Pov Mas Aryo B

1387 Kata
Cinta Kedua Pov mas Aryo. Episode 17 Ketika dokter mengatakan semua baik-baik saja, rasa syukur kepada sang pencipta berkali-kali kugaungkan. Aku bahagia akhirnya penantian ini berakhir juga. Rasa senang seolah memenuhi rongga hatiku, membuatku terus tersenyum wujud syukur atas kelahiran putraku dan Sumira. Apa yang selama ini menjadi impianku akhirnya tercapai juga. Namun, ketika kulihat bayi mungil yang nampak sehat itu bergerak-gerak seperti bayi-bayi lainnya mendadak hatiku bingung. Usiaku memang tak lagi muda, jika aku tak pernah menikah lagi mungkin saat ini statusku lebih cocok dibilang kakek dari bayi yang baru saja lahir itu. Tetapi apa mau dikata, istri yang paling aku cinta ternyata masih bisa kubuahi. Awalnya aku sangat bahagia karena diberi rezeki berupa anak laki-laki. Bahkan ketika usiaku mulai senja, dan aku mendapatkannya setelah lebih dari dua puluh tahun usia pernikahan kami. Semua pria di dunia ini pasti sangat bahagia, jika mendapatkan sesuatu yang selalu menjadi impiannya. Ditengah rasa bahagia dan bangga tiba-tiba saja aku merasa gamang. Tatkala mengingat kembali saat pertama kali istriku mengatakan bahwa dia tengah berbadan dua. Menurutku ada yang janggal dengan kelahiran putra bungsuku itu, walau usiaku senja tapi ingatanku hingga saat ini masih bisa diandalkan. Aku ingat betul saat pertama kali Dewi menelponku memintaku untuk segera pulang, karena istriku sedang tidak enak badan akibat kehamilannya. Benar saja setelah kuhitung berulang-ulang mestinya usia bayi kami baru menginjak delapan bulan. Harusnya bayi ini lahirnya prematur, tapi kenapa dokter bilang semuanya normal dan bayinya sehat. Yang lebih mengherankan saat aku bertanya tentang biaya inkubator. Dokter malah tersenyum padaku, katanya bayi kami lahir sesuai hari perkiraan lahir hanya kurang satu minggu dari jadwal. Itu sebabnya bayi kami tak dimasukkan ke inkubator, dia hanya butuh observasi biasa saja. Aku bingung dengan semua yang terjadi, kuakui memang aku tak pernah peduli dengan usia kandungan istriku. Yang ku tahu setiap bulannya istriku wajib memeriksakan kandungannya ke rumah sakit ini. Karena faktor usia yang membuatnya harus sering-sering kontrol ditambah kondisinya yang sering pendarahan. Selebihnya, aku tak mengerti. Tugas ku hanya mengingatkannya saja untuk rutin mengecek kandungannya. Tanpa pernah peduli dengan keadaannya, pokoknya apapun yang dikatakan istriku selalu ku iyakan. Beberapa hari yang lalu istriku pun sempat dirawat di rumah sakit ini, kata dokter istriku stress akibatnya tensi darahnya selalu naik. Aku bingung entah apa penyebabnya padahal setiap kali dia menginginkan sesuatu pasti langsung kami penuhi permintaannya. Kesalahanku adalah tak pernah sekalipun aku mau bertanya pada dokter tentang usia kandungan istriku. Entah kenapa rasanya begitu malu untuk bertanya tentang kondisi istriku serta kandungannya kepada mereka. "Keluarga ibu Sumira!" Kata salah satu perawat yang menangani anak dan istriku. "Iya Bu, saya." "Bapak orang tuanya ibu Sumira ya? Suaminya kemana ya pak? Soalnya bayinya harus diazankan dahulu sebelum dibawa keruang khusus bayi." Katanya sembari mengendong bayiku. "Saya suaminya ibu Sumira Bu, boleh saya azankan sekarang?" Kataku sambil tersenyum. Kulihat perawat itu jadi salah tingkah setelah mendengar ucapanku. "Oh ... Maaf ini silahkan pak." Katanya sembari memberikan bayi mungil itu padaku. Sebenarnya aku sangat gugup saat menggendong bayi mungil itu, tanganku rasanya gemetaran, saking bahagianya hatiku. Dengan nafas terputus-putus ku azankan bayiku. Harapanku semoga kelak Allah SWT menjadikannya anak yang sholeh serta menjadi kebanggaan orang tuanya, aamiin. Aku tak perduli dengan suara bisik-bisik dari kedua suster cantik di pojok ruangan itu. Aku tak ingin bersuuzon dengan mereka. Sebenarnya aku mendengar apa yang mereka bicarakan tapi kuanggap angin lalu. Karena ucapan-ucapan seperti itu terlalu sering aku dengar membuat telingaku kebal dengan kata-kata mereka. Memang benar yang mereka katakan, bayiku terlalu tampan untuk menjadi anakku. Terutama hidungnya yang sangat mancung, kontras dengan hidungku yang biasa saja apalagi dengan istriku sangat jauh berbeda. Namun semuanya kutepis, aku harus berpikir positif. Namanya juga bayi dan beratnya pun masih sangat mungil, mungkin itulah sebabnya mengapa hidung bayiku terlihat lebih mancung, pikirku. Setelah semuanya beres dan istriku pun sudah dibawa kembali ke ruang rawat inap. Akupun meminta Dewi anakku untuk menggantikanku sebentar. Sejujurnya aku sangat lelah, maklumlah diusiaku yang sudah lebih dari enam puluh lima tahun aku harus begadang, manalah kuat. Untungnya kedua anakku dengan senang hati membantuku, begitu juga dengan keluarga lainnya. Kami semua bergantian menjaga istriku. Aku bersyukur walaupun aku tak sanggup menjadi suami siaga setidaknya anak dan menantuku tak berpangku tangan. "Alhamdulillah ya Yah dedenya baik-baik saja." kata Dewi. "Iya, Alhamdulillah, nanti kamu bawa pulang ya pakaian kotor ibumu." kataku kemudian. "Iya, ayah tenang saja di sini, pikirkan juga kesehatan ayah, jangan terlalu sering naik turun tangga." katanya sembari mengelus bahuku. "Iya, nanti malam siapa yang jaga? Ayah rasanya gak kuat kalau begadang, tapi gak enak juga kalau ninggalin ibumu sendirian." "Aku yang jaga, udah jangan dipikirkan, kami kan ada, ayah gak usah khawatir ibu pasti kami jaga kok." " Ya udah kamu pulang dulu, nanti sore baru kemari lagi, ajak suamimu." " Kita pulang bareng, bentar lagi kak Putri juga datang, katanya tadi dia sudah di jalan." "Oh, ya sudah, saudara yang lain apa sudah kamu kabari?" "Sudah, Ayah tenang saja." "Bibimu Sukesih sudah dikabarikan? soalnya kemarin ayah sama ibu baru aja ketemu sama dia, pasti di hape ibumu ada nomernya, coba cek." kataku sembari memberikan ponsel pintar itu kepada Dewi dan menyuruhnya untuk memeriksa seluruh panggilan dan nomor yang ada di ponsel istriku. "Gak ada yah, kayaknya ibu belum nyimpan nomor baru, dipanggilannya juga gak ada nomor baru." "Oalah, pasti ibumu lupa itu minta nomor hapenya, terus gimana? apa ayah samperin aja ya?" "Memangnya ayah tahu rumahnya?" "Ya tahulah, kan kemarin sempat main kesana waktu ibumu pulang dari rumah sakit, kita ketemu di jalan." "Oh yaudah nanti kita kesana aja ya." "Iya." Setelah Dewi selesai mengemasi barang-barang yang akan kami bawa pulang, akupun pamit hendak pergi ke luar untuk membeli buah-buahan segar di depan rumah sakit ini, kata orang makan buah itu lebih baik untuk ibu yang baru selesai melahirkan karena dapat membantu lancarnya proses pencernaan, selain buah aku juga memesan jus alpukat dan membeli beberapa jenis kue. Aku yakin istriku pasti membutuhkan asupan gizi yang banyak. Setelah membeli semuanya akupun kembali ke rumah sakit tersebut, namun belum sempat aku masuk aku melihat adik iparku Sukesih tengah berbicara dengan seorang wanita muda, kalau kuperhatikan usianya tak jauh beda dengan putri anakku, atau bisa juga lebih tua wanita itu, kira-kira siapa ya? Rasa penasaran dan bahagia membuatku tak sungkan-sungkan untuk menghadapi mereka berdua, sebenarnya jika diperhatikan cara mereka berdua berbicara seperti takut-takut, berulang kali kulihat Sukesih celingak-celinguk seperti mengawasi seseorang, tapi kenapa? dan siapa yang dicarinya ya? "Ah ... daripada aku suuzon mending kuhampiri saja mereka, sambil ngasih tau kalau kakaknya baru saja melahirkan, pasti dia senang." pikirku. Segera kupercepat langkah, namun sayangnya belum sempat aku sampai wanita muda lawan bicara Sukesih sudah lebih dulu pergi sembari meninggalkan sesuatu yang terbungkus kantong plastik warna hitam ditangan Sukesih, entah apa. "Assalamualaikum, Dek Sukesih! apa kabar? lagi periksa atau ada yang sakit Dek?" kataku sembari tersenyum. "Astaghfirullah, ma-af Mas Aryo ... Wa'alakumsalam." katanya sembari memegang dadanya, tanda kaget. "Maaf loh ya, lagi ngapain?" "Oh, ini tadi saya lagi ... Emm ... Anu, njenguk teman, iya jenguk teman almarhum mas Wahyu, loh ... Mas sendiri? siapa yang sakit Mas?" "Mbak mu kan sudah melahirkan tadi malam, anaknya laki-laki, ayok kalau mau sekalian jenguk, pasti mbakmu senang." "Alhamdulillah, oh iya sudah ayok Mas, lah yang nungguin mbak Mira siapa Mas?" "Dewi, anakku yang kedua kamu belum pernah ketemu kan ya?" "Hehehe iya, sama anaknya mas yang lain juga kayaknya belum, duh jadi gak enak, hehehe." "Ya gak apa-apa, yang penting sekarang ini kita semua sudah bertemu lagi." "Iya Mas." "Tapi sebelumnya aku minta maaf loh Mas karena gak bisa ikut jaga Mbak Mira, soalnya ...." "Gak apa-apa, yang penting kamu sudah tahu, masalah yang jaga mbakmu gak usah khawatir, kan masih ada Putri sama Dewi, saya yang harusnya berterima kasih karena kamu sudah mau mampir jenguk mbakmu." "I-iya Mas." Saat kami tiba dilantai tiga ruang rawat inap tiba-tiba seorang wanita paruh baya memanggil nama Sukesih, membuatku seketika ikut menoleh ke arah suara tersebut. "Sukesih, akhirnya kamu datang juga, Alhamdulillah ... Boby nanyain kamu terus loh, ayo buruan." katanya sembari menggamit tangan Sukesih. Kulihat Sukesih tersenyum, sekilas wajahnya seperti orang yang kebingungan. Ada apa dengannya? Siapakah wanita paruh baya itu? Dari penampilannya yang terlihat anggun sepertinya usia kami tak jauh berbeda, hanya saja dia terlihat awet muda mungkin karena perawatan dan tingkat kenyamanan hidupnya yang lebih dari cukup. "Orang kaya ini mah." batinku. Kira-kira siapa ya yang bersama Sukesih?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN