Page 8 - The Wall

1177 Kata
"Jadi, ada berapa jamur yang harus dibersihkan?" tanya Zen pada Dai yang masih berfokus di depan benda petak dengan layar lebar yang bisa dilipat. Fai masih menggerakkan jari-jari di atas keyboardnya lincah seperti sedang bermain. "Ada jamur yang tidak perlu dibersihkan, bagian dinding luar hanya akan membuatmu kehabisan ... " sanggahan Fai tidak tersambung. Pemuda dengan rambut perak itu menoleh dan menatap rekan kerjanya, Zen yang dikenal dengan sebutan Fighter tidak kenal lelah. "Kehabisan ... apa? Bahan bakar? Peluru? Aku bisa bawa cadangan, atau lebih baik menurutmu gunakan pisau? Bisa juga tangan kosong, tidak masalah. Jadi, kehabisan apa?" tanya Zen penasaran karena Fai hanya bicara setengah. Fai kembali fokus pada layar laptop dan menggeleng. "Tidak jadi, aku lupa kalau aku sedang bekerja sama dengan orang yang tidak akan kehabisan tenaga. Padahal sudah hampir dua tahun Kevin tidak memeriksamu, untunglah dokter kita masih meninggalkan stok vaksin yang banyak." Fai menekan satu tombol dan membuat layar laptopnya berganti, kini menunjukkan sebuah lokasi bangunan di bagian tengahnya dan gambar seperti peta di sekelilingnya. Di bagian peta terdapat beberapa titik berwarna merah yang menyala seperti lampu. "Ini lokasinya?" tanya Zen memastikan. Fai mengangguk membenarkan. "Benar, itu lokasinya. Kau lihat titik merah itu? Ada lebih dari lima titik, itu penjagaan mereka, di setiap satu titik kemungkinan ada lima belas sampai dua puluh orang yang berjaga. Yang paling minim pengawasannya di bagian utara, karena bagian ini akan menuju langsung ke penjaga inti. Kau bisa lewat jalur ini, kau hanya akan temukan lima sampai tujuh penjaga di depan, lalu masuk sejauh lima ratus meter dan kau akan temukan gerbang lagi," jelas Fai penuh konsentrasi, ia tidak mau Zen sampai terluka apa lagi gagal ketika sedang misi bersamanya. Tugas Fai kali ini sebagai back up perencana, dia bertugas menyelidiki tentang musuh, mulai dari lokasi, persembunyian, penjagaan hingga ada di mana persembunyian target. Setelah Fai mengumpulkan informasi dengan lengkap dan jelas, barulah Zen bisa bertindak dan mengeksekusi target sesuai rencana. "Apa semacam lorong?" selidik Zen yang tidak begitu mengerti hanya dengan melihat layar tersebut. "Benar. Seperti lorong, lorong kecil dengan beberapa jebakan, tetapi tidak akan menyulitkan. Hanya seperti gas racun atau gas air mata, jadi tidak akan menyulitkanmu sama sekali. Seperti yang aku katakan tadi, di ujung lorong akan ada gerbang lagi, gerbang itu tidak memiliki penjaga di depannya, tetapi di belakangnya. Aku tidak bisa pastikan ada berapa jumlah penjaga di bagian belakang, mungkin sepuluh? Yang paling jelas, mereka adalah mantan agen rahasia Hongkong, kemampuan mereka tidak main-main, mungkin sama seperti TRIAD. Dan kemampuan mereka bisa saja ... " Penjelasan Fai lagi-lagi terhenti setengahnya. Fai menatap Zen lagi lekat-lekat, ditatapnya pemuda berambut hitam kurus yang terlihat bisa terjatuh hanya dengan satu kali pukul ini. Fai mengembuskan napas dan menggeleng seolah merasa kekhawatirannya sia-sia, dirinya lupa lagi jika pemuda yang jadi rekan kerjanya ini adalah Fighter yang disebut sebagai senjata biologis. Dan tentunya sudah diperebutkan banyak sekali orang, mulai dari pemerintahan hingga sindikat ilegal lainnya. "Bisa saja ... apa? Kenapa kau terus membuatku penasaran? Bisa saja menyulitkanku? Bisa saja mereka bohong? Bisa saja mereka punya nuklir? Apa?" desak Zen dengan nada penuh penekanan. Zen dibuat benar-benar penasaran karena penjelasan Fai yang menggantung. "Tidak, tidak ada. Terkadang, aku terbawa-bawa ketika sedang bekerja dengan Hayato atau dengan Rezt. Dan itu menyebalkan, aku tahu ini bukan apa-apa untukmu, kau akan menyelesaikannya dengan baik. Jadi, setelah kau berhasil melewati penjaga kau akan menemukan sebuah labirin, labirin kaca. Di sana, kau benar-benar harus konsentrasi dan fokus mendengarkanku. Kau mengerti? Meski kelas Fighter nomor satu sekalipun tidak akan bisa melewati labirin kaca ini dengan mudah, kau harus fokus mendengarkanku. Karena kemungkinan ada jebakan lain berupa suara yang akan membuatmu bingung, di dalam sana tidak akan penjaga, kecuali jika kau sudah hampir menyelesaikan sembilan puluh persennya dan hampir keluar, maka alarm yang terpasang akan berbunyi. Tepat setelah itu, penjaga lain akan berdatangan." Fai menunjuk ke arah layar, sebuah lokasi berbentuk persegi dengan banyak garis di dalamnya. Zen tidak begitu paham, ia hanya mengangguk dan mengingat semua ucapan Fai agar misi berjalan sesuai rencana. "Aku mengerti. Ada lagi yang harus aku perhatikan?" Zen mengalihkan tatapannya dari layar setelah membuat kepalanya cukup merasa sakit dan kembali menatap Fai. "Setelah melewati labirin dan penjaga, kau akan temukan sebuah ruangan dengan pintu besi. Di dalam ruangan itu target bersembunyi. Dan yang paling penting, waktumu untuk masuk ke ruangan dan temukan target hanya tiga jam. Karena, saat target tahu dia sedang dalam bahaya, dia akan kirimkan signal bantuan, dan dalam waktu tiga jam bantuan akan datang untuk menjemputnya. Jika kau menghabiskan waktu lebih dari tiga jam dan belum menemukan target, misi gagal. Jejak kita akan tertinggal dan itu akan sangat berbahaya, bukan hanya kita, semua orang di markas akan mengalami bahaya yang sama. Ada yang ingin kau tanyakan?" Fai meraih bungkusan rokok yang tergeletak di atas meja untuk ia nyalakan. Dilihatnya Zen yang masih berdiri dengan wajah serius dan penuh konsentrasi, Fai diam mencoba memahami situasi, apa waktu tiga jam terlalu singkat pikir Fai. "Jika aku menyelesaikannya lebih cepat, maksudku dalam waktu dua jam, apa satu jamnya bisa aku pakai untuk cari novel baru?" tanya Zen malu-malu. Dan saat itu Fai berpikir tidak akan pernah merasa khawatir lagi dengan Zen karena semua kekhawatirannya sia-sia saja. Bagaimana bisa memikirkan tentang novel baru di sela misi berbahaya batin Fai. "Iya, kau bisa. Kau bisa habiskan waktu satu jamnya bahkan aku akan berikan kau tambahan waktu dua jam lagi untuk kau habiskan di toko buku atau perpustakaan. Aku akan temani, kau senang?" Fai mengembuskan asap rokoknya. Wajah Zen berbinar dengan kedua matanya yang tampak membulat seolah tak percaya. Selama ini Zen selalu pergi sendirian ke toko buku atau perpustakaan, Rei tidak mau menemaninya karena bosan. Maka dari itu, ucapan Fai saat ini membuat pemuda yang suka memakai kemeja lengan panjang itu melambung tinggi. "Deal. Kau tidak bisa lagi tarik kata-katamu, kau harus temani aku ke toko buku dan perpustakaan selama tiga jam, tidak kurang. Kalau kau bohong aku akan marah," ancam Zen dengan nada pelan. Zen mengerjapkan matanya menunggu jawaban Fai, Fai mengangguk mengiyakan ancaman yang ditujukan padanya. "Deal, aku tidak pernah menarik kata-kataku, tetapi, kalau kau menyelesaikannya lebih dari dua jam, perjanjian batal." Fai tersenyum, setidaknya ia yakin jika Zen membutuhkan waktu lebih dari dua jam untuk menyelesaikan misi tersebut. Ada banyak jebakan, penjaga dan rintangan yang harus Zen hadapi. "Aku mengerti. Aku akan siap-siap sekarang, kau bisa mulai aktifkan lencananya. Aku memasangnya di balik kemeja seperti biasa." Zen menunjuk bagian d**a sebelum mengambil beberapa lembar dokumen tentang target dan berjalan meninggalkan Fai. Mereka berada di kota Paragon, berjarak enam jam naik mobil untuk sampai ke Allegra. Fai memilih sebuah penginapan yang tidak berada di pusat kota, tidak ramai dan hanya sepi pengunjung. Menurut Fai itu jauh lebih aman dan tidak akan mengganggu konsentrasi keduanya. Fai kembali menatap tumpukan dokumen yang ada di meja dan mulai menyiapkan alat tempurnya, layar laptop, headset yang sudah terhubung dengan Zen dan macam-macam jalur melarikan diri sebagai alternatif jika misi gagal. Fai menarik napas sebelum mematikan api rokoknya, karena kali ini, keduanya sedang bertaruh di luar dari keberhasilan misi kelas A yang harus mereka selesaikan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN