“Kau menyebut “kita pulang”, membuatku merasa kita sudah benar-benar menikah.”
Salah lagi? “Maafkan aku, maksudku...”
“Kenapa kau canggung sekali?” potong Alden, senyuman tak pernah lepas dari wajahnya. “Aku hanya bercanda.”
Tampan, humoris, dia bisa membawa dirinya dengan sangat baik. Dengan semua itu, dia bisa mendapatkan segalanya yang dia inginkan, tapi kenapa dia mau terikat pada perjanjian demi sepuluh ribu dolar? Antara masuk akal dan tidak, semuanya tergantung pada perekonomiannya. Apa pantas masalah itu untuk ditanyakan? Pikir Nada.
“Kau tidak keberatan kita pulang naik motor, kan?” pertanyaan Alden berkesan tiba-tiba, membuat otak Nada yang sedang memikirkan hal lain lambat untuk mencernanya. “Motor?” tanyanya lagi. Kedua tangannya membantu seolah sedang memegang setang motor. Nada merasa seperti orang i***t yang membutuhkan sebuah visualisasi untuk hal-hal sepele seperti sebuah motor.
“Tidak. Sebenarnya saat datang ke sini juga aku menggunakan motor, bersama Echa.”
Tapi ketika sampai di parkiran, bayangan motor matic yang ia gunakan, atau sebagian turis sewa untuk mengelilingi Bali pun musnah. Lelaki itu menunggangi motor gede dengan mesin 500cc.
“Agar lebih mudah, bisa kau masukan alamatmu? Biar aku mengikuti arahan GPS.”
Nada menerima ponsel yang diberikan Alden. iPhone keluaran terbaru. Dengan cepat dia memasukan alamat pada aplikasi maps, sebelum mengembalikan benda itu pada pemiliknya.
Di atas motor yang melaju cepat, benak Nada terus berputar-putar. Berapa harga sewa motor ini? dari semua informasi, bukankah seharusnya Nada menanyakan di mana lelaki itu menginap? Jika Alden menyewa sebuah motor yang seperti ini, maka seperti apa kamar yang ia sewa? iPhone keluaran terbaru, jam Rolex yang baru Nada perhatikan saat lelaki itu mengulurkan helm padanya. Selain celana training dan kaos kumal yang dikenakan pada saat bertemu di restoran cepat saji dulu, tidak ada indikasi lelaki ini kekurangan dan membutuhkan uang. Tapi, jika bukan karena uang, karena apa dia menyetujui perjanjian ini?
“Kita harus bicara.” Kata Nada segera setelah dia turun dari motor. Helm bahkan masih terpasang di kepalanya.
Alden mematikan mesin motor yang masih meraung, lalu melepas helmnya. “Di sini?”
Nada memperhatikan tempat parkir kost-kostan nya. Agak kurang etis jika mereka bicara di sini. Tapi bukankah terlalu beresiko mengajaknya ke dalam kamar? Lelaki ini bisa jadi seorang perampok dan pembunuh, kan? Nada bergidik, kenapa pikiran itu terbesit dibenaknya pada saat ini? saat kontrak sudah ditandatangani.
Nada terlonjak kaget, dan otomatis mundur ketika dirasakan tangan Alden di lehernya. “A-apa yang hendak kau lakukan?!” terdengar tuduhan dalam pertanyaannya.
“Kenapa terkejut begitu? Aku hanya ingin melepas helm yang kau kenakan.” Tidak ada raut tersinggung, lelaki itu justru nampak hawatir, membuat Nada merasa bersalah.
“Maaf, biar aku saja.” Dia membuka helm dan memberikan helm itu kepada Alden. “Bagaimana jika kita bicara di kamar?”
Alden yang tengah menyangkutkan helm di stangnya langsung melirik. Senyuman di sudut bibirnya penuh dengan makna. Nada jadi sadar jika perkataannya barusan terdengar seperti ajakan yang c***l.
“Ma-maksudku bukan begitu. Tempat tinggalku hanya satu ruang, jadi kami menyebutnya kamar. Ada kursi juga di dalam, selain kasur tentu saja. Jadi kita bisa bicara dikursi itu. Jadi... jadi...” Nada mulai mengigit bibirnya lagi. Sedang bicara apa sih dia?
Tapi melihat Nada yang salah tingkah, Alden justru terbahak. Lelaki itu mengayunkan kaki panjangnya untuk turun dari motor. “Kau memang orang yang canggung, ya? Ayo kita masuk. Dan bicarakan apapun yang ingin kau bicarakan.”
Nada merasakan bulu tengkuknya meremang ketika membuka kunci pintu, sementara Alden berdiri di belakangnya. Apakah tepat mengajak lelaki itu masuk? Tapi sudah percuma memikirkan akibatnya sekarang bukan? Toh lelaki itu sudah melangkah masuk ke dalam, dan dengan santai duduk di salah satu kursi dari dua yang tersedia.
“Apa yang mau kau bicarakan?”
Nada menaruh kaleng soft drink yang baru saja dia ambil dari kulkas di meja kecil, di hadapan Alden seraya duduk di satu kursi yang tersisa. “Begini... hm... mungkin terlambat untuk menanyakan, karena kita sudah menyepakati kontrak. Tapi, bolehkah aku menanyakan apa alasanmu menerima kontrak ini?”
Untuk sesaat, Nada melihat ekspresi wajah Alden mengeras. Senyum hilang dari wajahnya, matanya bersorot dengan dingin. Namun hanya sesaat, sebelum sudut-sudut bibirnya kembali tertarik, membentuk senyuman. “Untuk uangnya tentu saja. Sepuluh ribu dolar hanya dengaan sebulan? Wow! Kau sendiri tau aku tidak mempunyai pekerjaan tetap, karena suka sekali berkeliling dunia.”
Lelaki itu berbohong. Nada tau dia berbohong. Tapi, jika Nada mendorongnya untuk berkata jujur, apa lelaki itu akan mencekiknya? Dengan d**a yang berdebar karena takut, Nada berdiri. Dia menuju kulkas untuk membuka pintunya dan sengaja berlama-lama memilih minuman yang nyatanya tidak dia inginkan. Tangan gemetarnya meraih kaleng pocari, lantas berdiri tegak seraya menutup pintu kulkas.
Walau tidak melihatnya, Nada tau Alden memperhatikan setiap gerak-geriknya. Pinggulnya disandarkan pada konter yang menjadi tempat kompor. Nada membuka minuman kalengnya, matanya melirik ke samping kulkas, dimana rak kecil berisi peralatan masak Echa berdiri. Pisaunya ada di sana. Jika lelaki itu macam-macam, dia bisa meraih pisau dan menusuknya, walau sebenarnya dia berdo’a semoga jangan sampai dia melakukan itu.
“Jujur saja, kau terlihat seperti seorang yang tidak membutuhkan uang.” Mengumpulkan keberaniannya, Nada menatap tepat di manik mata Alden. “Jeans Levi’s asli, sepatu Nike limitid edition, kaos Polo Ralph Laurent, Jam tangan Rolex, iPhone keluaran paling baru. Sepuluh ribu dolar bagimu bukan apa-apa, kan?”
Alden tertawa kecil, tapi kali ini tawa itu tidak sampai ke matanya. Dia berdiri, dan dengan tegang Nada juga berdiri dengan tegak. Kaleng pocari dia taruh di konter, samping kompor. “Aku tidak tau, jika kau memikirkan segalanya seperti itu.” Katanya pelan. Langkahnya pelan tapi pasti, dan setiap langkah yang dia ambil, seolah mengambil oksigen juga dari paru-paru Nada. “Tapi kenapa kau baru memikirkannya setelah kita menandatangani kontrak? Semua itu...”
“Jangan mendekat lagi!” pekik Nada memotong perkataan Alden. Dia mengacungkan pisau yang dengan cepat dia ambil sampai membuat beberapa sendok dan garpu berkelontangan di lantai.
Alden tercekat, diam di tempatnya. “Wow!” ujarnya, mengangkat kedua tangan.
“Aku tidak tau siapa kau, dan apa tujuanmu.” Tenggorokan Nada sarat akan emosi, membuat matanya memanas. “Tapi harus kau tau, aku melakukan ini juga dengan terpaksa. Jadi aku mohon. Aku mohon...” Nada terlalu erat memegang gagang pisaunya, membuat buku-buku jarinya sampai memutih. Dan kedua lengannya juga bergetar, merefleksikan ketakutannya.
Alden menghela nafas seraya menurunkan kedua tangannya. “Lepas pisau itu, dan katakan, apa yang kau takutkan?”
“Kau... aku takut denganmu!”
“Lalu kenapa kau menandatangani kontrak itu?”
“Aku tidak berpikir pada saat itu!”
“Jadi sekarang kau berpikir? Katakan padaku, apa yang sedang kau pikirkan?”
“Kau... kau terlalu tampan.” Sial, Nada memaki dalam hati, bisa-bisanya itu kalimat pertama yang keluar dari mulut tentang pikirannya.
“Dan masalahnya?”
“Kau nampak tidak butuh uang! Kau tampan dan tidak butuh uang! Aku tidak menemukan alasan untuk apa kau menandatangani kontrak itu, kecuali... kecuali...”
Alden mengangkat sebelah alisnya. “Kecuali?”
“Kecuali kau adalah seorang pembunuh dan membunuh untuk mengambil organ dalam korbanmu.”
Untuk lima detik pertama Alden terdiam, sebelum tawanya mengisi kesunyian yang mengerikan. “Itu kah pikiranmu? Sekarang pikirkanlah, Echa sudah mengkopi semua dataku, apa kau pikir aku bisa mengambil resiko sebesar itu?”
“Data-data itu bisa saja palsu!”
“Oke... katakanlah data-data itu palsu. Sekarang, kau bilang aku tampan, bukan?” Nada enggan mengakui, tapi toh dia mengangguk. “Bukankah mudah bagiku menjerat korban dengan wajah ini? tidak perlu rumit-rumit dengan seorang wanita yang sudah kesana-kesini mencari seseorang untuk disewa. Tidak perlu rumit-rumit memalsukan semua data-data. Aku hanya perlu datang dari satu pub ke pub lain, pastilah, aku akan mendapatkan satu wanita untuk aku bawa pulang. Bukan begitu?”
Jika dipikir, semua itu memang masuk di akal. Tapi Nada tetap merasa ada yang mengganjal, saat dia tidak tau alasan apa yang membuat lelaki itu menerima kontrak ini. mustahil jika karena dia benar-benar tertarik pada Nada. Mustahil!
Alden maju dengan langkah yang sangat perlahan, sehingga Nada nyaris tidak menyadarinya. “Kita bekerja sama, hal yang paling mendasar untuk membuat semua itu berjalan adalah kepercayaan. Jadi, belajarlah mempercayaiku. Seperti aku yang belajar percaya, jika kau memiliki uang sepuluh ribu dolar, walau kalau dilihat-lihat itu mustahil.”
“Aku punya uang itu!”
“Tapi kalau aku memakai teorimu,” Alden menatap Nada dari atas ke bawah, dari bawah ke atas, penuh penilaian. “Ripped jeans yang kau kenakan tidak bermerk, bluse mu berbahan satin biasa, bukan sutra. Tasmu, Channel KW... 3?”
Nada merasakan panas menjalar dari leher ke wajahnya.
Alden menangkap pergelangan tangan Nada dan mengambil pisau dari genggamannya sebelum melemparnya ke sudut terjauh. Dia menarik Nada untuk menempel pada tubuhnya dan menahan wanita itu dengan satu lengannya. “Lihatlah aku, lihat mataku, dan percayalah padaku. Aku adalah lelaki yang keluar dari dunia khayal, untuk mengatasi semua masalahmu.”
Mata emas yang bersinar seperti mata hari itu terasa menyilaukan jika dilihat dari jarak sedekat ini. Nada bahkan bisa merasakan nafas Alden membelai wajahnya. Dadanya kembali berdebar, bukan karena rasa takut kali ini, membuat nafasnya menjadi terengah. Ya Tuhan! Lelaki ini terlalu tampan untuk bisa dia atasi. Terlalu menawan. dan sudah lama ia belajar, jika lelaki yang menawan adalah sebuah masalah yang jauh lebih besar, dari sekedar seorang pembunuh berantai.