Page 26 - Teman Baik

1525 Kata
Zen memutuskan untuk tetap berada di ruang tamu, ia tidak tahu bagaimana baiknya menyelesaikan keadaan seperti ini. Tentang Sherryl, tentang Rei dan perasaan tidak enaknya juga tentang Chairey yang ingin sekali ia jumpai. Dirinya bohong jika berkata tidak ingin segera bertemu dengan Chairey, hati Zen terasa gelisah dan tidak karuan jika memikirkan bagaimana Chairey tengah menunggunya di rumah. Dia tahu, dirinya dan Chairey tidak memiliki hubungan khusus, dan mungkin saja kekhawatiran ini hanya timbul secara sepihak, tetapi Zen tidak peduli. Ia percaya pada apa yang ia rasakan, ia percaya pada hati kecilnya. Seperti saat ini, jika Chairey bukan wanita yang baik maka Rei pasti akan menghalanginya untuk berhubungan lebih lanjut. Walau pun Zen tidak paham bagaimana cara pikiran Rei bekerja, Zen cukup percaya pada insting milik sahabat baiknya itu. Dan sekarang masalahnya, insting itu timbul dari seorang gadis kecil tidak tahu apa-apa yang baru saja ia selamatkan. Zen menarik napas panjang, ia mencoba mengatur napasnya agar jadi lebih tenang. Zen menatap sekeliling ruangan, sepi; hanya ada detik jam yang menemani. Zen menatap kedua tangannya, ia belum merasa lelah sama sekali. "Latihan sebentar saja," ucapnya pada diri sendiri. Zen tergolong seseorang yang memiliki gangguan dalam tidur, ia tidak akan bisa istirahat dengan baik jika tubuhnya tidak dalam kondisi lelah atau sangat amat lelah. Ia harus membuat tubuhnya bekerja lebih keras pada malam hari, tidak tahu itu berlari keliling rumah sampai puluhan kali atau latihan fisik dengan alat berjam-jam lamanya. Setelah tubuh merasa cukup lelah, Zen harus buru-buru pergi ke tempat tidur dan membiarkan dirinya terlelap. Sejak tinggal dengan pamannya, Jeffrey, Zen selalu dilatih secara ekstrem. Mulai dari latihan bertarung, latihan menyelamatkan diri tak luput juga latihan menghabisi lawan. Zen tidak pernah bertanya untuk apa ia dilatih, ia tanamkan dalam dirinya kala itu jika hal ini dilakukan untuk keselamatan adik perempuan satu-satunya. Zen menuruti hampir seluruh perintah Jeffrey kecuali ketika pamannya meminta Mia dipindahkan ke panti asuhan. Awalnya, Jeffrey sempat kesal karena Zen yang tidak menurut tetapi akhirnya Jeffrey meminta hal yang lebih buruk lagi. "Baiklah jika memang kau lebih memilih adik perempuanmu, tidak masalah. Namun, apa kau tahu apa yang pamanmu ini kerjakan Zen? Pamanmu ini adalah bagian dari sindikat penyedia tentara khusus pembunuh bayaran, dan kau akan aku siapkan sebagai senjata biologis paling hebat di antara tentara lain yang pernah aku latih. Jangan katakan jika aku tidak memberikanmu pilihan, kau yang menolak pilihan pertama." Saat itu Zen yang masih belia tidak paham apa arti senjata biologis yang Jeffrey sebutkan, hingga kelamaan barulah ia sadar jika itu berarti membuatnya menjadi mesin pembunuh yang mahal. Zen mengembuskan napasnya perlahan, ia beranjak dari sofa dan berjalan menuju lantai bawah. Seperti yang Rei katakan, arena latihannya ada di lantai bawah. Zen menuruni tangga cepat tanpa menimbulkan suara dan memulai latihan gilanya. °°° "Bagaimana ini ... bagaimana ini? Bagaimana caranya agar aku bisa ikut dengan mereka? Mereka akan meninggalkanku, mereka pasti akan meninggalkanku, bagaimana kalau kelompok itu memburuku?" Sherryl menjambak rambutnya sendiri beberapa kali lalu diam dan menatap wajahnya di cermin. Ia kembali mengingat saat di mana Zen menembak mati saudara laki-lakinya yang ia anggap t***l. "Kakak t***l! Sampai akhir pun dia tidak bisa memberikan kebahagiaan untuk adik perempuannya, padahal tinggal kabur saja. Kalau saja orang di sebelah Zen tidak ada, pasti akan berhasil, pasti akan berhasil. Apa aku bujuk lagi sampai mereka mau menunggu hingga pasporku selesai? Tidak, tidak bisa, aku tidak punya data di sini, kalau petugas tidak temukan dataku mereka akan curiga dan malah memberitahu Zen. Lalu bagaimana agar aku bisa kabur dari sini? Dasar kakak sial! Bagaimana, bagaimana ini ...." makinya dengan berbisik, tangan Sherryl sudah sibuk memukul-mukul bantal yang ada di sana berulang kali. Sherryl merasa kesal karena hal terjadi tidak sesuai dengan rencananya. Dirinya sudah berusaha sebaik mungkin agar Zen percaya jika Sherryl adalah sosok gadis lemah yang tidak tahu apa-apa. Pada kenyataannya, ia lebih dari pada tahu apa yang kakak laki-lakinya kerjakan, bahkan dirinyalah yang memaksa kakaknya untuk ikut bergabung dalam sindikat. Sherryl dan kakak laki-lakinya sudah hidup sulit sejak mereka kecil, dan Sherryl selalu merasa iri dengan kehidupan orang lain. Ia iri pada mereka yang bisa membeli apa saja yang diinginkan, ia iri pada mereka yang bisa jalan-jalan setelah pulang sekolah, ia iri pada teman-temannya yang sering meributkan jajanan di kafe baru atau sibuk membicarakan tentang tren sepatu atau tas masa kini. Sherryl tidak pernah merasakan hal itu satu kali pun seumur hidup, karenanya ia memaksa kakak laki-lakinya untuk bekerja lebih keras dan mencari segala cara agar mereka bisa hidup lebih baik. Sampai ketika Sherryl mendengar sebuah kabar tentang berita hilangnya anak-anak dan tunawisma, kabarnya mereka dijual ke berbagai negara untuk diperkerjakan sebagai pekerja seksual bayaran atau dijual organ tubuhnya. Sherryl sempat berpikir untuk menjual kakak laki-lakinya, tetapi ia tidak bisa bersenang-senang jika kehilangan satu-satunya orang yang bekerja. Sherryl yang sudah gila dan terlalu memiliki obsesi tinggi pada materi dan barang mahal memaksa satu-satunya keluarga yang ia punya untuk mencari informasi tentang sindikat tersebut. Tidak cukup sampai di situ, Sherryl juga meminta kakak laki-lakinya untuk bergabung dan bekerja di dalamnya. Dan setelah tiga bulan bergabung, Zen datang untuk membasmi mereka semua. Sherryl menggigiti kuku jarinya, tidak sadar jika kulitnya ikut tergigit dan mengalirkan darah segar. Gadis berusia tujuh belas tahun ini sudah benar-benar putus asa. "Jujur saja aku sudah punya perasaan tidak enak sejak pertama kali kita bertemu, sayangnya teman baikku begitu mudah tertipu dan percaya." Suara yang datang tiba-tiba terdengar membuat Sherryl terkejut bukan main, ia menatap ke arah jendela, gordennya tertutup. Ia menatap ke arah pintu yang cukup jauh dari tempat tidur, tidak mungkin bisa mendengar suara dari sana batinnya. Sherryl menatap sekitar, menatap ke arah atas dengan pernapasan yang sudah tidak lancar. Sherryl mengenal suara ini, suara yang tidak asing dan sering ia dengar belakangan; suara Rei. "Aku tidak ada di kamarmu kok, percuma saja kau mencariku di mana-mana. Aku heran, bagaimana bisa gadis kecil sepertimu yang tidak tahu apa-apa, tidak punya pengalaman apa-apa punya keinginan untuk menipuku dan Zen. Apa kau pikir karena Zen bodoh? Karena Zen terperdaya dengan mimik muka minta kasihanmu? Gadis bodoh. Aku katakan satu kali lagi agar kau sadar, gadis bodoh." Suaranya terdengar jelas meski tidak jernih, mirip suara rekaman atau suara yang berasal dari video jarak jauh. Sherryl makin panik, matanya mengedar mencari alat yang mengantarkan suara tersebut hingga ia temukan satu unit kamera pengintai di sudut kamarnya. Mulutnya terbuka dan kedua matanya terbelalak, Sherryl tidak sadar sejak kapan kamera itu ada di sana. "Hai, kaget? Maaf ya, aku tidak bilang-bilang. Aku pasang ini dengan izin dokter, Zen juga tidak tahu, karena dia akan marah kalau tahu aku pasang ini. Rencanamu sudah benar seharusnya, mendekati Zen dengan minta kasihan. Sayangnya, sayang sekali, Zen pergi denganku. Maaf ya Sherryl, bukan aku ingin membuatmu kecewa tetapi aku terlalu muak dan terlalu sering bertemu dengan manusia sepertimu. Memanfaatkan kebaikan orang lain, menganggap mereka bodoh dan bisa kau kendalikan sesukamu. Jujur saja, aku tidak akan peduli jika kau lakukan itu pada orang lain. Namun, targetmu kali ini kurang tepat, targetmu kali ini adalah teman baikku. Tidak akan aku biarkan siapa saja memanfaatkan kebaikannya, tidak akan aku biarkan siapa saja yang berusaha menghalangi jalannya. Nah, Sherryl, tunggu di kamar dengan baik ya? Aku harap impianmu dapat tercapai di kehidupan selanjutnya." Bzzt- Sherryl menutup telinga karena suara bising yang terdengar, napasnya tercekat dan sudah terasa putus-putus sejak tadi. Sudah tamat, benar-benar sudah tamat pikirnya. Ia hanya perlu menunggu kematian menjemput, persis seperti kematian menjemput kakaknya. °°° "Kau akan bilang apa pada Zen?" Rei menatap ke arah pria yang penampilannya berantakan di belakangnya, Rei tersenyum manis lalu tertawa kecil. "Aku akan bilang bahwa Sherryl yang manis memutuskan untuk tinggal bersamamu. Lalu Sherryl yang manis akan belajar membantu pekerjaanmu, dengan begitu Zen tidak akan bertanya lebih lanjut," jawab Rei sembari membereskan peralatan. Pemuda yang jadi lawan bicaranya hanya menggeleng-geleng perlahan, awalnya pemuda ini juga tidak percaya dengan ucapan Rei tentang Zen yang terlalu baik hati. Dan sekarang pemuda yang berprofesi sebagai dokter tanpa izin itu menyaksikannya sendiri. "Baiklah, jika memang itu rencanamu. Aku juga tidak menyangka dia tidak mengenaliku, kau benar, anak itu terlalu baik untuk dijadikan senjata biologis. Omong-omong, aku akan alirkan gas beracunnya lima menit dari sekarang." Dokter yang biasa dipanggil Tae ini berucap santai, menatap singkat ke arah jam tangan lalu menatap Rei lagi. Rei mengangguk setuju dengan ucapan Tae, Rei sudah mengenal Tae sejak lama, karena itu Rei tahu betul Tae akan membantu rencananya. "Setidaknya ada rekaman dia masih duduk dengan baik-baik saja, aku akan berikan rekaman itu pada Zen jika Zen ingin memastikan. Dan kalau dia tidak tanya, akan lebih baik jika tidak aku perlihatkan. Well, dokter Tae, aku berhutang lagi padamu. Katakan saja kalau kau butuh sesuatu, aku akan temui Zen dan kami akan mengurus kepulangan kami. Oh ya, jangan terlalu lama di sini, ada banyak orang di Allegra yang merindukanmu." Rei terkikik kecil, mengedipkan sebelah matanya pada Tae sebelum berjalan keluar ruangan. Rei menatap ke arah ruang tamu yang berada dekat dengan ruang kerja dokter Tae, sepi tak ada suara. Rei yakin saat ini Zen tengah latihan dan berusaha sekeras mungkin untuk membuat tubuhnya lelah. Rei mengembuskan napas lega, bibirnya melengkung sempurna membayangkan mereka akan pulang dan bertemu Chairey segera.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN