"Kau sudah bilang pada Rey kau akan pergi misi?"
Rei berlari kecil menuruni tangga markas dan segera mendekati Zen yang tampak sedang menyiapkan peralatannya. Satu unit senjata api Austria jenis semi otomatis Glock 45 GAP, tiga unit pisau lipat berjenis Griptillian Amerika dan magasin cadangan berjajar di atas meja. Sementara Zen sendiri sudah memakai rompi anti peluru sebagai persiapan.
"Belum ... aku ragu untuk mengatakannya. Apa harus ... aku bilang?" tanya Zen dan menghentikan apa yang ia sedang lakukan. Rei mengerutkan kening seolah pertanyaan Zen adalah pertanyaan paling konyol sedunia. Rei membuat dirinya duduk di atas sofa, masih menatapi Zen dengan tatapan heran.
"Kau mau Rey menanyaimu terus menerus? Aku memang akan pergi denganmu, tetapi bukan berarti kau bisa berkomunikasi dengannya. Aku bisa saja sampaikan padanya kalau kau tidak bisa diganggu, bisa saja." Rei mengangguk-angguk perlahan, nada bicaranya ditekan hingga terdengar seperti menyindir. Ia berharap Zen mengerti sindirannya.
"Aku akan kirim pesan padanya."
Zen kembali fokus pada apa yang ia lakukan sebelum Rei datang, menyiapkan senjata dan cadangan lainnya. Menyelipkannya dalam saku dan sebagian lagi Zen selipkan di bagian celana.
"Bagus! Kita masih punya waktu sebelum pergi, kau bisa hubungi Rey lebih dulu. Aku akan siapkan lokasi dan keperluan lainnya, lagi pula sekarang masih pukul sepuluh, kita akan pergi pukul satu. Bahkan kita masih bisa makan siang lebih dulu, haha." Rei tertawa senang karena Zen mengerti maksudnya, kakinya beranjak dari sofa. Rei menepuk singkat pundak Zen sebelum kembali ke kamarnya yang ada di lantai atas. Zen mendengus singkat, ia tidak menyangka jika Rei akan turun dari kamarnya di tengah-tengah persiapan misi untuk mengingatkannya tentang Chairey. Zen tidak lupa, dia dan pikirannya mengingat Chairey, hanya saja ia tidak temukan cara untuk menyampaikannya pada Chairey.
Tentu saja ia bisa pakai alasan bekerja, pergi bekerja dan tidak bisa dihubungi selama berhari-hari. Pekerjaan apa yang cocok dengan deskripsi semacam itu pikir Zen. Zen sungguh tidak pernah pandai mencari alasan.
Zen meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja, mencari nomor baru milik Chairey dan mulai mengirimkan pesan.
"Mistrees, aku pergi. Ada pekerjaan, tidak lama. Maksudku, mungkin tidak lama. Dua atau tiga hari, tetapi Rei bisa menghubungi Mistrees kalau Mistrees kesepian. Aku akan selesaikan pekerjaanku secepat mungkin."
Message Sent.
Message Delivered.
Zen meletakkan ponselnya lagi, jantungnya berdegup kencang seolah ia baru saja melakukan kebohongan besar yang akan menyebabkan kehancuran dunia. Zen selalu seperti ini sejak mengenal Chairey, pikirannya lebih sering kacau dan jantungnya lebih sering berdebar. Zen tidak paham, apa ia sedang menderita penyakit tertentu atau bagaimana.
Tidak lama, ponsel Zen bergetar, menandakan ada pesan masuk. Zen buru-buru membuka layar dan membaca pesan tersebut.
"Hati-hati ya Zen! Semoga pekerjaan Zen cepat selesai, dan baik-baik saja. Tidak apa-apa, aku baik di sini. Nanti kita bicara lagi kalau Zen sudah selesai."
Zen mengembuskan napas lega, ia merasa begitu lega Chairey tidak bertanya apa yang ia kerjakan. Zen tidak pernah berpikir jika Chairey akan percaya ucapan Rei waktu itu, tentang pekerjaan rahasia seperti agen resmi pemerintahan. Zen mencium layar ponselnya singkat dan menyimpannya di saku. Beberapa menit kemudian wajah Zen memerah karena ia sadar apa yang ia lakukan.
"Wajahmu merah, kau baik?"
Zen spontan menolehkan pandangan ke arah sumber suara, pria dengan rambut merah gelap dan bertubuh lebih besar darinya sedang berjalan mendekat. Zen menggaruk bagian leher belakang dan menggeleng.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingat sesuatu yang memalukan tadi. Kau mau keluar?" tanya Zen pada Hayato. Hubungan Zen dan Hayato tidak begitu dekat, seperti dirinya dan Rei atau dirinya dan Fai. Meski Fai dan Hayato adalah teman baik. Mengingat Zen dan Hayato hampir tidak pernah melakukan misi bersama, kesukaan mereka pun jauh berbeda, karenanya mereka tidak punya banyak kesempatan untuk banyak bicara.
"Fai kehabisan rokok, dan aku juga mau beli satu bungkus. Kalian ada misi siang ini, 'kan? Aku dengar lokasinya di Singapura, benar?" Hayato menyandarkan tubuhnya di salah satu tiang penyangga rumah dan menatap Zen ramah. Zen mengangguk membenarkan tebakan Yato.
"Benar, di sana. Aku lupa nama lokasi tepatnya apa. Rei yang punya data, mereka negara yang tidak begitu besar tetapi maju dan industrinya berkembang pesat. Aku juga dengar ada banyak wisatawan yang sering berkunjung, negara maju seperti itu, tidak menyangka jika menjadi salah satu lokasi penjualan manusia."
"Jangan salah, ada banyak negara maju dan besar dijadikan lokasi yang nyaman untuk mereka. Kecuali mereka datang untuk bersembunyi, mereka akan memilih tempat yang tidak terdaftar dalam peta. Markasnya di sana atau hanya jalan saja?" tanya Yato lagi penasaran, misi yang akan Zen tangani adalah misi kelas A. Tugasnya kali ini menghabisi sindikat penjualan manusia yang berada di Singapura atas permintaan keluarga yang pernah menjadi korban sindikat tersebut.
"Bukan, markasnya bukan di situ. Kebetulan mereka singgah di sana untuk melakukan transaksi dan akan berlangsung selama tiga hari. Aku dan Rei memutuskan untuk melakukan misi di sana, Elle juga bilang terserah mau memilih lokasi di mana, di Singapura atau di markas utamanya."
"Kalian ingin menyelamatkan korban?"
Zen diam tidak segera menjawab pertanyaan Yato. Hingga menit terlewat tanpa sadar, Zen barulah mengangguk.
"Aku tahu ini di luar misi. Aku tidak pernah ragu membunuh anak-anak atau wanita selama mereka adalah bagian dari target dan misi, tetapi, aku rasa tidak masalah jika tangan kotor ini memutuskan untuk membantu korban bukan? Aku tidak bilang pada Elle secara langsung, Elle juga pasti mengerti maksudku. Aku dengar ... mereka menjual anak remaja wanita berusia empat belas tahun."
Yato tersenyum mendengar jawaban Zen, Zen yang dikenalnya berdarah dingin dan tidak pernah pandang bulu dalam menghabisi musuh dan target ternyata masih menyimpan kebaikan yang tidak Yato tahu. Yato menepuk pundak Zen perlahan, tersenyum manis sebelum tertawa.
"Tangan kita semuanya kotor Zen, tetapi meski kotor bukan berarti tidak boleh menolong. Jangan ragu, apa lagi malu. Kalaupun Elle nanti tidak setuju pada akhirnya, aku akan bantu bicara. Jangan cemas, pergi misi dan bantu korban saja, jangan lupa kembali dengan selamat. Kami menunggumu di markas." Yato melambaikan tangannya ke arah Zen dan berjalan menjauh menuju pintu keluar. Zen menatap punggung Yato yang meninggalkannya lalu ikut tersenyum.
Zen merasa senang karena bukan hanya Rei yang mendukung keputusannya, yang menandakan jika ia tidak salah dalam membuat keputusan. Zen melirik ke arah jam dinding, pukul sepuluh lewat empat puluh menit. Zen sudah selesai menyiapkan peralatan, Rei masih sibuk dengan lokasi dan hal-hal lain yang tidak Zen paham, waktu makan siang pun belum dekat, ia masih punya waktu untuk menghubungi Chairey batinnya.
Zen mengeluarkan ponsel dari dalam saku, buru-buru menghubungi Chairey lewat panggilan.
"Halo? Zen? Bukannya mau pergi kerja? Nanti terlambat."
Tidak tahu sejak kapan suara manis yang Zen dengar saat ini selalu membuatnya merasa lega. Zen tersenyum dan membiarkannya dirinya duduk di atas sofa agar lebuh santai.
"Belum, nanti. Aku dan Rei akan pergi pukul satu siang, masih ada waktu untuk bicara. Mistrees sedang apa?"
Zen memejamkan matanya perlahan, seketika ia mengingat jika Chairey adalah pelajar dan hari ini bukan hari libur.
"Sedang sekolah!? Maaf, aku ... " ucapan Zen terputus karena suara tawa yang menyambut dari arah seberang sana.
"Sedang istirahat. Pelajaran pertama baru selesai, sekarang sedang istiarahat. Pukul sebelas lewat tiga puluh menit nanti baru kembali masuk kelas. Pelajaran kedua hanya tiga puluh menit, karena hanya membaca materi sebelum ujian lisan. Pukul dua belas makan siang, setelahnya baru melanjutkan pelajaran lagi sampai sore. Jadi, Zen tidak mengganggu, sungguh."
"Syukurlah, aku lupa kalau hari ini bukan hari libur. Aku hanya ... ingin bicara sebentar sebelum pergi. Mistrees sendirian?" Zen bernapas lega, ia takut sekali kalau sampai panggilannya membuat Chairey berada dalam masalah.
"Iya, aku di taman dekat perpustakaan. Sedang melihat bunga, aku pikir akan menanam bunga jenis ini di rumah. Zen suka bunga?"
"Aku tidak begitu mengerti bunga, yang aku tahu hanya Mawar, Tulip dan Daffodil. Karena Mia suka Daffodil," jawab Zen mengingat adik perempuannya yang juga sering membicarakan tentang bunga pada musim semi.
"Benarkah? Wah, aku jadi tambah ingin bertemu dengan Mia. Kami pasti akan cocok karena sama-sama suka bunga, uhm, kapan Mia akan kembali Zen?"
"Tidak lama lagi, Mia bilang kelulusannya tidak lama lagi. Setelah lulus dia akan pulang sebentar untuk mengunjungiku dan Rei, Mistrees juga bisa bertemu dengannya nanti."
Zen tersenyum kecil, ia mulai membayangkan saat adik perempuannya menghabiskan waktu dengan Chairey, wanita yang membuatnya nyaman. Membayangkan keduanya akur membuat hati kecil Zen berbunga-bunga. Perasaan Zen baik dan semakin membaik ketika mendengar suara Chairet, ketika mendengar tawa dan berbagai cerita Chairey.
Zen senang mendengarkan Chairey bercerita, meski terkadang Zen tidak paham apa yang sedang Chairey ceritakan, tentang bunga misalnya, atau tentang ice cream. Dua hal yang tidak pernah Zen sentuh, menanam bunga dan makan ice cream. Namun, Zen tidak pernah keberatan untuk membahasnya bersama Chairey, Zen begitu menikmati waktu singkatnya.
Keduanya saling tertawa dan saling tidak mengetahui jika masalah akan mulai menyapa mereka.