"Jangan pergi, kalau kau mau meninggalkan aku sendirian lebih baik kau bunuh saja aku! Aku hanya punya kakak laki-lakiku! Bagaimana aku harus hidup di dunia ini!?"
Gadis di hadapan Zen meraung dan wajahnya dipenuhi air mata, salah satu tangannya meraih ujung kemeja Zen dan satu tangannya lagi menutupi luka di bagian pelipis. Darah segar dan mayat bergelimpangan di sekitar, gadis itu sudah menahan diri semampu yang ia bisa. Termasuk melihat mayat kakak laki-lakinya yang tergeletak kaku di ujung kaki.
Zen berhasil menyelesaikan misi dengan baik, dia datang ke lokasi dengan arahan dari Rei. Tepat ketika Zen datang, sekelompok orang yang jadi target mereka tengah melakukan transaksi lewat panggilan video. Meski Zen tidak dapat meringkus sekaligus pihak pembeli, Zen sudah berhasil menghabisi semua pelaku yang ada di lokasi. Lewat komputer mereka, Zen juga sudah dapatkan data dan markas utama para penjual manusia.
Namun, Zen tidak benar-benar membunuh semuanya. Ia menyisakan korban, ada dua orang remaja yang Zen biarkan hidup. Salah satunya adalah adik laki-laki si pelaku yang tidak tahu apa-apa. Zen merasa ragu untuk mengangkat senjatanya, sekilas ia mengingat tentang Mia.
"Tidak bisa, aku tidak bisa tinggal di sini lebih lama. Tidak bisa juga jika aku harus membawamu ... maafkan aku," lirih Zen dengan mengalihkan pandangannya. Si gadis masih menangis, wajahnya basah dan hampir seluruh tubuhnya gemetaran. Jari-jari sudah terasa lemas, hanya sedikit sisa tenaga untuk berpegangan pada Zen, pria asing yang tiba-tiba datang seperti malaikat maut.
"Bunuh aku, bunuh saja aku tuan. Aku tidak mau dijual, aku tidak mau hidup sendirian, aku tidak mau hidup lagi. Bunuh saja aku tuan ... " Kepala si gadis tertunduk, kini pegangannya sudah terlepas. Rasa mual dan sakit kepala hebat sudah bercampur jadi satu, kesadaran pun menghilang perlahan demi perlahan sebelum tubuhnya tersungkur di lantai.
Bruk-
"Hei!" Zen menangkap tubuh si gadis dengan sigap, wajahnya kebingungan, ia tidak tahu harus bagaimana. Dia harus pergi sesegera mungkin, mereka sudah habiskan waktu lebih dari dua hari untuk menyelesaikan misi ini. Sekarang Zen dan Rei sudah harus pulang, membuat laporan dan membahas tentang markas utama kelompok penjual manusia tersebut. Dan di luar dari pada itu, Chairey menunggu kepulangannya. Namun, Zen tidak bisa meninggalkan gadis ini begitu saja, tidak juga bisa untuk menghabisinya. Bagaimana jika hal ini terjadi pada Mia? Saat dirinya harus mati dibunuh musuh atau mati tertembak ketika misi, bagaimana jika Mia juga diburu dan ditinggalkan sendirian begitu saja batinnya.
Zen menarik napas panjang, perlahan ia menggendong tubuh gadis remaja tersebut dengan kedua tangan. Zen melangkah pergi meninggalkan lokasi bersama si gadis, sementara korban satunya sudah melarikan diri sejak tadi karena tidak memiliki hubungan dengan pelaku.
Zen menuruni tangga, di bawah sana Rei sudah menjemputnya, Rei juga pasti sudah menyiapkan pakaian ganti dan kendaraan untuk mereka agar bisa pergi secepatnya.
"Zen? Siapa yang kau bawa itu?"
Rei mengerutkan kening ketika melihat sosok Zen tengah menggendong seorang gadis tidak sadarkan diri menuju ke arahnya. Rei melangkah perlahan mendekati Zen dan ikut menatap wajah si gadis yang Zen bawa. Gadis berwajah Asia, rambutnya hitam dengan kulit putih merona yang terlihat begitu cantik.
"Korban?" tanya Rei lagi. Zen menggeleng menjawab pertanyaan Rei karena sebelumnya Zen hanya diam tidak menjawab. "Lalu?"
"Dia ... adik perempuan salah satu pelaku. Ini kali pertama kakak laki-lakinya mengajaknya ke sini, kakaknya membuat gadis ini menunggu di kamar dan menguncinya dari luar, dia tidak tahu apa-apa. Saat aku datang kakak gadis ini berusaha kabur dan membawa dia, tetapi gagal." Zen berusaha menjelaskan bagaimana dirinya bisa terjebak di situasi saat ini. Zen menundukkan wajah penuh rasa bersalah, ia tahu ia salah karena membawa orang yang terkait dengan misi. Peraturannya sudah pasti dihabisi, agar pada kemudian hari tidak menimbulkan masalah. Jika tidak terikat atau terkait, boleh ditinggalkan atau dibiarkan hidup. Zen lebih dari pada tahu tentang peraturan yang selalu ia patuhi sejak dulu itu
"Kau tahu peraturannya, 'kan?"
"Tahu. Aku tidak bisa membunuhnya Rei, aku ... aku membayangkan Mia."
Suara Rei tercekat di tenggorokan, harusnya Rei tahu kenapa Zen membawa gadis ini. Mengingat Zen sering kali dikatakan sebagai Fighter berdarah dingin yang tidak pernah ragu untuk menghabisi target. Rei tersenyum kecil dan menepuk-nepuk pundak Zen perlahan.
"Sudah, tidak apa-apa. Aku akan urus dan hubungi Elle, sekarang kau ganti pakaian lalu kita ke rumah sakit. Gadis ini terluka, setelah keadaan membaik kita bisa bicara dengannya."
Wajah Zen terlihat kembali bersinar, tatapan rasa bersalahnya sedikit memudar karena ucapan Rei. Zen mengangguk, tersenyum kecil dan berjalan mengikuti Rei menuju mobil yang sudah terparkir sejak tadi.
Zen membaringkan tubuh si gadis di bagian belakang mobil secara perlahan, memastikan jika tidak ada benda tajam atau benda keras yang akan membenturnya selama perjalanan. Zen meraih kemeja baru yang Rei sediakan, membersihkan darah di tubuh dan tangan juga sisa darah pada senjata.
"Bagaimana jika pihak rumah sakit bertanya? Kita harus jawab apa?" tanya Zen pada Rei dengan tatapan cemasnya. Zen tidak mau membuat mereka lebih sulit dari ini, tetapi membiarkan gadis ini tanpa perawatan akan jauh lebih buruk.
"Jangan cemas, kita tidak perlu pergi ke rumah sakit resmi. Aku dapat informasi tentang praktik dokter ilegal yang tidak jauh dari sini, dokter itu tidak punya izin praktik, tetapi ia pernah bekerja di rumah sakit. Yang aku tahu, dokter itu memutuskan untuk mengobati korban yang menjauhi rumah sakit resmi. Jelas bayarannya lebih mahal, untuk hal itu kau harus bayar dengan kantungmu sendiri. Aku tidak punya uang sebanyak itu, aku juga tidak bisa minta pada Elle." Rei menatap Zen yang ada di sampingnya singkat sebelum kembali fokus pada jalanan. Zen mengangguk, menoleh ke arah si gadis yang masih tidak sadarkan diri.
"Tidak masalah. Kau bisa ambil uangku, tetapi aku tidak punya tunai. Kau saja yang urus nanti, aku tidak mengerti."
Rei tertawa kecil karena jawaban Zen, teman baiknya ini memang jarang sekali menyimpan uang di dompetnya. Semua bayaran yang didapat akan ia simpan di tabungan setelah selesai membayar keperluan Mia. Zen juga jarang menggunakan uangnya, yang ia lakukan hanya ke toko buku atau membeli makanan ringan di mini market. Setiap enam bulan sekali barulah ia akan memeriksa lemarinya dan memutuskan untuk membeli pakaian di toko. Zen jarang sekali pergi ke bar seperti teman-teman lainnya, ia juga tidak merokok dan tidak menggilai restoran mahal. Zen suka minuman lemon, ia bisa meminta Sebastian membuatkannya di markas. Zen juga tidak suka berjudi, tidak pernah pergi ke kasino atau menyewa perempuan untuk menemaninya. Karena hal itu, Zen tidak butuh banyak uang bersamanya.
"Iya iya aku tahu. Nanti biar aku yang urus dengan dokternya, kau tunggu saja di luar. Kalau Elle menghubungimu bilang saja ada kejadian tambahan yang terjadi dan akan segera diselesaikan, Elle tidak akan tanya padamu detailnya, dia akan tanya padaku nanti. Jadi, kau tidak perlu merasa cemas, baik?" Rei menyenggol pundak Zen singkat lalu tertawa lagi.
"Mengerti, aku ... aku minta maaf Rei jika aku menyulitkanmu. Aku tidak bermaksud untuk menambah pekerjaanmu," ucap Zen setengah berbisik.
"Hei, aku tidak kesulitan. Zen? Tenanglah, jangan merasa bersalah begitu. Aku senang bisa membantumu, dan aku paham apa yang kau pikirkan. Aku juga punya adik perempuan Zen, aku tahu, selama kau tidak berkhianat atau jadi gila dan berusaha membunuh semua orang, aku akan selalu membantumu." Rei tersenyum manis seiring dengan ucapan yang ia lontarkan pada Zen. Rei harap teman baiknya ini lebih bergantung padanya dan meminta bantuan padanya tanpa rasa bersalah. Zen ikut tersenyum, perlahan ia menyandarkan kepalanya di kursi mobil dan memejamkan mata.
Zen mencoba untuk relaks sejenak hingga kendaraan mereka berhenti di sebuah tempat yang mirip dengan pergudangan tidak terpakai.
Rei turun dari mobil, menatap sekitarnya memastikan jika mereka sampai di lokasi yang tepat. Rei menatap Zen dan memberikannya sinyal jika mereka sudah sampai. Zen mengangguk, menggendong tubuh si gadis dan berjalan mendekati Rei.
"Ini tempatnya? Kau yakin?" Zen ikut menatap sekitar. Ada banyak bangunan yang mirip rumah yang tidak terpakai dan tidak layak. Kaca jendelanya pecah dan sebagian hancur seperti dihantam benda keras. Jalanannya juga dipenuhi sisa patahan kayu dan semak belukar. Tidak ada tanda-tanda orang yang tinggal di dalam.
"Benar, tempatnya di sini. Ada di dalam," sanggah Rei sembari menunjuk ke arah bagian dalam tempat tersebut. Rei melangkahkan kakinya masuk, memandangi tempat tersebut dengan seksama agar keduanya tidak tersesat. Rei menghentikan langkahnya ketika melihat sebuah bangunan yang lebih rapi dan tidak hancur, ada pintu dan jendela, juga terlihat asap mengepuk di bagian belakang rumah.
"Aku yakin itu rumahnya."
Rei menatap Zen penuh rasa yakin, Zen hanya mengangguk mengikuti. Zen tahu jika dirinya jauh lebih bodoh saat harus mencari tempat, jadi ia hanya akan mengangguk dan mengikuti ke mana Rei melangkah.