Page 30 - Joan

2369 Kata
Matahari sudah tinggi, Joan masih enggan beranjak dari tempat tidur. Tidak biasanya pemuda berusia hampir dua puluh tahun itu merasa sungguh malas untuk bergerak dan memulai aktivitas. Ia kembali mengingat bagaimana wajah Chairey, bagaimana air muka kebingungan Chairry dan bagaimana senyum getir yang Chairey berikan padanya. Joan takut untuk ditolak, tetapi ia lebih takut lagi jika Chairey akan menjauhinya karena hal ini. Kepalanya terasa sakit dan kedua matanya panas, Joan hampir tidak tidur semalaman. Bagaimana dengan Chairey pikirnya. Joan melirik ke arah jam dinding, tepat pukul sepuluh pagi. Ia bisa mendengar suara Ayahnya yang sedang menyiapkan makan pagi, setiap hari libur giliran ayah Joan yang akan membuat sarapan. Dan pada hari kerja, giliran Joan yang membuat sarapan. Joan dan ayahnya hanya tinggal berdua, semenjak ibunya meninggal dunia karena sakit ketika Joan menginjak usia enam tahun. Ibunya sempat dirawat di rumah sakit untuk beberapa hari, sayang mereka tidak bisa menyingkirkan kanker yang menggerogoti kehidupan ibunya sejak lama. Joan kehilangan sosok ibu untuk selama-lamanya, saat itu Joan kecil hanya bisa menatapi ayahnya yang menangis tanpa henti dan memeluknya erat-erat. Keesokan hari, barulah Joan menangis karena sadar sang ibu yang biasa membuatkannya sarapan, menemaninya tidur dan membacakannya cerita tidak lagi ada. Kehidupan sosial Joan terbilang bagus dan cemerlang, tidak ada orang kompleks yang tidak mengenalnya. Di sekolah pun begitu, hampir seisi sekolah mengenal nama Joan, dari kalangan junior hingga senior, dari penjaga gerbang hingga kepala sekolah. Joan adalah siswa yang aktif, dia menjabat sebagai ketua kesiswaan selama dua periode, Joan juga mendapat beasiswa karena nilai non-akademisnya yang gemilang. Joan pandai olahraga dan menguasai teknik bela diri dengan baik, meski ia tidak begitu cakap dengan pelajaran. Nilainya cukup, tidak lebih dan tidak kurang. Joan mengembuskan napas perlahan, beranjak dari tempatnya dan berjalan gontai menuju ruang makan. Dilihatnya sosok pria paruh baya berkacamata tengah meletakkan dua piring nasi goreng di atas meja lengkap dengan teh dan roti tawar berselai. "Selamat pagi Pemuda! Kau tampak lesu? Mimpi buruk? Ayah cukup terkejut karena kau belum bangun," ejek Willman pada putra semata wayangnya. Joan memutar bola matanya dan duduk di kursi. "Ada sedikit masalah, bukan masalah juga ... yah begitulah. Sulit untuk dijelaskan, jadi aku sedikit tidak bisa tidur. Selamat pagi Ayah, sarapan hari ini nasi goreng?" tanya Joan seraya menarik piring mendekat ke arahnya. Willman mengangguk, duduk di dekat Joan dan menopang dagu dengan sebelah tangannya. Willman diam menatapi wajah Joan lekat-lekat, ujung bibirnya tertarik dan hidungnya kembang kempis. Joan sedikit menjauhkan wajahnya dari Willman dan menaikkan sebelah alis karena tingkah ayahnya yang Joan anggap aneh. "Apa?" "Pasti tentang Chairey, iya, 'kan? Jadi, kau sudah menyatakan perasaanmu padanya?" Joan tersedak air liurnya sendiri karena pertanyaan Willman tiba-tiba. Joan terbatuk kecil dan buru-buru minum air putih yang Willman dekatkan padanya. "Apa ... kelihatan? Tch, sudahlah, jangan dibahas, membuatku semakin memikirkan. Aku berencana untuk tidak menemuinya hari ini." Joan mengembuskan napas kasar, pandangannya melayang entah menatap ke arah mana. "Kau yakin? Bagaimana kalau Chairey merasa kau malah membencinya karena masalah ini? Kau tahu betul Chairey itu sedikit berbeda dari gadis lain, pikirannya tidak sama, dia bisa menyalahkan dirinya sendiri kalau kau salah langkah. Walaupun Chairey belum memberikanmu jawaban, hadapi saja seperti biasa, anggap tidak terjadi apa-apa. Itu baik untukmu dan Chairey, semakin kau menjauh akan semakin buruk, semakin dipikirkan juga akan semakin buruk. Anggap saja kau sudah mengeluarkan satu rahasia yang kau pendam sejak lama, dan harusnya kau merasa lega, bukan cemas. Jangan pikirkan jawaban Chairey, jangan takut untuk ditolak, jika kau bersikap baik dan melakukan hal semestinya kau tidak akan dibenci. Sebaliknya, jika kau mulai menjauhi Chairey, menyendiri di kamar, tidak melakukan hal-hal yang biasanya kau lakukan, Chairey akan merasa sangat, sangat bersalah, yah mungkin dia akan menerimamu. Namun, bukan karena ia juga suka, tetapi karena ia merasa bersalah dan bertanggung jawab atas perubahan dirimu. Ayah yakin kau tidak mau hal itu terjadi, benar?" Willman menepuk-nepuk pundak Joan dan tersenyum. Senyum hangat penuh dukungan yang selalu jadi jalan dan satu-satunya harapan bagi Joan untuk melanjutkan hidup. Joan selalu merasa ayahnya adalah sosok paling baik di hidupnya, dan ia berharap ia bisa menjadi bijaksana dan hebat seperti ayahnya. "Ayah benar, aku tidak seharusnya seperti ini. Hah! Baiklah, aku akan keluar dan menemui Chairey seperti biasanya, kalau nanti dia menolakku, Ayah traktir aku makan malam dan nonton bioskop ya?" Joan menatap ke arah Willman dengan tatapan penuh pengharapan, Joan tidak merasa dirinya akan diterima tetapi mencoba tidak akan membuatnya menyesal sepanjang hidup. Willman tertawa geli karena ucapan putra satu-satunya itu, Willman mengacak-ngacak rambut Joan dan mengangguk. "Baik, baik. Apa saja, kau ingin apa saja, Ayah akan belikan semuanya. Melihatmu begini, Ayah jadi ingat masa muda. Dulu, Ayah juga pernah ditolak cinta pertama Ayah sebelum bertemu dengan Ibumu." Willman tersenyum mengingat bagaimana saat ia muda dulu, bagaimana ketika ia bertemu istri yang sudah meninggalkannya dan bagaimana wanita itu membuatnya jatuh hati seperti saat ini. "Sudah, sudah, sekarang makan dulu. Setelah makan, kau harus keliling seperti biasa, dan jangan lupa untuk menyapa Chairey dengan senyuman manis!" seru Willman. Joan tersenyum lalu terkikik pelan karena ucapan dan dorongan penuh semangat dari ayahnya. Joan meraih piring yang ada di atas meja dan mulai menikmati apa yang Willman masak. Joan melirik ke arah jam dinding yang ada di sana, sudah cukup siang sebenarnya untuk ia mulai bekerja. Namun, terlambat jauh lebih baik dibanding tidak sama sekali. Joan beranjak dari tempatnya, berjalan ke kamar mandi untuk membasuh muka mengingat ia yang sudah mandi sebelum matahari terbit tetapi sengaja kembali ke tempat tidur. Mengganti pakaiannya dan tampak lebih rapi dari sebelumnya, ia menatap dirinya di pantulan cermin, ia menatap wajahnya yang kuyu meski sudah terkena air dingin. Joan menarik dan mengembuskan napasnya perlahan, menepuk-nepuk wajahnya agar tampak kemerahan dan menambah