Sosok Di Gudang Sekolah

1118 Kata
Aku masih memperhatikan isi buku tulis itu dengan heran. Apa maksud gambar dan huruf-huruf ini? Mungkinkah ia ingin menjadi pelukis, tapi tidak memiliki kemampuan dan bakat? Mungkinkah huruf-huruf ini adalah inisial orang yang ia suka atau cinta? atau bahkan inisial idolanya atau singkatan komunitas yang diikutinya? Aku sunggug tidak mengerti. "Hana.." Panggil Ms Jasmine, yang langsung berhasil membuatku terlompat kaget. "Iya Miss?" Tanyaku dengan meletakkan buku dan pensil Jacob kembali ke atas mejanya dengan cepat. "Miss boleh minta tolong?" Tanyanya. "Oh.. boleh kok Miss. Ada apa?" "Ini, hasil prakarya sistem ekonomi kelas sebelah. Miss minta tolong simpankan ini semua di gudang tugas-tugas siswa ya, Han. Apakah bisa?" Ms Jasmine menyodorkan satu kantung plastik hitam besar bersisi karton-karton tergulung berwarna putih. "Bisa Miss" Anggukku, lalu mengambil kantung itu dari tangan Ms Jasmine. "Oke.. Trimakasih ya, Han." Ucapnya. "Sama-sama.." Jawabku. Aku berjalan menuju gudang penyimpanan yang terletak di ujung koridor lantai tiga, yang dihapit oleh lab bahasa inggris dan gudang perlengkapan lab jurusan IPA. Koridor ini cukup sepi. Hanya ada beberapa murid yang berjalan melewatinya jika mereka ingin pergi ke ruang guru yang terletak di gedung sebelah, karena ada semacam jembatan penghubung di samping koridor. "Han! Kau sedang apa?" Panggil Dessy tepat di belakangku. "Astaga!" Jeritku kaget. "Ampun deh, Dessy! Kau mengagetkan orang saja! Ini loh.. aku mau menyimpan ini di gudang tugas parakarya. Temani aku, yuk.." Kataku dengan menunjukkan barang bawaanku. "Oh.. Maaf, aku tidak bisa, Han. Ada urusan lain di ruang guru. Atau kau ikut aku ke ruang guru dulu, setelah itu baru kita ke gudang?" "Hem.. Tidak jadi deh, Dess. Tidak apa aku sendiri saja." "Serius?" Dessy menaikkan kedua alisnya. "Iya.. santai aja Dess.."  Jawabku sambil menyengir kuda. Dessy mengangkat jempol tangan kanannya sambil tersenyum lalu pergi meninggalkanku. Jujur, jika bukan karena buburku yang sepertinya sebentar lagi jadi dingin dan mencair, aku lebih baik ikut Dessy sehingga tidak perlu masuk ke dalam gudang sendirian. Aku  menghadap pintu kayu bercat putih yang sudah reot dan menguning itu. Tidak seperti kamar mandi putri yang berada di lantai tiga, selama sekolah ini berdiri, tidak ada isu-isu mistis mengenai gudang ini. Namun jika melihat tampilannya, tentu orang akan memikirkan hal-hal aneh. Dari kecil, aku sedikit paranoid. Terutama ketika kakak mulai suka menjejaliku film-film horror. Namun seiring bertambahnya usia, kemampuanku mengatasi rasa takut itu juga semakin kuat. Tapi tetap saja.. Aku masih dikategorikan sebagai gadis penakut. Di samping pintu terdapat jendela seukuran kurang lebih 60 x 15 CM. Melalui jendela ini, memungkinkan orang dari luar untuk melihat apa yang ada di dalam gudang. Mungkin OB sekolah mengetahui betapa seramnya gudang ini, sehingga ia selalu membiarkan lampu di dalam tetap menyala. Setelah menarik nafas dalam-dalam, aku mendorong perlahan pintu gudang yang tidak di kunci. Lalu hawa panas dan pengap segera menggerayangi tubuh dan indra penciumanku. Aku menelan ludah. Namun segera mengatur pernafasan agar mengurangi rasa takut ini. Kemudian aku sadar akan sesuatu. Suara siulan, mengalun merdu dari dalam gudang. Seketika bulu kudukku meremang dan jantungku berdebar dengan keras dan cepat. Tanpa sadar, aku sudah melangkah mundur. Siulan itu masih mengalun. Aku menengok ke belakang, tidak ada seorang pun yang melewati koridor ini. Bagaimana pun, aku harus menjalankan amanat untuk menyimpan karton-karton ini di dalam. Baru setelah itu aku akan segera kabur secepatnya. Kepalakulah yang pertama menyembul masuk ke dalam pintu gudang. Mataku tetap menyisir tiap-tiap sisi gudang yang penuh dengan rak-rak besi bagai perpustakaan. Selama itu, siulan tersebut tetap mengalun. Mataku berhenti pada sebuah sepatu yang menyembul dari samping rak. Dari posisi sepatu tersebut, sepertinya itu bukan hanya sekedar sepatu, melainkan sebuah kaki. Perlahan tapi pasti, hantu atau bukan, aku memaksakan diri melangkah masuk dan mengecek siapa gerangan pemilik kaki itu. Semakin mendekat, suara siulan semakin terdengar jelas. Kini aku tau dari mana sumber suara itu. Dengan nafas tertahan, aku mengintip rak besar yang menutupi sosok misterius tersebut. Hingga akhirnya kutemukan seorang murid tengah duduk santai di lantai dengan punggung bersandar di tembok. "Jacob?" Gumamku tidak percaya. Jacob menoleh ke atas dan menatap wajahku datar. Ia menghentikan siulannya. Jacob langsung membuang pandangannya ke tempat lain, lalu melanjutkan siulannya bagai tidak melihat diriku yang masih berdiri di hadapannya dengan tatapan bingung. "Ka.. kau kenapa ada di sini?" Tanyaku ragu. "Bukan urusanmu." Jawabnya singkat. Aku melangkah mendekat sedikit padanya karena penasaran. "Jadi, selama ini kau selalu di sini saat jam istirahat?" Tanyaku lagi. Jacob menatap kedua mataku tajam, lalu menghela dengan berat dan cepat, hingga suara nafas dari kedua lubang hidungnya dapat aku dengar dengan jelas. "Ma.. maaf jika aku membuatmu terganggu. Tapi, di sini kotor dan sangat pengap. Kalau kau mau sendirian, sebaiknya kau ke perpus saja. Di sana sepi dan ada AC." Saranku. Jacob hanya diam. Pandangannya tetap pada tembok bercat putih yang sudah menguning, dan banyak retakan di sisi atas dan bawahnya. Rasanya harga diriku tercoreng karena terus dikacangi oleh Jacob. Hingga aku melihat rak tinggi yang masih kosong di sebelahnya, dan terpikir sebuah ide. "Jacob. Boleh minta tolong, tidak?" Tanyaku pelan. Jacob menatap wajahku, seakan berkata ‘Apa?’ "Ini loh.." Aku menunjukan kantung berisi karton-karton padanya. "Harus di simpan di rak itu, tapi aku tidak sampai." Jelasku sambil menunjuk rak tinggi yang aku maksud. Jacob menghela nafasnya lagi. Lalu ia mengambil kantung dari tanganku dan mencoba meletakkannya di atas rak. Terlihat ia menjinjit sedikit. "Wah.. sampai yah! Kau tinggi sekali sih.. Mungkin 180 CM, ya?” Ujar Hana dengan mengukur tinggi Jacob dengan bayangannya. Kalau dilihat, Jacob lebih tinggi sedikit dari kak Hilman. “Kalau tubuhku pendek.. Sambil melompat pun, aku tidak bisa meletakkan barangnya ke atas sana." Lanjutku sambil tertawa. Tidak aku sangka Jacob mau membantuku. Sangat berbeda ketika bersama anak-anak kelas, ia terlihat sangat tidak perduli terhadap sekelilingnya. Setelah selesai meletakkan katung tadi, Jacob kembali duduk di tempatnya semula. "Makasih ya Jacob." Ucapku. "Oya, kalau di sini terus.. apa kau tidak kelaparan? Mau ikut aku ke kantin?" Tanyaku lagi. "Tidak" jawabnya dengan nada sedingin es. Spontan nafas berat dengan nada kecewa merangsak keluar dari tenggorokan dan rongga hidungku. "Emm.. oke kalau begitu.." Sahutku. "Ohya.. ini untukmu. Hitung-hitung sebagai ucapan trimakasihku karena sudah membantuku barusan. Ini juga bisa mengganjal perutmu." Aku mengeluarkan sebungkus permen nougat rasa vanila dan memberikan padanya. Jacob menatap sebungkus permen kecil itu sebentar, lalu mengambilnya. Aku tersenyum puas. "Oke, aku duluan yah.." Ucapku sambil melangkah pergi. Meski Jacob tidak mengucapkan terimakasih sekali pun, namun ketika ia mau menerima permen pemberianku saja, entah mengapa sudah membuatku senang. Jahat memang jika aku memiliki pemikiran seperti ini. Tapi, aku merasa seperti menemukan seekor anak anjing terlantar dan mencoba memberinya makan. Ketika ia mau menerima dan memakan makanan itu, hati si pemberi pun akan merasa sangat bahagia. Perasaanku mengatkan Jacob adalah anak yang baik. Terkadang aku berpikir, sebenarnya hal apa yang membuat sikapnya menjadi dingin dan aneh seperti itu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN