Bab. 23 Tak Sepahaman

2835 Kata
Yang dikatakan keuntungan oleh Mamah itu, saya berpikir adalah mengarah pada materi. Atau lebih ke arah di mana yang dapat memberikan dia feedback yang baik, yang bisa dia manfaatkan. Mamah itu begitu orangnya. Sangat perhitungan. Tak mau sama sekali merasa rugi bahkan untuk waktu sendiri. Dia tidak mau melakukan hal yang sia-sia saja. Pikirnya hanya akan membuang-buang waktu dia yang sangat berharga karena baginya waktu adalah uang. Tetapi ini tidak bisa dilihat dari soal materi saja namun yang lebih penting itu adalah bagaimana empati Mama terhadap meninggalnya Oma. Perdebatan di antara kita berdua ini menarik perhatian orang-orang yang ada di dalam rumah, sehingga Papah yang lebih dulu sudah keluar dari rumah disusul dengan saudara-saudara saya.         "Mah, Nayla. Kalian berdua ini kenapa ribut-ribut? Malu di rumah ini ada banyak orang," peringat papah tegas kepada kami.        "Coba kamu tanyakan saja sama anak kamu itu. Dia duluan yang mulai. Kalau dia mau memberitakan sesuatu itu harusnya lihat sikon, lihat kondisi, lihat waktunya. Di sini, di tempat rumah kita lagi ramai banyak orang, lagi ada acara penting. Seharusnya dia bisa tahan dulu, dia harusnya bisa menghargai perayaan yang diadakan oleh saudaranya dan teman-temannya Joe. Ini acara dari saudaranya sendiri tapi ini nggak, dia malah ngajak mama berdebat. Entah sejak kapan dia mulai berani seperti itu sama ke Mama, Pah," pungkas Mama. Bukannya menjelaskan yang seharusnya bisa mendinginkan suasana tetapi dia malah semakin memanasi suasana saja.        Seharusnya kalau memang mama mengerti, dia bisa mengatakan hal yang lain, yang lebih dulu untuk meredakan suasana karena Mama juga tahu kalau lagi banyak orang. Kenapa mama malah semakin memojokkan diri saya?       "Nayla! Kamu ini gimana, sih? Nggak menghargai banget acara Mas kamu ini. Di sini banyak rekan-rekan Mas, loh, rekan-rekan kerja Mas. Harusnya kamu hargai itu," tuntut Mas Joe kepada saya yang dia sendiri saja tidak tahu permasalahannya itu apa. Tetapi dia sudah langsung terpengaruh sama ucapan mama. Mas joe memang termasuk orang yang sangat dekat sama mama, jadi apapun yang dikatakan sama mamah itu sudah langsung dia percayai dan langsung disetujui olehnya.       "Mas, bukannya aku itu nggak menghargai acara kamu tetapi aku memberitahu hal yang sangat penting sama mama. Cuman aku nggak tahu kalau bakalan seperti ini jadinya. Aku nggak pernah kepengen berdebat sama mama," bantah saya. Karena saya tidak mau dikata tidak bisa menghargai acara dari saudara saya sendiri. Tentu saja saya sangat menghargai acaranya tapi kondisinya adalah saya juga baru pulang dari Manado dan saya masih terbawa oleh suasana hati saya yang masih dilingkupi dengan rasa bersalah dan kesedihan saya terhadap sepeninggalnya Oma.       "Oh, jadi kamu mau memberitahukan sesuatu hal yang sangat penting sama mama? Memangnya ada hal yang lebih penting dari pada acara Mas kamu ini?" sindir mas Joe secara terang-terangan dengan sinis wajahnya saat dia mengatakannya.        "Kalau kamu menghargai acaranya Mas Joe, seharusnya kamu nggak bakalan cari ribut. Jangan beralasan, deh, udah basi tau enggak!" sahut Kak Shena dengan menimpali omongan kami semua yang justru dia malah semakin memojokkan saya. Ini adalah celah untuknya karena saya tahu dia sangat membenci saya, jadi dia ambil kesempatan, dia manfaatkan kesempatan untuk semakin membuat saya terpojok dan sebagai ungkapan rasa ketidaksukaan dia kepada saya, dia ingin membuat saya jadi semakin dipermalukan di hadapan banyak orang. Tidak ada satupun yang membela saya. Kalau dikatakan saya pun bicara banyak hal, tidak akan juga mau didengarkan oleh mereka semua.        Papa menjadi penengah di antara kami semua. Dia memang selalu mengambil tindakan dengan bijak, di tengah-tengah yang selalu ada pemicu keributan ataupun perdebatan. "Lebih baik kita bicarakan itu nanti," kata Papa. Entah mana yang salah, saya atau mamah. Saya yang memang lagi sedang terbawa suasana dan ingin sekali cepat-cepat memberitakan soal kabar tentang oma atau mama yang sama sekali tidak mau mendengarkan kabar dari saya. Galang di sini tidak membantu banyak sebenarnya. Tetapi dia masih setia saja menemani saya. "Kamu yang sabar, ya." Tanpa saya ucapkan dia paham apa yang saya rasakan dan melihat bagaimana respon dari keluarga saya, pun juga dia sudah sangat mengerti. Sedikit demi sedikit saya sudah mulai terbuka dengan dia. Dia juga termasuk orang dengan pendengar yang baik. Saat itu saya membutuhkan orang yang seperti itu untuk mendengarkan masalah saya. Karena entah mengapa, saya merasa tidak bisa mengatasi permasalahan yang berurusan dengan perasaan saya sendiri. Saya selalu mengatasinya dengan logika saya dan saya tidak terbiasa dengan memakai hati saya sendiri, karena bila menghadapi sesuatu masalah dengan hati, dengan perasaan, itu hanya akan menjadikan diri seseorang itu lemah. * Kita semua baru bisa berkumpul saat di keesokan harinya. "Oma sudah meninggal," kata saya setelah dipertanyakan oleh Papah yang menjadi pemicu keributan antara saya sama mamah semalam itu. Begitu saya menjawabnya, papa langsung terdiam dan termenung. Tatapan dari matanya itu tak bisa saya baca. Kosong. Ekspresi wajahnya datar. Saya tahu, hal ini akan menjadi berita yang mengejutkan untuknya karena memang oma adalah mamahnya papa. Tidak mungkin papa tidak punya hati. Saya tahu orang tua satu-satunya yang dia miliki sudah meninggal dan dia tidak tahu sama sekali tentang kabar ini. Maka itu saya teruskan lagi kata-kata saya untuk mereka, supaya pada tahu kalau, "oma sudah meninggal dari tiga tahun yang lalu. Warga di sana nggak tahu untuk menghubungi kita semua apalagi di sana, orang-orang pedesaan pada sulit untuk memberikan kabar kepada kita semua. Kita juga nggak pernah yang namanya berinteraksi sama mereka, tapi oma berbaur sama mereka dan mereka yang mengurusi oma selama oma sakit sampai oma pun meninggal. Kita sebagai keluarganya gimana? Kita yang keluarganya enggak pernah ada buat Oma," papar saya dengan hati yang berat dan rasa bersalah yang luar biasa. Andaikan saja, ketika saya masih kecil dulu itu bisa menentang ucapan dari keluarga saya, dari terutama pada mama saya yang bersikeras tidak ingin membawa oma untuk ikut bersama kita, mungkin saja tidak akan seperti ini kejadiannya. Keadaan omah pasti bisa diawasi, tidak sulit untuk merawat satu orang saja yang sudah menua usianya.  Saya lagi-lagi mulai emosional untuk membahas permasalahan ini, tidak ada yang menghentikan ucapan saya. Saya yakini, mereka sama pada terkejutnya apalagi mbak Nana langsung menutup mulut dia dan ekspresi wajahnya itu sangat kentara sekali dia shock mendengar kabar ini. Mas joe terdiam. Dia yang semalam memarahi saya sekarang tak lagi bisa berkutik apa-apa. Hanya Kak Shena saja yang berbeda sendiri pendapat dan cara pandangnya. "Ya, udahlah, oma juga udah meninggal, kan?Apalagi yang harus dipermasalahin? Kita mau ribut-ribut kayak mana juga nggak bakalan bisa membuat Oma kembali bersama dengan kita. Benar apa kata mama, kita buat apa harus ngerasa bersalah? Enggak ada juga yang harus diributin dari masalah ini. Omanya juga sudah meninggal," tukas dia tak berperasaan hati. Saya tidak habis pikir sama jalan pikiran dia dan juga jalan pikiran mamah. Mengapa mereka berdua bisa bicara seolah tanpa beban? Yang kita bicarakan disini adalah anggota dari keluarga kita yang sudah telah tiada. Bagaimana bisa mamah dan saudara saya yang satu ini tidak merasa bersalah sama sekali? Sedangkan letak kesalahannya itu sudah benar-benar jelas di depan mata.       Saya bisa saja membalas perkataan dari kak Shena tapi saya yakin, akan berujung keributan. Terbukti saja, Mbak Nana langsung memarahi Kak Shena. "Kamu bisa empati dikit gak, sih? Oma meninggal dan kita nggak tahu sama sekali. Bahkan udah tiga tahun yang lalu. Ini udah benar-benar kelewatan. Bisa Kamu bicara kayak gitu? Oma yang mendengarnya pasti bakalan sangat sakit hati karena kita nggak pernah ada untuk Oma!" serang Mbak Nana sambil berurai air mata. Dia menangis dan lalu dipeluk sama Mas Joe yang duduk di sebelah dia. Saya sangat menyetujui apa yang kata mbak Nana ternyata dia juga sependapat sama saya. "Nggak heran juga, ya, kenapa Nayla bisa berdebat sama mama semalam. Mama sama Shena itu sama saja," tambah Mbak Nana lagi. Mama yang melihat Mbak Nana berbicara seperti itu tidak suka. Namun papa sudah langsung mengambil tindakan supaya permasalahannya tidak semakin larut dan panjang lagi.       "Sudah, jangan lagi diperdebatkan. Papa bakalan pergi ke Manado. Papa ingin pergi ke makam oma kalian," ujar papa cukup singkat, untuk hanya mengatakan hal itu saja yang menjadi tujuannya.        "Aku juga bakal datang ke sana Pa, kita pergi aja bareng-bareng," sahut Mas Joe juga. Saya sangat bersyukur, ternyata mereka masih punya hati, masih bisa untuk berempati, dan masih berada di pihak saya. Dan terserah apa yang ingin dilakukan oleh mamah dan Kak Shena. Tidak ada yang memaksa mereka juga untuk ikut bersama kami. Mereka ingin ikut atau tidak itu hak mereka. Tetapi pada akhirnya mereka mengikuti instruksi papah. Kita semua berbondong-bondong pergi ke Manado. Kita mengunjungi pemakaman Oma dan juga opa. Kita berdoa di sana untuk mereka yang sudah pergi meninggalkan kami selama-lamanya. Rasa bersalah ini tidak akan pernah bisa hilang terkecuali kita bisa mendengar dan tahu bahwa oma memaafkan kesalahan kami. Setelah kita mengunjungi pemakaman Oma, kita mau move on dari masalah yang ada dan seiring waktu kita kembali ke rutinitas seperti biasanya. Kita semua memang sudah sepakat tidak ingin larut pada kesedihan yang terus mendalam atas kepergian Oma. Memang sudah tidak ada lagi yang perlu kita lakukan. Oma dan opa sudah tenang di sana. kami yang masih hidup hanya bisa mendoakan mereka saja. Itulah hal yang hanya bisa kita lakukan dan menjadi hal yang terbaik untuk bisa diterima oleh oma sebagai penebus kesalahan kami di masa lalu. Singkat ceritanya, untuk urusan percintaan saya sama Galang, semuanya berjalan dengan mulus-mulus saja seperti orang kebanyakan. Kita sudah saling mengenal satu sama lain untuk beberapa bulan kami bersama terus. Memang terdapat banyak perbedaan juga. Tetapi menurut saya, tidak masalah dan masih bisa ditolerir. Yang penting buat saya itu adalah fisik dan juga finansial dia yang menjamin. Saya tidak mau terlalu neko-neko juga, dia juga laki-laki yang baik. Saya rasa itu saja sudah cukup untuk menerima dia sebagai pasangan saya di masa depan.  Saya sama Galang adalah dua orang yang sangat-sangat sibuk. Kita sama-sama memiliki kesibukan masing-masing namun kesibukan tidak menghalangi kami untuk tidak bertemu. Apalagi belajar dari pengalaman saya dan melihat dari bagaimana Galang yang memperlakukan saya dengan penuh perhatiannya, dia selalu menyempatkan waktunya untuk saya dan begitupun juga saya yang selalu menyempatkan waktu saya untuk dia. Saya juga selalu sudah terbiasa untuk diajak makan di tempat-tempat yang biasa-biasa saja. Galang memang mengajarkan saya untuk bisa hidup dalam kesederhanaan yang pernah dilakukan oleh Oma kepada saya. Oma juga pernah mengajarkan saya tentang hidup sederhana saja, tentang hidup yang biasa-biasa saja. selama ini saya selalu melupakan ajaran-ajaran yang pernah Oma beritahukan kepada saya dulu. Dan ketika Saya tinggal bersama dengan keluarga saya, saya sudah tak lagi mengingat semuanya, namun ketika bersama dengan Galang, dia kembali mengingatkan saya akan bagian yang pernah hilang dari ingatan saya. Karena itu saya menerima saja pemberian yang dilakukan oleh Galang kepada saya. Memang mudah untuk memberikan apa yang saya mau, tapi Galang ingin memberikan hal yang lain meskipun dia mampu untuk melakukannya. Tetapi, kadang saya masih tidak terbiasa dengan sikap Galang yang terlalu royal ke orang-orang, seperti ketika saya sama dia lagi makan. Dia tiba-tiba saja mengajak tukang parkir untuk ikut makan bersama dengan dia dan mentraktirnya. Tukang parkir itu yang bekerja di depan bank yang berhadapan dengan butik saya. Kami berdua lagi makan bakso di dekat butik saya. Saya sempat terpaku melihat tingkah lakunya Galang yang terlalu baik kepada orang-orang. Dia selalu seperti itu. Saya tahu, dia bisa berbaur sama siapa saja tetapi saya merasa tidak nyaman kalau harus makan bersama dengan orang lain juga.  Saya baru berani mengungkapkan ketidaksukaan saya itu di dalam mobil saat kita mau pulang ke rumah.        "Kamu itu kebiasaan, deh, selalu saja ngajak orang yang enggak kamu kenal, ikut makan sama kamu. Buat apa, sih, kamu begitu? Untungnya di kamu itu apa coba?" cecar saya yang baru kali itu, saya benar-benar kesal sama orang sampai kelihatan itu saya bawel. Saya sudah lama memendam uneg-uneg saya sama Galang dan akhirnya saya luapkan juga ketika itu. Galang menanggapinya itu dengan santai dan dia selalu saja menunjukkan senyuman tulusnya kepada saya.       "Memangnya salahnya apa Nay? Kan nggak ada salahnya kita ngajak orang lain buat makan bareng kita. Siapa tahu mereka belum makan, ya, kan?" kata dia berspekulasi tidak jelas. Dan saya tidak menyetujui apa yang dia ucapkan itu.       "Galang, kalau kamu selalu berbuat baik kayak gitu dengan orang yang nggak kamu kenal atau memang kamu terlalu baik, kamu bisa saja selalu dimanfaatkan sama orang karena kebaikan kamu itu. Gimana, sih, aku jelasinnya ke kamu itu? Seharusnya itu, kalau kita mau berbuat baik, itu ada batasannya. Nggak perlulah kamu itu ngajak orang buat makan sama kamu saat kita lagi duduk berdua. Aku jadi nggak berselera dan nggak mau makan," ungkap saya secara terang-terangan. Galang langsung tidak enak hati dari mukanya, dia tidak enak pada saya.       "Aku minta maaf Nayla, cuman ini udah menjadi kebiasaan aku juga," kata dia. Semakin dia menjelaskan semakin membuat saya bingung dengan jalan pikirannya. Saya sampai mengernyitkan dahi saya menatapnya heran. Dan apakah kebiasaannya itu harus dilakukan ketika dia bersama dengan saya? Tentu saja tidak. Dia sudah bersama dengan saya berarti dia harus mengubah kebiasaan-kebiasaan dia karena saya tidak menyukainya sama sekali.       "Galang, aku kasih tahu, ya, ke kamu. Kalau kamu selalu berbuat baik ke orang yang tidak kamu kenal dan terlalu malahan melebihi batasnya, orang-orang yang sama kamu itu yang ada nantinya bakalan jadi malas. Mereka mau ini, mau itu, tinggal minta tolong aja sama kamu seperti bapak-bapak tadi. Dia kalau mau makan harus kerja. Harus kerja keras. Kamu jangan enak-enakin mereka gitu aja dong. Itu sama saja kamu memanjakan mereka padahal mereka itu masih bisa bekerja," omel saya kesal yang tak saya sadari kalau saya sudah berbicara dengan panjang lebar dan itu yang membuat Galang tertawa melihat saya bereaksi marah.       "Kayaknya aku ini harus sering-sering buat kamu marah aja kali, ya, biar sekali-sekali gitu kamu ngomong panjang. Biasanya, kan, kamu kalau ngomong suka singkat terus," guraunya yang sama sekali tak membuat saya merasa tersipu malu. Saya serius dengan yang saya katakan itu karena itu ekspresi dari wajah saya tak sama sekalipun berubah.        "Aku lagi nggak bercanda sama sekali. Aku nggak suka sama sikap dan kebiasaan kamu itu. Kamu tahu, orang akan sangat malas kalau hanya bisa meminta-minta saja, kalau hanya bisa menerima pemberian dari orang lain. Mereka akan selalu berharap bakalan diberikan, bakalan selalu berharap kebutuhannya dicukupi sama orang yang dermawan, mereka bakalan terus-terusan memasang tampang kasihan, biar orang-orang kepada kasihan sama mereka. Dan mereka nggak akan mau bekerja. Aku nggak paham, deh, sama jalan pikiran kamu itu gimana. Dengan kamu yang selalu saja berbagi sama orang, yang ada akan banyak tangan-tangan yang berada di bawah, berharap mereka bakalan ditolong. Dengan begitu, nggak ada yang mau usaha," jelas saya dan menurut saya yang saya katakan itu tidak ada yang salah. Semuanya itu benar. Saya juga sering sekali melihat orang-orang yang berharap pada hadiah dari giveaway. Entah mengapa orang-orang yang yang memiliki kekayaan membuat trend untuk membuka kesempatan bagi mereka yang menginginkan sesuatu hal tetapi tidak bisa terwujudkan. Namun, pada akhirnya mereka akan menjatuhkan harga diri mereka untuk meminta-minta di sosial media kepada orang yang tidak mereka kenal, bahkan orang lain yang mereka harapkan itu juga tidak mengenal siapa yang meminta-minta kepada mereka. Saya bisa mengatakan hal ini karena saudara saya, Shena itu pernah mendapati kejadian di mana dia pernah mengadakan giveaway besar-besaran lalu dia sering mendapatkan DM untuk dimintai pertolongan.        Saya tidak mempermasalahkan orang-orang yang memang suka mengadakan giveaway. Tetapi membuat sesuatu hal yang menjadi trending di dunia maya dan banyak orang yang pada minta-minta, bukankah itu sama saja membangun mental meminta-minta alias mengemis? Saya memang kelihatannya itu mungkin pelit tetapi saya kalaupun berbagi juga, saya tidak ingin dilihat oleh banyak orang. Cukup diri saya dan Tuhan saja yang tahu. Saya tahu bagaimana cara bijak untuk berbagi kepada sesama. Bukannya malah dengan memasang konten untuk berbagi kepada orang lain seperti yang kebanyakan saya lihat di dunia maya. Apalagi berbagi dengan orang yang dipilih secara random. Yang entah, benar atau tidak kebutuhannya. Saya lebih baik langsung bertemu dengan orangnya untuk berbagi kepada yang benar-benar membutuhkannya. Yang salah itu ada pada diri Galang yang terlalu royal, terlalu baik sama orang, terlalu dermawan. Saya nggak suka dengan sifat Galang yang satu ini, dia terlalu memudahkan urusan orang lain sehingga orang lain itu bakalan merasa tidak akan mau berusaha sekeras mungkin karena mereka cuma bisanya berharap, berharap, dan berharap saja. Juga apalagi Galang ini tipikal orang yang terlalu mudah untuk dimanfaatkan. "Aku paham Nay sama yang kamu bilang itu gimana dan apa, tapi nggak ada salahnya kalau kita berbuat baik, kan?" seru dia masih tidak nyambung-nyambung juga dengan yang saya jelaskan. Rasanya seperti percuma untuk bicara sama dia. Saya memutar otak untuk bicara yang lebih dengan bahasa yang bisa dia pahami karena saya bicara panjang lebar, ternyata dia hanya fokus ke satu hal itu saja. Saya rasa untuk kali ini saya tidak sepahaman sama Galang. "Berbuat baik memang nggak salah, tapi kamu berbuat baik bukan pada tempatnya, bukan pada orang yang benar, bukan pada orang yang tepat," pungkas saya. Itu yang saya bilang ke dia. Saya mau Galang itu bisa berpikir lebih jernih lagi otaknya, biar bisa kebuka jalan pikirannya. Dia kalau begini terus, yang ada bakalan bikin orang jadi pada malas dan tidak mau bekerja, tidak mau berusaha dan cuma bisanya minta-minta saja tapi dia tidak mau mengerti akan hal tersebut. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN