Page 24 - Teman Baik

1464 Kata
"Di mana aku?" Sebuah suara membuyarkan lamunan Zen. Zen yang sejak tadi duduk di samping si gadis karena rasa khawatir kini mengalihkan pandangannya pada gadis yang masih terbaring di atas tempat tidur perawatan. "Klinik," jawab Zen ragu. Dia tidak bisa katakan jika ini rumah sakit, tetapi apa yang gadis ini terima sama seperti pelayanan yang didapat di rumah sakit. Zen tidak tahu harus menyebut tempat ini apa, hanya klinik saja yang terlintas di kepalanya. Si gadis menatapi Zen untuk beberapa saat lalu menatap sekitarnya. "Klinik?" ulangnya. Zen mengangguk membenarkan ucapan si gadis, keduanya diam untuk beberapa menit ke depan hingga si gadis mulai memasang wajah suram dan air matanya perlahan jatuh. "Kenapa membawaku ke klinik jika kau akan meninggalkanku?" Zen diam tidak dapat menjawab pertanyaan si gadis, Zen tahu dia tidak bisa membawa gadis ini pulang ke markas, tetapi mungkin saja dia bisa membawanya ke Allegra dan memberikannya sebuah rumah untuk jadi tempat tinggal. "Aku ... tidak bisa membawamu pulang, tetapi jika kau tidak punya siapa-siapa aku bisa membantumu mencari tempat tinggal baru. Aku juga akan membantu hal yang lainnya, aku hanya tidak bisa membawamu ke rumah." Zen masih menundukkan wajah, dia tidak bisa menatap wajah si gadis, ia tidak bisa membuat si gadis tenang atau sekadar menghiburnya. "Kenapa? Karena aku kriminal?" Zen spontan menegakkan kepalanya, menggeleng dengan kening berkerut. "Bukan, bukan karena itu. Bukankah kau tidak terlibat dalam urusan kakak laki-lakimu? Tentu saja kau bukan salah satu dari mereka," sanggah Zen dengan wajah seriusnya. Jika membicarakan tentang kriminal, maka Zen adalah salah satunya. Zen dan kakak laki-laki si gadis sama-sama seorang kriminal, sama-sama melakukan tindak kejahatan yang dilarang pemerintah, sama-sama musuh negara. Hanya saja, pekerjaan Zen adalah membunuh atau menculik target berdasarkan keinginan klien sementara kakak si laki-laki melakukan perdagangan manusia. "Aku memang tidak tahu apa yang kakak lakukan, tetapi di mata polisi aku tetap saja terlibat. Aku tidak bertanya, aku juga tidak berusaha mencari tahu dan melaporkan pada keamanan. Aku juga termasuk salah satu dari mereka, aku juga kriminal, harusnya kau juga membunuhku saat itu. Kau membunuh satu-satunya keluarga yang aku punya, dan kau ingin aku hidup tenang sendirian? Lalu membiarkanmu pergi hingga kau bisa melupakan semuanya dengan mudah? Aku ingin kau terus melihat wajahku, aku ingin kau terus mendengar suaraku, hingga kau dan aku sama-sama tidak akan melupakan kejadian hari itu. Hingga kau dan aku akan sama-sama menyimpan beban yang sama. Bagaimana aku kehilangan keluargaku, dan bagaimana kau menyelamatkanku dari kejadian mengerikan kemarin. Aku tahu, aku tahu kau seorang pembunuh bayaran, 'kan? Apa kalau aku punya cukup uang aku bisa membayarmu untuk membunuhku? Kalau bisa begitu, bawa aku untuk beberapa saat saja. Beritahu aku berapa yang harus aku bayar, aku akan bekerja dan mengumpulkan uang agar aku bisa membayarmu dan ... " "Cukup." Zen memotong pembicaraan keduanya, atau lebih tepat Zen memotong ucapan si gadis yang dipenuhi dengan emosi dan kenangan buruk. Zen tidak bisa menyalahkannya, tetapi apa yang gadis ini katakan membuat perasaannya jadi tidak nyaman. Tidak salah dan tidak benar juga, Zen membunuh mereka yang ditargetkan dan dibayar, bukan berarti Elle tidak pernah mencari tahu lebih dahulu siapa targetnya. Jika tidak sesuai dengan ketentuan, Elle tidak akan menerima permintaan. "Istirahatlah, kau butuh itu dibanding bicara." Zen beranjak dari tempatnya, memalingkan wajahnya dari si gadis dan berjalan keluar meninggalkannya sendirian di dalam ruangan. Zen menutup pintunya rapat dan perlahan, di samping terlihat Rei berdiri seolah menunggu keduanya selesai. "Sudah? Sherryl masih dipenuhi trauma dan emosi tinggi karena baru saja kehilangan keluarganya, wajar saja dia berkata begitu. Jangan dipikirkan," ungkap Rei sembari menepuk bahu Zen singkat. Zen menaikkan sebelah alis ketika mendengar nama asing yang Rei sebut. "Sherryl?" tanya Zen penuh kebingungan. Rei mengangguk. "Sherryl, nama gadis itu Sherryl. Kita tidak bisa terus memanggilnya dengan panggilan dia, 'kan? Menyebutnya gadis juga tidak terasa baik, karena itu aku berusaha mencari namanya juga informasi keluarganya. Namanya Sherryl, usianya tujuh belas tahun, seperti Chairey. Keluarganya memang sudah tidak ada lagi, Sherryl sudah tinggal dengan kakak laki-lakinya sejak kecil. Mereka besar di panti asuhan, dan memutuskan untuk keluar dari panti asuhan saat kakaknya memiliki pekerjaan tetap. Dan aku yakin, pekerjaan tetap itu adalah sindikat penjualan manusia ini. Uangnya cukup besar dan tidak harus membutuhkan kemampuan khusus, mengingat peran kakaknya hanya sebagai kurir, sudah pasti pekerjaan seperti ini dia rasa sangat cocok dan menguntungkan." Zen diam mendengarkan, ia kembali mengingat ketika kakak laki-laki si gadis terkejut dengan kedatangan Zen dan tidak berusaha untuk melawan sama sekali. Kalau saja bukan dia yang ada di sana, kalau itu Hayato atau Rezt, apa mereka juga akan membunuh semua orang dan menyisakan si gadis batinnya. "Jangan mulai merasa bersalah lagi, semua orang akan melakukan hal yang sama denganmu. Kita juga sering ditipu, ingat ucapan Elle tentang Fighternya yang tewas karena ditipu musuh? Kau juga pasti masih ingat namanya, waktu itu kita baru bergabung. Elle mengajak kita ke pemakaman, dia bercerita tentang seorang Fighter yang memiliki rasa tanggung jawab tinggi dan memilih-milih targetnya, alhasil kebaikannya dimanfaatkan dan dia dibunuh tanpa ampun. Bukan hanya dia, kekasihnya juga dibunuh, Elle sangat menyesal karena tidak bisa menyelamatkan keduanya. Zen ... Sydney juga, Sydney juga terbunuh oleh tanganku. Dengan kedua tangan ini aku merampas nyawanya, apa yang kau lakukan tidak lebih buruk dari apa yang aku lakukan. Karenanya, jangan terus menyalahkan dirimu." Zen segera menatap Rei saat nama Sydney disebut, kening Zen berkerut dan kepalanya ia gelengkan cepat-cepat. "Jangan diungkit. Bukan salahmu, kematian Sydney bukan salahmu, semua orang tahu itu. Sydney juga ... tidak akan menyalahkanmu, tidak akan pernah menyalahkanmu. Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu mengingatnya, maaf Rei, maafkan aku," sesal Zen. Kepalanya kini tertunduk, kematian Sydney adalah hal yang paling besar untuk Rei, kematian yang mengakibatkan Rei menutup hatinya dan selalu dihantui perasaan bersalah sepanjang hidup. Rei tersenyum kecil, menarik napas dan mengembuskannya perlahan. "Jangan minta maaf begitu, aku tahu kau tidak bermaksud apa-apa. Haha. Aku hanya ... tiba-tiba ingat saja, tidak lebih, sudahlah, sudah. Hampir dekat jam makan siang, ayo cari makan saja. Aku akan tanya dokter bagaimana kita bisa dapat makan siang dengan aman, Sherryl juga butuh makan siang. Meski nantinya dia menolak, tetap saja dia butuh energi untuk terus merasa kesal, 'kan?" Rei tertawa kecil dan meregangkan tangannya. "Sepertinya pakai jasa pesan antar? Mungkin dokter punya langganan rumah makan sendiri, aku makan apa saja asal tidak ada sayurnya. Masakan lokal juga boleh, kemarin masakan di rumah makan lokal itu enak. Apa namanya? Aku lupa." Zen menatap Rei mencoba mengubur sebentar masalah yang ia pikirkan, ia tidak mau Rei ikut-ikutan suram dan lebih lagi sampai mengingat tentang Sydney dan kematiannya. "Yang mana? Yang sebelum ke lokasi? Oh! Hokkien Prawn Mee? Mie dengan campuran cumi-cumi itu, 'kan? Kau mau makan itu lagi? Suka ya?" Rei tertawa kecil dan mengangguk-angguk, mengingat teman baiknya cukup pilih-pilih dalam makanan. Zen mengangguk membenarkan tebakan Rei. "Iya, aku suka makanan itu. Rasanya enak, dan tidak terlalu banyak sayur. Rotinya juga aku suka, tetapi tidak mau yang ada gula, yang dicampur dengan kuah asin saja," jelas Zen agar Rei tidak salah pesan. "Okay, aku akan tanya dokter dulu dia ingin makan atau tidak. Tidak usah tanya Sherryl, kita belikan dia saja, kalau kita tanya kemungkinan dia akan bilang tidak mau makan. Dan bisa-bisa kalian ribut lagi, aku tidak mau dokter sampai ... " ucap Rei terputus karena suara pintu yang terbuka. Klik- Zen dan Rei menoleh ke arah pintu, Sherryl tampak berdiri di sana dengan wajah malu-malu. "Aku ... aku juga mau roti prata. Aku tidak punya uang, bisakah ... aku dibelikan juga?" tanya Sherryl perlahan, wajahnya tertunduk dan tangannya masih memegangi pintu kamar. Rei tersenyum karena ucapan Sherry, berjalan perlahan mendekati gadis dengan rambut ikal berwarna kecokelatan yang ada di depan ruang perawatan. "Tentu, kau bisa dapat apa yang ingin kau makan. Lapar ya? Kami juga, bksa berjalan? Hati-hati, jangan memaksakan diri, kalau kau merasa masih butuh istirahat kembali saja ke kamar. Saat makanannya sampai, kami akan antar ke kamarmu." "Aku sudah lebih baik, terus berbaring membuat pinggangku sakit." Sherryl melirik ke arah Zen yang masih berdiri di tempatnya, memutuskan untuk tidak mendekat dan membiarkan Rei yang bicara. "Aku ... aku minta maaf. Aku mengatakan hal yang salah tadi, maaf, aku tidak bermaksud untuk mengatakannya," gumam Sherryl kecil. Zen tersenyum mendengar ucapan Sherryl, ia merasa lega karena saat ini Sherryl tidak lagi merasa buruk. "Tidak apa-apa, jangan diingat. Sekarang kita makan saja, setelah makan kita bssa bicarakan bagaimana ke depannya." "Namaku Sherryl, usiaku tujuh belas." Sherryl menatap ke arah Rei lalu Zen bergantian. Rei mengerjapkan matanya sebelum tersenyum lagi dengan wajah ramah, ia mengulurkan tangan sebagai tanda perkenalan diri. "Rei, aku Rei. Dan itu temanku, Zen, senang berkenalan denganmu Sherryl." Sherryl menjabat tangan Rei singkat lalu ikut tersenyum, kedua mata coklat mudanya tampak lebih hidup dari sebelumnya. Wajah Sherryl pun terlihat mulai bersinar dan tidak lagi sesuram kemarin. Kini ketiganya saling menatap dengan perasaan dan pemikiran masing-masing.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN