"Mia! Selamat pagi! Mia! Kau sudah kerjakan tugasmu? Hari ini terakhir diserahkan!"
Seorang gadis dengan rambut panjangnya yang agak sedikit ikal di bagian bawah itu menoleh ke arah mereka yang memanggil. Sepasang mata coklat mudanya tampak jernih ketika menatap lawan bicaranya, begitu cantik sehingga tidak akan bosan untuk dipandangi. Tubuh si gadis pun proporsional, lebih dari cukup untuk seorang pelajar yang hampir menginjak usia enam belas tahun.
Gadis cantik bernama Mia ini selalu saja jadi pusat perhatian karena banyak hal, tidak kalah dari kakak laki-lakinya ketika sekolah dulu, Zen.
"Tugas? Tugas apa? Menulis surat tentang keluarga? Tentu saja sudah!" jawab Mia penuh percaya diri. Bibirnya melengkung sempurna dengan tatapan yakin dan langkah pastinya yang menuju kelas. Teman di sampingnya mengerucutkan bibir, karena mereka merasa Mia terlalu sempurna. Baik dalam wajah, akademis dan bukan akademis.
"Curang sekali, bagaimana kau bisa mengerjakannya dengan cepat? Padahal kita sama-sama main kemarin."
Mia terkikik karena gerutu teman sekelas sekaligus teman sekamarnya, Lily. Mia menepuk-nepuk pelan kepala Lily dan memasang senyum terbaiknya.
"Aku kerjakan malam hari, saat Lily sedang tidur nyenyak sampai bermimpi dan mengigau. Aku ambil jatah tidur malamku agar tugasnya selesai, aku juga hampir lupa sebenarnya, tetapi untungnya aku lihat kalender." Lily semakin mengerutkan kening dan bibirnya semakin maju ke depan. Harusnya ia juga tidak tidur pikirnya, tetapi tidak ada yang bisa menahan kantuk hanya untuk mengerjakan tugas kecuali Mia.
"Bagaimana ini? Aku belum kerjakan dan hari ini terakhir diserahkan, apa aku menghadap saja? Atau aku pura-pura sakit?" Lily menoleh ke arah Mia berharap Mia membantunya. Mia memasang wajah berpikir hingga langkahnya berhenti, ia sandarkan punggungnya di dinding pembatas lantai dua.
"Jangan, kau pasti akan ketahuan. Begini saja, kau izin tidak masuk di pelajaran pertama dan bilang sedang sakit kepala. Pelajaran pertama kita sejarah, kau bisa mempelajarinya sendiri nanti. Kau bisa gunakan waktu itu untuk kerjakan tugas dan mengumpulkannya pada jam pelajaran kedua." Mia menatap Lily lurus dan mengangguk-anggukan kepalanya sendiri seolah merasa sugestinya adalah yang paling tepat. Mata Lily bersinar ketika mendengar jawaban Mia, kedua tangannya menggenggam sebelum memeluk tubuh Mia erat-erat.
"Kau sahabat baikku! Aku tahu aku selalu bisa mengandalkanmu! Aku akan ikuti saranmu. He he," ucap Lily sembari melepaskan pelukannya. Lily tersenyum manis dan melangkah mundur perlahan. "Baiklah, aku akan lakukan saranmu saat ini juga. Bye Mia! Aku sayang padamu!"
Lily berlari kecil seraya melambaikan tangannya ke arah Mia lalu menghilang di balik tembok. Mia mengembuskan napas leganya dan ikut tersenyum karena senang bisa membantu. Mia kembali melangkah menuju kelas dengan pikirannya yang mulai melayang jauh.
Tidak lama lagi ia akan lulus dari HAVO ( Hoger Algemeen Voortgezet Onderwijs / Pendidikan Tingkat Tinggi Menengah Umum ), ia sudah melewatkan waktu bertahun-tahun di Belanda karena Zen mengirimnya untuk tinggal dan bersekolah di sini sejak usianya sembilan tahun. Mia harus beradaptasi di pendidikan dasar yang lebih lama mengingat sistem pendidikan di Belanda dan di Allegra sedikit berbeda. Tinggal bersama keluarga jauhnya di sini bukan hal buruk, paman dan bibinya baik, terutama keduanya tidak memiliki anak sehingga Mia tidak perlu merasa menyulitkan atau membuat iri siapa-siapa.
Di luar dari pada keluarga dan pendidikan, Mia juga suka cuaca dan musim di Belanda. Terutama ketika bulan April, musim semi di Belanda benar-benar menyenangkan. Ada banyak bunga yang tumbuh dan terlihat cantik, salah satunya adalah Daffodil, bunga kesukaan Mia. Daffodil mengartikan memulai awal yang baru atau semangat baru, bunga Daffodil juga melambangkan bunga pembawa hal-hal bagus bagi beberapa kalangan.
Mia selalu berjalan-jalan melewati jalur bunga di sepanjang jalur kota Harleem sampai kota Leideen untuk melihat bunga Daffodil yang tumbuh disertai bunga Tulip dan Hyacinth. Orang-orang lokalnya juga tidak kalah ramah, begitu juga makanan dan jajanan yang dijual di sini. Mia akan memotret banyak pemandangan lalu mengirimkannya pada Zen lewat email.
Zen selalu saja cerewet tentang pendidikan dan kehidupan Mia di Belanda, Zen selalu bicara pada bibi dan paman Marley tentang Mia dan kebutuhannya setiap akhir bulan. Zen juga akan selalu menghubungi Mia lewat panggilan suara setiap akhir pekan, komunikasi mereka tidak pernah putus hanya saja Mia tidak bisa melihat Zen secara langsung. Karena hal-hal yang Zen lakukan untuk mendukungnya hidup lebih baik, Mia tidak pernah merasa diasingkan atau dibuang. Dia tahu Zen tidak pernah memiliki maksud seperti itu.
Ketika harus berpisah dari Zen setelah tinggal bersama, Mia dapat melihat kedua mata Zen membengkak seolah habis menangis semalaman. Mia juga mendengar suara isak tangis Zen meski samar ketika mengantar Mia tidur sebelum berangkat ke Belanda esok harinya. Mia tidak begitu ingat masa lalunya, yang ia tahu orang tuanya meninggal karena perampokan. Dan tidak tahu bagaimana ia dan Zen selamat, menurut keluarga, pada hari kejadian Zen yang masih berusia enam tahun menggendong Mia dengan kesulitan untuk keluar dari rumah dan menggedor tiap pintu tetangga meminta bantuan.
Beruntungnya, ada salah satu tetangga mereka yang berbesar hati untuk merawat keduanya sampai seorang pria bernama Jeffrey datang untuk mengambil alih. Sejak saat itu, mereka hidup bersama Jeffrey. Mia juga tidak begitu dekat dan tidak begitu ingat tentang Jeffrey, yang tertinggal dalam pikirannya tentang Jeffrey adalah air muka Zen yang selalu takut dan cemas saat pamannya pulang ke rumah.
"Mia? Kenapa hanya berdiri di depan kelas? Tidak mau masuk?"
Mia tersentak, pikirannya terlalu jauh hingga ia tidak sadar jika kakinya berhenti tepat di depan kelas. Mia tertawa kecil dan melangkah masuk ke dalam kelas yang sudah tampak ramai diisi murid lainnya. Mia meletakkan selembar kertas surat di atas meja tanda kehadirannya sebelum duduk.
"Di mana Lily? Sakit?" tanya salah satu teman kelasnya. Mia mengangguk sembari menyiapkan berbagai peralatan menulis.
"Sakit. Lily bilang kepalanya sakit beberapa saat lalu, aku menyarankannya untuk ke ruang perawatan dan istirahat selama satu jam. Kalau sampai satu jam masih tidak sembuh, aku akan temani dia temui dokter asrama. Aku harap guru dapat mengerti kondisi Lily." Mia memasang wajah serius juga sedihnya, ia tidak bisa memberitahu orang lain tentang bagaimana kondisi Lily yang sebenarnya. Di antara teman yang lain, Mia paling dekat dengan Lily sejak pertama kali Mia menginjakkan kaki di sekolah. Belum lagi, Lily adalah teman sekamarnya dan dekat dengan rumah Mia tinggal.
Mia selalu cerita banyak hal pada Lily dan Lily selalu menjaga semua cerita-cerita itu aman bersamanya.
"Tidak perlu banyak, teman itu tidak perlu banyak. Satu sudah lebih dari cukup kalau satu teman ini bisa dipercaya untuk banyak hal. Ceritakan padanya tantangmu juga tentang satu kebohongan yang kau anggap rahasia, jika dia menyimpannya tanpa pernah tanya, dia adalah teman yang baik. Jika dia terlihat penasaran dengan rahasiamu, hati-hati, karena bisa saja rahasiamu itu didengar banyak telinga. Seseorang yang mendengar, hanya akan mendengar apa yang dikatakan tetapi orang yang ingin mencari tahu akan bertanya tentang apa yang tidak dia dengar."
Adalah kalimat yang Zen ucapkan pada Mia dan tidak pernah Mia lupakan. Mia kini memiliki Lily sebagai teman yang bisa dipercaya seperti Zen yang memiliki Rei.