Chairey mematung mendengar apa yang Rei ucapkan padanya, diam tanpa mampu bereaksi atas informasi yang Rei berikan barusan. Rei masih menatapnya, masih tersenyum dengan tatapan lurus. Ada rasa sedih dan bersalah yang tersirat dari tatapan mata yang ia berikan. Chairey meraih tubuh Rei perlahan, memeluknya erat dengan kedua tangan. "Rei boleh menangis kalau Rei ingin menangis, aku tidak akan melarang. Sungguh. Aku tahu pasti berat sekali untuk Rei jalani, aku tidak tahu bagaimana ceritanya, aku juga tidak tahu kenapa Rei bilang Rei yang membunuhnya. Di luar dari pada itu benar-benar terjadi atau Rei hanya tidak sengaja, atau mungkin tidak sempat menolongnya, bukankah Rei sendiri yang paling terluka?" tanya Chairey lembut, salah satu tangannya kini sudah mengusap perlahan kepala dan punggun

