dikenang. Begitu juga dengan anak-anakku dari istri pertama, mereka pun akhirnya mau mengakuiku sebagai ayah. Membuatku terharu dan tak mampu lagi menahan tangis kebahagiaan, akhirnya hal yang telah lama ku nanti-nantikan kini sudah kudapatkan. Sayangnya istriku Sumira tak ada di sini, jadi tak lengkap rasanya kebahagiaan ini. Untuk sementara sengaja kurahasiakan kabar baik ini pada anak dan istriku, aku tak ingin terlihat bahagia saat mereka tengah berduka karena meninggalnya ibu mertuaku. Takutnya malah salah faham. Aku juga tak ingin melihat istriku cemburu karena hubunganku dengan mantan istri telah membaik. Apalagi saat ini kondisinya masih sangat terpukul karena belum sempat meminta maaf kepada almarhumah ibunya. Suatu saat nanti semuanya akan ku ungkapkan dan aku berharap saat itu Allah masih memberiku umur panjang, Aamiin. Aku masih beraktivitas seperti biasanya, seminggu dirumah seminggu dipasar. Aku tak ingin istriku curiga dengan penampilanku, itu sebabnya aku masih belum merubah penampilanku. Padahal jika aku kembali ke pasar aku tak lagi berpenampilan kumuh, karena sekarang aku tak lagi bekerja sebagai kuli. Saat ini aku kembali dipercaya untuk mengelola usaha yang sempat aku tinggalkan dulu. Aku kembali menjadi juragan dipasar, kontrakan yang dulu kutempati tak lagi kuhuni. Aku kembali menempati rumah toko milikku sendiri. Aku juga sudah membeli mobil baru, namun tak pernah kubawa pulang kerumah istriku. Bukan aku pelit, aku ingin memberikan kejutan untuknya sampai waktunya tiba. Saat ini aku tengah membangun sebuah rumah untuk tempat tinggal kami berdua nantinya, sebuah rumah impian seperti keinginannya dulu. Ah, rasanya tak sabar menunggu hari itu. Diluar dugaan, saat aku sedang berada di pasar anakku Dewi menelponku, memintaku untuk segera pulang. Karena penasaran akupun mendesaknya untuk mengatakan apa yang terjadi. Aku sangat terkejut dengan kabar yang dia katakan, hampir tak percaya dengan yang kudengar. Namun rasa haru dan bahagia mengalahkan segalanya. Istriku hamil, aku heran sekaligus terharu. Aku yang tak lagi muda ternyata bisa membuat istriku kembali mengandung. Hal yang telah lama aku nantikan. Aku ingat ketika dia hamil anak pertama kami keadaannya sangat memprihatinkan. Aku yakin kali ini keadaannya pasti tidak baik-baik saja, itu sebabnya sebelum pulang aku sempatkan untuk membeli beberapa jenis makanan dan buah-buahan segar. Tak sabar rasanya untuk segera sampai kerumah, aku ingin mendengar kembali perlakuan kasarnya padaku setiap kali dia menginginkan sesuatu, dasar istriku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN