"Oke, oke. Aku paham maksud kamu itu apa tapi kembali lagi di awal Nay. A aku bilangin sama kamu, aku tahu mana orang yang tepat untuk aku bantu. Perkara tukang parkir kita ajak makan, bukan berarti kita memanjakan dia dan dia nggak mau bekerja keras. Kamu, tuh, jangan mikir yang terlalu jauh apalagi terlalu berpikir negatif ke orang lain. Kita itu nggak tahu, kondisi mereka itu seperti apa? Kita enggak tahu, apa yang sudah mereka lakukan di dalam hidupnya. Jadi tolonglah sekali aja kamu berpikir positif," jelas Galang sedikit penuh dengan penekanan dari beberapa kata-kata yang ia ucapkannya. Dia masih tidak mau menuruti perkataan saya. Saya paling tidak suka dengan laki-laki yang membantah ucapan saya. Saya tahu, saya yang memang paling mendominasi di dalam suatu hubungan. Tetapi memang itu harus saya lakukan karena saya ingin apapun yang saya katakan itu didengar dan diturutin. Saya mau diri saya dimengerti oleh mereka, siapapun bersama dengan saya. Saya tidak ingin lagi membahas permasalahan soal tadi, itu terserah dia lagi. Sekarang ataupun nanti juga, apapun yang dia lakukan akan berdampak pada dia pastinya.
"Kamu membantu banyak orang belum tentu ketika kamu sedang dalam masa kesulitan, mereka yang telah kamu tolong itu bakalan membantu kamu juga. Nggak Galang. Dunia itu keras dan kadang manusia itu suka menusuk orang baik dari belakang. Itu kalau kamu terlalu baik sama orang, kamu akan sakit hati ketika kamu dikhianati," ucap saya sebagai peringatan, sebagai nasihat, dan sebagai masukkan untuknya diterima atau tidaknya, itu terserah dia. Dan lagi, saya ingin mengatakan apa yang harus saya katakan kepada dia.
Sampai juga kita akhirnya di rumah saya. Gara-gara perdebatan tadi, saya sampai tidak merasakan perjalanan sore saya yang sebenarnya itu cukup panjang karena sedang terjadi razia dan macet di mana-mana.
Galang itu diundang untuk makan malam bersama dengan mama saya dan sekeluarga saya. Makan malam di rumah ini hampir keluarga pada berkumpul dan hanya terkecuali mbak Nana saja yang sudah tidak tinggal lagi sama kami. Kebetulan saja dia kemarin datang ke Jakarta tetapi tidak bersama dengan suaminya dan sekarang dia kembali lagi ke Bandar Lampung. Obrolan singkat di awalnya didominasi oleh para lelaki yaitu papa, Mas Joe dan juga Galang.
"Jadi Nak Galang, kapan, nih, merencanakan pernikahan. Menikahkan anak tante Nayla. Ingat, loh, jangan lama-lama. Ujian itu suka tiba-tibanya datang, takutnya nanti ada kendalakan, repot jadinya, ya, kan?seru Mama dengan gayanya seperti ibu-ibu yang suka merumpi. "Mama benar kan Pah?" tanya Mama dengan kepala mengarah pada Papa saya tahu Mama ingin mencari dukungan.
Walaupun bicaranya dengan nada lembut yang sengaja dibuat-buat, tetap saja saya tahu kalau mama itu lagi sedang memaksa Galang supaya lebih cepat-cepat untuk menikahkan saya. Saya sebenarnya agak risih mendengarnya tetapi mau dikata apa lagi. "Kalau saya, sih, tergantung bagaimana Naylanya, ya, Tante. Saya juga pengen, kok, cepet-cepet nikahin anak Tante. Soalnya juga saya nggak mau lama-lama pacaran. Udah umurnyalah, waktunya kita menikah, ya, kan?" Saya masih terus memperhatikan Galang yang mengutarakan niat baiknya itu kepada keluarga saya untuk menikahi saya. "Saya juga sangat serius sama Nayla dan hubungan ini. Saya juga memang ingin menjadi bagian dari keluarganya Tante," jelas Galang dan di setiap yang dia katakan, yang dia ungkapkan itu membuat Mamah tersenyum lega. Senyumnya dia itu malah cengengesan terus sampai wajah yang dia punya berseri-seri. Tentu saja Mama saya sangat senang dan bahagia dapat mendengar kepastian dari Galang. Dia ingin memang Galang menjadi menantunya.
Tidak ada yang kurang sama sekali dari Galang. Memang saya aku akui, Galang itu tidak ada yang kurang. Semuanya pas. Tetapi, entah mengapa saya merasa terlalu cepat untuk menikah karena kami pun juga hanya baru beberapa bulan saja mengenal dan berpacaran belum ada satu tahun, bahkan setengah tahun itu pun belum ada.
"Tuh, Nay, kamu dengar tidak apa yang dibilang sama Galang. Kamunya itu udah siap belum?" sahut mama sembari memberi isyarat lewat tatapannya kelada saya. "Semuanya, kan, tergantung dari kamu juga, tergantung dari jawaban kamu juga, tergantung dari persiapan kamu juga," ujar Mama yang menurut saya itu, beliau terlalu mendesak saya sebetulnya.
Ditanya soal cinta atau tidak kepada Galang, saya mencintai dia dengan tolak ukur saya dari apa yang menjadi standar saya ketika menerima dia. Bagi saya itu sudah cukup. Sama halnya ketika saya juga menerima Ryan. Saya memiliki standar yang sama untuknya. Sifat mereka sama-sama baik menurut saya dan sama-sama bisa membuat saya merasa nyaman. Kalau soal saya sempat susah untuk melupakan seseorang, oke saya akui itu. Tapi menurut saya memang hal yang wajar, namun saya saat itu sudah move on. Saya merasa sudah tidak ada bayang-bayang dari masa lalu lagi yang menghantui saya. Saya merasa sudah benar apa yang saya lakukan saat itu dan tidak ada yang harus disesalkan lagi. Cuman memang ada keraguan di dalam hati saya untuk menikah karena saya sempat gagal menikah karena sesuatu hal. Yaitu kekurangan. Saya itu seperti merasa ada yang salah dari diri saya tetapi saya tidak tahu apa itu. Tentang kekurangan, yang memang, sampai saat ini belum ada yang bisa mengubah cara pandang saya dan saya kesulitan untuk menerima kekurangan seseorang.
Bicara soal teori itu mudah tetapi untuk praktik yaitu tidaklah segampang kita membalikan telapak tangan kita. Apalagi saya juga mempertimbangkan omongan-omongan dari keluarga saya karena memang pada prinsipnya, kami selalu berusaha untuk mewujudkan kesempurnaan di dalam hidup kami, juga mempertahankan itu semua sangat tidak mudah. Karena memang tidak bisa menampik hal di mana, hidup kita itu dikelilingi oleh banyak orang dan banyak pandangan orang dan penilaian orang terhadap diri kita. Saya sebenarnya tidak ingin memikirkannya tetapi terkadang, ada rasa ego yang ingin saya ikuti yang ingin saya kasih makan untuk diri saya sendiri. Saya merasa diri saya itu sempurna dari segala aspeknya dan saya ingin mendapatkan laki-laki yang sepantasnya untuk diri saya. Saya mengakui diri saya, bahwa saya tegaskan kalau saya tidak memiliki kekurangan apapun. Itu karena saya merasa diri saya sudah sempurna bahkan orang lain pun mengakuinya banyak sekali yang mengakuinya. Kalau orang-orang dengan pasangannya itu dikatakan sebagai pelengkap dalam hidup, melengkapi kekurangan masing-masing. Bagi saya, laki-laki bukan hanya sekedar untuk melengkapi tetapi juga untuk memenuhi keinginan dari si perempuan. Karena saya sudah merasa sangat sempurna juga. Sekali lagi saya tidak butuh pelengkap untuk melengkapi kehidupan saya yang dengan watak saya yang seperti ini, tetapi Saya mencari laki-laki untuk mengimbangi kesempurnaan saya. Dan laki-laki yang telah saya pilih untuk menjadi pasangan saya, harus bisa mengimbangi diri saya.