Nada menatap surat perjanjian yang telah ditandatangani dalam genggamannya. Lalu menoleh ke samping, Pada lelaki yang tanda tangannya juga sudah terbubuh pada secarik kertas bermaterai yang sesaat lalu dia pandang. Benarkah semuadah ini?
Dengan linglung, Nada kembali menolehkan pandangan, ke atas meja kali ini. Paspor dan tanda pengenal lain yang berbasis UEA milik lelaki itu masih berserakan di sana. Beberapa saat lalu Echa memeriksanya demi keamanan. Lelaki ini bukannya tidak punya uang, dilihat dari halaman paspornya yang penuh dengan cap dari berbagai negara, serta penampilannya yang jauh lebih baik dari saat dia melihatnya di restoran cepat saji, lelaki ini bukan gembel seperti yang Nada cari atau seperti kesan awal yang mereka dapati. Tapi, mengapa dengan mudahnya lelaki itu menyetujui perjanjian ini? ditambah lagi lelaki itu terlalu tampan, terlalu sempurna.
“Cha, semua ini nggak bener!” katanya dengan bahasa Indonesia agar Alden tidak mengerti.
Echa yang sedang ngobrol obrolan basa-basi, menoleh dengan bingung. “Apanya yang nggak bener?”
“Ayo kita ke toilet dan bicara!”
Echa menghela nafas sebal, sebelum bicara pada Alden untuk meminta ijin. “Sorry if we leave you for a while. Indonesian ladies never go to the toilet alone.”
“Oh ya, nope.” Lelaki itu tersenyum sebelum menoleh pada Nada, yang dibalas Nada dengan canggung.
Dia dan Echa berdiri, lalu langkah mereka berderap menuju toilet wanita yang tersedia di cafe tempat mereka bertemu dengan Mr. Tampan.
“Kenapa lagi sih, Nad?” tanya Echa langsung, sesaat setelah mereka masuk ke dalam toilet. Hanya ada seorang wanita yang sedang mencuci tangan di sana.
“Kamu nggak ngerasa ini terlalu mudah? Cha, dia itu ganteng pake banget! Liat isi paspornya, penuh sama cap dari berbagai negara. Belum lagi penampilannya, kamu liat logo kaosnya kan? Tau harga kaos dengan logo itu berapa?” terdengar suara dengungan pengering, sebelum wanita yang tadi di dalam bersama mereka keluar, meninggalakan Nada dan Echa berdua saja.
“Emang sih agak aneh. Tapi kenapa kamu baru ngerasa curiga setelah tanda tangan kontrak? Lagi pula kaos itu bisa aja palsu.”
“Kamu yang nyuruh aku, Cha! Ya aku mah nurut aja!”
“Jadi kalau aku suruh kamu cium si Alden, bakalan kamu cium gitu?”
“Echa!”
“Udahlah, Nad, nggak usah hawatir. Justru penampilannya yang dandy jadi nilai plus. Kayaknya dia emang gemar deh keliling dunia. Sepuluh ribu dolar kan lumayan buat dia pake berpelesir kenegara-negara tetangga kita. Sampe mabok malah. Lagi pula, untung lah dia, selama sebulan kamu yang tanggung hidupnya. Dia bisa dateng dan nyoba hidup di daerah kecil di satu negara. Itu akan jadi pengalaman menarik buatnya.”
“Itu kan persepsimu.”
“Hey, hey, aku ini penulis, sedikit banyak aku bisa tau karakter orang saat ngobrol sama orang itu.”
“Tapi tetap, Cha, aku takut. Sesuatu yang terlalu mudah di dapatkan, akan mudah hilang juga.”
“Hello, Nada! Semakin mudah suami bohongan kamu hilang, akan semakin baik. Emangnya kita susah-susah buat cari suami sewaan untuk apa? Bukan untuk selamanya kamu nikah sama dia, Nad!”
Kenapa omongan Echa selalu benar? Dan kenapa, untuk kebenaran omongannya kali ini membuat Nada merasakah sesuatu yang sangat tidak nyaman. Dua puluh sembilan tahun, dan Nada harus membayar untuk mendapatkan seorang lelaki yang mau mengucapkan ijab kabul. Tidakkah itu terdengar menyedihkan?
Setelah kembali duduk bersama Alden, Echa dan lelaki itu terlibat obrolan menyenangkan. Beberapa kali Echa ataupun Alden memancing Nada untuk turut dalam obrolan mereka, tapi karena canggung dan gugup, Nada tak pernah bisa masuk dalam setiap obrolan. Dia lebih baik jadi pendengar, yang ikut tersenyum ketika mereka tertawa. Atau ikut menganggukan kepala ketika salah satu dari mereka membicarakan sesuatu yang butuh persetujuan.
Namun rupanya Echa tidak mengerti, atau terlalu mengerti, jika Nada tidak bisa berbincang bersama Alden dengan santai. Memangnya siapa sih yang bisa jika harus berhadapan langsung dengan mata paling memikat yang pernah Nada lihat? Setiap kali bicara lelaki itu akan merendahkan dagunya, menatap tepat dimatanya, sepenuhnya menaruh perhatian pada lawan bicaranya. Ya Tuhan, bisa lumer wajah Nada karena panas.
Kecuali Echa tentu saja. Nada tidak mengerti bagaimana temannya itu sama sekali tidak terpengaruh berada di dekat Alden. Apa karena terbiasa dengan Adit? Pacarnya itu walau orang Indonesia tulen cakepnya luar dalem. Yah, mungkin saja karena itu, Echa bisa membawa dirinya menjadi teman bicara yang menyenangkan. Alden tidak salah paham dengan mengira partner kerjasamanya adalah Echa, kan?
“Jadi, Nad, karena ada yang ingin aku cari dulu, kamu bisa pulang dianter Alden.” Kata Echa membuyarkan lamunannya.
“Apa? Apa yang mau kamu cari?”
“Nad, selama kita ngobrol bertiga, usahain pake bahasa Inggris, biar Alden gak tersinggung.”
“Sorry. Tapi apa yang mau kamu cari? Kita kan bisa cari bareng.”
“Oh, ngga perlu.” Echa meraih tas nya dan berdiri. “Aku mau cari sendiri. Alden, titip temanku, ya. Jangan macem-macem, polisi di Bali sadis-sadis lho.”
Alden terkekeh. “Benarkah? Aku hanya perlu mengeluarkan beberapa lembar lima puluh ribu rupiah, dan mereka akan membuka jalannya.”
Echa tertawa, “Sayang sekali kau sudah tau. Kau pasti pernah ditilang. Bagaimanapun, jaga temanku. Karena aku sudah mengkopi semua data-datamu.” Echa mengajungkan ponselnya, di mana foto dari setiap identitas Alden tersimpan di sana.
“Jangan hawatir.”
“Ya sudah, sampai berjumpa lagi.” Echa pergi dengan melambai dan senyuman penuh arti terlukis penuh di wajahnya.
Nada berdehem pelan, menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal. Tidak yakin harus berbuat atau bicara apa pada mahluk yang duduk di sisinya ini.
“Mau pulang sekarang?” tanya Alden mengangetkan Nada. Padahal suara lelaki itu begitu lembut, tikus yang sedang mencuri keju pun rasanya tidak akan berlari pergi ketika mendengar suara lelaki itu.
“Ah, ya!” Nada berdiri, gerakannya terlalu terburu-buru sehingga pinggulnya membentur meja. “Aw!” pekiknya, menghusap-husap pinggulnya yang terasa sakit. sementara Alden yang belum berdiri dengan sigap meraih gelas yang oleng dan hampir jatuh.
Setelah memastikan gelas-gelas itu tidak jatuh dan membuat keributan, lelaki itu berdiri. “Are you oke?”
“Ya... ya... I’m so sorry.”
“No need to sorry. Kecelakaan bisa menimpa siapa saja.”
Nada tersenyum. “Tapi yang itu bukan kecelakaan, namun kecerobohan.” Nada mengehela nafas dengan keras. “Jujur saja, bersama denganmu membuatku gugup.”
Alden tertawa pelan. “Kenapa? Aku tidak berniat menculikmu.” Dia memberikan isyarat dengan tangannya, agar Nada mulai berjalan, dan Alden turut berjalan di sisinya.
“Jelas bukan karena takut kau culik. Ini karena kau terlalu tampan.” Setelah sadar apa yang baru saja dia katakan, Nada mengingit bibirnya, menyesal. Sementara Alden hanya tertawa, membuat Nada berusaha mencari topik lain untuk diobrolkan. “Hm, kita pulang naik apa?”