Page 21 - Teman Baik

1668 Kata
Zen menatap sekitarnya, ia baru saja tiba di salah satu kota dari bagian Asia yang ternama. Ada banyak turis untuk datang berkunjung menikmati pemandangan juga menikmati cita rasa makanan yang ditawarkan. Zen menggulung lengan kemeja yang ia pakai hingga setengahnya, cuaca terik membuat wajah pucatnya jadi pusat perhatian. Zen memiliki sedikit kesan wajah oriental, tetapi mata yang Zen miliki tidak kecil. Terlihat tajam dan begitu banyak menyimpan misteri. Sementara Rei di sampingnya, memiliki wajah yang terlihat seperti orang Asia kebanyakan. Senyum dan wajahnya ramah, kulit Rei juga putih sehat menandakan dirinya cukup terkena kandungan sinar matahari. "Akhirnya sampai juga! Kita ke penginapan dulu sekarang? Atau mau makan lebih dulu? Sudah kabari Rey kalau kita sampai dengan selamat?" Rei memberondong Zen dengan ragam pertanyaan yang alhasil membuat Zen kebingungan. Zen mengerutkan kening perlahan dan menghentikan langkah kakinya, menatap Rei kesal sebelum menarik wajah sahabat karibnya itu. "Satu per satu, bertanyanya. Jangan memberikanku sekaligus, kau membuatku bingung," jawab Zen sembari mendengus. Zen kembali menatap sekitar, rombongan turis baik muda dan tua terlihat berkumpul dan tertawa bersama. Ada juga yang tampak seperti keluarga, dan ada juga berpasang-pasangan. Saat ini mereka berada di One Fullerton, tempat berdirinya patung ikonis milik negara Singapura. Patung yang cukup membuat Zen merasa kebingungan, patung makhluk berkepala singa dan bertubuh ikan. Zen tidak pernah tahu jika ada sosok makhluk legenda atau makhluk mistis yang seperti itu. Singapura memberikannya pengalaman dan informasi baru. "Hahaha. Maaf, maaf, aku terlalu bersemangat. Sudah lama sekali semenjak aku ke sini belasan tahun lalu, dan sekarang aku datang dengan teman baikku! Karena itu aku jadi semangat, hm ... andai saja kita bisa bawa Rey ke sini juga. Rey pasti senang sekali, aku yakin dia tidak pernah pergi jauh." Rei bergumam dengan suara lesunya, pemuda kurus itu mengembuskan napas pelan lalu menatap ke arah Zen penuh rasa sedih dan penuh harap. "Kita datang bukan untuk jalan-jalan, kita datang karena pekerjaan. Jika Chairey sudah lulus sekolah dan dia tidak merasa keberatan, kita bisa membawanya jalan-jalan ketika sedang cuti. Elle juga tidak akan keberatan selama kita melakukan pekerjaan dengan benar." Zen melangkah lagi, berjalan lurus meninggalkan keramaian yang mengelilingi patung mistis dan karismatik tersebut. Penginapan yang mereka pilih tidak jauh dari sana, oleh karena itu Zen dan Rei lebih memilih jalan kaki dibanding naik taksi. Sebelum melakukan misinya, Zen terbiasa untuk mengenali lokasi, reaksi orang-orang sekitar juga hal-hal yang bisa menyulitkannya nanti. Zen selalu awas dan hati-hati, ia tidak suka ada kata gagal menyertai tugasnya. Rei berlari kecil menyusul Zen dengan tas punggung yang tampak memberatkan, wajar saja, Rei membawa seperangkat alat komunikasi dan laptop bersamanya. Sementara Zen hanya membawa diri saja, senjata yang sudah disiapkan sudah dikirim terlebih dulu lewat kenalan Elle dan akan diantar tengah malam nanti. Pemeriksaan bandara cukup ketat akhir-akhir ini, sudah banyak hal yang disiapkan agar bisa lewat ketika para petugas memeriksa Rei, mereka tidak akan selamat jika Zen pun ketahuan membawa seperangkat pisau lipat terutama senjata api. "Penginapannya di mana? Di dekat hotel atau di kompleks perumahan? Aku akan hubungi Chairey begitu sampai penginapan." Zen menoleh Rei yang masih sibuk memotret pemandangan sekitar. Rei segera menyimpan ponselnya dan tersenyum lebar menunjukkan deretan gigi rapinya. "Begitu? Baik, baik, aku setuju. Penginapannya ada di kompleks perumahan, aku sengaja memilih yang tidak begitu ramai agar bisa menyiapkan hal dengan baik. Setelah aku cari tahu pun, penginapan yang akan kita tempati hanya dikunjungi paling banyak dua sampai tiga tamu dalam satu minggu. Persaingan di sini ketat, negara mereka memang kecil tetapi mereka mampu menarik para turis untuk datang. Lihat saja bangunan tinggi di sekitar kita, sudah hampir mirip Amerika, 'kan?" tanya Rei pada Zen yang baru pertama kali mengunjungi negara Asia. Zen mengangguk setuju. Bangunan tinggi menghias Singapura, selain bangunannya ada juga taman kota dan ragam tempat pariwisata lainnya. Berbeda dengan Allegra, tempat mereka tinggal. Meski Allegra terbilang maju dan memiliki pendapatan tinggi, tempat pariwisata Allegra sangat sedikit. Mereka tidak punya ikon yang ingin membuat para turis asing datang, juga tidak punya festival atau hari peringatan seperti kota-kota lainnya. Allegra hanya berpusat pada ekonomi dan kriminal. Kebanyakan orang yang datang adalah bagian dari sindikat ilegal atau bagian dari pemerintah dunia untuk menyelidiki kasus. "Lokasinya?" "Tidak jauh dari penginapan kita, ada sebuah apartemen yang dulunya mengalami kebakaran. Setelah dibangun ulang, apartemennya jadi sepi penyewa dan akhirnya disewakan dengan harga murah. Target menyewa beberapa unit apartemen di sana, dalam dataku mereka menyewanya untuk satu bulan ke depan dan mungkin akan bertambah jika mereka menemukan hal lain untuk dikerjakan." Rei menjawab perlahan, hampir terdengar seperti berbisik agar cuma Zen yang dapat mendengarnya. Zen mengangguk sekilas. Zen tidak pernah ragu pada kemampuan Rei, pada caranya mencari informasi baik tentang target maupun lokasi. Atau lebih tepatnya Zen selalu mempercayai setiap kemampuan orang yang ada dalam markas. "Kita tunggu sampai perlengkapan lainnya datang, aku tidak mau ada hal buruk terjadi tanpa persiapan," tukas Zen tanpa menatap ke arah Rei, Rei hanya tersenyum tipis. Ia tahu betul pemuda di sebelahnya ini tidak pernah kesulitan melawan musuh tanpa senjata, tetapi melawan sambil melindungi lain ceritanya. Salah satu langkah saja, orang yang ia lindungi bisa mengembuskan napas terakhir. Dan Rei tahu betul, Zen tidak akan pernah mau mengambil risiko seperti itu. Tidak terasa keduanya berjalan cukup jauh, mereka kini menatap ke arah bangunan yang tampak tua dengan nuansa kental Asia. Bangunannya dicat berwarna merah dan putih, juga terdapat lukisan aksara China dan lukisan yang tidak Zen mengerti. "Di sini?" Rei mengangguk, Rei melangkah maju lebih dulu dan bertanya pada salah satu resepsionis di belakang meja. Beberapa saat kemudian Rei kembali mendekati Zen dan menunjukkan kunci yang didapat. "Di lantai dua. Penginapannya tidak punya lift atau eskalator, jadi gunakan tangga, aku tahu kau tidak keberatan karena menganggapnya bagian dari latihan. Hah. Sulit memang berteman dengan orang yang gila dengan latihan fisik." Rei mengembuskan napas, tubuhnya sengaja ia buat bungkuk ketika menaiki tangga. Zen mengerutkan kening karna melihat apa yang Rei lakukan. "Punggungmu akan sakit kalau kau begitu, berjalan dengan benar. Kau hampir tidak pernah olahraga karena itu jadi tidak terbiasa, sesekali ayo latihan bersamaku. Tubuhmu juga butuh dilatih, bukan hanya otak dan pikiran. Kesehatan jasmani itu penting Rei," oceh Zen seraya mengiringi langkahnya dengan Rei. Bisa saja Zen saat ini berlari menaiki tangga dan sampai di kamar mereka lebih dulu, tetapi Zen tidak akan meninggalkan Rei sendirian di negara asing. Rei memutar bola matanya, hidungnya kembung kepis dan lidahnya menjulur seperti sedang mengejek Zen. "Tidak mau. Tidak mau aku latihan denganmu, kau mau aku mati karena kehabisan tenaga? Maaf saja tuan Zen yang terhormat, aku masih ingin hidup dan menikmati pemandangan indah dunia. Kau saja, kau saja yang gila dengan latihan fisik, jangan bawa-bawa aku. Omong-omong kamar kita ada di sebelah kiri, nomor tiga kosong delapan." Zen menggeleng-geleng perlahan karena mendengar jawaban Rei, pandangannya ia lempar ke arah deretan kamar yang ada di lantai dua. Mata hitamnya menangkap kamar bernomor tiga kosong delapan yang terletak paling ujung. "Di sana." Zen menunjuk salah satu kamar, mengambil kunci yang Rei berikan padanya dan segera memeriksa isi kamar lebih dahulu. Dua tempat tidur kembar, satu lemari besar dengan kaca, jendela bertirai, dua buah kursi, meja kayu besar yang dilengkapi teko untuk membuat teh juga kopi. Zen melangkah masuk, ia melirik ke arah pintu lain, kamar mandi tanpa bath up. Zen membuka isi lemari, dilihatnya dua handuk dan dua pasang sandal. Zen beralih ke jendela, penguncinya aman dan tidak akan terbuka begitu saja, Zen menutup tirai lalu menatap ke arah langit-langit. d******i warna putih dilengkapi lampu hias bercahaya kuning segera terlihat, Zen memicingkan mata karena sinar yang tiba-tiba tertangkap matanya. "Aman," ucap Zen pada Rei yang menunggu di depan pintu. Rei mengangguk, berjalan masuk untuk mengunci kamar mereka sebelum bergiliran memeriksa kamar tersebut. Rei mengeluarkan laptop yang ia bawa, menyalakannya dan memastikan jika tidak ada kamera tersembunyi yang dipasang di dalam kamar. Juga memastikan jika keduanya tidak tertempel alat pelacak selama perjalanan ke sini. Rei menatap layar laptopnya untuk beberapa saat, jarinya bergerak lincah di atas papan ketik sebelum tersenyum lebar. "Aman! Haha, lega sekali. Jadi, kita bisa istirahat lebih dulu." Rei meletakkan laptopnya di atas meja, ia hampir membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur sebelum melihat kaca di samping tempat tidur keduanya. Rei beranjak, mengambil handuk di dalam lemari dan menutupnya. "Sudah. Jangan dibuka, mengerti?" Rei menoleh ke arah Zen dan menatapnya lekat-lekat. Zen mengangguk tanpa suara. "Anak pintar." Rei tersenyum dan kini ia benar-benar harus membaringkan tubuhnya, Rei merasa sangat lelah. Sejujurnya ia tidak suka perjalanan dengan pesawat, Rei tidak tahan ketika rasa mual mulai menghampiri dan telinganya yang akan berdengung. "Kau lapar?" tanya Zen yang memutuskan untuk duduk. Rei menggeleng menjawab pertanyaan Zen. "Ingin minum sesuatu? Kita bisa buat teh atau kopi di sini, ada teko yang disediakan, juga ada air mineral." "Biar aku buat nanti, jangan sentuh apa pun Zen. Aku tidak mau bayar ganti rugi karena kau merusak atau memecahkannya. Ingat terakhir kali kau mau membuat teh di hotel Hongkong? Kau membuat kita membayar denda seharga kamar hotel, Elle mengoceh tidak berhenti karena itu." Zen mengerutkan kening mengingat kejadian kala itu, bukan salahnya, ia tidak tahu jika tekonya teko listrik otomatis. Harusnya ada petunjuk penggunaan di situ batin Zen. "Semua orang tahu tentang teko listrik Zen, aku tidak menyangka kau mengabaikan kabel yang menggantung di tekonya dan malah memasukkannya ke microwave. Orang mana yang memasak air untuk membuat teh di microwave?" Zen diam tidak menjawab. Tetap diam pun tidak membuat Zen baik-baik saja dalam perdebatan kali ini. Zen merogoh sakunya, menyalakan ponsel dan memutuskan untuk tidak lagi mengajak Rei bicara. "Kalau kau hubungi Rey, sampaikan salamku juga padanya ya? Hehe. Bilang, aku juga merindukan ... " ucap Rei terputus karena Zen yang lebih dulu melemparnya dengan bantal yang ada di sana. "Aw! Tidak baik menyimpan dendam Zen, haha." Rei tergelak, ia tahu Zen merajuk karena Rei berusaha membahas tentang hal bodoh yang Zen lakukan. Rei bukan tidak mengerti jika Zen melakukannya karena peduli, Rei lebih dari pada tahu. Ia melakukannya karena iseng, dia selalu senang menjahili Zen dan tidak pernah merasa bosan. Dalam hati, Rei merasa tersentuh dengan apa yang Zen lakukan untuknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN