Bab. 20 Mengenal Lebih Jauh

1911 Kata
Saya tak lagi bisa berkata apa-apa melihat mama benar-benar agresif terhadap Galang. sikap Mamah ini menunjukkan sekali dia mengharapkan Galang seharusnya Mama jangan bersikap seperti itu. Yang ada nanti Galang merasa dirinya sudah diterima duluan. Saya itu ingin seorang laki-laki harus berjuang untuk mendapatkan hati saya kalau dia memang mau sama saya, bukan dengan saya yang malah mengemis-ngemis kepada seorang laki-laki. Dan mama, seharusnya bisa menunjukkan wibawanya juga. "Nak, Galang, pagi-pagi begini datang ke mari? Ada apa?" tanya Mama dengan nada lembut nya tidak seperti bagaimana mama bicara sama saya seperti tadi. Melainkan sampai tubuh saya digeser sama mama sehingga saya berada di posisi di belakang Mama. "Oh, gini Tante, saya niatnya mau jemput Nayla, mau nganterin Nayla kerja Tante. Soalnya kemarin malam itu, saya sempet nanyain Nayla, kesibukannya apa hari ini. Cuman, pas tahu Nayla mau kerja, saya jadi berinisiatif mau jemput dia, mau nganterin dia kalau boleh," ungkap Galang sama sekali saya tak kepikiran kalau dia mau mengantarkan saya ke tempat kerjaan saya. Memang, kemarin Galang sempat bertanya tentang kesibukan saya di hari itu, cuman saya nggak ada pikiran kalau dia mau mengantarkan saya ke tempat butik saya sendiri dan dia juga tidak mengabari saya sama sekali. Seharusnya dia menghubungi saya dulu jika punya niatan untuk mengantarkan saya ke tempat kerja. Bukannya malah yang dia tiba-tiba saja datang ke rumah saya dan langsung mengutarakan niatnya kepada Mama saya. Begitu Mama mendengar alasan dari Galang mengapa dia bisa datang ke rumah kami, mama langsung menatap saya dengan senyuman semringah, wajah yang berseri-seri, dan menandakan dia itu sangat bahagia sekali dapat tahu, Galang yang berinisiatif menjemput saya. Dan bukan malah seperti tadi ketika bagaimana mama menyuruh-nyuruh saya untuk menghubungi Galang supaya datang ke rumah dan mengantarkan saya ke tempat kerja. Saya tahu apa yang akan mama katakan nantinya.  "Oh, Nak, Galang mau anterin Nayla kerja? Boleh, silakan, silakan. Mobil Nayla juga masih di bengkel," seketika itu juga mata saya membulat sempurna, mama telah bicara bohong sama Galang, "Tante nggak mau dia naik taksi, takut kenapa-napa. Soalnya, kan, zaman sekarang itu, udah serem, ya, suka terjadi bahaya di mana-mana. Nah, Tante itu nggak mau anak Tante itu nanti kena bahaya, makanya tante agak posesif sekali sama Nayla. Tapi bagus lah, kan, Untungnya Nak Galang mau anterin anak Tante. Tante percayakan Nayla sama kamu, ya. Nak Galang tolong dijagain Nayla sampai ke butik dia ya, tapi kalau nanti mau anterin Nayla pulang juga nggak apa-apa. Boleh sekalian mampir ke rumah," cerocos mama tak sama sekali memberikan kesempatan untuk Galang berbicara atau bahkan diri saya untuk membantah ucapan mama. Astaga! Mama ini sampai meminta Galang segala untuk mengantarkan saya pulang ke rumah, padahal saya saja belum mengatakan apa-apa sama Galang, jelas saya tidak enak lah. "Oh, boleh, Tante. Nggak apa-apa, nggak masalah. Nanti saya luangkan waktu saya buat menjemput Nayla di butik, ya," bales Galang lagi menyetujui yang dikatakan sama mamah. Tentu saja dia akan mengikuti apa yang mama bilang dan tidak mungkin menolaknya. "Tapi Tante merepotkan, ya? Nak Galang pasti lagi sibuk banget," seru mama lagi sok-sok-an dia merasa tidak enak hati pada Galang yang sebenarnya saya tahu kalau mama hanya berpura-pura saja.  "Enggak masalah Tan. Saya, kan, juga memang mau kenal dekat sama Nayla dan mau kenal dekat juga sama keluarga Tante. Niat saya baik, kok, dan saya juga nggak merasa direpotkan karena memang ini keinginan saya juga," terang Galang semakin membuat Mama tentu saja merasa berada di atas awan-awan. Mama merasa ada kesempatan dan peluang besar, tentu mama akan mengizinkan Galang untuk mendekati saya. Saya sebenarnya tidak mempermasalahkan Galang untuk dekat sama saya. Tapi saya ingin punya cara saya sendiri bukan bagaimana yang Mama berusaha mendekatkan Galang dengan saya. Galang harus berjuang dengan sendirinya. "Ya, udah, Nayla, cepetan sana. Galang mau kerja. Nanti dia terlambat lagi," titah mamah kemudian saya mengikuti Galang masuk ke dalam mobilnya setelah itu kita pergi ke tempat tujuan. "Kenapa kamu nggak hubungi lebih aku dulu?" tanya saya dingin. "Kamu, kan, udah punya nomor w******p aku," sambung saya kemudian. "Iya, sebenarnya aku mau hubungi kamu, sih, cuman takutnya nanti malah kamu menolak ajakan aku. Jadi, daripada itu, mending aku langsung aja ke rumah kamu, ya, kan? Dan terbukti, mama kamu juga mengizinkan aku untuk anterin kamu ke butik," jelas Galang yang ternyata pintar juga dia. "Nggak ada yang marah, kan, kalo aku deketin kamu?" tanya dia lagi. Saya menoleh sekilas padanya dan berdeham singkat. Galang tiba-tiba saja bersorak riang seraya salah satu tangannya meninju udara. Perbedaan yang sangat mencolok Saya rasa melihat antara Galang dan Ryan. Ryan itu menunjukkan sisi dewasanya dan juga sisi calmnya. Dia laki-laki yang tenang pembawaannya berbeda halnya dengan Galang yang sosoknya itu periang dan juga ramai. Tapi kalau dilihat-lihat keduanya memiliki vibes yang positif.  Mobil kami berhenti di lampu lalu lintas. Saya memainkan HP saya sebentar untuk membuka sosial media. Tiba-tiba saja lagi asyik-asyiknya saya bermain HP, seseorang mengetuk kaca mobil di sebelah saya. Ada seorang anak kecil yang membawa kaleng untuk mengemis-ngemis. saya paling malas kalau sudah berhadapan sama pengemis, jadi saya abaikan saja dan sibuk kembali bermain HP. Namun, Galang tiba-tiba saja mengeluarkan uang dan dia memajukan tubuhnya ke arah saya. Dia membukakan jendela lalu memberikan uang tersebut kepada anak tadi. Setelah ia kembali ke tempatnya, saya menatapnya dengan bingung dan tidak suka dengan sikap dia yang seperti tadi. "Kenapa kamu kasih uang tadi itu ke anak itu?" tanya saya agak kesal sebenarnya memang tidak masalah karena itu hak dia, cuman ada hal yang memang tidak saya sukai saja. "Memangnya kenapa Nayla?" tanya Galang balik. "Iya," saya mulanya agak ragu mau mengatakannya tetapi karena Galang terlihat sangat penasaran dan terus terus menatap saya, akhirnya saya jawab saja yang sejujurnya. "Iya, harusnya kamu nggak perlu kasih uang tadi itu ke anak itu. Anak itu cuma diperalat sama orang yang dewasa saja supaya mereka bisa mendapatkan uang. Lagian, orang tua mana, sih, yang membiarkan anaknya itu mengemis di jalanan, apalagi dia itu masih kecil dan seharusnya dia itu ada di sekolah. Bukannya berada di jalanan dan minta-minta uang ke pengendara yang berhenti di lampu lalu lintas," jelas saya agak emosi membayangkan anak-anak itu nantinya akan memberikan uang tersebut kepada orang-orang yang mempekerjakan mereka. Saya bukannya pelit atau bagaimana, tetapi saya tidak mau saja mengeluarkan uang saya untuk hal yang cuma-cuma doang dan orang lain mendapatkannya dengan senang hati. "Mungkin memang banyak ya anak-anak yang dieksploitasi oleh orang-orang dewasa untuk mendapatkan uang," mobil kembali melaju ke tempat tujuan saya, "tapi, kan, Nay, banyak juga anak-anak yang terpaksa harus mengemis supaya mereka bisa mendapatkan uang," ujar Galang. Saya tidak bersimpati sama sekali untuk hal itu. "Itu salah orang tuanya mereka yang tidak mampu untuk menyekolahkan mereka, yang tidak mampu untuk memberikan mereka kehidupan yang layak," balas saya emosi. Saya itu bukan emosi kepada Galang melainkan saya emosi bila mengingat kehidupan saya di masa lalu itu benar-benar susah. Saya juga pernah terkadang membenci dengan orang tua saya yang tidak mampu menyekolahkan saya sehingga saya harus berjualan sama Oma untuk kehidupan kami di Manado, lalu juga saya harus terpaksa sekolah di luar kelas dan mendengarkan guru menjelaskan materi tanpa saya bisa merasakan apa yang dirasakan oleh anak-anak sekolahan pada saat itu. "Nayla, Kita nggak bisa memaksakan pemikiran kita pada keadaan orang yang tak sama dengan kita," kata Galang lagi yang tak sepemikiran sama saya. Saya berdecih pelan. "Kamu pernah nggak, sih, merasakan hidup susah lalu kemudian kamu juga diasingkan karena kamu memiliki kekurangan pada fisik kamu atau apapun yang ada di dalam diri kamu?" tanya saya emosional. Kadang orang itu bisa mengatakan apapun, bisa mengatakan hal-hal yang bijak, tetapi dia tak pernah merasakan apa yang dirasakan oleh orang yang sedang dia berikan masukan.  "Aku nggak pernah," jawab Galang, salah satu sudut bibir saya menarik, membentuk senyuman sinis. Saya membuang pandangan saya keluar jendela. "Tapi, aku pernah yang namanya diajarkan untuk hidup sederhana Nay, dan berbagi ke sesama. Walau aku nggak pernah yang namanya merasakan kesulitan yang dirasakan oleh anak-anak itu, tetapi di dalam diri aku ini, aku kepengen bisa membantu banyak hal untuk siapapun," kata Galang yang saya respon lagi sampai kami berada di depan butik saya. "Aku makasih, ya, kamu udah nganterin aku sampai tempat kerja aku ini," ucap saya yang direspon senyuman tulus oleh dia. "Nanti makan malam mau nggak?" tawar dia. Sejauh ini saya mengenal dia, dia memang orang yang baik dan saya tidak ada alasan untuk menolak ajakan dia karena itu juga saya melanjutkan pertemuan saya berikutnya sama Galang. Di malam hari kami pergi untuk makan bersama ke tempat angkringan. Biasanya, cowok-cowok yang mengajak saya jalan itu bakalan membawa saya pergi ke tempat-tempat restoran yang mahal. Tapi untuk ukuran Cowok seperti Galang yang notabene dia memiliki jabatan bos di perusahaannya malah mengajak saya ke tempat yang sederhana-sederhana saja. Saya diajak makan ke tempat emperan gitu. Saat itu saya merasa tidak etis saja, masih belum merasa nyaman, masih belum terbiasa diajak makan sama cowok ke tempat yang seperti itu sedangkan dia memiliki banyak uang dan bisa saja membawa saya ke tempat yang lebih baik dari yang kami datangi ketika itu. "Kamu suka gak makan di sini?" tanya Galang pada saya. Dulu saya juga pernah diajak makan sama Oma tapi itu dulu. Saat itu hati saya memang masih keras-kerasnya. Saya melupakan bagaimana caranya hidup dengan sederhana seperti yang pernah diajarkan oleh Oma. Jadi, ketika waktu saya diajak makan ke tempat yang tidak selevel dengan saya itu saya merasa agak gimana gitu, ya? Apalagi cowok-cowok yang pernah pacaran sama saya itu pasti selalu memberikan yang terbaik untuk diri saya, pasti selalu berusaha untuk memberikan sesuatu yang wah, yang megah karena ingin memberikan yang spesial untuk diri saya. Jika dulu Mahesa pernah membawa saya ke tempat-tempat yang sederhana, oke, saya masih mewajarinya karena dari finansial, dia belum bisa menghasilkan. Tetapi keadaannya saat itu berbeda karena saya berhadapan dengan seorang bos besar. Dia itu orang kaya harusnya dia bisa membawa saya ke tempat yang tidak seperti itu. "Nay, aku suka banget makan di emperan. Tau nggak, sih, rasanya itu vibesnya beda aja daripada kita makan di kafe, restoran atau pokoknya tempat-tempat yang elitlah. Tapi di sini itu enak, berbaur jadi satu gitu orang-orangnya. Ramai sih tempat yang menjadi kunjungan saya sama Galang. "Eh, tapi kamu belum jawab pertanyaan aku, loh? Kamu suka enggak aku ajak makan di sini? Nyaman nggak? Aku harap kamu nyaman ya, soalnya udah biasalah, ya, kalau makan di tempat yang mahal-mahal terus. Kadang, sesekali gitu kita makan di tempat yang seperti ini, di emperan. Itu lebih seru, sih, kalau menurut aku, lebih leluasa juga buat ngobrolnya," terang Galang sambil melihat kesana-kemari yang ada di sekitaran tempat kami duduk. bagaimana saya mau menjawab atau mengutarakan perasaan saya tentang pertanyaan dari Galang? Dia saja terus berbicara tanpa memberikan saya kesempatan untuk bersuara. Saya jadi lebih memilih untuk menyimpannya saja dan memendam apa yang tak perlu harus saya utarakan kepada dia di sini. Lagian seharusnya Galang itu bisa peka melihat reaksi saya yang tidak benar-benar menyukai tempat emperan. Bila diingat-ingat, dulu saya pernah merasa sangat antusias diajak ke tempat yang tidak terlalu wah oleh Mahesa. Cuman bagaimana, ya namanya juga manusia, terkadang suka berbeda-beda pola pikirnya. apalagi dulu itu mungkin saya lebih ke arah memaklumi keadaan Mahesa ya walaupun Mahesa tidak menunjukkan betapa kesulitan dia untuk berusaha mengimbangi diri saya, tetapi dia memiliki nilai poin plusnya karena saya bisa merasa sangat nyaman dekat dengannya dari bagaimana Mahesa memperlakukan saya dan sabar dalam menghadapi sifat saya. Tetapi ini lain halnya dengan Galang dan keadaannya juga sangatlah berbeda, jadi tidak bisa dibandingkan dengan mantan saya yang satu itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN