Kedua mata Sebastian terbuka perlahan, ia merasakan sakit hampir di sekujur tubuhnya. Sebastian meringis perlahan ketika memaksa untuk menggerakkan tubuh. "Di mana ini?" tanyanya dengan lirih pada diri sendiri. Ia berusaha menatap sekitar, dirinya tengah berbaring di sebuah ruangan yang didominasi warna biru langit. Bagian atapnya tinggi, ada lampu hias besar di atas kepala yang bahkan lebih besar dari Sebastian sendiri. Di bagian dinding digantung banyak sekali pajangan berupa lukisan pemandangan dan lukisan bunga yang beraneka ragam. Tempat tidurnya besar, mungkin akan cukup jika digunakan untuk tiga orang sekaligus. Sebastian mengedarkan pandangannya kembali, ia melihat lebih dari dua buah jendela besar dengan tirai berwarna keemasan, sebuah pintu yang ada di ujung ruangan dan sebuah

