Page 18 - Mia

1426 Kata
Pelajaran pertama baru saja selesai, Mia merasa bangga bisa menjawab kuis yang guru berikan padanya. Mia selalu berusaha belajar sekeras yang ia bisa, dirinya selalu senang saat Zen memuji keberhasilan yang ia capai. Zen tidak seperti orang tua lain yang akan memarahi Mia ketika Mia mendapat nilai jelek atau buruknya dipanggil ke ruangan guru karena bermasalah. Zen tidak akan marah, sebaliknya, kakak laki-lakinya itu akan mendekati Mia dan mulai bicara dengannya pelan-pelan. Pertama Zen akan bertanya apa Mia punya masalah atau tidak. Setelah memastikan adik perempuannya tidak punya masalah, Zen akan mulai bertanya tentang guru-guru di sekolah. Bagaimana cara mereka mengajar, bagaimana cara mereka menghukum dan bagaimana cara mereka memarahi. Zen tidak pernah mau menyalahkan Mia secara sepihak, setelah mendengar penyampaian dari pihak sekolah ia juga ingin mendengar dari sisi Mia sendiri. Tidak dibenarkan membuat keputusan ketika hanya mendengar dari satu sisi saja, haruslah mendengar dari kedua sisi maka setelah jelas baru dapat membuat sebuah keputusan yang adil. Zen juga akan bertanya tentang lingkungan sekolah, tentang asrama dan tentang teman-teman di sekitar Mia. Lingkungan adalah alasan nomor satu untuk membuat seseorang berubah atau mendapat masalah, seorang siswa pintar bisa jadi bermasalah ketika terus diasingkan dan diperlakukan tidak adil oleh murid lainnya. Tindakan seperti ini dinilai kecil untuk sebagian orang, tetapi bagi Zen ini bisa jadi masalah besar. Zen tidak mau adik perempuan kebanggaannya ini diperlakukan buruk oleh siapa saja, Zen tahu betul jika Mia adalah pribadi yang tidak suka buat onar, penurut dan tidak banyak menuntut. Buktinya, Mia tidak pernah menolak atau marah ketika Zen memintanya untuk bersekolah dan tinggal di Belanda. Karena dasar-dasar kepercayaan itulah yang membuat Mia semakin tidak ingin mengecewakan Zen. Mia selalu bertujuan untuk menjadi yang terbaik di sekolahnya. "Akhirnya selesai juga, kenapa pelajaran sejarah begitu membosankan?" "Sebenarnya tidak bosan juga, tetapi karena cara penyampaiannya begitu jadi terasa membosankan." Percakapan dua orang siswa di kursi belakang terdengar jelas oleh Mia, Mia hanya tersenyum membenarkan. Tidak dipungkiri jika pelajaran sejarah adalah pelajaran paling membosankan, tetapi Mia perlu mendengarkannya dengan saksama karena Zen acap kali memberikannya kuis seputar sejarah. Satu jawaban salah akan membuat jatah bicara Mia dan Zen berkurang. "Aku kembali!" seru Lily yang baru saja masuk kelas, anak perempuan dengan rambut lebih pendek dari Mia itu segera berlari mendekati Mia dan memeluknya. Mia menepuk-nepuk perlahan punggung Lily dan tersenyum. "Bagaimana? Sudah lebih baik?" Mia mendongak sedikit untuk menatap Lily yang berdiri di hadapannya. Lily mengangguk kencang dengan senyuman lebar. "Sudah! Hehe, berkat Mia aku jadi merasa jauh lebih baik. Bagaimana pelajaran sejarah? Masih bosan?" Lily terkikik pelan lalu duduk dan mulai menyiapkan peralatan untuk pelajaran selanjutnya. Mia mengangguk setuju. "Bosan, tetapi harus didengarkan. Aku tidak mau waktu bicaraku dan kak Zen dipotong lagi hanya karena aku tidak bisa jawab kuis sejarah darinya," sungut Mia mengingat apa yang terjadi pekan lalu. Lily tertawa ringan karena ocehan Mia, sebagai teman sekamar Lily tidak lagi asing mendengar nama Zen. Bahkan ia dan Zen pun pernah bicara beberapa kali, Zen bertanya tentang Mia dan sekitarnya juga tentang kebiasaan Mia di malam hari atau di hari libur. Lily tidak merasa Zen terlalu mengekang atau mengatur-atur Mia. Malah, Lily bisa merasakan seberapa besar rasa khawatir dan sayang Zen pada adik kecilnya. "Selamat pagi, semoga kita semua yang hadir di kelas ini diberikan kesehatan dan kebahagiaan oleh Tuhan." "Selamat pagi, Bu. Semoga semua guru yang mengajar dan murid yang menerima pelajaran selalu diberikan kesehatan dan kebahagiaan oleh Tuhan." Semua murid menjawab salam si guru secara serentak dan bersamaan. Guru wanita itu tersenyum dan duduk di kursi, menatapi satu per satu wajah muridnya sebelum memulai pelajaran. "Baik, mari kita mulai pelajarannya. Untuk pembukaan, mari kita membahas tugas yang sudah kalian kumpulkan. Tugas berupa sebuah surat, atau cerita penghargaan dari kalian untuk keluarga. Ibu harap semua sudah menyelesaikan tugasnya, karena jika masih ada yang belum, poinnya akan dikurangi. Ibu akan pilih beberapa tugas untuk dibacakan, tugas pertama yang beruntung adalah tugas milik Mia Lombardy. Mia, bacakan tugasmu." Mia berdiri dari kursi dan berjalan ke bagian depan untuk membacakan tugasnya. Mia menarik napas dalam dan menatap kata demi kata yang ia tulis di atas kertas tersebut. "Untuk kakak laki-lakiku yang berperan sebagai pahlawan. Aku memiliki seorang kakak laki-laki, namanya Arzen. Setelah besar dan mengerti, mereka memberitahuku jika Arzen bukan kakak sedarahku, hanya berdasarkan silsilah keluarga saja. Setelah orang tuaku meninggal karena kejadian buruk, kakak laki-laki yang tidak memiliki hubungan darah inilah yang menjagaku. Meski dia tahu aku bukan adik kandungnya, dia tidak pernah marah padaku, dia tidak pernah merasa kesal atau merasa aku adalah beban hidupnya. Padahal, saat itu usianya baru enam tahun, ia bisa saja meninggalkanku dan lari. Namun, kakak laki-lakiku memutuskan menggenggam tanganku dan membawaku bersamanya. Aku sering mendengar cerita bagaimana dia menggendongku di pundak kecilnya, tertatih-tatih dan tidak putus asa untuk mengetuk pintu meminta pertolongan. Anak usia enam tahun yang berjalan sendirian itu mampu menahan rasa takutnya, mampu menahan tangisnya untuk aku, yang bukan adik kandungnya. Tangan kecilnya terus mengetuk pintu mengelilingi perumahan yang sepi pada malam hari, menurut tetangga yang membuka pintunya untuk kami, kakak menyelimutiku dengan pakaiannya dan membiarkan dirinya tanpa pakaian. Karena malam itu, hujan turun, cukup deras hingga sebagian warga bilang akan turun badai. Kakak laki-lakiku tidak peduli dengan dirinya, ia takut aku kedinginan. Saat aku berusia tujuh tahun, aku tidak sengaja mendengar ucapan paman yang mengadopsi kami di rumahnya. Dia menawarkan untuk memindahkanku ke panti asuhan ternama dan berkualitas agar kakak bisa melanjutkan hidup lebih baik. Meski ingin menangis, aku tidak mau menyulitkan kakak lagi waktu itu. Dan bodohnya, kakak menolak. Kakak tidak mau mengirimku ke panti asuhan, aku masih punya keluarga katanya, Mia masih punya kakak laki-lakinya, aku. Adalah kalimat yang aku dengar dari kakak laki-lakiku yang terus aku buat sulit, tidak ada yang bisa aku lakukan untuk membalasnya kecuali berlari ke arahnya, memeluknya dan menangis. Saat aku berusia delapan tahun, kala itu pihak sekolah mengadakan acara kunjungan orang tua. Semua orang tua murid datang untuk melihat apa-apa yang anaknya lakukan, ada yang menyanyi, menari, membaca puisi dan macam kegiatan lainnya. Aku ikut serta dalam membaca puisi, saat giliranku tiba tidak ada satu pun yang memperhatikanku. Para orang tua sudah sibuk dengan anak mereka masing-masing, para guru hanya sibuk memuji murid dari orang tua yang memiliki pekerjaan penting. Di tengah-tengah membacanya, aku diteriaki salah satu temanku. Anak itu meneriakiku untuk turun, aku merasa marah dan turun untuk memukulnya. Aku dimarahi, guru memarahiku, orang tua murid yang aku pukul itu tidak suka dengan apa yang aku lakukan tetapi ia menutup mata pada apa yang anaknya lakukan hanya karena tidak ada yang memperhatikanku. Dan tiba-tiba saja kakak datang, kakak berlari mendekatiku, menjauhkanku dari kerumunan dan bertengkar dengan semua orang yang ada di sana. Dari kejauhan aku bisa melihat kakak membelaku mati-matian, ia tidak takut membentak dan menyanggah mereka semua. Ia memarahi anak yang meneriakiku untuk turun lalu memarahi orang tuanya, meski dipukul karena dianggap tidak sopan kakak tidak berhenti. Bukan aku, bukan aku yang menangis saat itu, melainkan kakak. Dia marah, berteriak dan menangis, bukan keinginan Mia, bukan keinginan Mia untuk kehilangan orang tuanya. Bukan keinginan Mia untuk punya seorang kakak tidak sopan dan tidak tahu tata krama sepertiku. Lalu kenapa kalian memperlakukan adik perempuanku seolah itu keinginannya? Kenapa kalian memperlakukan adik perempuanku tidak adil hanya karena ia tidak punya orang tua kaya? Adalah apa yang kakak laki-lakiku teriakkan. Aku masih berdiri di tempatku, aku begitu menyayangi orang ini pikirku, aku begitu berharga di matanya, aku begitu berarti dan sebuah kebanggaan. Tidak apa-apa aku kehilangan orang tuaku, karena aku memiliki kakak laki-lakiku. Aku meraih tangan kakak dan membawanya keluar, kakak masih menangis, ia berlutut di hadapanku dan meminta maaf. Kakak tidak bisa datang tepat waktu, karena itu dia hanya bisa berdiri di bagian belakang dan menyaksikanku diperlakukan tidak adil. Kakak terus menangis, wajahnya memerah karena habis dipukul. Aku memeluknya dan meminta pulang, kakak menggendongku sepanjang perjalanan. Kakak memuji puisi yang aku bacakan, membelikanku kue dari uang saku simpanannya dan mengatakan jika aku akan dapat pendidikan dan kehidupan yang jauh lebih baik. Dan ... di sinilah aku. Berdiri di hadapan kalian, belajar bersama kalian, menjadi sosok Mia yang kalian kenal karena usaha kakak laki-lakiku." Mia menyudahi tugas membacanya, wajahnya sudah basah karena air mata. Tanpa Mia sadari, jika bukan hanya dirinya yang menangis, tetapi juga seisi kelas dan guru yang mendengar ceritanya. Guru perempuan itu berdiri dari duduknya dan segera memeluk Mia erat-erat, Lily berlari dari bangkunya, ia tidak mau kalah untuk mendukung teman baiknya. Mia tersenyum bahagia, kini ia dapatkan kehidupan dan pendidikan lebih baik seperti apa yang kakak laki-lakinya janjikan. Mia tidak pernah tahu dengan apa nantinya ia akan membalas semua usaha Zen untuknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN