Bab. 21 Tak Akan Bisa Terulang

3402 Kata
"Nay, aku mau tanya, deh, sama kamu. Soal pertanyaan kamu yang tadi siang itu," ucap dia menarik perhatian saya untuk mengangkat pandangan saya padanya. "Kamu nanya kayak gitu ke aku, emangnya kamu pernah ya yang namanya ngerasain kehidupan yang susah?" tanya dia. Sejujurnya saya tidak pernah mau menceritakan kehidupan kesulitan saya di masa lalu kepada orang siapapun itu. Buat saya, untuk apa menceritakan kesulitan kita kepada orang lain yang belum tentu, orang lain bisa merasakan apa yang ada di posisi kita ataupun bisa membantu kesulitan kita untuk teratasi. "Aku sebenarnya nggak terbiasa menceritakan tentang kesulitan hidup ya ke orang lain. Karena biasanya orang itu hanya mau tahu saja tapi dia nggak bakalan bisa merasakan apa yang kita rasakan. Ya, ibarat kata cuma kepo aja. Hanya mau tahu," sindir saya lalu saya kembali melanjutkan aktivitas makan saya. Saya itu memang cukup emosional kalau mengingat-mengingat yang ada di masa lalu saya itu. Tidak tahu kenapa, saya itu jadi teringat kekurangan fisik saya yang cacat di mata kiri saya yang harus buta lalu kehidupan kesulitan ekonomi saat dulu dan bagaimana keluarga saya yang lebih memilih tidak mengajak saya untuk ikut sama mereka ke pulau Jawa sana, karena apa yang dikatakan Kak Shena, saya hanya akan merepotkan dan menjadi beban untuk mereka.  "Eh, loh, loh, Nay, kamu jangan mikir kayak gitu. Bukannya aku itu mau kepo sama kehidupan kamu, cuman ya anggap saja, kita sharing, nggak ada salahnya Lo kadang, kita menceritakan bagian dari kehidupan kita. Hal pahit itu yang justru bisa menjadi pelajaran untuk seseorang yang mendengarnya. Entah apa hikmah yang bisa dipetik dari cerita itu. Kalau aku jujur, ya, aku suka sekali mendengarkan cerita bagian dari kehidupan seseorang, siapapun itu pokoknya. Karena bisa menjadi guru untuk mengajarkan aku akan sesuatu hal yang memang belum bisa aku rasakan. Tetapi ketika aku nanti berhadapan langsung dengan kesulitan itu, aku bisa jadi tahu rasanya itu dan bagaimana cara untuk menghadapinya," tutor Galang yang saya lihat dari matanya itu sangat bersungguh-sungguh. Dia memang orang yang suka belajar dari pengalaman siapapun yang dia dengar. "Kamu mau tahu enggak, aku itu sering banget ngajak ngobrol sama banyak orang. Aku berbaurnya sama orang-orang yang biasa-biasa saja, yang enggak punya apa-apa Nay. Aku lebih suka berbaur sama orang-orang dengan pekerjaan yang mohon maaf, finansialnya itu kadang masih belum tercukupi untuk kebutuhan mereka sendiri cuman hebatnya berapapun yang mereka dapatkan itu bisa membuat mereka merasa bersyukur. Pokoknya, berapapun itu hasilnya yang mereka dapatkan dari pekerjaan mereka itu pasti mereka terima dengan ikhlas gitu, yang kadang sulit bagi kita untuk lakuin itu, ya, kan?" Saya terus saja mendengarkan Galang berbicara. Banyak hal yang dia katakan dan di dalam logika saya sendiri rasanya itu sangat mustahil bila saya berada di posisi yang ada seperti orang-orang yang dia bicarakan. Bagaimana kehidupan bisa tercukupi dengan finansial yang sedikit? Saya pernah hidup dalam keadaan susah dan rasanya itu benar-benar sulit. Untuk segala hal selalu tertinggal dari yang lainnya. Bingung harus ke mana untuk mencukupi kebutuhan hidup yang tidak ada habis-habisnya.  "Tetapi hidup itu realistis aja Galang. Semakin kebutuhan banyak semakin finansial itu harus juga tinggi nominalnya. Enggak bisa hanya mengandalkan sekian, sekian, dan sekian. Kita juga perlu yang namanya buat perencanaan untuk berjaga-jaga di saat kondisi yang tidak bisa kita tebak. Enggak mudah untuk hidup susah itu," ucap saya dengan tersenyum sinis. Karena saya ragu akan akan Galang, membayangkan bagaimana dia nanti bisa hidup beradaptasi dalam keadaan yang belum pernah dia rasakan. "Kamu bisa bicara soal rasa syukur, kamu bisa bicara soal ini dan itu, tapi kamu tidak pernah tahu rasanya hidup susah itu gimana. Mungkin kamu bakalan nggak bisa sanggup untuk menjalani kehidupan yang seperti itu. Ketika kamu tidak punya uang kamu enggak bakalan bisa ke club. Merayakan apapun itu di tempat-tempat yang kamu berpikir bisa untuk bersenang-senang," papar saya seraya menaikkan kedua alis saya. Saya benar-benar meragukan akan Galang. Saya yakin dia tidak akan bisa melewati masa-masa sulit seperti yang pernah saya rasakan atau seperti orang-orang yang pernah dia temui, yang pernah diajak sharing tentang soal kehidupan. "Well. Kenapa kamu bisa bicara kayak gitu Nayla? kamu nggak bisa menjudge aku begitu aja. Apalagi, kamu belum mengenal aku begitu dalam," tutur ia. "Tapi nggak masalah, aku malah seneng karena aku bisa tahu bagaimana kamu menilai aku dan kamu tahu nggak? Kamu itu bikin aku jadi tambah penasaran sama kamu. Aku kepengen banget kenal kamu lebih dalam lagi. Aku serius banget Nay sama kamu," ungkap dia. ternyata Galang bukan tipikal Laki-laki yang gampang tersinggung apalagi baperan sama yang saya ucapkan karena kebanyakan juga, laki-laki ada yang tidak tahan karena omongan saya itu suka bikin tersinggung perasaan mereka. Saya kadang berbicara tanpa hati, saya berbicara dengan logika saya sendiri. Dan apapun itu, saya selalu mengatakannya dengan jujur tanpa harus berpura-pura manis di depan siapapun. Saya selalu mengatakan sesuatu hal itu dari logika saya dan saya tidak pernah memikirkan perasaan seseorang. Saya rasa saya tidak punya tugas untuk menjaga perasaan siapapun. Itu adalah perasaan mereka yang memang sudah jadi tugas mereka yang harus bertanggung jawab.  * Saya sama Galang semakin hari semakin intens saja, mengawali semuanya dari komunikasi. Galang ternyata punya perkebunan yang ada di Liwa yang ada di daerah Lampung Barat. Saya memang tinggalnya di ibu kota Bandar Lampung. tetapi saya tidak pernah yang namanya berkunjung ke berbagai daerah Lampung yang ada di kabupaten ataupun yang ada di pesisir. Dan saya mendapatkan kesempatan untuk pergi berkunjung ke Liwa. Saya sama Galang menyempatkan waktu kita untuk berlibur sebentar sembari sebenarnya, Galang itu bertujuan ke Lampung untuk mengecek perkebunan kopinya. Dia sudah lama tak berkunjung ke sana. Fakta lain yang saya dapati adalah ternyata Galang juga memiliki perusahaan ekspor sendiri dan dia yang membangun semuanya itu dari nol. Kalau untuk urusan bisnis yang lain memang semuanya berasal dari orang tuanya. Perusahaan yang dia miliki itu mengekspor kopi, cengkeh, coklat, dan lain-lainnya. Intinya dengan sejenis rempah-rempahan yang diekspor ke luar negeri. "Harga pupuk makin naik Pak?" tanya Galang kaget di tengah-tengah perbincangan mereka. Saya dari arah belakang Galang mengikuti mereka berdua menyusuri perkebunan kopi. "Iya Mas kadang suka nggak menentu harga itu di pasaran. Kalau petani-petani di sini juga pada bingung, sama aja Mas. Sayur, beras pada mahal semua pada naik. Imbasnya nanti lari ke pupuk juga bisa naik harga, kadang bisa langka juga Mas. Belum lagi konsumen itu pada protes kalau lagi pada naik-naiknya bahan baku. Sedangkan untuk para petani juga, kalau harga turun itu semua drastis. Iya, kita juga sama aja menjerit Mas. Apalagi kalau memang udah gagal panen, tuh, Mas, waduh parah. Udah, bukannya jadi untung malah jadi buntung," jelas pak Harto sebagai yang dipercayakan untuk mengurus perkebunan dari Galang. Untuk persoalan permasalahan dalam pertanian itu sudah bukan hal asing lagi. Memang saya juga tahu permasalahan yang dihadapi oleh para petani. Bisa dari harga pemasarannya, permasalahan pupukz juga bisa dari permasalahan lahan yang tidak banyak tersedia untuk para petani. Imbasnya lagi juga bisa ke lahan kehutanan yang seharusnya itu dilindungi tetapi dipakai untuk lahan pertanian. Seharusnya itu telah melanggar peraturan dari pemerintah bahwasanya kawasan hutan itu tidak bisa untuk digunakan sebagai lahan pertanian karena memang sudah ada porsinya masing-masing dan juga sudah memiliki batasannya. Semuanya memang perlu menunggu kebijakan dari pemerintah dan juga bagaimana masyarakat juga ikut bekerja sama dalam mengatasi permasalahan yang ada. Sehingga ditemukannya suatu solusi di antara para petani dan juga para konsumen supaya tidak memberatkan satu sama lainnya dan semuanya sama-sama dapat merasakan bahan pokok itu sesuai dengan porsi mereka masing-masing. Kemudian saya diajak sama Galang untuk pergi berkunjung ke Danau Ranau yang ada di daerah Liwa. Kita datang ke sini karena ingin menikmati suasana udara yang sejuk. Jauh dari perkotaan. Melihat danau saya teringat rumah yang ada di Manado. Saya teringat ketika saya bermain dengan teman-teman saya di danau yang ada di dekat rumah saya. Melihat ada gunung-gunung dan perbukitan di sekitaran danau saya juga teringat ke masa lampau ketika saya pergi berburu ke gunung, kadang juga pergi untuk mencari kayu bakar sama oma. "Kamu melihatnya pemandangannya kelihatannya kayak suka, ya? Apa jangan-jangan kamu suka kalau aku ajak kamu datang ke sini? Kalau suka, nanti lain kali kita main ke sini lagi aja, mau?" tawar Galang yang seolah memperlakukan saya seperti anak kecil. Saya terkekeh mendengar kata-kata dia. "Bukan hanya tentang suka saja melihat pemandangan yang ada di sekitar sini, tapi aku jadi teringat sama rumah yang ada di Manado. Aku rindu sekali sama Oma. Kesibukan aku jadi buat aku itu jarang untuk pergi ke sana," jelas saya jujur dan kali itu saya mengungkapkan perasaan saya di hadapan Galang. Saya pernah menciptakan suatu momen di mana untuk menyatukan keluarga saya, untuk menyatukan anggota-anggotanya supaya kita bisa berkumpul bersama tetapi saya melupakan bahwa ada satu anggota yang terasingkan, yang terlupakan juga yaitu oma. Saya melupakan dia dan saya menyesali akan kesalahan saya untuk yang satu itu. Seharusnya saya bisa membawa Oma datang ke ke Jakarta, tinggal bersama kami dan bukannya malah meninggalkan oma di Manado selama bertahun-tahun lamanya. Bahkan untuk menyempatkan waktu buat Oma saja saya tidak bisa. Kenapa saya menjadi manusia yang berubah sekali dari saya ketika kecil. Apakah Oma masih mengenali cucunya yang satu ini? Yang pernah dirawat olehnya ketika dia buta. Saya telah membuat kesalahan. Kesibukan memang benar-benar membuat saya lupa dengan oma saya sendiri belum lagi dengan soal permasalahan dalam percintaan saya. Saya tidak bisa memberikan waktu yang spesial untuk Oma. "Dan di tempat ini membuat saya ingin pulang. Pulang ke rumah saya di Manado," kata saya kembali dengan mata yang berkaca-kaca. "Kalau memang kamu merindukan rumah kamu, kenapa kita tidak pulang saja ke Manado? Kita berkunjung ke Manado?" Dengan perlahan-lahan saya menoleh kepada Galang. Saya terlalu sibuk dengan dunia saya sendiri sehingga saya melupakan orang-orang terkasih saya. Saya mengejar sebuah kesempurnaan tetapi mengapa sampai saat itu saya tidak menemukan yang namanya kebahagiaan? Justru yang ada di hati saya malah merasakan sebuah kehilangan. Tak bisa sayang Kalau saya itu memang bingung sekali dengan apa yang sebenarnya saya pilih di dalam kehidupan saya. Apa yang sebenarnya saya cari di dalam kehidupan saya? Saya tak mengerti jalannya. Apakah logika saya ini benar-benar menyesatkan diri saya? * Dari keluarga saya pun juga tidak ada yang mengingatkan tentang Oma, tidak ada yang pernah membahas soal Oma, semuanya sibuk dengan masing-masing, begitupun juga dengan diri saya. Saya memutuskan untuk pergi ke Manado bersama dengan Galang akhirnya. "Apa Kalian sering berkunjung ke Manado setiap hari perayaan natal?" tanya Galang ketika kami berdua berada di dalam pesawat. "Kita sangat jarang pulang ke Manado," jawab saya sambil memandangi pemandangan di luar jendela. "Kadang kita merayakan perayaan natal di luar negeri. Rutinitas setiap perayaan natal kita memutuskan untuk pergi ke luar negeri. Ke negara-negara yang ingin kami kunjungi. Itu juga jadi kesalahan saya karena terlalu hanyut dengan apa yang sudah direncanakan oleh keluarga saya sendiri dan saya tidak pernah bisa menentang mereka. Dan kalaupun saya mengutarakan pendapat saya tidak akan ada yang mau mendengarnya juga. Saya tipe orang yang paling malas berdebat apalagi dengan keluarga saya sendiri. Dari dulu saya selalu menuruti apa kata orang tua saya. Dan saya selalu mengabaikan keinginan saya. Cuman saya tahu, kalau itu akan menjadi kesalahan saya terhadap oma saya sendiri karena saya juga jadi terlihat tidak peduli dengan keadaan Oma." Kemudian saya menoleh pada Galang yang ternyata masih memandangi wajah saya. "Kesalahan kami adalah tidak pernah menjenguk Oma. Jangankan menjenguk, kita saja tak pernah memberikan kabar kepada Oma dan menanyakan kabar Oma. Oma pasti merasa dilupain sama saya dan keluarga saya. Oma pasti merasa tidak ada yang mempedulikan dia," ujar saya terus berbicara dengan isi hati saya yang ingin sekali meluapkan apa yang menjadi ganjalan di dalamnya. Bahkan saya pun membayangkan wajah Oma ketika saya mengungkapkannya kepada Galang.  Saat saya masih kecil, saat di mana akhirnya saya jauh pada keberadaan oma, saya selalu menghawatirkan keadaan oma dan selalu membayangkan kesendirian Oma tanpa keluarga, tanpa kami, tanpa siapapun yang menemani Oma di rumah sana. Dia hidup seorang diri, sebatang kara, saya masih sangat mengkhawatirkan keadaan Oma dan masih menangisi Oma yang saya tinggalkan. Saya kesal dengan diri saya karena tak bisa membawa oma untuk ikut bersama kami ke Jakarta saat itu. Saya sama sekali tak peduli dengan Mama yang selalu memarahi saya karena saya menangisi sesuatu hal yang tidak penting menurut Mamah, tetapi tidak untuk diri saya.  Kenapa saya begitu bodoh hingga tidak menyadari kesalahan saya? "Kehidupan aku, aku habiskan di Australia. Aku sibuk untuk merintis usaha aku bahkan ketika sampai di Indonesia pun, aku masih sibuk dengan pekerjaan aku, sampai aku merasa tidak ada waktu yang cukup, sampai aku merasa, 24 jam itu tidaklah cukup buat aku untuk menjalani rutinitas untuk semuanya dan aku tak pernah lagi memikirkan soal Oma. Aku melupakan semuanya. Entah bagaimana oma akan memandang diri aku ketika aku datang untuk menemui Oma?" Saya tak harusnya bertanya dengan Galang namun saya hanya ingin mengatakan hal itu saja untuk membuat saya merasa puas di dalam diri agar tidak ada lagi yang tertahan. Rasanya sangat melelahkan untuk memikirkan rasa bersalah saya dan juga ketakutan saya akan Oma terhadap diri saya. "Nayla," panggil Galang. Saya memandang sendu padanya. "Justru Oma kamu bakal merasa senang banget karena salah satu cucunya datang untuk menjenguk dia," kata dia dan saya tahu itu hanyalah sebuah kata-kata untuk menghibur diri saya saja supaya saya tidak terlalu khawatir dan tidak merasa gelisah. "Oma kamu nggak bakalan memikirkan masalah, kenapa kalian tidak datang menjenguk dia. Tetapi melihat cucunya sudah datang saja, pasti dia bakalan merasa bersyukur sekali," ujar Galang lagi dan saya aminin di dalam hati. Saya sangat berharap bahwa kedatangan saya benar-benar disambut sama oma. Saat saya bertemu dengan beliau, saya bakalan meminta maaf kepada oma untuk kesalahan-kesalahan saya. Bahkan, kalau perlu saya cium kakinya dan bersujud padanya. * Lama di perjalanan itu akhirnya saya sampai juga di Manado. Saya awalnya menceritakan kepada Mama untuk kepergian saya ke Manado bersama dengan Galang. Saya juga sudah mengajak Mamah tadinya namun Mamah menolaknya karena mama merasa ada hal yang lebih penting untuk dia prioritaskan ketimbang harus menjenguk mertuanya. Mama lebih memilih untuk mengikuti acara yang diadakan oleh teman-temannya di puncak. Acara untuk kaum ibu-ibu sosialita yang saya tidak paham, apa yang mereka kerjakan di puncak. Anggapan dari saya, mungkin hanya sekedar untuk berliburan saja. Liburan yang menurut saya sangat tidak penting. Saya tidak mau mengajak siapa-siapa di antara keluarga saya karena saya tahu mereka tidak akan bisa menyempatkan waktu mereka untuk sekedar menjenguk Oma. Oma juga sudah tua, beliau tidak bisa bermain gadget. Ya Tuhan betapa kesalahan saya sangat besar telah melupakan oma saya sendiri dan baru sekarang saya mengunjungi Oma. saya tak mempedulikan pekerjaan saya karena saya ingin bertemu dengan Oma atas kerinduan yang sudah sangat mendalam di dalam diri saya terhadap Oma. Seharusnya bukan saat itu saya mengunjungi Oma melainkan sudah dari waktu yang lama tetapi ya sudahlah, walau terlambat daripada tidak sama sekali. Sampai akhirnya saya berada di daerah rumah Oma. Rumah Oma sangat sepi. Apakah oma lagi sedang berada di hutan? Berada di gunung? Atau dia lagi pergi ke pasar? Di daerah rumah saya ini tidak banyak tetangga. Hanya berdekatan dengan danau Tondano? Sampai saya celingak-celingukkan mencari orang untuk saya tanyain keberadaan Oma. Rumah Oma juga terkunci. Saya mulai tidak senang kalau saya belum bertemu dengan Oma. Galang di sini juga bukan hanya berdiam diri saja, melainkan dia ikut membantu saya untuk bertanya kepada orang-orang yang tinggal di sekitaran dekat rumah Oma. Dan akhirnya kita menemukan seorang pria dan juga seorang wanita. Saya yakin mereka adalah tetangga di dekat rumah Oma. Saya tidak terlalu tahu dengan tetangga-tetangga yang ada di dekat rumah Oma karena saya sudah lupa dan juga saya tidak terlalu berbaur saat masih kecil itu. Apalagi saya sudah bertahun-tahun tidak datang ke rumah Oma. sehingga sangat minim sekali interaksi saya dengan para tetangga di tinggal di sekitaran daerah sini.  "Noni cari sapa?" tanya wanita tersebut yang melihat saya berada di depan rumah oma. "Ah, saya mau cari Oma saya yang tinggal di rumah ini. Tahu tidak, Oma saya ada di mana?" tanya saya yang sebenarnya saya ingin bertanya dengan bahasa Manado hanya saja saya sudah melupakan bahasa daerah tersebut. Saat kecil, saya sering sekali bicara pakai bahasa Manado karena oma saya itu selalu bicara pakai bahasa Manado tetapi ketika saya tinggal di perkotaan, lambat-laun bahasa daerah saya sudah berkurang dan lama-lama saya lupa dengan bahasa daerah tersebut. Memang saya sama sekali tidak melestarikan bahasa daerah oma saya. Seharusnya, ketika tinggal berada di manapun, jangan pernah melupakan bahasa daerah sendiri, tetapi saya sama sekali tidak bisa menerapkannya itu di kehidupan saya sehari-hari.  "Oh, Oma. Memangnya, Noni tidak tahu apa kalau Oma sudah meninggal?" ucap dia dengan beraksen memakai logat Manado tetapi sepertinya mereka tahu kalau kami tidak bisa bahasa Manado, sehingga mereka memakai bahasa Indonesia walau logatnya masih sama dengan orang Manado.  "Meninggal?" tanya saya terkejut dan ingin lebih memastikannya lagi.  "Iya, sudah dari tiga tahun yang lalu Oma meninggal. Dan dikuburkan di samping rumah Oma sendiri," jelasnya. Galang langsung memegangi tubuh saya yang hampir terjatuh karena berita ini, sungguh sangat membuat mental saya benar-benar teruji. Saya yang mendengar kabar buruk itu rasanya mau pingsan saat tahu oma sudah meninggal.  "Sulit untuk menghubungi keluarganya Oma jadi para tetangga yang mengurusi pemakaman Oma saat itu. Oma memang pernah meminta ketika dia meninggal, Oma ingin dikuburkan di samping rumahnya saja, di sebelah kuburan suaminya." Saya yang mendengar kabar tersebut dan permintaan Oma seketika membuat saya mati rasa akan tubuh saya sendiri. Saya tak dapat bisa mengendalikan diri saya. Hanya bisanya saya menyandarkan kepala saya pada Galang yang merangkul tubuh saya. Saya berdoa untuk Oma dan juga Opa saya. Tidak ada yang bisa saya lakukan lagi. Penyesalan memang akan selalu datang di akhir cerita. Saya tak sempat bertemu dengan Oma. Dikala Oma lagi sedang sakit-sakitan saya tidak ada untuk dia sampai akhir hayatnya dia tutup usia. Saya pernah mengingat di mana saya juga pernah menjenguk Oma dan kalau itu saya masih remaja. Baru masuk kelas satu SMP. setelah itu saya jarang lagi berkunjung ke rumah Oma di Manado karena kesibukan orang tua saya yang semakin menjadi-jadi. Saya sangat merindukan Oma Saya ingin sekali meminta maaf pada Oma atas kesalahan saya yang tak pernah sekalipun menjenguk oma dan saya sempat melupakan oma. Tidak sama sekali mempedulikan bagaimana keadaannya Oma, kesehatan Oma, kabar Oma, dan lain halnya yang segalanya berkaitan dengan Oma. Rasanya saya datang ke Manado itu, entah harus bisa saya katakan sia-sia saja atau tidak. Saya ke Manado mau bertemu dengan Oma tetapi saya tidak akan lagi pernah bertemu dengan Oma untuk selama-lamanya. Saya tak menyangka Om akan pergi tanpa saya ketahui sama sekali. Saya sungguh sungguh sangat menyesal dan penyesalan ini akan terus berlanjut sampai tidak tahu kapan waktunya saya harus berhenti untuk menyalahkan diri saya sendiri. Saya dan Galang memutuskan untuk pulang. Di Manado hanya akan menjadi sebuah kenangan saja untuk saya.  "Apa yang kamu dapatkan hari ini akan menjadi pelajaran untuk kamu dan aku Nayla." Saya duduk berhadapan dengan Galang di suatu tempat makan. Nantinya kita akan mencari tempat tinggal untuk sementara lalu kita bakalan langsung pulang ke Jakarta. Saya ingin sekali rencananya mau mengelilingi Manado hanya saja saya tak bisa melakukannya. Rasanya hambar dan hampa. Tangisan saya sudah reda dari tadi. Kalau itu saya tidak bisa menyembunyikan kesedihan saya di hadapan laki-laki. Saya biasanya tidak ingin menangis di depan laki-laki tetapi pada akhirnya saya melakukannya juga dan Galang yang melihatnya. Biasanya saya bisa menyembunyikan kesedihan saya, tangisan saya namun saya tak bisa melakukannya kala itu. Saya ingin benar-benar meluapkan kesedihan saya. Rasa sakit yang menghujani diri saya begitu juga dengan rasa penyesalannya. Saya memang selalu diajarkan untuk tidak menjadi perempuan yang lemah oleh Mama. Setiap saya menangis Mama pasti akan memarahi saya dan saya tidak ingin melakukan hal itu lagi karena itu saya selalu menahan diri saya. Saya tahu tidak baik untuk kesehatan diri saya sendiri, untuk mental saya juga. Tapi yang sudah menjadi suatu kebiasaan itu sulit untuk dihilangkan. Saya sudah terbiasa untuk memendam perasaan saya sendiri tetapi di hadapan Galang dan saya mendapatkan kabar itu saya tak lagi bisa menyembunyikan kesedihan saya. "Dari sini kita belajar kalau kita harus bisa memberikan waktu untuk orang-orang yang kita sayang. Kita nggak pernah tahu kapan mereka bakalan pergi. dan kita juga nggak bakalan tahu kapan terakhir kita bersama dengan mereka." Saya temannya mendengar perkataan Galang seolah saya sedang berhadapan dengan Ryan. Ryan juga pernah mengatakan hal yang sama kepada saya. waktu untuk bersama dengan orang yang kita sayangi dan jangan pernah menyia-nyiakan waktu yang ada karena kesempatan kedua tak selalu datang dan kita bukan selalu menjadi orang yang beruntung untuk mendapatkannya. Untuk mengulang waktu yang pernah terlewatkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN