"Joan, ini anak Bibi, Chairey. Joan bantu Bibi jaga Chairey ya? Dia anak yang pemalu, tetapi Chairey anak yang baik."
Wanita paruh baya dengan wajahnya yang masih tampak cantik itu menatap ke arah Joan kecil yang baru berusia sepuluh tahun. Joan mengerjapkan matanya perlahan sebelum memandang gadis kecil yang tengah si wanita genggam tangannya. Seorang gadis berambut cokelat muda berbola mata sama, kulitnya putih bersih dan kedua pipinya bulat kemerahan. Joan tanpa sadar tersenyum karena wajah cantik Chairey, Joan duduk jongkok di hadapan Chairey dan mengusap kepalanya perlahan.
"Halo Chairey, namaku Joan, senang bertemu denganmu. Mulai hari ini kita berteman ya?" ucap Joan ramah sembari mengulurkan tangannya ke arah Chairey, Chairey menyambut tangan Joan dengan dua tangan, menggenggamnya erat dan menggoyang-goyangkannya beberapa saat. Chairey tertawa kecil membuat kulit putih wajahnya berubah kemerahan.
"Kak Joan!" seru Chairey dengan sorot mata penuh kegembiraan. Joan ikut tertawa dan membiarkan tangannya digenggam untuk dijadikan mainan oleh Chairey. Joan mendongak dan kini menatap si wanita yang ia kenal sebagai tetangganya sejak lama.
"Iya Bi, Joan akan jaga Chairey selama Chairey dan bibi tinggal di sini. Berapa usia Chairey Bi?" tanya Joan penasaran, si wanita tersenyum dan dengan ramah menanggapi rasa penasaran tetangga kecilnya.
"Enam tahun, usia Joan sepuluh tahun, 'kan? Hanya beda sedikit dari Chairey, karena itu Joan pasti bisa jadi kakak sekaligus teman baik Chairey di kemudian hari." Wanita berambut terang dan sedikit bergelombang itu tersenyum lagi, mengusap rambut Joan singkat dengan penuh kasih sayang. Joan tahu jika tetangganya ini sudah lama tidak memiliki anak, orang tuanya berkata mereka hanya belum punya kesempatan dan belum beruntung. Karena pasangan yang sudah menikah dan cukup beruntung jika sudah dikaruniai seorang anak, dan akan lebih beruntung jika anak tersebut sehat dan bahagia selama bersama orang tuanya. Joan sering mengunjungi tetangga, bukan hanya bibi di hadapannya yang kini mengasuh seorang anak perempuan, tetapi juga semua tetangga yang ada di dekat rumahnya. Joan suka bertegur sapa dengan banyak orang, dia juga suka memiliki banyak kenalan dan suka bertemu orang baru. Joan selalu bercita-cita menjadi seorang pemilik tanah dan akan membangun sebuah perumahan atau sekolahan untuk mereka yang sulit mendapatkannya. Ibunya bilang pemikiran Joan memang sedikit berbeda dari anak-anak seusianya, Joan memiliki jiwa sosial yang begitu tinggi, karena itu ia tidak pernah ragu saat seseorang atau bahkan orang asing membutuhkan bantuannya.
"Iya Bi! Bibi mau pulang? Tidak bersama Paman, Bi?" Joan berjalan beriringan dengan si wanita, tangannya masih menggenggam tangan Chairey dan kini berperan untuk menuntun gadis kecil cantik yang akan ia jadikan adik perempuan angkat. Si wanita ikut berjalan, karena pada awalnya mereka bertujuan untuk pulang ke rumah setelah berjalan-jalan, tetapi malah berhenti ketika melihat Joan di depan. Si wanita mengangguk menjawab pertanyaan Joan.
"Iya, Bibi hanya berdua saja dengan Chairey. Pamanmu sedang bekerja, hari ini pulang lebih lama katanya, mungkin lembur? Bibi tidak begitu tahu, tetapi Pamanmu sudah menggerutu karena harus lembur di hari pertama Chairey datang. Haha. Bibi bisa lihat wajah frustrasinya saat harus meninggalkan Chairey di rumah, sejak kemarin ia sudah merencana untuk mengajak Chairey jalan-jalan." Si wanita tertawa kecil karena ceritanya, Joan ikut tersenyum karena mendengar cerita yang menyenangkan. "Sayang sekali, dia dapat panggilan tiba-tiba dari kantor dan tidak bisa diundur, Chairey juga sedih karena ayahnya harus pergi, tetapi karena Chairey anak yang baik dia melambaikan tangannya pada ayah dan berkata agar ayah cepat kembali."
Si wanita menatap Chairey dengan pandangan mata penuh kasih sayang dan kelembutan, tetapi jika diperhatikan lebih dalam ada sorot mata sedih di balik kebahagiaannya.
"Hehehe. Paman selalu sial! Kasihan sekali Paman!" Joan cekikikan menimpali cerita si wanita yang kini mengalihkan pandangan pada Joan. "Aku boleh ikut ke rumah tidak? Aku mau main dengan Chairey!" seru Joan pada wanita di hadapannya, si wanita mengangguk mengiyakan. Si wanita selalu senang saat Joan kecil mengunjungi rumahnya, dan kini bukan hanya Joan yang akan menghiburnya, anak perempuan cantiknya juga akan selalu menemaninya di sepanjang waktu.
"Tentu saja! Ayo ikut ke rumah, Chairey juga senang kak Joan ada di rumah bersama kita, 'kan?"
"Iya!" seru Chairey ikut berteriak tidak mau kalah. Si wanita tersenyum manis dan menggandeng dua tangan kecil pada masing-masing tangan, mereka berjalan perlahan dan sesekali mengumandangkan lagu anak-anak.
"Friends, friends, friends.
I have some friends.
I love my friends and they love me.
Help my friends and help love me.
Friends , friends, friends.
I have some friends, I love!"
°°°
Malam itu hujan deras, yang Joan tahu bibi dan paman tetangga pergi meninggalkan Chairey sendirian. Bibi Laney, wanita berusia empat puluh delapan tahun yang terkenal dengan sikap baiknya pada semua orang mempercayakan Joan untuk menjaga Chairey selama mereka bepergian. Suaminya, Leonord, pria berusia lima puluh tiga tahun bahkan bersemangat untuk membuat Joan sebagai menantu mereka kelak. Leonord terbilang jarang ada di rumah, pekerjaannya sebagai kepala konstruksi pembangunan membuatnya terus sibuk dan acapkali bermalam di lokasi. Karena hal itu, Leo sering meminta Joan menginap di rumah untuk menjaga Laney dan Chairey meski jarak rumah mereka sangat dekat.
Kali ini, hanya Chairey yang tinggal, Joan tentu saja tidak bisa sembarangan menginap. Dan sayangnya di kompleks tersebut tidak ada remaja wanita yang bisa diminta pertolongan untuk menemani Chairey, seluruh orang tua yang punya anak perempuan mengirim mereka sekolah di ibu kota atau beberapa lainnya sudah menikah dan tinggal bersama para suami. Joan melirik ke arah jam dinding, pukul sembilan lewat lima belas malam. Ia memikirkan Chairey sejak tadi, meski sudah diperingati untuk mengunci pintu dan terus menyalakan panggilan yang masih tersambung dengannya, Joan tetap merasa cemas harus membiarkan gadis remaja berusia empat belas tahun itu sendirian.
"Chairey? Kau sudah tidur belum?" tanya Joan memastikan.
"Kak Joan? Belum! Hehe, sebentar lagi. Aku mau menunggu Ibu dan Ayah, mereka sepertinya sedikit terlambat. Hari ini ulang tahunku, aku sudah susah-susah belajar membuat puding kesukaan Ayah! Aku ingin lihat bagaimana reaksi Ayah setelah mencicipi," jawab Chairey dari telefon. Suaranya terdengar penuh semangat dan terkesan tidak sabar. Joan tersenyum kecil, paman dan bibi sudah pergi sejak kemarin dan berkata akan kembali hari ini ingat Joan. Mereka bilang akan cari hadiah paling bagus untuk Chairey dan meminta Joan merahasiakannya.
"Jangan memaksakan diri, Bibi akan marah kalau kau sampai jatuh sakit. Besok memang hari libur, tetapi kau harus tahu batasan diri. Paham?" Joan meraih bantal yang ada di sebelahnya, ia memutuskan untuk bermalam di ruang tamu sejak kemarin. Jarak pintu depan dari kamarnya cukup jauh, ia tidak mau sampai makan waktu lama untuk menuju rumah Chairey ketika Chairey tiba-tiba membutuhkannya.
"Buu! Aku tahu, aku tidak memaksakan diri. Tadi siang aku sudah tidur siang, empat jam! Jadi, kalau aku tidur malam cuma empat jam, pasti akan baik-baik saja, hehe."
Joan mengerutkan kening ketika mendengar penjelasan Chairey, ia mengembuskan napas perlahan dan memijat keningnya perlahan. Bagaimana Chairey bisa memiliki pemikiran seperti ini batinnya. "Tidak begitu, meski sudah tidur siang tetap saja harus tidur malam dengan cukup."
"Kak, seseorang itu lebih bagus tidur selama delapan jam dalam satu hari. Tidak ada penjelasan harus malam atau siang hari, 'kan? Atau aku yang belum pernah baca?" tanya Chairey ragu, Joan semakin mengerutkan kening mengingat ia yang tidak sama sekali pandai dalam bidang akademis.
"Ugh ... aku tidak tahu. Pokoknya, jangan memaksakan diri, itu saja. Jadi, kau sedang apa? Duduk di ruang depan sendirian seperti orang bodoh?" Joan menggaruk-garuk bagian belakang lehernya setelah memutuskan untuk berhenti berdebat tentang jam tidur. Chairey terkikik pelan karena ejekan Joan.
"Aku sedang baca novel, Kakak tidak suka baca novel, 'kan? Padahal seru sekali loh! Kita bisa pindah-pindah tempat, bisa berganti peran, bisa merasakan kehidupan lain dan mendapat informasi baru hanya dari sebuah buku! Kita tidak perlu berjalan jauh mengelilingi dunia atau menghabiskan banyak uang untuk pindah-pindah tempat, kita juga tidak perlu takut tidak bisa kembali atau menunggu kesempatan untuk menjelajah ruang angkasa. Buku itu luar biasa Kak!"
Joan tersenyum manis mendengar cerita Chairey, Joan memang tidak pernah menyukai buku; novel apa lagi pelajaran. Joan tidak begitu suka membaca, ia lebih suka bertualang dengan caranya sendiri. Ia lebih suka berinteraksi dengan banyak orang yang membuatnya tertarik. Namun, ia juga tidak keberatan jika harus mendengarkan cerita Chairey seharian. Joan tidak pernah keberatan melakukan banyak hal untuk Chairey.
"Iya, iya. Kau dan bukumu memang luar biasa, memangnya sedang baca buku apa? Fantasi? Buku yang kau baca waktu itu?"
Klik-
Joan tersentak karena pintu kamar utama tiba-tiba terbuka, ayahnya keluar dari dalam kamar dengan wajah pucat pasi seolah darah sudah tidak lagi mengalir di dalam tubuh.
"Joan ... Leonord dan Laney ... mereka," ucap ayah Joan terputus, napas pria berkaca mata itu tampak memendek dan langkah kakinya terhenti. Joan segera beranjak dari posisi dan berlari kecil mendekati sang ayah. "Apa? Ayah ada apa?" Joan memegangi lengan ayahnya berusaha membuat orang tua itu sadar.
"Orang tua Chairey meninggal dalam kecelakaan ... mobil mereka keluar jalur dan ... " Joan segera berlari ke arah ponselnya yang masih menyala dan buru-buru mematikan panggilan. Jantung Joan berdebar amat kencang, ia berdoa pada langit malam agar apa yang ia dengar hanya mimpi. Dan jika mimpi itu benar-benar nyata, maka dia berharap Chairey tidak mendengarnya melalui panggilan suara saat ini.