"Halo? Chairey, ini aku! Lama tidak bicara ya? Hehe, Rey sedang apa?"
Rei membaringkan tubuhnya di atas kasur setelah makan malam, di bawah Zen dan Sherryl masih bicara. Tidak tahu kenapa Rei tidak begitu merasa nyaman bicara dan berada di dekat Sherryl, karenanya ia memutuskan untuk naik ke lantai atas dan menghubungi Chairey dengan panggilan suaranya. Setelah bicara beberapa saat, Rei bermaksud memberikan ponsel tersebut pada Zen, agar keduanya juga bisa saling bicara. Ia tahu jika Zen pasti sedang menunggu bicara dengan Chairey, sayang ponselnya sudah tewas sejak kemarin.
"Rei? Nomor baru ya? Aku sampai bingung tadi mau aku angkat atau tidak. Kalian sudah pulang?"
Suara Chairey terdengar terkejut dari arah sana, Rei tersenyum kecil sembari memperhatikan atap kamarnya. Plafon dengan cat putih polos dan lampu berwarna kuning keemasan yang tidak begitu terang.
"Belum, ada beberapa hal yang terjadi, jadi ... aku dan Zen belum bisa pulang. Hehe. Jangan khawatir! Kami baik-baik saja, hanya ada masalah kecil yang membuat kami belum bisa kembali," jawab Rei dengan tawa ringannya. Chairey ikut tertawa karena mendengar Rei tertawa, Rei merasa lega karena Chairey terdengar baik-baik saja. Meski terbilang baru kenal, Rei merasa Chairey adalah orang yang tepat untuk Zen. Rei memiliki beberapa pikirannya sendiri tentang Chairey, tentang Zen dan tentang bagaimana membuat keduanya bersama. Dalam waktu cepat atau lambat, Rei merasa perlu memberikan ujian pada Chairey sebelum benar-benar membuat mereka bersama.
"Syukurlah, aku lega mendengarnya. Aku takut terjadi apa-apa dengan kalian, karena kalian tidak ada kabar sejak tiga hari lalu. Aku takut untuk menghubungi kalian lebih dulu, bagaimana kalau aku mengganggu? Karena itu aku menunggu saja."
Rei tersenyum lagi mendengar penjelasan Chairey, badannya ia gulingkan ke arah kiri, memeluk bantal yang ada di sebelahnya.
"Terima kasih Rey sudah mengkhawatirkan kami, aku dan Zen senang. Selain Elle, kami memang tidak akan menghubungi siapa-siapa selama misi. Menghubungi Elle pun kami harus menunggu hingga waktu yang tepat, tidak sembarangan," jelas Rei perlahan, ponselnya kini ia letakkan di atas tempat tidur dan menekan tombol loud speaker.
"Elle? Uhm ... siapa Rei?"
Rei mengerjap-ngerjapkan matanya lalu tertawa.
"Oh! Aku belum pernah sebut atau kenalkan ya? Hahaha. Maaf, maaf Rey. Elle itu nama pimpinan kami. Dia yang mengajak orang-orang untuk bergabung lalu menerima pekerjaan, dan membagi-bagikannya pada kami. Setelah bekerja dan berhasil menyelesaikan tugas, kami harus melaporkannya pada Elle. Gagal atau berhasil, lancar atau ada kendala, semuanya harus dilaporkan. Agar nantinya Elle bisa menilai, risiko yang dikerjakan dan bayaran yang diterima sesuai atau tidak, Elle juga akan melihat situasi yang sebenarnya dan membandingkan dengan situasi yang klien gambarkan. Jika tidak sesuai dengan apa yang klien gambarkan, Elle akan marah karena bisa membahayakan kami. Elle tidak hanya mementingkan uang, tetapi dia juga menjaga keselamatan kami selama bertugas. Karena itu, Elle selalu cerewet untuk memperingati kami dalam misi juga tentang detail laporan."
Rei memejamkan matanya, ia kembali mengingat bagaimana Elle marah-marah pada klien saat tahu kondisi lapangan jauh berbeda dengan apa yang klien jelaskan. Sementara para Fighter tidak bisa ditarik karena sudah berada di lokasi dan terjebak situasi, Elle yang kerap kali dinilai masih kecil dan hanya seorang wanita hingga para klien nakal akan menganggapnya tidak mengerti dan tidak berani. Rei pun terkejut saat melihat apa yang Elle lakukan, mengeruk harta klien sampai habis dan menerornya hingga klien tersebut memohon maaf pada Elle.
"Benarkah? Terdengar baik sekali, bukan, bukan, tetapi keren! Pimpinan kalian terdengar keren, hehe. Apa lagi seorang wanita, biasanya orang-orang memang sering menganggap wanita itu tidak jauh lebih hebat dari seorang pria. Selalu lebih lemah, dan selalu tidak mengerti hal-hal rumit. Mungkin mereka lupa, kalau wanita yang dianggap lemah itu pernah mempertaruhkan nyawanya untuk mengantarkan nyawa baru ke dunia. Mengalahkan rasa takut, menahan rasa sakit hingga berbulan-bulan, mereka tidak pernah ragu berhadapan dengan kematian, mereka tidak pernah mundur karena sakit dan menyalahkan nyawa yang baru lahir atas apa yang mereka lalui. Jika itu dianggap lemah, aku tidak tahu lagi bagaimana yang kuat itu."
Chairey berbicara dengan suara lembutnya, tidak terdengar marah tidak juga mengumpat. Ia hanya sekadar menyampaikan pendapat, dengan tenang tanpa mengumbarkan kebencian. Sebaliknya, Rei merasa membenci dirinya sendiri karena mendengar ucapan Chairey. Rei pernah, satu kali menganggap jika wanita itu makhluk cantik yang lemah dan harus dilindungi, seperti kekasihnya dan seperti Chairey. Namun, setelah mendengar apa yang Chairey katakan, pikiran Rei terbuka dan keluar dari dinding yang ia bangun selama ini. Chairey benar, jika orang yang mampu melewati dan menahan hal seperti itu didefinisikan sebagai lemah, maka seperti apa kata kuat sebenarnya.
"Rey benar, wanita itu tidak lemah, mereka kuat dengan cara mereka masing-masing. Setelah melihat Elle juga bicara dengan Rey, aku jadi percaya dan sedikit merasa bersalah karena pernah punya pikiran yang seperti itu. Kalian, wanita yang luar biasa." Rei tersenyum lagi, kali ini jauh lebih lebar. Diliriknya jam dinding yang tergantung di ruangan, pukul sembilan lebih lima belas menit.
"Rey? Belum mau tidur?"
"Belum, mungkin sebentar lagi. Kenapa? Rei mau tidur? Tidurlah! Rei pasti lelah, 'kan? Mau aku nyanyikan?" Chairey tertawa setelah menanyakannya hal yang mungkin saja Rei setujui meski tidak saat ini.
"Haha. Mau, tapi nanti saja. Mau bicara dengan Zen? Dia di bawah, sedang mengobrol ringan dengan seseorang, aku panggilkan ya?" Rei beranjak dari kasurnya, meregangkan tangan dan lehernya hingga menimbulkan suara yang cukup mengganggu. Meraih ponselnya dan berjalan ringan keluar dari kamar.
"Eh? Kalau Zen sibuk, tidak usah, aku tidak mau mengganggu. Biarkan saja dia dan orang itu bicara, nanti juga bisa bicara lain waktu," larang Chairey dengan nada khawatirnya.
"Ah, tidak mengganggu. Yang diajak bicara bukan orang penting, bukan teman juga, hanya orang asing yang kebetulan bertemu. Karena masih remaja jadi masih suka cari perhatian, lagi pula Zen sudah menemaninya sejak tadi. Biar dia dan Rey bicara dan aku yang gantian mengajak orang asingnya bicara. Jadi, Rey tidak perlu khawatir." Rei menuruni tangga dengan sedikit terburu, di lantai bawah, terlihat Zen dab Sherryl yang tengah berbincang. Keduanya tampak lebih santai dan sesekali Sherryl terlihat tersenyum lalu tertawa denga wajah kemerahan. Dan tidak tahu kenapa, perasaan Rei semakin tidak enak.
"Zen! Aku sedang bicara dengan Chairey, mau bicara?" Rei sengaja berteriak sebelum dirinya sampai, tangannya ia lambaikan ke arah Zen membuat pemuda tersebut segera menoleh ke arah yang memanggil. Wajah kaku Zen perlahan berubah jadi lebih relaks, dan meski samar tampak semburat merah yang muncul di wajahnya ketika mendengar nama Chairey.
"Iya, berikan ponselnya, aku ingin bicara sebentar. Ponselku habis daya, jadi tidak bisa menghubunginya," jawab Zen sedikit tergesa, ia buru-buru bangun dari duduknya dan berjalan mendekati Rei untuk meraih ponsel milik Rei. Zen menatap layar ponsel tersebut sesaat sebelum keningnya berkerut dan wajahnya kembali kaku.
"Apa?" tanya Rei dan ikut menatap layar ponselnya yang terlihat gelap tidak ada cahaya. "Loh? Kok gelap? Apa mati?"
"Mati, ponselnya mati. Dayamu juga habis sepertinya, tidak diperiksa sebelumnya? Tidak bawa sambungan pengisi daya? Kenapa tidak berikan padaku sejak tadi?" sungut Zen sembari mengembalikan ponselnya pada Rei. Rei menggigit bibir bagian bawahnya penuh rasa bersalah dan penyesalan, kalau saja tadi ia tidak banyak bicara mungkin Zen masih punya kesempatan batinnya.
"Maaf, maaf. Aku tidak periksa lagi ponselnya, mungkin habis daya karena kemarin dipakai seharian bicara dengan Elle. Tadi pagi juga aku laporan, mungkin karena itu. Tidak bawa, aku hanya bawa kabel untuk laptop. Hah ... jangan kesal, haha, kita akan segera kembali jadi kau bisa bertemu dan bicara dengan Chairey sepuasmu."
"Chairey? Apa ... dia kekasih Zen?"
Rei dan Zen serempak menoleh ke arah Sherryl yang tiba-tiba bertanya.
"Belum, tetapi hampir. Zen dan Chairey saling menyukai, sayangnya Zen selalu terlibat misi jadi mereka tidak punya cukup waktu untuk berduaan. Mengejutkan ya? Zen yang seperti ini ternyata punya gadis manis yang ia sukai, apa Sherryl juga punya pria yang disukai?" tanya Rei mendahului Zen yang ingin menjawab tadinya. Zen menatap Rei terkejut, Zen bahkan tidak pernah bilang apa-apa pada Rei jika ia suka atau tidak suka pada Chairey, dan ia juga yakin jika Chairey tidak mengatakan hal seperti itu juga. Zen tidak habis pikir apa yang membuat Rei harus berbohong.
"Hei," sanggah Zen dengan kening berkerutnya. Rei menoleh lalu tertawa kecil dan menepuk-nepuk pundak Zen perlahan.
"Aku tahu, aku tahu. Sudah sana istirahat, atau latihan, aku lihat di lantai bawah dokter punya arena berlatih khusus. Katanya boleh dipakai asal tidak dirusak. Aku akan hubungi Elle lewat komputer, bagaimana baiknya menyelesaikan situasi ini dan menyelesaikannya dengan cepat."
Zen masih mengerutkan kening tidak mengerti, mengingat ia dan Sherryl yang masih belum selesai bicara. Keduanya tengah membicarakan masalah tempat tinggal dan bagaimana Sherryl akan melanjutkan hidup. Sherryl masih ingin ikut dengan Zen apapun yang terjadi, Zen berusaha menjelaskan situasinya pada Sherryl dan menawarkan banyak pilihan lainnya. Ia bisa menunggu hingga Sherryl selesai membuat paspor dan visa lalu pergi bersamanya ke Allegra, Zen juga bisa mencarikan pekerjaan yang cocok untuk Sherryl beserta tempat tinggal yang nyaman. Zen tidak akan lepas tanggung jawab begitu saja, meski ia tidak bisa membawa Sherryl bersamanya.
"Kalian akan ... kembali?" tanya Sherryl tanpa mengindahkan pertanyaan Rei sebelumnya. Zen diam, kini matanya menatap ke arah Rei yang memulai pembicaraan. Rei tersenyum tipis, wajahnya tenang dan tidak terganggu sama sekali.
"Iya, benar. Kami akan kembali, kami harus kembali, segera. Kami masih punya banyak pekerjaan dan kami harus melanjutkan kehidupan kami sebelumnya. Sherryl, bukankah Zen sudah memberikanmu banyak pilihan? Zen tidak bisa membawamu pulang ke rumah dan Zen tidak bisa tinggal di sini bersamamu, maaf sekali, aku dan Zen tentu akan membantumu sebisa kami. Namun, tidak semua hal bisa kami lakukan, gerakan kami terbatas, dan kami harap kau mengerti hal itu," ungkap Rei pada Sherryl yang berdiri di hadapan keduanya. Rei melangkah maju satu langkah mendekati Sherryl, menatapnya lurus dengan wajah penuh penyesalan. Sementara Sherryl membalas tatapan Rei dengan tatapan marah dan penuh rasa kesal.
"Kenapa? Kenapa tidak bisa tinggal bersama memangnya? Aku sudah katakan, aku hanya minta tinggal bersama untuk beberapa saat. Tadi Zen juga setuju untuk tinggal beberapa hari lagi sampai aku punya paspor agar aku bisa pergi bersama kalian. Lalu kenapa kau bilang kalian akan segera kembali? Apa tadi Zen berbohong padaku? Kalian begini karena dihubungi wanita itu? Aku juga wanita!" teriak Sherryl sebelum berlari ke kamarnya.
Zen dan Rei menatap tubuh Sherryl yang berlari meninggalkan mereka dalam diam. Rei mengembuskan napas perlahan.
"Aku berusaha meyakinkannya Rei, kenapa kau bicara seperti itu?" tanya Zen berusaha mengerti pikiran Rei.
"Instingku tentang Sherryl tidak enak, aku tidak tahu apa dan bagaimana, tetapi ada sesuatu yang berusaha memberitahuku agar kita cepat kembali. Aku tidak bohong Zen, perasaanku sungguh tidak enak saat terus bersamanya. Ada yang salah, seperti ada yang salah. Karena itu aku cemas, aku merasa dia membuat kita berada di sini lebih lama dengan sengaja."
Zen diam mendengarkan ucapan Rei, ia tidak pernah berpikir seperti itu, tidak juga merasakan apa yang Rei rasakan. Zen hanya diam berdiri di posisinya. Rei mengusap wajahnya singkat sebelum menatap pemuda di sebelahnya.
"Jangan dipikirkan, mungkin aku terlalu lelah. Aku akan bicara dengannya besok pagi, maaf mengacaukan suasana," ucap Rei lalu tersenyum kecil. Rei berbalik dan berjalan menuju tangga berencana kembali ke kamarnya. Rei mulai berpikir bagaimana ia bisa membuktikan ucapannya tanpa membuat Zen terlibat dan melakukannya dengan tenang.