Page 29 - Joan

1683 Kata
Kabar berita tentang kematian Leo dan Laney menjadi perbincangan hangat di kalangan sekitar, mulai dari spekulasi adanya perampokan di jalan hingga pembunuhan berencana yang dilakukan oleh pihak ketiga karena mengincar harta keduanya. Leo dikenal sebagai pekerja sukses yang menghasilkan cukup uang, tabungannya bisa dikatakan lebih jika hanya harus mengurus satu orang anak. Sementara Laney sendiri bukan tipikal wanita yang suka menghambur-hamburkan uang, Laney tidak begitu suka bepergian, tidak begitu suka ke pusat perbelanjaan atau sekadar membeli pakaian baru setiap bulan. Laney hanya suka memasak dan berkebun, setiap penghujung pekan dia akan mengajak Chairey kecilnya untuk belajar resep baru lalu menanam bibit yang cantik. Chairey pun sangat menikmati waktu dengan ibu tercintanya, sifat Laney menurun dengan baik pada Chairey; suka memasak dan berkebun. Laney juga dikenal sebagai pribadi yang ramah dan tidak pernah bersikap angkuh pada tetangga, muda atau tua, Laney tidak akan ragu untuk menyapa. Semua tetangga menyukai dua orang ini, oleh karena itu berita tentang kematian mereka tidak bisa diterima begitu saja. Mereka mencari-cari celah untuk menemukan kesalahan agar bisa menyalahkan satu pihak, mereka mencari kambing hitam untuk melampiaskan rasa kecewa atas perginya Leo dan Laney, sayang kambing hitamnya tidak pernah ditemukan. Polisi kembali menegaskan jika penyebab kematian Leo dan Laney adalah murni kecelakaan, diduga saat menyetir Leonord tidak begitu fokus hingga tidak segera menginjak rem saat melewati tikungan tajam dan tidak sadar jika ada mobil yang melaju di depan mereka. Polisi menyampaikan rasa sedih mereka karena tidak bisa menemukan bukti pendukung lainnya, mereka hanya bisa melakukan evakuasi secepat mungkin dan mengirim jasad kedua orang itu ke rumah untuk dimakamkan. Chairey sudah menangis sejak ia mendengar beritanya kali pertama, ia berlarian ke rumah Joan untuk memastikan kabar tersebut. Setelah mengetahui apa yang terjadi, Chairey tidak punya kekuatan lebih untuk berjalan pulang ke rumah. Yang bisa Joan lakukan cuma memeluk tubuh mungil Chairey dengan kedua tangannya erat, berusaha membuat Chairey tenang dan kembali memeluknya. Joan tahu, kehilangan sosok orang tua benar-benar sakit dan menyedihkan. Joan pun mengalami hal yang sama enam tahun lalu, ia kehilangan ibu terkasihnya karena sakit berat. Joan tidak berkata apa-apa, Joan tahu, tidak ada satu patah kata yang akan membuat Chairey merasa lebih baik sekarang. Malam itu, keduanya menghabiskan malam bersama. Ayah Joan pergi ke kantor polisi untuk mengurus jasad Leo dan Laney, lalu mengurus pemakaman mereka. Ayah Joan juga berusaha meminta para tetangga yang masih diselimuti kesedihan untuk bangkit dan membuat Chairey merasa lebih baik. "Tidak ada yang lebih sedih dari Chairey, tidak ada yang lebih kehilangan mereka dibanding putrinya sendiri!" Pria berambut sama dengan Joan itu juga berusaha menghubungi semua relatif dan rekan kerja Laney dan Leo. Berbondong-bondong orang datang untuk menyampaikan belasungkawa dan rasa prihatinnya pada Chairey. Beberapa di antara relatif menawarkan agar Chairey tinggal bersama mereka, ada juga yang menawarkan untuk mengadopsi Chairey menggantikan Laney dan Leo. Chairey menolak, Chairey merasa enggan jika harus memiliki ibu dan ayah baru. Chairey juga tidak rela jika harus meninggalkan rumah hangatnya, di balik air mata Chairey menolak satu persatu penawaran mereka dengan senyuman. Tidak banyak yang bisa ayah Joan lakukan, ia hanya bisa membantu meyakinkan jika Chairey akan baik-baik saja. Ia juga berjanji akan menjaga Chairey, dan jika ia sedang bekerja akan ada tetangga lain dan juga Joan yang membantu mengawasi. Dalam hati kecil, Joan berdoa agar Chairey tidak berpisah jauh darinya. Dan sejak itu, Chairey tinggal sendirian di rumah, bersama dengan para tetangga juga Joan dan ayahnya. °°° "Chairey? Belum tidur?" Suara Joan memecahkan lamunan Chairey yang tampak tengah menikmati embusan angin di teras depan. Chairey sengaja menarik kursi hingga ke depan pintu, membuka pintu dan membiarkan angin masuk membelai wajahnya. Chairey menoleh ke arah Joan yang datang lalu tersenyum dan mengangguk. "Belum, belum ingin tidur Kak. Kakak masih berjaga? Apa sudah selesai?" tanya Chairey dengan wajah berseri. Joan berjalan mendekati Chairey, melewati pagar yang hanya sebatas pinggang dan duduk di hadapan gadis remaja cantik yang selalu ia perhatikan. "Iya, aku habis berkeliling. Dan syukurnya semua aman, aku selalu khawatir jika ada yang tidak beres di sekitar sini hingga membuat para bibi dan paman merasa cemas saat malam hari. Kenapa belum ingin tidur? Lihat jam tidak? Sekarang sudah hampir pukul sepuluh, karena besok libur sekolah jadi sengaja ingin tidur telat?" selidik Joan sembari tersenyum mengejek. Chairey terkikik karena pertanyaan Joan. "Tidak, tetapi karena tadi habis bicara dengan Zen jadi tidak mengantuk. Baru saja panggilannya dimatikan, Zen juga menyuruhku tidur, sama seperti Kakak." Pantulan sinar bulan membuat senyum di wajah cantik Chairey terlihat jelas, seolah sinar itu ada memang untuk Chairey saja. Joan diam mendengarkan penjelasan Chairey, di sela rasa kagumnya ia merasa rasa sakit yang menusuk yang membuat dadanya seperti dijepit. Nama Zen, nama Zen yang Chairey sebut membuatnya tidak nyaman. "Chairey ... apa kau, kau menyukai Zen?" Joan menundukkan wajahnya dalam-dalam, ia tidak berani menatap langsung wajah Chairey. Karena Joan tahu, rasa cinta paling besar terlihat lewat mata bukan lewat lidah dan suara, meski berkata tidak di lidah, mata tidak akan bisa berbohong. Sebab itu Joan enggan menatap mata Chairey, ia terlalu takut pada kenyataan yang akan ia dapatkan. Cukup dengan suara saja, cukup dengan kata-kata. "Suka seperti apa Kak? Aku suka Zen sebagai teman, aku suka sifat baiknya dan saat ia gugup karena bertemu denganku. Aku juga suka saat wajah Zen memerah karena digoda oleh Rei, aku suka saat Zen menceritakan tentang adik perempuannya, dan aku suka bicara dengannya dalam waktu lama. Aku juga suka bicara dengan Kakak, dan dengan Rei juga. Lalu, suka seperti apa yang Kakak tanyakan?" Joan diam mematung untuk beberapa saat, sebenarnya ia belum menyiapkan diri untuk saat seperti ini. Namun, Joan merasa ia akan kehilangan kesempatan jika tidak mengejarnya lebih cepat. Chairey tidak bisa terus berada di rumah, tidak bisa terus berada dalam pengawasannya, Chairey juga akan bekerja nantinya, dunia yang akan Chairey hadapi pun jadi lebih luas. Menjadi peran kakak laki-laki tidak cukup untuk Joan, ia serakah, ia tidak mau Chairey menatap pria lain atau dimiliki orang lain. Tidak masalah jika Chairey tidak menikah dengannya, tetapi Chairey juga tidak perlu menikah dengan pria lain sepanjang hidup, hal itu selalu terlintas di benak Joan ketika takut-takut Chairey akan menolaknya. "Chairey, aku ... aku selama ini tidak menganggapmu adik perempuanku." Chairey mengerjapkan matanya berulang kali karena ucapan Joan, kemudian gadis cantik itu tersenyum tipis seolah mengerti dan tidak lagi merasa kecewa pada apa-apa yang semesta siapkan untuknya. "Begitu? Maaf, apa aku menyulitkan? Aku tidak akan panggil Kakak lagi mulai sekarang. Kita bisa berteman saja, aku cukup terbantu dengan ...." jawab Chairey terputus ketika Joan tiba-tiba mendongak dan menggenggam tangan Chairey erat. "Kak?" sambung Chairey dengan tatapan penuh tanya. "Chairey, Chairey bukan begitu. Bukan aku ingin berteman denganmu, aku juga tidak bisa menganggapmu adik perempuanku juga karena alasan yang sama. Chairey aku ... aku benar-benar menyukaimu, aku menyukaimu sejak dulu hingga saat ini. Aku selalu menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkannya dan tidak pernah aku temukan waktu yang tepat itu hingga kau bertemu dengan Zen, aku takut ... aku takut kau akan suka padanya dan aku tidak punya kesempatan untuk bicara denganmu. Chairey, perasaanku padamu bukan rasa suka sebagai teman, saudara atau apa pun itu. Aku menyukaimu sebagai seorang pria, aku melihatmu sebagai seorang wanita, aku ingin menjalin hubungan yang lebih denganmu. Aku ingin kita berpegangan tangan, menghabiskan waktu bersama, aku akan menunggumu siap dan kita akan menikah. Rasa suka yang seperti itu yang aku punya." Joan menatap Chairey lurus, bola matanya terlihat fokus pada Chairey dan tangan Joan terasa dingin. Bukan karena angin malam atau cuaca, tetapi karena situasi yang membuat jantung Joan berdebar lebih cepat dari biasanya. Joan kini mengalami serangan kecemasan karena menunggu jawaban Chairey. Chairey masih diam, belum menjawab perkataan Joan. Seperti sedang kebingungan menghadapi hal yang tidak pernah Chairey pikirkan sama sekali. "Uhm ... Kak Joan suka padaku sebagai seorang laki-laki? Kakak yakin? Bukan karena kasihan padaku atau hanya karena kita sering menghabiskan waktu bersama?" tanya Chairey dengan suara pelannya, pandangan mata gadis ini lurus dan tidak terlihat gugup. "Kalau memang benar adanya, aku berterima kasih sekali. Aku tidak menyangka Kakak menyukaiku dalam artian yang sesungguhnya, jujur saja aku terkejut dan sekarang aku bingung harus jawab apa. Apa Kakak ingin aku segera menjawab?" Joan mengalihkan pandangan, mengatur napas perlahan agar bibirnya bisa tersenyum dan kembali menunjukkan raut wajah tenang dan tidak terkesan memaksa. "Tidak, aku tidak memaksamu untuk menjawab saat ini juga, aku memutuskan untuk mengatakannya sekarang karena pikiranku sendiri. Dan ... tidak ada hubungannya dengan Chairey sama sekali, aku menyukai Chairey diam-diam ... wajar saja sampai terkejut. Haha, aku juga akan kaget kalau ada di posisi Chairey." Joan tertawa garing, pandangannya masih fokus pada lantai teras Chairey. "Syukurlah, aku senang Kakak mau bersabar. Aku bukannya mengulur waktu atau sengaja membuat Kakak menunggu, aku hanya takut, aku takut salah memahami diriku sendiri. Aku menyayangi kakak, dan aku tidak pernah keberatan untuk hidup berdua dengan kakak. Namun, apa itu perasaan suka sebagai pria atau sebagai bagian dari keluarga, aku sungguh tidak pernah memikirkannya. Aku minta maaf jika aku membuat Kakak merasa tidak nyaman saat bersamaku, menyukai seseorang diam-diam sementara orang itu tidak pernah sadar pasti sangat menyakitkan. Aku ... minta maaf Kak, karena aku tidak pernah menyadari perasaan Kakak selama ini, aku benar-benar tidak peka." Chairey memasang senyum getirnya, ia melirik Joan sekilas sebelum melempar pandangannya ke arah bulan. "Tidak! Chairey tidak salah sama sekali!" Joan mendadak berdiri dan menatap Chairey lekat-lekat, tidak sadar jika suaranya meninggi dan hampir membuat sekitar terganggu. Joan memukul wajahnya sendiri karena kesal. "Maaf, kenapa aku malah berteriak sih, tch. Hah, aku tidak menyalahkan Chairey sama sekali, tidak pernah. Aku bertanggung jawab atas rasa sukaku, aku memiliki tanggung jawab penuh dengan perasaanku, baik diterima atau ditolak sekalipun. Sudah aku bilang, 'kan? Aku menyukai Chairey secara sepihak dan memutuskan sendiri untuk melakukannya diam-diam, jangan menyalahkan diri sendiri." Nada bicara Joan terdengar lemah, ia tidak bermaksud membuat Chairey merasa terbebani dengan ungkapan sukanya. Joan hanya tidak mau menyesal karena terus saja diam. "Sudah malam, aku dan Kakak pasti sama-sama lelah. Kakak pulang dan istirahatlah, aku juga akan masuk dan tidur, hehe. Sampai juga lagi, Kak." Chairey beranjak dari duduknya, melambaikan tangannya dan berjalan masuk meninggalkan Joan yang masih berdiri dan bergulat dengan pikirannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN