"Bangun sayang.." Panggil mama sambil menggoyangkan pundakku perlahan berkali-kali.
"Ngg.. lima menit lagi ma.." Jawabku pelan, masih setengah sadar.
"Ini sudah lima menit yang ke empat kalinya loh, Han. Nanti kalau kau terlambat, jangan salahkan mama ya."
"Aduhh.." Gumamku sambil berusaha duduk dengan rasa mengantuk parah.
Samar-samar kulihat mama keluar dari kamarku sambil menghela nafas dan menggelengkan kepalanya atas sikapku. Ia sudah terbiasa menghadapi aku yang susah dibangunkan sejak kecil, namun masih keheranan sampai sekarang.
Sulit sekali rasanya bagun di pagi hari. Entah mengapa, aku seperti berhutang pada dewa tidur, sehingga sangat sulit rasanya untuk terbangun. Meski bisa di bilang waktu tidurku itu sudah cukup.
Setelah mandi dan merapihkan buku, aku segera pergi ke ruang makan. Di sana papa, mama, dan kak Hilman sudah mengisi kursi mereka masing-masing sambil bercengkrama. Seperti biasa, akulah yang selalu hadir paling terakhir di meja makan untuk sarapan.
Sepiring nasi uduk dengan tempe oreg dan telur dadar sudah tersaji di atas piringku. Aku duduk di kursi dan segera menyantapnya dengan lahap.
"Rumah sebelah sudah ada yang mau nempatin, ya ma?" Tanya papa.
"Kelihatannya sih begitu, pa. Sudah empat hari ini rumah itu di renovasi sedikit. Seperti di bersih-bersihkan gitu.." Jawab mama.
"Bagus deh jika akhirnya rumah itu akan ditempati." Sela kak Hilman sambil mengunyah bakwan udang.
"Kok ada bakwan? Mana bakwannya?" Tanyaku sambil mengamati piring-piring yang ada di meja makan.
"Yaampun kakak.. itu kan jatahnya Hana. Kok dimakan sih? Kau kan sudah makan empat tadi!" Tegur mama.
"Aku lapar, ma. Lagi pula si Hana kan badannya kecil, tidak mungkin makan banyak-banyak." Jawab kak Hilman enteng.
"Ih! Kakak mah nyebelin ya orangnya!" Kataku kesal, lalu dibalas dengan senyuman mengejek darinya. Dasar sigung tidak tau malu!
"Oya kakak.. Kenapa tadi kakak bilang, bagus kalau rumah sebelah sudah ada yang menempati?" Tanya mama. Sekalian mengalihkan pembicaraan agar kedua anaknya tidak berlanjut bekelahi.
"Iyalah ma.. Si Hana kan sering ketakutan tidak jelas, karna rumah itu kosong. Biasalah.. paranoid." Jawab kak Hilman sembari memberikan lirikan sinis untuk menyindirku.
“Bagaimana aku tidak takut? Kalau dinding kamarku sangat menempel dengan dinding rumah itu. Bahkan saat ada kucing berkelahi di rumah sebelah, suaranya sampai terdengar sangat jelas di kamarku, ma. Coba saja kakak bertukar kamar denganku, pasti dia akan ketakutan juga." Jelasku, kesal.
"Sok tau kau, dek! Aku mah bukan penakut seperti dirimu!" Jawab kak Hilman.
"Aku buk.."
"Sudah-sudah! Masih pagi sudah berkelahi saja. Sana kalian berangkat, nanti terlambat baru tau kalian ini!" Potong ayah.
Masih dengan bibir manyun, aku mencium pipi mama dan papa lalu mengenakan ransel dan jaket sambil berjalan keluar rumah.
Kakak mengikutiku dari belakang, lalu tiba-tiba meremas leher belakangku.
"Aa!! Ma!! Si kakak nih!!" Pekikku kesal.
"Kakak!" Teriak mama dari dalam rumah.
Kak Hilman tertawa lepas sambil menjulurkan lidahnya padaku lalu segera berlari ke ujung g**g. Andai saja aku mempunyai kekuatan seperti penyihir, sudah pasti aku akan menyihir kak Hilman menjadi kodok sejak dulu.
Kak Hilman selalu menggangguku sejak kecil. Beda umur kami hanya satu tahun, sehingga dulu kami selalu dibilang kembar oleh orang-orang. Namun sekarang, kak Hilman sudah tumbuh menjadi laki-laki setinggi 178 cm, meninggalkanku yang hanya 162cm. Semakin tinggi tubuhnya, semakin banyak ejekan dan gangguan yang ia lontarkan padaku.
Meski di sekolah aku adalah sosok Hana yang baik dan dewasa, tapi di rumah aku hanyalah si gadis bungsu yang manja dan sering di ganggu oleh kakaknya.
***
Ms Jasmine menyudahi kelas saat bel istirahat berbunyi.
"Trimakasih, Ms Jasmine!" Seru kami sambil berdiri, memberi hormat.
Kurang dari lima menit, kelas hampir kosong oleh murid-murid yang pergi ke kantin, atau pun bermain di lapangan.
Terdengar perutku mulai berbunyi. Segera aku membereskan buku-buku yang berserakan di mejaku, dan tidak sengaja menyenggol kotak pensilku sendiri hingga terjatuh dan menumpahkan isinya yang kini berserakan di lantai.
"Hahhh!" Gumamku sebal, segera merapihkan isi kotak pensil yang cukup banyak itu.
"Kami duluan ya, Han! Sudah lapar sekali nih.." Seru Mirna sambil memandangiku yang sedang sibuk sendiri, lalu menggelengkan kepalanya heran.
"Teman yang baik ya kau! Bukannya membantu tapi malah meninggalkanku. Yasudah, nanti aku menyusul. Tolong pesankan saja, bubur bang ndut untukku." Kataku dengan nada sebal.
"Okeh bos!" Jawab Mirna sambil terkekeh, lalu melangkah keluar bersama Ratna.
Akhirnya aku menemukan penghapusku yang berbentuk strawberry dan beraroma strawberry yang dari tadi menghilang. Ternyata benda tersebut terjatuh di kolong meja Jacob.
Aku merangkak ke dalam kolong meja Jacob. Lalu mengambil penghapus yang tidak pernah aku gunakan untuk menghapus itu, di samping kaki meja.
Segera aku merangkak mundur lalu berusaha berdiri dengan terburu-buru. Karena lupa sedang berada di mana posisiku sekarang, akhirnya "BRAKK!!" Kepalaku terbentur meja dengan keras.
"Auu! Aduhh!" Aku merintih sambil menggosok bagian belakang kepalaku yang terbentur.
"Ada apa Hana?" Tanya Ms Jasmine yang masih memeriksa tugas kami di mejanya.
"Ti.. tidak, Miss.. kepala saya terbentur meja barusan." Jawabku, masih menggosok kepala dalam posisi merangkak.
"Makanya hati-hati, Hana.." Kata Ms Jasmine lagi.
"I.. iya Miss."
Ketika hendak kembali berdiri dengan hati-hati. Tiba-tiba mataku melihat sebuah buku tulis yang terbuka dan sebuah pensil tegeletak di lantai.
Sepertinya itu adalah buku milik Jacob yang terjatuh dari mejanya ketika kepalaku membentur bawah mejanya barusan.
Di sampul buku itu, terukir kecil nama pemiliknya "jacob". Benar, buku itu adalah milik Jacob.
Aku tau ini salah. Tapi rasa penasaranku kepadanya membuatku dengan lancang, diam-diam membuka halaman-halaman buku tersebut.
Setelah aku lihat-lihat.. Di sini hanya ada catatan pelajaran ekonomi yang selama ini diberikan kepada kami oleh Ms Jasmine. Tidak ada yang spesial.
Tapi, aku sungguh tidak bisa menahan diri untuk melihat halaman terakhir yang biasanya digunakan oleh kebanyak siswa untuk mencorat-coret dikala bosan menyerang saat jam mata pelajaran.
Benar sekali! Terang saja, lima halaman dari belakang, sudah penuh oleh coretan-coretan.
Anehnya, coretan itu terlihat sangat tidak jelas. Maksudku, itu bukanlah tulisan kalimat atau kata-kata bijak, bukan gambar kartun, atau angka-angka.
Dia menggambar garis-garis aneh. Jika dilihat dengan teliti, seperti gambaran retakan pada tembok. Ada juga beberapa huruf yang ditulis dengan aneh. Jika aku lihat dengan seksama, huruf yang selalu ia tulis adalah huruf B, K, dan D.
Jadi ini adalah hal yang selama ini Jacob kerjakan? Di saat ia sibuk dengan dunianya sendiri sehingga mengabaikan sekelilingnya.