"Selamat pagi, oh? Kau sudah pulang? Kapan? Semalam?" tanya pria dengan rambut merah sedikit gelap dengan tinggi lebih dari seratus delapan puluh tersebut. Hayato segera mengambil tempat untuk duduk di meja makan.
Zen yang diajak bicara itu mengangguk, faktanya dia memang baru pulang semalam setelah tiga hari pergi misi. Zen menatap ke arah Yato singkat dan menatap sekitarnya yang masih tampak sepi.
"Fai? Belum bangun? Sebastian ada di rumah, dia tahu bukan?" Zen bertanya untuk memastikan. Di dalam markas ada beberapa peraturan tidak tertulis tetapi harus dipatuhi agar tidak terjadi perang dunia dalam markas mereka tinggal.
Peraturan pertama, tidak boleh telat dan tidak boleh makan di luar saat makan pagi, makan siang dan makan malam selama Sebastian berada di rumah dan selama para anggota markas tidak sedang dalam misi. Sebastian suka memasak dan menyiapkan banyak macam makanan, tapi ia juga suka jika kerja kerasnya dihargai. Semua anggota markas tahu itu, mereka melakukan banyak upaya agar si penjaga rumah tidak mogok kerja dan menimbulkan hal yang tidak diinginkan. Peraturan tidak berlaku untuk Kevin dan Elle.
"Sudah, sedang mandi. Dia habis olahraga, tadi bersamaku. Haha, dia tahu, dia tahu, jadi tidak mungkin akan telat," jawab Yato setengah tertawa karena peringatan Zen. Tidak lama dari dua orang itu berbincang, Rezt turun sembari menguap kecil. Pemuda dengan rambut hitam berantakan dan tidak pernah terlihat rapi itu turun terhuyung-huyung seolah bisa saja ia tersungkur.
"Selamat pagi Rezt. Tidak tidur karena main game lagi? Sebastian bisa memarahimu kalau dia lihat kau begini," tegur Hayato pelan. Rezt mengembuskan napas kasar karena memang benar adanya. Rezt mengangguk dan kini ia menggeret tubuhnya ke kamar mandi yang ada di dekat dapur.
Peraturan kedua, tidak boleh terlihat seperti tidak terurus di meja makan. Baik untuk sarapan, makan siang atau makan malam. Sebastian bukannya ingin para anggota berpakaian formal atau selalu memakai kemeja seperti Zen, tetapi Sebastian hanya ingin para anggota memakai pakaian yang layak dan berpenampilan yang layak juga. Rezt adalah contoh yang buruk. Peraturan tidak berlaku untuk Elle.
"Anak itu kerap kali membuat Sebastian marah, kenapa dia tidak bisa menahan diri setidaknya selama makan di meja," gerutu Zen ketika melihat Rezt yang lagi-lagi turun dengan wajah berantakan. Hayato tertawa ringan karena ucapan Zen.
"Dia masih tujuh belas, masih muda. Biarkan saja, selama dia masih mendengarkan kita. Yang akan bahaya jika dia mulai membantah dan tidak mendengarkan, tetapi kau dan aku tahu betul anak itu, ah bukan ... semua anggota markas tahu betul sifat kekanakan anak itu," jelas Hayato dengan senyum kecilnya. Selain Elle, Rezt adalah anggota paling muda yang tinggal di markas. Karenanya ia dianggap remaja pemberontak yang tidak bisa mengatur emosi dan penggila game yang harus diatur dan selalu diawasi.
"Selamat pagi, sudah pulang Zen? Bagaimana misinya? Ada kendala?" selidik Fai sembari menarik kursi di sebelah Yato dan segera duduk. Zen menoleh ke arah sumber yang memanggil, pemuda berambut perak yang selalu terlihat rupawan itu yang memanggilnya. Zen menggeleng sebagai jawaban.
"Tidak ada kendala, semuanya baik. Aku rasa Elle sedikit melebihkan jika misi ini kelas X, aku hanya perlu dua hari untuk membereskannya dan satu harinya lagi aku pakai untuk cari penginapan yang dekat dengan lokasi target," tambah Zen. Fai menaikkan sebelah alisnya karena mendengar jawaban Fighter nomor satu di markas, Fai berpikir jika ia yang pergi maka kemungkinan besar ia tidak akan kembali dalam berbulan-bulan dan bahkan tidak akan selamat. Misi yang Zen kerjakan kemarin adalah membereskan satu kelompok pengedar dan penjual obat-obatan terlarang yang tidak dijual secara bebas dan beranggotakan lebih dari seratus orang.
"Bukan Elle yang salah menilai, tetapi sepertinya pikiranmu sedang kusut jadi kau melampiaskannya pada mereka. Jangan begitu, mendengarmu bicara begini, aku jadi kasihan pada target," pesan Fai seraya menepuk pelan pundak Zen. Zen mengerutkan kening karena kebingungan dan Hayato hanya tertawa karena tahu maksud Fai.
Rezt kembali dari kamar mandi dengan penampilan lebih baik, menarik kursi yang ada di sebelah Zen dan duduk perlahan.
"Sarapannya belum siap?" tanya Rezt dengan menahan diri agar tidak menguap lagi. Fai bertopang dagu menatap adik kecil mereka tersebut.
"Tentu saja belum, kau tahu aturannya. Dan jika sudah lewat jam, terjadilah perang dunia, kau mau bangunkan yang lain adik kecil?" tanya Fai pada Rezt.
Peraturan ketiga, masakan tidak akan dikeluarkan dari dapur sebelum semua anggota berkumpul hingga jam yang ditentukan. Dan jika sudah sampai jamnya Sebastian akan meletakkan masakannya di meja makan dan mengingat wajah-wajah yang tidak ada di meja makan.
"Kau cari masalah ya? Awas kau," ancam Rezt kesal karena tahu Fai hanya mengejeknya.
"Selamat pagi, wah sudah banyak orang," sapa Rei ramah dan memilih tempat duduk yang paling jauh di antara lainnya mengingat kursi di sebelah Zen sudah diambil Zen. Selama di markas Rei kurang dekat dengan banyak orang, hanya terbiasa membicarakan masalah misi atau basa basi ringan. Selebihnya ia hanya dekat dengan Zen saja.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa lama sekali keluarnya?" sindir Zen dengan wajah heran, Rei hanya tertawa kecil.
"Maaf, maaf. Aku terlalu lama mandi jadi tidak sadar waktu, tapi aku tidak terlambat, 'kan? Aman, aku aman hari ini." Rei menepuk dadanya sendiri dan menatap ke arah dapur, Sebastian tampak berdiri di sana, dengan pakaian rapi dan apron yang selalu terpasang saat ia ada di dapur.
"Aku ingin s**u, kenapa Sebastian tidak bisa siapkan minum dulu?" sela Rezt sebelum Zen menjawab ucapan Rei barusan.
"Sabar, kau tahu peraturannya, 'kan? Bersabarlah sedikit, hanya setengah jam lagi dan kau dapatkan semuanya," imbuh Hayato.
Peraturan keempat, tidak ada yang boleh masuk atau menggunakan dapur selama Sebastian ada di dapur. Dapur adalah daerah kekuasaan Sebastian dan tempat suci bagi para anggota markas, selain Sebastian, yang memiliki keahlian memasak hanya Fai saja. Fai pun hanya bisa membuat masakan ringan karena pernah tinggal sendirian. Zen, yang pernah membuat dapur hampir meledak benar-benar dilarang keras untuk masuk dapur selama Sebastian ada. Mereka cukup meminta pada pemuda berpakaian rapi itu apa-apa yang mereka butuhkan, untuk snack atau makanan ringan, Sebastian selalu menyiapkannya dan menyimpannya di lemari pendingin. Para anggota hanya perlu memanaskannya kembali di microwave. Peraturan berlaku untuk semua orang.
"Selamat pagi sayang-sayangku, selamat pagi adik tercintaku. Bagaimana tidurmu? Nyenyak? Tidak takut?" sapa pemuda dengan sebelah mata buta itu ke arah Rezt. Sudah hal biasa melihat Rezt sering diajak bercanda oleh anggota lainnya karena reaksi yang Rezt berikan selalu menarik untuk dilihat.
"Shut the f**k up ..." sungut Rezt menahan emosinya. Rezt tidak mau dia sampai dipelototi Sebastian karena ribut-ribut di meja makan. Break terkekeh geli, menarik kursi dan duduk di dekat Rei. Break meletakkan pedangnya di atas lantai dan menatap anggota lainnya.
Peraturan kelima, tidak boleh ada keributan di meja makan. Saat makan boleh saja bicara atau mengobrol membahas sesuatu. Namun, Sebastian tidak akan senang jika ada yang berkelahi dan meninggikan suara di hadapan masakan yang ia buatkan. Peraturan berlaku untuk semua orang.
"Rezt selalu penuh semangat, aku suka sekali. Hm? Tinggal anak baru ya? Wah, akan gawat sekali kalau dia sampai terlambat, kalian sudah memastikan memberitahunya tentang aturan ruang makan bukan?" tanya Break memastikan. Sebelah mata berwarna merah gelapnya itu menatap wajah tiap-tiap anggota yang ada di sekelilingnya. Pucat, tidak bisa segera menjawab dan seolah-olah sedang berusaha keras mengingat jika mereka sudah memberitahu anak baru tentang aturan-aturan tidak tertulis dalam markas. Break sekeras mungkin menahan tawanya ketika melihat reaksi di wajah mereka. Perlahan ia menggigit lidahnya.
"Tidak ada yang beritahu? Jangan khawatir, aku sempat memberitahunya," ucap Break yang membuat semua anggota memasang wajah lega yang sama, "eh, apa belum ya?" sambungnya. Membuat Hayato buru-buru beranjak dari kursi dan segera berlari kecil ke lantai dua untuk memastikan si anggota baru agar tidak terlambat. Break menahan tawanya, pemuda berambut putih itu selalu senang mempermainkan anggota-anggota Wall. Ia selalu memutar kata-kata dan bahkan sering menjebak mereka. Break dikenal sebagai pemuda iseng berbahaya yang harus dijauhi jika tidak ingin punya masalah.
Namun, karena sifat isengnya, suasana di markas tidak pernah terasa dingin. Suasana di dalam markas selalu ramai dan terasa hangat, meski berisik dan sering bertengkar, Break memiliki cara sendiri untuk membuat isi markas merasa tidak sendirian ketika berada di sana. Meski mereka bekerja secara ilegal, meski mereka adalah pembunuh, meski mereka tidak sedarah, tetapi para anggota selalu terkait dan memiliki cara masing-masing untuk saling mengisi.