Page 27 - Teman Baik

1744 Kata
Zen dan Rei sudah sampai di markas, keduanya menatap bangunan rumah yang tampak sepi di hadapan mereka dengan tatapan lega. Rei tersenyum manis sembari menepuk pundak Zen singkat. "Setelah ini segera hubungi Chairey, jangan ditunda lagi. Kasihan dia, pasti sudah menunggu kabar darimu." Zen menatap ragu Rei, ia alihkan pandangannya sesaat lalu menjawab ucapan Rei. "Kau yakin dia menunggu? Maksudku, kami tidak punya hubungan apa-apa, kami bahkan ... baru saja kenal. Belum lama dekat, hanya bertemu satu kali dan selebihnya hanya bicara lewat ponsel, aku tidak mau berasumsi untuk menyenangkan diriku sendiri," gumam Zen setengah berbisik. Zen tergolong pemuda yang memiliki rasa percaya diri yang rendah, meski wajahnya tampan, penampilannya sempurna dan punya banyak uang, Zen memiliki pola pikir jika dirinya adalah orang jahat. Pekerjaannya sebagai pembunuh, masa lalu kelamnya termasuk ketakutan anehnya pada kaca atau benda yang menampilkan bayangan dengan jelas adalah hal-hal yang membuat potensi dirinya menurun jauh di mata semua orang. "Kalau begitu cari tahu, jadi kau tidak perlu ragu lagi. Cari tahu apa Chairey menunggu kabarmu atau tidak, kalau ternyata tidak, tidak masalah, 'kan? Ke depannya kita tidak perlu terburu-buru atau mengkhawatirkan pulang terlalu lama, masalahnya, bagaimana kalau jawabannya iya dan kau mengabaikannya? Pasti buruk sekali, kalau Chairey sampai menangis karena pikiran anehmu itu, aku akan merajuk dan tidak mau bicara denganmu selama satu minggu." Rei mengerutkan kening dan memandangi Zen lekat-lekat, Rei berusaha sebaik mungkin agar Zen paham maksud ucapannya. Zen diam balas menatap Rei sebelum tertawa geli. "Kau menertawakanku?" Zen masih tertawa meski Rei sudah tampak kesal karena ia yang tertawa. Zen merasa senang hingga tawanya tidak bisa dikendalikan, ia begitu senang karena tahu jika Rei begitu peduli padanya. Bukan hanya sekadar di mulut atau rasa peduli yang pura-pura karena satu dan dua hal, Rei benar-benar sosok teman baiknya di dunia ini. "Maaf, aku bukan menertawakanmu, sungguh. Aku tertawa karena aku merasa senang, hm ... terima kasih Rei. Aku akan hubungi Chairey dan cari tahu apa dia sedang menungguku atau tidak," jelas Zen ke Rei perlahan, Rei mengerjapkan matanya perlahan kemudian ikut tertawa. "Haha, begitu ya? Aku kira kau sedang menertawakanku. Iya, iya, pergi dan hubungi dia. Aku masih harus temui Elle dan membahas tentang misi kali ini, aku juga mau bicara dengannya tentang kelompok mereka di markas utama." Rei meregangkan tangannya dan melanjutkan langkah menuju pintu markas. Keduanya pulang pagi-pagi sekali, setelah Zen tertidur di arena latihan dan dibangunkan oleh Rei Rei memberitahukan pada Zen bahwa Sherryl akan tinggal bersama dokter untuk sementara waktu sampai Sherryl sanggup hidup sendirian, Rei juga berkata jika Sherryl meminta Rei untuk menyampaikan rasa terima kasihnya pada Zen. Rei menceritakan bagaimana dokter mengajak Sherryl bicara dan akhirnya menemukan solusi untuk mengizinkan Sherryl tinggal bersamanya dengan syarat membantu semua pekerjaan dokter. Baik pekerjaan rumah ataupun klinik. Rei juga berkata jika saat ini Sherryl tidak ingin bertemu dengan siapa-siapa terutama dengan Zen, karena Sherryl merasa bersalah dan merasa tidak enak pada Zen setelah apa yang dia lakukan. Menahan, berteriak dan meminta Zen melakukan hal yang tidak mau Zen lakukan padanya. Zen yang mendengar kabar melalui Rei hanya bisa mengangguk dan menerima semua cerita Rei, Zen diam mencoba memahami situasi, Zen berharap jika keputusan ini adalah keputusan yang paling baik. Rei juga menunjukkan video rekaman yang memperlihatkan Sherryl tengah duduk diam di kamarnya untuk beberapa saat karena Zen yang bertanya apa gadis yang akan mereka tinggalkan itu baik-baik saja atau tidak. Zen merasa lega karena apa yang ia lihat dan segera meminta Rei untuk menghapusnya karena hal itu merupakan privasi yang tidak boleh dilihat banyak orang begitu saja. Rei mengangguk dan segera menghapus video tersebut sesuai permintaan Zen, lalu menjelaskan kenapa ada kamera pengintai di sana. Rei mengatakan bahwa kamera tersebut dipasang karena dokter yang memintanya. Dokter ingin mengawasi gerak gerik Sherryl yang sedang berada dalam pengawasan, tidak untuk keperluan lain. Zen merasa yakin dengan apa yang Rei ceritakan, pemuda bersurai gelap ini tidak pernah merasa jika Rei menceritakan kebohongan. Baik tentang Sherryl hingga tentang kamera pengintai, Zen percaya pada setiap kata yang Rei sampaikan meski pada kenyataannya Rei bekerja sama dengan dokter untuk menyingkirkan Sherryl dari Zen dengan cara membunuhnya. "Bagaimana misinya?" Elle menatap Rei yang baru saja kembali, menatapnya lurus ketika mata mereka saling bertemu. Rei tersenyum, mengacungkan jempol ke arah Elle lalu duduk di sofa yang ada di ruangan wanita muda di hadapannya. Rei membuka isi tasnya, mengeluarkan laptop beserta tumpukan berkas dan beberapa barang bukti berupa potret dan satu unit diska lepas USB berwarna hitam. "Oh? Ada gadis juga? Dia bukan korban?" tanya Elle ketika melihat potret Sherryl dalam tumpukan potret pelaku lainnya. Rei mengangguk menjawab pertanyaan Elle. "Benar, ada gadis juga. Dia ini adik perempuan salah satu pelaku, awalnya kami mengira dia tidak terlibat, Zen sempat menyelamatkannya dan memintaku untuk membantu. Karena itu kami sedikit terlambat, kau tahu bagaimana Zen, 'kan? Dia mudah ditipu karena kebaikannya, dia juga mudah dimanfaatkan oleh orang-orang seperti gadis ini. Untung sekali aku sudah hubungi dokter Tae untuk jaga-jaga, aku membawa gadis ini ke dokter Tae dan bicara dengannya. Namun, satu hal yang membuatku merasa benar-benar beruntung, Zen tidak mengenal wajah dokter Tae." Elle menaikkan sebelah alisnya tidak yakin dengan apa yang ia dengar. Mendekatkan wajahnya ke Rei meski pada kenyataannya suara Rei lebih dari cukup untuk ia dengar dari posisi sebelumnya. "Benarkah? Dia tidak ingat sama sekali? Bagaimana kalau sebenarnya dia ingat dan hanya tidak katakan padamu saja?" "Bisa juga seperti itu, tetapi kemungkinannya kecil. Jika Zen ingat, air mukanya pasti akan berubah dan dia pasti komplain padaku kenapa membawa gadis itu ke sana. Dan lagi, Zen juga tidak akan merasa nyaman berada di rumah dokter Tae untuk berhari-hari, bahkan aku jamin ia akan meminta untuk segera keluar dalam waktu lima belas menit atau paling lama satu jam," ungkap Rei penuh keyakinan. Elle mengangguk seolah mengerti kenapa Rei begitu yakin jika Zen tidak mengingat dokter Tae. "Aku rasa apa yang Kevin lakukan beberapa tahun lalu pada Zen cukup berhasil, ia memang masih takut dan suka memecahkan kaca, tetapi sekarang ia melupakan sosok dokter yang melakukan percobaan padanya. Menurutku, bisa dikatakan cukup berhasil." Elle menyandarkan punggungnya di sofa, memasang wajah berpikir lalu tersenyum. "Baiklah, anggap saja Kevin berhasil melakukannya. Saat Kevin kembali nanti, aku akan minta dia melanjutkan pengobatannya pada Zen. Untuk saat ini aku akan biarkan Kevin menikmati waktu senggangnya, aku akan biarkan Kevin menikmati main dokter-dokteran dengan orang-orang atas. Kau, aku dan semua orang yang ada di sini tahu betul jika Kevin tidak bisa dipaksa dengan nyata. Jika ia masih tidak mau kembali dalam waktu yang aku tentukan, aku akan lakukan sesuai rencanaku." Elle tersenyum manis, ia mengingat bagaimana Kevin melarikan diri kala itu. Kevin hanya mengatakan jika dia harus pergi untuk membuat dirinya tenang setelah hal buruk yang dialami. "Kevin sudah pergi cukup lama, hampir dua tahun?" tanya Rei, dan ikut mengingat bagaimana kabar tentang Kevin pergi dari markas jadi berita heboh di markas. Mengingat peran Kevin yang benar-benar penting untuk mereka, membuat Elle dan yang lainnya cukup kewalahan untuk mencari sosok dokter pengganti. Selain mengobati jika mereka terluka, Kevin juga memberikan para Fighter tenaga tambahan yang menambah kekuatan juga daya tahan tubuh dalam bentuk vaksin. Para Fighter biasanya akan diperiksa lebih dulu sebelum Kevin memutuskan dosis mana yang pas. "Hampir dua tahun, tetapi apa yang dia alami juga berat. Aku yakin, bukan hanya dia yang ingin lari jika mengalami hal yang sama. Pengantinnya tertembak mati saat mereka hendak bertukar sumpah, itu mengejutkan sekaligus mengerikan Rei. Bahkan untukku, itu sangat mengerikan, terlebih lagi saat itu pengantin wanitanya sedang hamil bukan?" Rei menggeleng perlahan. "Aku tidak tahu, aku tidak cukup dekat dengan Kevin saat dia ada di sini. Kami jarang bertemu, karena aku bukan Fighter, hanya sesekali saat pemeriksaan rutin yang dia adakan. Baiklah jika kau masih memberikannya waktu, aku setuju, hal yang dia alami memang berat. Oh, ini laporan tentang sindikatnya, lalu ini tentang informasi markas utamanya. Aku belum bisa temukan lokasi pasti, mereka terus pindah, mereka lumayan pintar ternyata." Elle terkikik mendengar ucapan Rei. "Begitu? Baiklah, tinggalkan saja di atas meja, aku akan membacanya. Setelah paham bagaimana kondisi mereka dan lapangan, aku akan beritahu lagi siapa yang berperan menyelesaikannya hingga bersih. Kau boleh keluar." Elle meraih tumpukan dokumen tersebut sebelum menatap fokus lembaran demi lembaran yang ada di tangannya. Rei mengangguk, pemuda dengan bola mata coklat itu beranjak dari duduknya, menatap Elle singkat sebelum berjalan keluar meninggalkan pimpinan markas sendirian. °°° "Zen? Sudah pulang? Sudah di rumah? Bagaimana pekerjaannya? Zen baik-baik saja?" Terdengar suara Chairey yang penuh rasa khawatir sekaligus terdengar senang. Zen tersenyum kecil, rasa khawatirnya muncul, Chairey benar-benar menunggu kabar darinya. "Sudah, baru pagi ini. Ada beberapa kendala jadi tidak bisa pulang cepat, maaf tidak bisa menghubungi Mistrees karena ponselku mati total. Dan ... aku lupa bawa pengisi dayanya, Rei juga tidak bawa," jelas Zen pada Chairey yang terdengar seperti alasan umum meski itu adalah kenyataannya. "Tidak apa-apa, aku tidak marah. Aku tahu Zen dan Rei sibuk bekerja, aku hanya bisa mendoakan agar kalian baik-baik saja selama sedang bertugas. Syukurlah kalau semuanya sudah selesai, Zen lebih baik istirahat, kenapa malah menghubungiku?" "Karena ... karena aku ingin Mistrees tahu, aku takut kalau ... kalau Mistrees menunggu kabar dariku dan Rei. Jadi, jadi aku buru-buru hubungi, apa Mistrees sibuk?" Zen menatap ke arah jam dinding yang ada di kamarnya, pukul sepuluh pagi, lalu ia melirik ke arah kalender yang ada di atas meja; tanggal merah. Zen bernapas lega, ia takut jika mengganggu Chairey saat Chairey berada di sekolah seperti waktu itu. Chairey tertawa karena ucapan Zen. "Hahaha, begitu ya? Terima kasih sudah menghubungiku secepat yang Zen bisa, aku senang karena diingat. Baiklah, sekarang kita sudah bicara, Zen sedang apa? Berbaring?" Zen menatap dirinya sendiri, duduk kaku di sudut tempat tidur. "Tidak, aku sedang ... duduk. Ada apa?" tanya Zen penasaran. "Sekarang berbaring, ayo bicara sembari berbaring. Aku juga sedang bersantai dan berbaring di atas sofa, Zen juga, setelahnya Zen bisa ceritakan tentang tempat yang Zen datangi padaku. Okay?" Zen tersenyum kecil, dengan sadar ia menuruti ucapan Chairey, ia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dan menempelkan ponselnya di telinga. "Sudah, aku sudah berbaring. Mistrees tahu Singapura? Aku dan Rei ke sana untuk tugasnya, Mistrees ingin dengar tentang tempat-tempatnya? Rei juga ada mengambil beberapa potret, nanti akan aku kirimkan." Zen mulai menceritakan bagaimana ia dan Rei yang baru sampai di Singapura, dan bagaimana mereka mencicipi makanan lokal untuk kali pertamanya. Zen dan Chairey sesekali tertawa bersama, mereka juga berjanji untuk bertemu lagi setelah Zen tidur. Sedikit yang keduanya tahu jika apa yang saat ini terjadi hanya awal dari masalah sebenarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN