Bab. 22 Mati Rasa

1153 Kata
Meninggalnya oma membuat saya membuka mata saya lebih lebar lagi tentang betapa berharganya waktu bersama dengan seseorang yang kita sayang dan jangan mengorbankan waktu hanya untuk kesibukan saja, hanya untuk mengejar sesuatu hal yang memang penting di dalam hidup tetapi ada yang lebih penting dari itu semua. Saya sendiri benar-benar membekali diri saya untuk tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama. Saya tidak mau kejadian yang sama terulang dua kali di dalam kehidupan saya. Rasanya sangat sakit dan obatnya itu adalah orang yang telah meninggalkan kita. Orang itu yang bisa menyembuhkan luka yang kita punya. Oma telah pergi meninggalkan saya untuk selama-lamanya dan Oma tidak akan lagi kembali dalam kehidupan saya. Saya tidak akan bisa menebus kesalahan saya kepada Oma. Tetapi saya bisa menebus kesalahan saya di lain waktu. Mengingat kejadian pada saat Papah masuk ke dalam rumah sakit karena terkena jantungnya mulai kumat lagi sebagai akibat dari yang dilakukan Kak Shena kepada papa, papa ingin anak-anaknya semuanya berkumpul. Tentu saja, saya sangat trauma mengingat kejadian Oma yang meninggal dan keluarga tidak ada yang tahu bahkan saya sendiri yang dulunya sangat dekat sama Oma, yang selalu dirawat sama Oma, yang tinggal lama bersama dengan Oma, pun saya tidak tahu sama sekali kalau Oma ternyata sudah pergi untuk selama-lamanya. Saya terlambat untuk bertemu dengan Oma, untuk menjenguk dan melihat keadaan Oma yang hidup sebatang kara di rumahnya. Itulah mengapa yang saya lakukan kepada saudara-saudara saya. Saya sangat meminta mereka untuk segera datang ke rumah sakit dan bertemu dengan papa yang harus dirawat di dalam rumah sakit. Tidak akan ada yang tahu kapan seseorang yang kita sayang itu bakalan pergi meninggalkan kita. Namun nyatanya tidak ada yang belajar dari pengalaman yang sebelumnya. Tidak ada yang mau mengambil hikmah dari kesalahan yang telah diperbuat. Terbukti dari saudara-saudara saya yang tidak mau menjenguk papa waktu Papa lagi sedang sakit. Saudara-saudara saya lebih mementingkan pekerjaan mereka ketimbang seseorang yang lagi sedang membutuhkan mereka untuk segera datang. Seharusnya mereka bisa belajar dari kesalahan yang kemarin, tetapi memang badannya tidak ada penyesalan yang saya temukan dari diri mereka semua. Mau bagaimana bisa merasakan rasa bersalah kalau Ketika saya pulang dari Manado bersama dengan Galang. Rupanya, ketika saya sampai di rumah, ada sebuah perayaan. Perayaan tersebut yaitu untuk merayakan keberhasilan dari suksesnya film yang dibintangi oleh Abang saya. Saya juga sempat melihat mama yang ternyata tidak pergi ke puncak melainkan dia ikut ramean bersama dengan Mas joe merayakan selamatan atas keberhasilan dari filmnya. Saya tidak tahu ya Mamah ini berbohong kepada saya atau tidak. Beliau dengan santainya begitu melihat saya dan Galang datang langsung heboh menyambut kami berdua. Pada saat itu acaranya mau potong nasi tumpeng. Ramai sekali yang datang, bahkan ada sutradara dan juga para krunya. "Nayla, Nayla, ya ampun, akhirnya kamu pulang juga. Kamu pulang tepat waktu Nak. Galang ayo, Galang masuk ke dalam," Galang ditarik masuk tangannya sama mama, "kita lagi ngerayain selamatan untuk film Joe yang menang banyak penghargaan. Ya ampun, Mama bangga sekali sama kakak kamu sayang," ujar mamah tiada henti, beliau mengutarakan rasa bangganya kepada Mas Jo. Memang yang dilakukan oleh Mas juga bisa dikatakan selalu begitu sangat membanggakan sampai dapat berhasil membuat keluarga saya itu pada datang dari Mbak Nana dengan suaminya Kak Shena. Papa yang selalu sibuk ternyata bisa meluangkan waktunya untuk Mas Joe dan juga mama. Untuk mama, saya sendiri sangat kecewa karena saya tahu pasti Mama hanya akal-akalan saja waktu itu supaya dia bisa tidak pergi ke Manado, alasan yang terlalu klasik karena Mama tidak mau menjenguk Oma yang ada di Manado. Saya juga tidak tahu alasannya itu mengapa dia bisa melakukan hal itu padahal Oma itu adalah bagian dari keluarga kami.  Ketika nasi tumpeng sudah selesai dipotong dan diberikan kepada orang yang sangat berjasa dalam pembuatan film tersebut, saya sendiri langsung mengajak Mama untuk pergi menjauh dari sana dan saya berpamitan sebentar kepada Galang. "Oma sudah meninggal dari tiga tahun yang lalu," kata saya kepada Mama. Saya tidak pandai untuk terlalu bisa berbahasa basi kepada orang yang saya ajak bicara. Saya lebih baik langsung to the point saja ke inti sarinya. "Mama pasti belum tahu kan kabar tentang oma yang sudah meninggal?" tanya saya dengan lagi-lagi mata saya kembali berkaca-kaca. Saya mau menangis kalau sudah mengingat tentang kebersamaan saya sama oma dan membicarakan soal kematiannya.  "Oh, Mama baru tahu ini kalau Oma sudah meninggal," balas mama terkesan lebih kelihatan santai dan tidak yang namanya itu kelihatan merasa sedih atau kecewa atau apapun itu. Dengan pikiran yang buruk, saya jadi curiga kepada oma sampai membuat saya itu untuk pertama kalinya menuduh mama yang tidak benar.  "Kenapa Mama terlihat seperti sudah tahu soal kematiannya Oma, seharusnya Mama terkejut dan juga sedih karena kita sekeluarga, tidak ada yang tahu kalau oma sudah meninggal itu, udah lama sekali, dari tiga tahun yang lalu. Tiga tahun yang lalu itu kita ke mana aja sampai kita tidak tahu Oma sudah meninggal?" Ketika sampai di kalimat itu saya sudah tak lagi bisa membendung air mata saya. "Oh, atau jangan-jangan Mamah itu sudah tahu tapi tidak mau ngasih tahu ke kami semua?" tuding saya. Saya itu bertengkar sama mamah di teras depan rumah kami. Mamah mulai terpancing emosi dari kata-kata saya yang sudah, mungkin menyakiti hati Mamah atau membuat Mama langsung tersinggung.  Saya pribadi sudah tak lagi bisa mengendalikan diri saya melainkan pikiran saya sendiri yang mengendalikan diri saya. Pikiran yang sangat negatif dan memang ingin sekali saya katakan itu ketika kalau saya melihat ada sesuatu yang ganjal. "Oh, jadi kamu menuduh Mama yang enggak-enggak padahal mama sendiri baru tahu kalau Oma itu sudah meninggal. Kamu pikir Mama itu apa? Kenapa kamu punya pikiran itu jelek sekali sama mama?" serang Mama dengan suara cara yang keras dan nada bicaranya juga tinggi sampai saya dapat mendengar, sutradara yang lagi sedang bicara di dalam rumah tersebut tentang rasa syukurnya mengenai film mereka yang telah mendapatkan penghargaan, itu seketika langsung berhenti berbicara. Suara mama tentu saja dapat terdengar sampai ke dalam rumah. "sekarang Mama tanya sama kamu, Mama harus bereaksi seperti apa? Menangis seperti kamu tapi kalau Mama menangis, Apa bakalan buat Oma kamu bangun dari kematiannya?" tanya Mama yang tak saya jawab sama sekali. Bukan karena saya yang tidak bisa menjawab melainkan saya sendiri telah kehilangan kata-kata saya karena mamah terlihat seperti orang yang tidak memiliki perasaan sama sekali. Bahkan untuk mempertanyakan hatinya saja saya ragu apakah mama masih memiliki hati atau tidak? "Sekarang mau diapain lagi? Kita mau menyesal karena kita tidak tahu kematian Oma? Mau menyalahkan diri sendiri begitu? Oh, enggak Nayla. Waktu Mama terlalu berharga daripada Mama pakai untuk menyalahkan diri Mamah yang tidak sama sekali bisa memberikan keuntungan pada diri Mamah," terang Mamah sampai membuat saya terdiam seribu bahasa. Kali itu saya bingung harus bagaimana merespon ucapan-ucapan mamah. Karena memang sungguh, itu semua berada di luar pemikiran saya sendiri. Yang saya pikirkan dan yang saya tahu, setidaknya seseorang bisa merasakan rasa sedih ketika kita kehilangan orang yang kita sayangi. Dan saya tidak menemukannya itu pada diri mamah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN