Zen duduk di tengah ruangan, ada satu unit sofa tamu ukuran sedang berwarna biru muda dilengkapi meja yang terbuat dari granit. Cukup mewah untuk bangunan yang hampir terlihat roboh dari luar. Zen memandangi sekitarnya lagi, tiga lukisan dipajang di dinding, lukisan sebuah rumah, lukisan abstrak yang Zen tidak mengerti dan lukisan seorang perempuan. Di samping Zen terlihat sebuah jendela, berukuran cukup besar, cukup untuk membuat seorang pria dewasa terlempar dari dalam. Tidak jauh dari jendela ada sebuah lemari kayu yang tampak reyot dan berdebu, cat permukaannya juga sudah usang, sudah terlihat benar-benar lama. Bagian dalam lemari diisi dengan banyak macam peralatan, mulai dari gulungan perban, tumpukan botol obat dan vas bunga. Zen tidak mengerti kenapa vas bunganya diletakkan di dalam lemari dan bukan di atas meja.
Rei sedang bicara dengan dokter dan si gadis yang terluka juga sudah dibawa bersama masuk ke dalam untuk diobati. Sementara Zen hanya dibiarkan menunggu dengan tenang di ruang tamu. Zen mengembuskan napasnya perlahan, menyandarkan punggungnya agar lebih santai dan mendongak ke arah atap ruangan. Plafon yang didominasi warna putih, dihiasi lampu besar yang bisa mengakibatkan luka cukup berat jika tertimpa kepala. Zen mengerjapkan matanya berulang kali, pikirannya dipenuhi rasa bersalah dan kebingungan. Meski Rei bilang tidak apa-apa dan bilang akan membantunya Zen tetap saja merasa menyulitkan orang lain terutama teman baik sendiri itu sungguh tidak baik. Namun, kembali lagi seperti ucapannya di awal, dia tidak bisa meninggalkan gadis asing yang bahkan namanya Zen tidak tahu itu sendirian.
Zen merogoh ponselnya, ia berpikir mungkin bisa menghubungi Chairey atau sekadar memberitahunya jika dia baik-baik saja. Kening pemuda bersurai hitam itu spontan berkerut karena layar ponselnya tidak juga mau dinyalakan.
"Habis baterai sepertinya, sial."
Zen berdecak pelan karena dirinya kelupaan untuk mengisi baterai sebelum pergi misi. Tidak lama setelah menyimpan ponselnya ia mendengar suara langkah kaki yang mendekat padanya. Zen membenarkan posisi duduknya dan menoleh ke arah sumber suara, ia bisa melihat Rei sedang berjalan keluar dari ruangan yang berada di seberangnya.
"Bagaimana?" tanya Zen pada Rei. Rei tersenyum kecil sebelum duduk di samping Zen dan meregangkan kedua tangannya yang dirasa pegal.
"Dokternya bilang perlu dirawat, mungkin dua atau tiga hari baru bisa pulih. Sekarang masih diperiksa lebih lanjut, tidak ada yang benar-benar fatal, hanya saja dia mengalami trauma ringan. Karena itu tubuhnya tiba-tiba lemas dan tidak sadarkan diri, dokter bisa pastikan kesembuhan lukanya. Namun, untuk trauma yang dia alami tidak bisa hilang dengan cepat. Tidak apa-apa, bukan salahmu, kau hanya mengerjakan tugas." Rei menepuk bahu Zen berulang kali secara perlahan, ia tidak mau Zen terus-terusan merasa bersalah atas hal yang terjadi di luar kuasanya. Awalnya Rei mengira berbohong akan lebih baik, tetapi jika Zen sampai tahu dia berbohong atas keselamatan si gadis Zen bisa marah besar dan tidak akan reda dengan cepat.
Zen diam mendengarkan setiap ucapan yang Rei sampaikan padanya. Pemuda itu mengangguk seolah mengiyakan kata-kata Rei walau jauh di lubuk hatinya ia merasa begitu bersalah dan tidak tahu harus berbuat apa.
"Jadi, kita tinggalkan dia di sini dulu atau bagaimana? Kita ... tidak akan segera pulang begitu saja, 'kan?" tanya Zen lagi, kali ini memastikan. Zen menatap Rei lurus, bola matanya tampak bergerak tanpa arah dan wajahnya terlihat lemas. Rei tersenyum lagi.
"Tidak, aku sudah hubungi Elle saat dokter memeriksa gadis itu. Aku katakan kita tidak bisa pulang segera, karena satu dan dua hal, dia mengiyakan. Awalnya dia tidak setuju, dia bilang akan bahaya kalau terus-terusan ada di sana ... ya memang, tetapi kembali lagi. Aku berhasil meyakinkannya untungnya, jangan cemas." Rei kini menyandarkan punggungnya, ia merasa letih sudah menyerang dan menguasai setiap sendi yang ia punya. Zen mengembuskan napas lega, ia sudah menyulitkan Rei, ia tidak mau menyulitkan Elle. Sudah cukup orang yang dibuatnya sulit karena keputusan egois yang diambil.
"Terima kasih Rei, aku ... sungguh terbantu. Aku tidak tahu harus bagaimana jika kau tidak membantuku," gumam Zen pelan, kepalanya tertunduk mengikuti bahunya yang turun ke bawah lesu. Rei terkikik karena ucapan Zen.
"Apa sih? Seperti baru saja! Kita ini sahabat Zen, memangnya kau tidak pernah membantuku? Mau aku sebutkan bagaimana kau membantuku dan bagaimana aku merasa menyulitkanmu? Mau? Seperti kau saat ini, baik, beri aku sedikit waktu dan akan aku buatkan daftarnya!"
"Hei!"
Rei tertawa lagi karena reaksi Zen yang histeris saat ia bilang akan menyebutkan satu persatu daftar kebaikan Zen menurut Rei.
"Jadi jangan bilang begitu lagi. Teman itu saling menjaga Zen, saling mengisi, saling melindungi dan mendukung. Kalau hanya ada pada saat-saat baik saja lalu menghilang saat buruk, bukan teman namanya. Oh iya, aku hampir lupa, dokternya bilang kita boleh bermalam di sini kalau mau sampai si gadis sadarkan diri. Bangunan ini luas nyatanya, ada dua kamar kosong yang bisa dipakai. Dokternya juga tinggal sendirian, selama kita tidak mengganggunya dan mengganggu proses jalannya pemeriksaan juga perawatan, dokter bilang tidak keberatan untuk kita ada di sini. Bukankah itu ide bagus? Kita tidak perlu mencari penginapan, tempat ini juga terlihat tertutup dari luar. Kita tidak perlu takut diikuti atau diawasi pihak musuh dan pemerintahan."
Zen menganga ketika mendengar perkataan dari Rei, ia benar-benar kagum dan tidak bisa membayangkan bagaimana cara Rei berkomunikasi dengan dokter atau dengan siapa saja hingga orang-orang di sekitarnya mau membantu suka rela. Sama seperti saat di penginapan kemarin, pemilik penginapan bersedia meminjamkan kendaraan mereka cuma-cuma setelah Rei mengajaknya mengobrol saat malam hari. Pemilik penginapan juga membantu agar gerak gerik kami tidak diawasi polisi lokal. Zen sungguh merasa kemampuan Rei dalam berkomunikasi seluar biasa itu. Kalau saja yang dapat peran untuk bicara adalah dirinya, jangankan kendaraan, mungkin mereka enggan untuk menyapa.
"Bagaimana ... kau bisa?"
Rei memiringkan kepalanya, heran pada pertanyaan yang Zen lontarkan seolah kebaikan yang mereka dapatkan itu sudah sebuah kepastian.
"Aku bisa? Apa? Dapat bantuan dari dokter? Haha. Zen, kalau kita bicara dengan orang lain dengan baik, orang-orang tentunya akan mengerti keadaan kita. Kau hanya perlu banyak-banyak tersenyum, coba lihat wajahmu itu, seperti patung lilin yang dicetak untuk tidak tersenyum. Coba lebih rajin senyum dan menyapa orang-orang di sekitarmu, ajak mereka mengobrol ringan. Tanya keadaan, keluarga atau apa yang mereka lakukan pada waktu senggang. Hal kecil dan terlihat ringan itu bisa punya efek besar bagi seseorang, bisa saja orang yang kita ajak bicara tengah merasa depresi dan tertolong karena merasa masih ada orang asing yang memperhatikannya. Atau juga orang yang kita ajak bicara sedang diterpa masalah berat, dengan menanyakan hal ringan mungkin kita bisa membuatnya melupakan sedikit masalah yang dihadapi. Iya, 'kan? Ada beberapa manusia di dunia ini yang lebih butuh diajak bicara dibanding diberikan uang dan materi secara nyata." Rei tersenyum, perlahan tangan kurusnya menyentuh punggung Zen untuk ia tepuk.
Zen meresapi kata demi kata yang Rei berikan untuknya, selama ini Zen selalu hidup dalam kotak. Kotak yang terbuat dari dinding baja dan sulit dihancurkan, ia merasa dirinya akan lebih baik jika berada di dalam kotak. Berbeda dengan Rei yang berada di lapangan luas, penuh orang-orang dan hal menarik lainnya. Sesekali Zen merasa iri dengan kemampuan yang Rei punya, tetapi ia ingat, mungkin Rei juga sering merasa iri dengan apa-apa yang ia punya dan Rei tidak punya. Zen tersenyum kecil.
"Pasiennya sedang istirahat sekarang. Mungkin beberapa jam lagi akan sadar, kalian boleh menjenguknya ketika dia sudah sadar. Satu per satu, jangan sekaligus, trauma yang dia alami masih melekat. Jadi dekati secara perlahan, aku yakin dia akan membaik dalam kurun waktu tertentu."
Sebuah suara memecahkan momen di antara keduanya, Zen dan Rei menoleh serempak ke arah dokter yang baru saja keluar dari ruangan. Seorang pemuda yang tampak satu usia dengan mereka, tubuhnya lebih pendek dan lebih kurus atau mungkin hanya karena tertutup jubah dokternya yang tebal. Rambutnya hitam menyentuh pundak, berkacamata tebal dan tatapan matanya sayu mirip Elle. Zen merasa tidak asing dengan wajah dokter di hadapannya, tetapi ingatannya tidak cukup kuat untuk mengenali sang dokter. Rei beranjak dari duduknya, melangkah perlahan dan mendekati pemuda dengan balutan jubah putih yang tidak lagi bersih itu.
"Begitu? Kami lega mendengarnya, terima kasih sudah membantu. Ini temanku yang aku sebutkan tadi, namanya Zen." Rei menoleh ke arah Zen, Zen buru-buru berdiri dan membungkukkan badan memberi salam.
"Aku Arzen, terima kasih sudah mau membantu kami dokter. Terima kasih juga mau memberikan tumpangan. Kami akan membalas kebaikan Anda satu hari nanti." Dokter yang berdiri di samping Rei tersebut menatap Zen diam hingga beberapa saat seolah ingin mengatakan sesuatu tetapi tidak jadi. Ia hanya mengangguk singkat.
"Tidak perlu merasa berterima kasih, aku memberi bantuan karena ingin. Cukup jangan mengganggu dan jangan menimbulkan keributan, kalian boleh ada di sini selama pasien aku rawat. Dapur ada di belakang, kalian bisa makan apa yang ada di sana, dan pastikan semuanya kembali seperti sedia kala. Aku tidak mau dapurku berantakan, kalian boleh pakai kamar yang ada di lantai atas. Pilih saja yang kalian suka, aku tidak keberatan. Dan satu lagi, pastikan tidak ada yang mengikuti kalian. Aku tidak mau tempatku diketahui orang-orang yang tidak seharusnya tahu tempat ini," pesan dokter sebelum menatap Zen dan Rei dengan tegas dan berjalan meninggalkan keduanya.
Rei menatap ke arah dokter yang membantu mereka tersebut hingga punggungnya menghilang dari pandangan.
"Aku merasa ... dia mirip Kevin."
Zen mengangguk setuju lalu menggeleng.
"Tidak. Kevin ... jauh lebih mengerikan, kalau itu Kevin, dia tidak akan biarkan kita berada di dekatnya jika kita bukan pasien. Hah, membayangkannya saja sudah membuatku merinding, aku masih heran bagaimana Elle bisa menemukan dokter mengerikan seperti Kevin. Di luar dari kemampuannya yang tidak perlu diragukan."
Rei terkikik lalu memasang wajah suramnya, ia juga turut mengingat bagaimana Kevin memeriksanya.
"Iya, kau benar. Kevin menyeramkan."
Keduanya saling memandang lalu tertawa geli. Tanpa mereka sadar jika seseorang yang mengharapkan keduanya cepat kembali sedang menunggu kabar dengan cemas.