"Hm, yah, kita bisa pikir-pikir itu nantilah. Lagian juga kita masih sama-sama sibuk, membicarakan soal pernikahan itu bisa di lain waktu," kata saya yang lebih tepatnya untuk memikirkan kembali tujuan menikah. Memikirkan kembali soal keyakinan saya untuk menikah dengan Galang. yang saya tahu memang saya juga memiliki perasaan sama Galang. Tetapi masalahnya, saya merasa ada sesuatu hal yang masih menjadi ganjalan di dalam hati saya. Ada rasa ketakutan yang tiba-tiba saja itu muncul. Atau mungkin, ini efek dari saya yang pernah gagal menikah sama laki-laki lain dan dampaknya adalah di hubungan saya saat itu bersama dengan Galang. Bukan lebih soal ke hubungannya tetapi ini adalah tentang diri saya. Jika masa lalu, saya tidak pernah mengumbar-umbar atau menceritakannya kembali kepada laki-laki yang lagi bersama dengan saya. Seperti halnya yang sudah menjadi bagian dari diri saya, privasi dalam hidup itu adalah hal utama buat saya dan tidak boleh ada siapapun yang ikut campur tangan di dalamnya.
Sayangnya, dari respon yang saya utarakan dan didengar oleh keluarga saya, juga oleh Galang itu membuat mama terutama, jadi kecewa. Beliau nampak tidak suka dengan jawaban yang telah saya berikan atas pertanyaan tentang soal pernikahan saya dengan Galang. Dan saya sangat tahu kalau saya sudah membuat dia marah. Bisa dilihat dari ekspresi wajah mamah. Mamah itu lebih tepatnya tidak bisa menahan emosionalnya sendiri. Mama tidak peduli harus marah-marah di depan siapa dan dan saat apa. terbukti saja Mama berani memarahi saya di hadapan Galang saat itu. "Nayla, kamu ini bicara kok tanpa ada kepastian yang jelas, sih. Memangnya apa yang lagi kamu pikirin? Jangan beralasan kesibukan. Malah kelihatan kamu itu justru mencoba-coba untuk menghalangi pernikahan kalian sendiri," ujar Mama semakin mendesak saya sehingga saya merasa tidak ada ruang untuk saya bernafas. Tidak ada ruang untuk saya bisa merasa bebas untuk menentukan pilihan saya sendiri. "Orang jelas-jelas lakinya saja sudah menggantungkan keputusan semuanya itu sama perempuan. Masa kamunya malah bersikap seperti ini, sih? Jangan kamu malah mematahkan semangat orang lain dong," ujar mamah. Mungkin Galang, lain memandang Mamah bereaksi seperti itu, tetapi di mata saya Mamah memang benar-benar mendesak saya untuk segera menikah sama Galang. Saya tidak tahan harus mendengar Mama yang sudah berspekulasi tentang apa-apa yang tidak sesuai dengan diri saya. Yang malah justru bikin kelihatan nama saya itu buruk. Padahal mama ini tidak tahu apa-apa tentang perasaan saya sendiri dan percuma saja jika saya harus mengatakan yang sebenarnya, Mama pun tidak akan mau memahaminya.
"Mah, bukannya aku itu mematahkan semangat orang lain atau apapun yang Mama katakan tentang diri Nayla. Nayla punya alasannya sendiri dan Nayla itu butuh waktu," tekan saya. Saya itu tidak ingin emosi sama orang tua saya sendiri apalagi ada orang lain di sini. Saya tidak ingin terlihat buruk karena semakin saya menjawab omongan Mama, beliau tentu, pasti bakalan mengatakan hal yang luar biasa sekali membuat saya benar-benar terpancing emosi dan jengkel olehnya. Saya tidak mau berdeba, tetapi pada akhirnya di pancing-pancing terus untuk berdebat. Apalagi mama itu tidak mau kalah debat. Mama bakalan masih terus menyerang saya sampai saya menuruti apa kata dia.
"Heh! Kalian ini, selalu saja bertengkar, padahal ada Galang di sini. Harusnya kalian bisa menghargai Galang bukannya malah berdebat tentang soal pernikahan. Mama juga jangan terlalu ikut campur sama urusan mereka, biarin mereka yang menentukan sendiri. Nayla juga sudah besar dan dia tahu apa yang harus dia jalani. Mama jangan terus-terusan terlalu memaksa dia dan mendesak dia, kalau Nayla sudah siap, dia pasti bakalan menikah," ujar papa yang menjadi penengah di antara kami tetapi saya merasa papa ada di pihak saya dan itu yang membuat saya merasa bersyukur sekali.
Sedari ketika Papa lagi berbicara, mamah itu berusaha mencari celah untuk memotong perkataan papa tetapi papa sama sekali tidak memberikan izin kepada mama untuk mengatakan apa yang ingin dia katakan karena papa terus-terusan saja berbicara.
"Aduh ribet banget, ya? Hanya gara-gara satu orang saja, bikin suasana sarapan jadi tegang tau gak? Udah kayak debat politik," komentar kak Shena. dan seperti biasa dia selalu mengomentari apapun itu tentang saya dengan nada yang menyindir dan penuh akan kebencian yang tersirat. Emang sudah wataknya selalu memanas-manasi suasana, yang tidak pernah membuat suasana itu semakin adem dan tentram.
"Shena, kamu lebih baik diam dan jangan berbicara kalau tidak bisa menjadi penengahnya," tukas papah kepada kak Shena dengan tatapan yang tajam ke arahnya. Papa memang bila bicara kepada kak Shena itu langsung on point dan buat dia itu malah makin jengkel. Dia memang orang yang tidak bisa menerima bila diomongin sama orang tua atau bahkan sama siapapun. Pasti dia bakalan pergi karena marah. Memang dia tidak ada gunanya juga di sini. Dia cuma bisanya memperkeruh suasana saja dengan ucapan-ucapan dia yang tidak perlu harus dikatakan. Saya sejujurnya malu karena berdebat di hadapan Galang dan Galang cuma menontoninya saja dengan ekspresi wajah yang sulit untuk saya jabarkan. Sedangkan Mas Joe, di sini cuman bisa diam saja. Peran dia tidak terlalu penting dan dia juga merasa tidak perlu harus ikut campur dalam permasalahan yang tidak sama sekali melibatkan dirinya. Lebih baik diam daripada tidak bisa membantu apa-apa.
"Aku udah selesai makannya," ucap saya singkat. "Aku mau ke belakang dulu," sambung saya berikutnya. Kemudian dengan sekilas saya memberi tatapan isyarat kepada Galang untuk mengikuti saya ke belakang rumah. Saya ingin duduk bersantai di belakang rumah dan Galang menemani saya untuk malam itu.
"Aku minta maaf untuk masalah tadi, seharusnya tidak perlu harus berdebat di hadapan kamu segala," seru saya lebih duluan yang memulai pembicaraan. "Apa yang diomongin sama mama itu tidak ada yang benar. Aku cuma butuh waktu untuk bisa lebih meyakini diri aku lagi, untuk melanjutkan hubungan yang lebih serius," kata saya tanpa sekali pun memandang wajahnya. Kita berdua duduk di tepi kolam pada malam hari itu. Fokus saya dalam menatap hamparan permukaan air yang diam dan tenang.
"Kamu masih ada trauma karena gagal menikah sebelumnya?" tanya Galang dengan nada yang hati-hati. Saya melirik pada wajahnya yang terlihat berusaha untuk tidak terlalu bicara yang tidak-tidak. Karena memang hal ini sangatlah sensitif untuk dibicarakan. Apalagi sudah menyangkut soal masa lalu. Saya ataupun dia, tidak sekalipun pernah membahas soal tentang masa lalu. Tetapi saya rasa, pada malam hari itu ada yang harus kita bicarakan lebih jauh lagi.