semangat pada dirinya sendiri. "Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Kau bukan pengecut Joan, kau akan baik-baik saja. Meski kau ditolak sekalipun, kau akan baik-baik saja dan Chairey tidak akan membencimu. Ingat itu." Joan berkata pada pantulan diri, ia menunjuk bayangannya di cermin dengan telunjuk lalu tersenyum puas. Joan berbalik dan segera meninggalkan ruangan pribadinya menuju area luar rumah. Joan mulai menyapa tetangga-tetangga sekitar, beberapa ada yang mengira Joan jatuh sakit karena tidak jua keluar. Ada juga beberapa yang mengira Joan pergi jalan-jalan keluar kota hingga tidak akan bertugas untuk beberapa hari. Joan hanya membalas dengan senyum dan menggelengkan kepala, ia senang para tetangga memikirkannya, ia senang karena ada banyak orang yang memedulikannya di luar dari ayah dan keluarganya sendiri. Mengingat ayahnya adalah anak tunggal, sementara keluarga dari ibunya beranggapan bahwa penyebab kematian ibu Joan adalah kesalahan ayahnya. Dengan demikian, membuat mereka tidak pernah peduli lagi pada Joan dan pada Willman. Joan melangkahkan kaki dengan perasaan ringan, ia lega langkahnya tidak seberat kemarin, ia juga lega karena menuruti ucapan ayahnya untuk keluar dan menganggap semuanya tidak pernah terjadi. Hingga kedua matanya menangkap situasi Chairey yang tengah berdua bersama sosok laki-laki yang baru Chairey kenal. Laki-laki yang membuat Joan dibakar api, laki-laki yang membuat Joan menyatakan cintanya dan membuat Joan merasa akan kehilangan Chairey; Zen. Kaki Joan terhenti, seolah mematung dan tidak lagi sanggup untuk melanjutkan. Ada sesuatu yang menusuk perut juga lambungnya, ada tangan besar yang tengah mencekik lehernya hingga sulit bernapas, dan ada kobaran bara api yang membakar hati dan seluruh tubuhnya. Joan menatap wajah cantik Chairey yang sedang tersenyum dan tertawa, menikmati pembicaraan mereka tanpa sadar jika Joan berdiri di sana menanti jawaban. Joan menatap gestur tangan Chairey yang sesekali menepuk lengan atau menutupi mulut kecilnya agar tidak tertawa lebar di hadapan Zen. "Tidak, tidak boleh seperti ini," bisik Joan pada diri sendiri. Chairey yang berdiri menghadap jalan akhirnya menyadari keberadaan Joan yang menatap ke arah mereka. Chairey tersenyum manis, melambaikan tangannya ke arah Joan dan berteriak kecil mengatakan sesuatu. Hal yang tidak terdengar oleh Joan, karena pendengarannya saat ini dipenuhi suara bising dari perasaannya sendiri. Zen ikut menoleh ke arah Chairey melambai, Joan benci pandangan mata lelaki itu, Joan tidak suka bagaimana Zen memandangnya, Joan tidak suka bagaimana Zen berdiri di hadapan Chairey, dan Joan tidak suka bagaimana Zen mendekati Chairey dengan tujuan lain. Joan tidak menyukai sosok lelaki bernama Zen ini, seolah lupa pada apa yang membawa ketenangan baginya beberapa saat lalu, lupa pada tujuan dan pemikirannya beberapa saat lalu. "Kak Joan! Kak Joan! Kemari, sedang apa di sana?" Chairey berusaha memanggil Joan yang hanya berdiri seperti patung. Chairey menaikkan sebelah alisnya bingung karena Joan tidak juga balas menyapa dan mendekat. "Kenapa diam? Apa aku dekati saja?" "Dia, yang waktu itu, 'kan? Yang ikut dengan Mistrees saat kita bertemu?" tanya Zen mencoba memastikan, Zen hanya menatap Joan sekilas waktu itu. Dan Zen sadar jika Joan tidak menyukainya, meski Zen tidak tahu kenapa Joan tidak menyukainya mengingat ada banyak sekali orang yang tidak suka padanya tanpa alasan yang jelas. Chairey mengangguk menjawab pertanyaan Zen. "Benar, namanya Kak Joan, Zen lupa? Aku sudah kenalkan waktu itu, uhm, apa Kak Joan membenciku?" gumam Chairey dengan nada ragu, bibir bawahnya ia gigit dan pandangannya tidak lagi mengarah pada Joan. Zen buru-buru menepis pikiran Chairey dengan memegangi bahu gadis cantik yang jadi pusat pikiran Zen beberapa hari ini, Zen menatap Chairey lurus dan menggelengkan kepalanya sendiri. "Tidak mungkin, Joan tidak membenci Mistrees, aku tahu itu. Mungkin sebaliknya, Joan itu ... dia itu," ungkap Zen tidak tersambung karena sesuatu yang dingin menarik kasar tangannya dari tubuh Chairey dan membuat Chairey menjauh darinya dengan paksa. "Aku apa?" tanya Joan sinis, tangannya menarik tubuh Chairey agar mendekat padanya secara kasar. Samar, Chairey meringis karena apa yang Joan lakukan tetapi berusaha untuk tidak terlihat. "Kak Joan, Kakak kenapa? Kakak khawatir? Maaf Kak, Zen tidak tahu kalau harus buat laporan dulu untuk bertamu. Mungkin karena Kakak tidak berjaga di pos, jadi Zen bisa masuk tanpa buat laporan. Tadinya aku dan Zen berencana menemui Kakak di rumah, kami juga hanya akan bicara di teras. Kakak tidak perlu khawatir." Chairey menoleh ke arah Joan yang tampak tidak nyaman, rahang Joan terlihat mengeras dan tatapannya tertuju lurus juga sinis pada sosok Zen. Chairey sungguh tidak mau jika keduanya sampai bertengkar. "Kak?" ulang Chairey lagi. "Diam. Diam Chairey, aku tidak mau mendengar kau membela pria asing ini. Bagaimana dia bisa ke sini? Bagaimana dia bisa tahu alamatmu? Bagaimana bisa kau membiarkan dia masuk tanpa izin dariku?" Joan kini mengalihkan pandangannya dari Zen dan menatap Chairey penuh rasa tidak puas dan tidak percaya. Cengkeraman tangan Joan pada pergelangan tangan Chairey semakin kuat, tidak ia longgarkan sedikit juga. "Kak, tenang dulu, Zen bukan pria asing, Kakak dan Zen sudah berkenalan sebelumnya. Dan aku yang berikan Zen alamat rumah agar Zen bisa datang berkunjung, aku tidak bawa Zen masuk ke dalam rumah, kami hanya bicara di teras. Kak, aku mengatakan yang ...." jelas Chairey yang juga terputus oleh amarah Joan tanpa Chairey paham apa penyebabnya. "Aku bilang jangan membelanya!" Joan berteriak tepat di depan Chairey, Chairey spontan memejamkan mata dan menahan rasa sakit pada pergelangan tangannya. "Cukup sampai di situ saja." Zen bergumam dengan nada bicara seperti sedang menahan sesuatu; emosinya. Zen menarik kerah pakaian Joan, menggenggam lengan Joan yang tengah mencengkeram pergelangan kurus Chairey jauh lebih kuat. Joan meringis pelan, tangannya melepas tangan Chairey dan kini Joan berhadapan dengan Zen yang memandang rendah dirinya. "Aku tidak suka bagaimana kau memperlakukan Chairey, bukankah dia adikmu? Bukan? Kau suka padanya? Begini caramu menyukainya? Apa kau menganggap Chairey itu barang? Kepunyaanmu hingga apa-apa yang Chairey lakukan harus izin darimu?" "Zen ... Zen jangan begini, aku mohon, lepaskan Kak Joan, Zen," lirih Chairey, tatapan Chairey terlihat cemas dan kebingungan. Ia menatap ke arah luar hendak mencari bantuan agar keduanya tidak benar-benar bertengkar. "Kau tidak tahu apa-apa! Kau itu hanya orang asing! Aku yang menjaga Chairey sejak kecil!" Joan berusaha melepaskan tangan Zen, baik di lengan maupun pada kerah pakaiannya, tetapi nihil. Joan tidak paham bagaimana pria yang tampak lebih kurus darinya ini memiliki kekuatan sebesar ini. "Lepaskan aku sialan!" "Aku memang tidak tahu apa-apa, tetapi aku tidak bisa melihat bagian mana kau menjaga Chairey dengan cara dan perkataanmu barusan. Chairey tidak butuh penjaga sepertimu, yang bisa berteriak di hadapannya, yang menyakitinya, kau sebut dirimu penjaga? Jujur saja, selama ini kau bersamanya karena mengharapkan hal lain bukan? Kau ingin memiliki Chairey tanpa memberinya kesempatan mengenal dunia, kau menjijikkan." Zen melepas pegangannya dari Joan, membersihkan telapak tangannya dengan sapu tangan yang ia bawa sebelum buru-buru menatap Chairey dan meraih lengan kurus gadis yang wajahnya sudah tampak pucat di sampingnya. "Mistrees? Coba kulihat lengannya, sakit? Dikompres saja?" tanya Zen pelan, suaranya terdengar seperti sedang menahan tangis. Zen menatap lebam kebiruan mengelilingi pergelangan tangan Chairey yang disebabkan oleh Joan barusan. Chairey segera menggeleng agar suasana tidak kunjung memburuk. "Tidak, tidak sakit. Kulitku memang seperti ini, apa namanya? Uhm, mudah lebam! Iya, Zen jangan salah sangka, Kak Joan tidak menggenggamnya sekuat itu, sungguh. Dan apa yang Zen lakukan tadi salah, Kak Joan memang membentakku, tetapi dia juga menjagaku sejak dulu. Jangan bertengkar." Chairey tersenyum kecil, Chairey tidak mau jika Joan kembali berpikir jika dia hanya membela Zen, meski pada kenyataannya Chairey tidak pernah merasa membela Zen. Ia hanya mengatakan yang sesungguhnya. Joan diam di tempatnya, dalam diam ia dapat melihat lebam kebiruan di pergelangan tangan Chairey, dalam diam ia menyalahkan dirinya yang termakan api, dalam diam ia memaki dirinya karena terlihat buruk di depan gadis yang ia suka dan di depan saingan cintanya. "Maafkan aku Chairey, aku tidak bermaksud membentakmu. Maafkan aku," sesal Joan dengan kepala tertunduk. Chairey meraih lengan Joan sembari tersenyum manis, Chairey tahu jika Joan bukan tipe pria kasar, dia dan Joan sudah bersama bertahun lamanya. Joan tidak pernah memperlakukannya kasar sama sekali, tentu saja Chairey dapat maklum untuk hari ini. Karena Joan adalah orang penting di bagian hidupnya. "Kak, Kakak tidak apa-apa? Kakak terlihat tidak baik hari ini, Kakak sakit? Kenapa tidak istirahat di rumah? Nanti aku bawakan sup ayam, untuk Paman Willman juga, bagaimana?" " ... dan membiarkanmu berduaan dengan lelaki ini? Kau ingin ... aku buru-buru pulang agar kalian bisa berduaan, 'kan? Chairey, mana jawabanku? Kau menerimaku, 'kan? Kau menerimaku jadi kekasihmu, 'kan?" "Apa?" Zen menoleh ke arah Joan yang seharusnya sudah lebih tenang. Zen menatap sosok laki-laki di hadapannya yang sedang memaksa Chairey untuk menerima perasaannya. Zen menggigit lidahnya kuat-kuat agar dirinya tidak ikut campur dalam urusan Chairey dan Joan kali ini, Zen juga tengah menahan perasannya yang sakit dan penuh amarah karena apa yang ia dengar dan apa yang Joan katakan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN