Page 16 - Date

1607 Kata
Tiga orang yang berada di tengah-tengah Laurent itu tampak menikmati saat bersama, bahkan ketiganya tidak sadar jika sudah menghabiskan waktu lebih dari tiga jam. Chairey dan Rey yang sibuk menggoda Zen sejak awal, mulai dari kesukaan Zen hingga kebiasaan Zen yang tidak suka sayur mayur. Karenanya Chairey menceramahi Zen dan terus saja menggodanya, bertanya alasan kenapa Zen menjauhi makanan yang sehat dan bermanfaat banyak untuk tubuhnya itu. Sesaat Chairey akan terlihat seperti seorang istri yang sedang memarahi suaminya karena berbuat buruk dan tidak juga mau berhenti. "Kenapa tidak makan sayur? Zen hanya tidak terbiasa, jadi rasanya pahit. Padahal kenyataannya sayur itu ada macam-macam, ada yang rasanya manis, ada juga yang gurih, ada juga yang seperti buah. Sayur itu bagus untuk tubuh, Zen tahu, 'kan?" Zen mengalihkan pandangannya sesekali, ia sudah tidak nyaman dengan pembicaraan yang terus berlangsung sejak tiga puluh menit lalu. Jemarinya sudah sibuk mengait satu sama lain, wajahnya berkeringat, pucat seperti habis berhadapan dengan ketakutan yang benar-benar besar. Sementara Rei hanya menikmati pemandangan dari keduanya dengan senyum simpul tanpa ada niat membantu Zen sama sekali. "Sejak sekolah dia sudah tidak suka makan sayur Rey, dia suka makan buah memang tetapi kalau sayur dia akan pasang wajah bertekuk jika ada di atas piringnya. Zen bahkan sudah terkenal seantero sekolah karena jadi siswa yang tidak makan sayur, haha," tambah Rei dengan tawa gelinya. Kapan lagi ia bisa menggoda Zen habis-habisan tanpa kena pukul pikirnya. Zen menatap Rei penuh dendam, seolah berkata dia akan membalas Rei nanti setelah semua ini berakhir. "Terkenal karena tidak makan sayur? Haha. Benaran? Aku rasa Zen terkenal karena hal lain, bukan karena sayur, tidak begitu? Apa Zen tidak terkenal karena wajahnya?" Rei mengangguk penuh semangat dan Zen berbalikan, ia menggeleng dengan tidak setuju. "Bohong! Jangan bohong Zen, tidak baik. Biar aku yang cerita," potong Rei pada Zen yang hendak menjawab Chairey. "Zen itu terkenal Rey, sangat terkenal bahkan. Dulu waktu sekolah, dia jadi adik kelasi yang suka didatangi kakak kelas perempuan. Mereka datang untuk membantunya belajar atau sekadar membantunya dari gangguan kakak kelas laki-laki meski sebenarnya anak ini tidak perlu dilindungi sama sekali. Dan saat naik kelas, dia lebih terkenal lagi! Ada banyak adik kelas yang diam-diam mengagumi Zen, mengirimi surat cinta bahkan menunggu Zen keluar dari asrama." "Aku kira kalian sekolah khusus laki-laki, salah?" "Tidak salah. Saat sekolah junior kami dibagi menjadi dua gedung, gedung khusus laki-laki dan gedung khusus perempuan. Asramanya juga terpisah, asrama laki-laki ada di belakang gedung sekolah laki-laki yang notabenenya jauh dari asrama perempuan. Lucunya walau jauh begitu para siswa perempuan sanggup berjalan ke gerbang asrama laki-laki hanya untuk menyapa teman baikku ini atau untuk memberikannya bekal makan siang. Luar biasa, 'kan?" Rei menatap Chairey penuh semangat ketika menceritakan bagaimana Zen dan sekolahnya dulu. Chairey mengangguk-anggukkan kepala, bertepuk tangan kecil seperti baru saja mendengar cerita legenda. "Hebat sekali, Zen seperti idola. Aku sering lihat di televisi bagaimana para penggemar yang menunggu idolanya keluar dari gerbang. Lalu bagaimana ketika sekolah senior?" "Masih terkenal, tetapi saat di sekolah senior Zen lebih dikenal sebagai kakak kelas dingin yang tidak boleh diganggu. Saat tingkat senior, gedung kami pindah dan jadi lebih jauh dari gedung perempuan. Kasihan para siswi itu jadi tidak bisa melihat Zen lagi, alhasil cerita-cerita tentang Zen semakin berkembang karena ilusi mereka. Ah, ada juga cerita ketika Zen melempar senior tahun akhir dari jendela lantai dua!" Zen mendelik ketika mendengar Rei yang menceritakan tentang aibnya, Zen buru-buru menoleh ke arah Rei dan memberi anak itu kode agar tidak melanjutkan cerita buruk tersebut. Zen tidak mau jika Chairey menilainya sebagai siswa tidak waras yang penuh emosi kala itu. Rei balas menatap Zen, tersenyum lebar tidak peduli. "Dilempar?" Chairey memiringkan kepala dan mengulangi ucapan Rei takut-takut salah dengar kata. "Iya dilempar! Sebenarnya aku juga tidak suka dengan kakak kelas itu, menyebalkan! Hanya karena dia senior tingkat akhir dia suka semaunya, dia terus saja berisik dan mengganggu Zen. Dia mengganggu Zen saat sedang membaca atau sengaja mengunci Zen dari luar ketika Zen berada di kamar mandi dan perpustakaan. Semua hal itu dia lakukan karena iri pada Zen, anak perempuan yang disukainya suka pada Zen. Padahal Zen sama sekali tidak kenal dan tidak pernah menanggapi, jahat sekali, 'kan?" "Jahat sekali. Kenapa mengganggu orang yang diam? Wajar saja Zen marah, perlakuannya buruk. Tidak dilaporkan saja ke kepala sekolah?" tanya Chairey dengan tatapan ibanya pada Zen. Perlahan, Chairey meraih tangan Zen untuk ia usap-usap membuat wajah Zen spontan memerah. "Aku sudah sarankan seperti itu tetapi anak ini bilang tidak usah. Kasihan katanya, karena ada di tingkat akhir harusnya tidak boleh ada masalah. Bisa-bisa anak itu dikeluarkan tanpa lulus dan akan kesulitan ke depannya. Makanya kami diam saja, hingga satu hari senior itu mengatakan hal yang benar-benar membuat Zen marah. Untungnya, bagian bawahnya itu adalah kolam renang untuk pelajaran olahraga. Alhasil, senior tidak terluka sama sekali, tetapi jadi trauma dengan tempat tinggi dan kolam renang. Hehe. Dia tidak sekolah selama tiga minggu lebih, lalu pindah kelas jadi di lantai bawah dan tidak pernah muncul lagi di hadapan kami." "Meski diganggu Zen masih memikirkan orang lain? Zen baik ya." Chairey tersenyum kecil menatap ke arah Zen yang wajahnya sudah penuh dengan semburat merah karena malu. Zen memainkan jemarinya sendiri karena rasa gugup dan tidak berani menatap Chairey. "Tidak ... begitu." "Dia memang baik! Zen ini sahabat baik yang paling aku sayangi di dunia!" Rei memeluk tubuh Zen dengan kedua tangannya erat. Kening Zen perlahan berkerut sebelum menjauhkan tubuh Rei darinya. "Omong-omong, apa yang senior itu katakan sampai membuat Zen marah?" Rei tersenyum kecil. Tangannya ia naikkan ke atas meja, meraih jemari kurus Chairey dan menggenggamnya. "Dia bilang Zen itu kasihan, punya teman parasit sepertiku. Tidak berguna, tidak bisa diandalkan, seperti bayangan tanpa wujud yang selalu mengikuti Zen kemana-mana. Dia bilang, harusnya Zen bisa memanfaatkan wajahnya untuk cari teman yang lebih bagus. Sebenarnya aku marah saat itu, karena dia tidak tahu apa yang membuat kami berteman, karena dia tidak tahu bagaimana kami saling membantu. Namun, setelah aku pikir lagi, dia ada benarnya. Aku tidak berguna waktu itu, yang bisa aku lakukan hanya mengikuti Zen." "Hei," sanggah Zen dengan wajah tidak senangnya. Zen selalu tidak suka jika ada orang yang menjelek-jelekkan rekan kerjanya, terutama jika orang yang jadi target itu Rei, teman baiknya sejak dulu. Rei tertawa karena air muka Zen yang sudah terlihat kesal. "Hanya masa lalu, sekarang aku tidak merasa begitu lagi. Aku bisa membantu Zen semaksimal mungkin karena sekarang aku punya kemampuan!" Rei mencolek hidungnya sendiri dengan senyuman bangga. Chairey mengangguk setuju sembari menepuk kepala Rei perlahan. "Iya ya. Rei sekarang sudah hebat juga, sudah bisa jaga dan bantu Zen. Aku jadi iri, nanti kalau aku sudah kenal lebih dekat dengan kalian aku juga mau membantu kalian." "Hehe. Selain Zen sendiri, ada hal lain yang membuat anak ini terkenal. Adik perempuannya, Mia." Rei tersenyum lebar, kedua tangannya menopang wajah santai. "Ah, Zen pernah cerita tentang Mia beberapa saat lalu. Ada di mana Mia sekarang?" "Belanda, dia sekolah di sana. Aku mengirimnya ke sekolah khusus perempuan, di sana asramanya juga baik dan aman. Lingkungannya bersih dan jauh lebih nyaman dibanding di sini, dan akhir bulan nanti dia akan kembali. Mistrees bisa menemuinya nanti saat dia kembali, aku sempat cerita padanya tentang Mistrees, dia juga ingin bertemu segera katanya." Zen menatap Chairey dan menjawab pertanyaan Chairey kali ini. "Mia itu cantik sekali! Dia pernah datang satu kali ke asrama saat sekolah sedang libur, dan seisi asrama laki-laki jadi heboh karena kedatangannya." Rei tergelak ketika mengingat bagaimana Zen buru-buru membawa Mia masuk ke kamarnya dan menutupi Mia dengan jaket agar tidak jadi pusat perhatian. "Maaf mengganggu kalian, aku tahu kalian sedang asyik sekali bicara. Sayangnya ini sudah malam, mungkin kalian bisa bertemu lagi nanti?" Joan yang sejak tadi duduk di bagian belakang tiba-tiba saja muncul di dekat ketiganya dan memegangi pundak Chairey. Pandangannya dingin dan terlihat serius, tampak sekali jika ia tidak menyenangi pertemuan mereka. Chairey menatap jam tangannya yang menunjukkan pukul tujuh lebih tiga puluh menit malam. Chairey menatap sekitarnya yang lebih sepi dari sebelumnya lalu ke arah langit gelap dari balik jendela. "Uhm, sepertinya jadi tidak sadar karena ceritanya seru. Joan benar, kita bisa bertemu lagi lain kali atau bicara lewat ponsel. Aku harus pulang. Kalian bagaimana?" Chairey menatap Zen dan Rei bergantian. Zen menoleh ke arah Joan singkat lalu kembali pada Chairey. "Kami juga akan pulang. Mistrees pulang saja duluan, aku dan Rei bawa mobil. Kami mungkin akan beli sesuatu di sini untuk oleh-oleh." "Ah, maafkan kami. Kami tidak bermaksud membuat Chairey pulang terlambat, Joan? Aku Rei, ini Zen, tadi kami sudah dikenalkan oleh Chairey tetapi lebih enak kalau bicara langsung, 'kan? Hehe. Maaf ya Joan." Rei tersenyum ramah dan mengulurkan tangannya, Joan menyambut dan menjabatnya singkat. "Tidak masalah, aku juga minta maaf karena harus mengganggu waktu kalian, tetapi sekarang sudah malam. Chairey harus pulang, aku harap kalian tidak menganggapku menyebalkan." "Baiklah, sampai jumpa lagi Zen, bye Rei." Chairey beranjak dari duduknya, melambaikan tangan ke arah Zen dan Rei lalu mendekati Joan untuk pulang dan meninggalkan keduanya. Zen menatap punggung Chairey yang menjauh perlahan, ada rasa tidak rela yang tersisa dalam hati Zen tetapi tidak ada yang bisa Zen lakukan saat ini selain berharap jika mereka akan bertemu lagi. Chairey melangkah ringan beriringan dengan langkah Joan, bibirnya tersenyum dengan rona merah pada kedua pipi. "Senang?" "Iya, senang sekali. Mereka baik, dan kami bercerita banyak tentang semua hal. Aku jadi tahu tentang hal-hal yang aku tidak tahu, aku mendengar hal yang menarik hingga kejadian yang aku kira hanya ada di televisi. Aku senang." Chairey menjawab perlahan pertanyaan Joan, ada sesuatu yang menggelitik di perut Chairey ketika ia mengingat bagaimana ia dan Zen bicara. Tanpa Chairey sadar jika senyum dan air muka bahagia Chairey cukup membuat Joan merasa terbakar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN