Page 19 - Mia

1491 Kata
Schattenjaegar is online. Schattenjaegar : Sedang apa? Mia mengalihkan pandangannya dari buku ke komputer. Lima belas menit yang lalu ia sudah membuka website khusus untuk bercakap dengan seseorang lewat jaringan daring. Mia menutup buku pelajarannya, meski berusaha fokus mata sembab dan sakit kepala yang timbul akibat setelah menangis sungguh mengganggunya. Mia melihat sebuah akun yang mengiriminya pesan, Mia tersenyum dan segera menggerakkan jarinya di atas papan ketik dengan lincah. Periwinkle : Sedang belajar, tetapi sudah selesai. Kakak sedang apa? Mia menekan tombol enter untuk mengirimkan pesan, ia naikkan kedua kakinya di atas kursi agar bisa memeluk lutut. Kepalanya ia letakkan di atas kaki, menatapi layar berharap si kakak cepat membalas pesannya. Karena apa yang terjadi di sekolah, mereka dipulangkan lebih cepat. Guru bilang, itu adalah bentuk penghargaan dan kasih sayang mereka pada Mia. Begitu juga dengan teman-teman yang lain, mereka berebut untuk memberikan Mia jajanan dan makanan kesukaan, ada juga yang mengajak Mia untuk jalan-jalan pada akhir pekan. Lily berjanji untuk membuatkan Mia agar-agar dan menemani Mia melihat Daffodil ketika musim semi menjelang. Karena selama ini Lily selalu menghindari jalan jauh mengingat ia yang selalu mabuk perjalanan. Mia tertawa kecil dengan dirinya sendiri ketika mengingat kejadian di sekolah, ia tidak pernah menyangka jika akan menerima kebaikan sebanyak ini. Dan sekarang ia begitu merindukan kakak laki-lakinya, sumber utama dari kebahagiaan yang ia punya. Schattenjaegar : Baru selesai kerja. Ada salam dari Rei. Apa kakak mengganggu? Lanjutkan saja belajarnya. Mia bersungut ketika membaca pesan di layar, ia sudah menunggu sejak tadi pesan dari kakaknya, mana mungkin ia meminta kakaknya berhenti. Periwinkle : Aku sudah bosan belajar. Sudah dua jam, ayo bicara saja. Kakak tidak sibuk, 'kan? Schattenjaegar : is typing ... Schattenjaegar : Sungguh? Tidak bohong? Kalau bohong kakak akan marah. Kalau tidak bohong, ayo bicara, tetapi hanya sampai pukul sembilan. Mia harus tidur. Mia menoleh ke arah jam dinding yang ada di kamarnya, pukul delapan malam lebih dua menit. Ia hanya punya waktu satu jam untuk bicara dengan Zen, meski begitu Mia sudah merasa cukup senang. Mengingat biasanya Zen tidak akan mau mengobrol ringan kecuali akhir pekan. Hari-hari sebelumnya, Zen hanya akan mengiriminya pesan yang bertanya tentang kabar, lalu apa yang sedang Mia lakukan. Setelah dijawab, Zen akan menyuruh Mia melanjutkan dan mengingatkan untuk istirahat sebelum kembali offline. Periwinkle : Okkie dokie. Di sana pukul berapa memangnya? Kakak tahu di sini pukul berapa? Schattenjaeger : Tahu. Schattenjaeger : is typing ... Schattenjaeger : Kakak pakai waktu Belanda saat membuka situs ini. Di sini pukul sebelas malam, Rei sudah tidur karena lelah bekerja. Mia terkikik lagi, Zen selalu saja kaku, bahkan dalam mengetik obrolan. Zen membutuhkan waktu lebih lama hanya untuk mengirim pesan. Zen selalu menjaga wibawanya di depan Mia, Zen selalu ingin jadi kakak terbaik untuk Mia, walau kenyataannya Zen sudah jadi yang paling baik di antara yang terbaik untuk Mia. Mia meraih botol minum yang ada di atas meja, meski tidak begitu besar kamar yang Mia tempati terlihat sangat nyaman. Tempat tidur ukuran besar, lemari pakaian mini malis, lemari es, pendingin udara hingga seperangkat komputer untuk membantunya belajar dan bercakap dengan Zen yang berada di Allegra. Jarak Allegra dan Belanda cukup jauh, butuh waktu berjam-jam untuk sampai menggunakan pesawat. Jika tidak sedang cuti panjang sekolah, Mia tidak bisa pulang. Dan Zen selalu sibuk dan tidak mau menyulitkan Mia jika ia yang tiba-tiba datang ke sana. Periwinkle : Wah, sungguh? Sudah jam sebelas masih belum ingin tidur? Jangan dulu deh, hehe, nanti Mia kesepian. Mia tersenyum kecil menatapi layar, ia membayangkan wajah kakaknya sekarang. Mia yakin jika kakak laki-lakinya pasti terlihat sangat tampan. Saat kecil, Mia ingat betul ada berapa banyak gadis yang mengajak Zen untuk berkencan. Belum lagi tetangga dekat rumah dan teman-teman sekolahnya, semua Zen tolak. Masih belum cukup umur. Adalah jawaban paling sering Zen gunakan, di luar dari pada Zen yang memang selalu gugup jika berada di hadapan wanita. Teman-teman sekolahnya yang di sini pun selalu ribut meminta Mia melakukan video panggilan dengan Zen saat di kelas, atau setidaknya Mia memberitahukan pada teman-temannya jika ia akan melakukan panggilan lewat video. Mereka ingin melihat wajah Zen secara nyata, selama ini yang mereka lihat hanya potret Zen saja. Itu pun potret Zen beberapa tahun lalu. Mia membawanya sebagai kenang-kenangan, dan potret itu sekarang jadi hal heboh yang tidak bosan diperbincangkan. Ada banyak kakak kelas yang memberikan banyak hadiah untuk Mia, berbaik hati hingga menganggap Mia adik sendiri hanya karena ingin dikenalkan dengan Zen. Tentu saja Mia menolak, Mia tidak mau memanfaatkan kakak laki-lakinya untuk hal seperti itu. Sejujurnya Mia tidak pernah keberatan untuk mengenalkan Zen pada teman-temannya, masalahnya Zen selalu mematikan panggilan lebih awal jika dia tahu Mia tidak sendirian. Butuh waktu cukup lama bagi Zen untuk terbiasa dengan Lily, jadi tentu saja kakak laki-lakinya itu butuh waktu lama juga untuk terbiasa dengan teman-teman lainnya. Schattenjaeger : Belum mengantuk, nanti saja. Setelah Mia tidur, kakak tidur. Bagaimana di sana? Paman dan bibi apa kabar? Mia tidak ada masalah, 'kan? Periwinkle : Baik, mereka baik-baik saja. Paman sedang senang memancing, hingga setiap akhir pekan akan pergi memancing dan membuat bibi menggerutu. Aku juga belajar banyak resep makanan, saat pulang nanti akan aku buatkan khusus untuk kakak. Tidak ada masalah, semuanya baik, teman-temanku baik, guru-gurunya juga. Sebentar lagi kelulusan, mereka sibuk membicarakan akan melanjutkan ke mana. Schattenjaeger is online. Mia mengerjap-ngerjapkan matanya bingung karena Zen yang tidak segera membalas pesannya. Apa ada yang mengajak bicara tanya Mia dalam hati, atau Zen sedang memikirkan akan ke mana Mia setelah lulus sekolah. Schattenjaeger : is typing ... Schattenjaeger : Begitu. Mia bagaimana? Akan melanjutkan ke mana? Perguruan tinggi di sana? Mia mengembuskan napasnya perlahan, praduganya benar. Zen memikirkan dirinya akan ke mana setelah lulus sekolah. Zen selalu saja khawatir pada Mia, padahal Mia akan menginjak usia dewasa segera. Periwinkle : Belum tahu. Aku ingin pulang dulu dan temui kakak, aku rindu sekali. Dengan kak Rei juga, aku juga penasaran dengan kak Chairey yang kalian ceritakan waktu itu. Beberapa hari lalu Zen menceritakan tentang seorang gadis yang ia kenal lewat hal tak terduga. Rei yang dikenal berhati-hati tiba-tiba saja meninggalkan ponselnya di perpustakaan, dan kebetulan si gadis menemukannya. Dari situlah mereka berkenalan. Bagaimanapun Mia memikirkannya rasanya hal seperti ini hanya ada di film-film romansa saja, Mia sempat tidak percaya kejadian itu benar-benar terjadi. Zen bilang namanya Chairey dan ia tinggal sendirian, usianya tidak berbeda jauh dari Mia. Hanya terpaut satu tahun berapa bulan, Mia yakin jika dirinya dan kenalan baru Zen ini akan jadi teman baik. Dia selalu iri pada Lily karena punya kakak perempuan dan kakak laki-laki, Mia juga menginginkan kakak perempuan dan si gadis baru ini adalah orang yang tepat untuk Mia. Dari cerita Zen dan Rei, Chairey adalah gadis manis yang baik hati. Chairey suka hujan dan makan ice cream, tidak berbeda jauh dari apa yang Mia suka. Mia juga suka memandangi hujan dari balik jendela dan juga suka ice cream, tidak ada gadis yang tidak suka ice cream yakin Mia. Schattenjaeger : Chairey? Oh. Iya. Mia bisa menghubunginya kalau bosan bicara dengan kakak, dibanding bicara dengan Rei, Chairey lebih baik. Periwinkle : Kakak akan berikan aku nomor ponsel kak Chairey? Kirimkan fotonya juga. Schattenjaeger is online. Mia melirik ke arah jam dinding, pukul delapan lewat empat puluh lima menit. Ia tidak sadar jika sudah menghabiskan waktu cukup lama bicara dengan Zen, andai saja Zen tidak tahu waktu di sini, Mia bisa sedikit berbohong agar bisa bicara dengan Zen lebih lama. Sayangnya Zen selalu disiplin dan tahu banyak hal. Schattenjaeger send a photo. Schattenjaeger : Ini potret kami bersama. Rei yang menyarankan waktu itu, kakak hanya ikut saja. Sebentar lagi pukul sembilan, bersiaplah untuk tidur. Mia segera mengunduh potret tersebut untuk ia lihat, ia menatap sebuah gambar, kakak laki-lakinya, Rei dan seorang gadis manis berambut coklat muda dan bermata hijau lembut tersenyum kecil di antara keduanya. Mia menatap kagum sekaligus iri, ia juga ingin ada di sana batinnya. Periwinkle : Cantik sekali! Dekati kak! Aku setuju kalau kakak bersama dengan kak Chairey! Mia terkikik geli, Zen saat ini pasti sedang kaget dan gugup untuk membalas apa. Schattenjaeger : is typing ... Schattenjaeger : is typing ... Schattenjaeger : Jangan bicara macam-macam. Sekarang bersiaplah untuk tidur. Periwinkle : Boo, aku sungguh setuju. Hehe. Baiklah, aku akan siap-siap untuk tidur, bye kak Zen! Schattenjaeger : Iya, selamat tidur Mia. Semoga mimpi indah. Schattenjaeger is offline. Mia mengembuskan napasnya perlahan, ia beranjak dari kursi dengan wajah bersinar. Kedua matanya berbinar bahagia meski setengah mengantuk, perasaannya juga baik sekali. Ia senang karena kakak laki-lakinya sudah bisa dekat dengan seorang wanita, terlebih lagi wanita itu orang yang baik sekaligus cantik. Dalam benak Mia, Mia sudah membayangkan ia dan Chairey yang akan belanja bersama-sama, ke salon kecantikan bersama, makan ice cream bersama dan menghabiskan waktu sebagai perempuan bersama. Mia membaringkan tubuh di atas kasur, menarik selimut dan mulai membayangkan betapa menyenangkan nantinya ketika ia dan Chairey bertemu. Hati kecil Mia juga berdoa agar. Chairey dapat menerima kakak laki-lakinya yang kaku. Tanpa sadar, Mia kini terlelap dalam imajinasi indahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN