Bab. 26 Yang Jadi Pertanyaan

1085 Kata
Mendengar pertanyaan dari Galang membuat saya berpikir lebih dalam lagi, membuat saya berpikir lebih jauh lagi. Tentang apa yang menjadi ketakutan saya untuk menikah. Masalahnya saya bukan takut karena trauma yang gagal menikah tetapi karena hal yang lain. Saya pernah meninggalkan seseorang karena kekurangannya. Yaitu kekurangan pada fisik dia yang cacat dengan kakinya yang sudah tidak bisa berjalan. Saya pandangi wajah Galang yang awalnya dengan rasa ragu-ragu kini mantap, menatap sepasang matanya yang memandangi wajah saya sebaliknya. Dia menyiratkan akan banyak pertanyaan dari sorot matanya. "Aku menunggu jawaban kamu Nayla," ucap dia, penuh harap-harap kepada saya. Saya untuk menelan saliva saya saja terasa sulit sekali. "Kamu sendiri bagaimana? Bukankah kamu pernah gagal menikah juga dan kamu yang ditinggalkan oleh perempuan yang hampir mau kamu nikahi itu?" Bukannya saya menjawab pertanyaan dari dia yang sebelumnya justru saya malam memberikan pertanyaan yang lain dan mengungkit tentang masa lalu dia. Itu hanya sebagai pengalihan saja dari saya. Saya juga tidak mau terlalu banyak tahu tentang masa lalu seseorang tetapi karena saya masih membutuhkan waktu untuk tidak menjawab pertanyaan dari Galang dulu. Saya masih memikirkan perasaan saya sendiri yang sulit sekali saya jabarkan, apa yang sedang saya gelisahkan. Karena itu saya mencari pembahasan yang lain. Walau saya tahu cepat atau lambat saya pun akan menjawabnya namun saya ingin benar-benar tahu penyebab dari kegelisahan saya sendiri.  "Aku nggak ada trauma sama sekali walaupun aku pernah gagal menikah dengan orang yang aku sayang," kata dia dengan ekspresi wajah yang benar-benar yakin dan bersungguh-sungguh. Tidak ada keraguan sama sekali dari Galang yang saya lihat. Dia seolah tidak lagi merasakan rasa sakit yang pernah dia rasakan di masa lalunya sendiri. Padahal menurut saya, itu akan sangat menyakitkan karena dia sudah gagal menikah, apalagi penyebab gagal menikahnya itu adalah orang yang dia cintai, yang ingin dia jadikan sebagai masa depannya, malah selingkuh dengan masa lalunya sendiri. "Kenapa begitu? Kamu sudah tidak mencintai dia lagi?" tanya saya lagi. Entah mengapa yang tadinya saya tidak mau tahu tentang masa lalu dia, saya kini jadi mulai tertarik untuk mengorek tentang masa lalu dia lagi dan juga tentang perasaan dia yang sekarang. Karena dari kesungguhan dia itu kepada saya membuat saya berpacu untuk menguji dia. Dengan mengorek-ngorek luka lamanya. "Nayla, manusia itu, kan, bakal selalu harus melangkah ke depan, bukan mundur ke belakang. Apalagi berdiri di satu titik aja. Itu bukan aku banget. Aku bakalan selalu meninggalkan hal-hal yang hanya membuat sakit di hati saja. Aku enggak butuh waktu yang lama untuk merenung semua hal yang sudah terjadi, kalau memang perpisahan itu bukan dari kesalahan aku sendiri. Prinsip aku dari dulu adalah tinggalkan yang membuat hati aku itu sakit. Nggak ada gunanya juga kita menyimpannya lama-lama. Toh, orang yang menyakiti kita saja sudah memiliki kehidupannya dengan pilihannya sendiri, dengan dia memilih jalan masing-masing. Lalu, untuk apa lagi harus kita pikirkan? Harus kita tangisi? Harus kita mohon-mohon supaya dia tidak pergi dari kehidupan kita. Aku cukup sekali untuk berjuang buat seseorang dan kalaupun perjuangan aku tidak dihargai, maka aku pun akan melepaskan dia. Kalaupun dia meminta untuk pergi, maka aku tidak akan menahannya. Kalau memang dia ingin mengejar kebahagiaannya sendiri dan kebahagiaannya bukan ada di diri aku, maka aku akan mengikhlaskannya," urai Galang, dengan panjang lebar dia menjelaskan kepada saya. Saya senang mendengarnya. Itu berarti dia memang sudah benar-benar melupakan masa lalunya karena saya tidak bisa bersama dengan seorang laki-laki yang masih cengeng akan masa lalu dia. Yang masih drama akan masa lalunya. Saya tidak punya waktu untuk bersama dengan seorang laki-laki yang seperti itu. Waktu saya sangat berharga dan tidak akan saya sia-siakan hanya untuk seorang yang belum bisa move on dari masa lalunya. Karena saya sendiri pun selalu berjuang mati-matian untuk melupakan masa lalu saya dan melangkah ke masa depan. Tentunya dengan seorang yang bisa mengimbangi saya dan memiliki kesempurnaan yang sama. "Kamu kenapa tersenyum?" tanya Galang dengan tiba-tiba. Sialnya saya malah kedapatan tersenyum mendengar jawaban darinya. Sudah pasti Galang akan memikirkan hal yang jauh lagi. Gengsi dong saya. Karena itu saya langsung berekspresi datar lagi dan menghilangkan senyuman saya. Nanti yang ada, Galang merasa sombong dan besar kepala lagi karena reaksi saya yang begitu senang mendengar penjelasan darinya. "Tuh, kan, baru dibilang gitu aja mukanya udah langsung cemberut. Kamu sering-sering dong tersenyum gitu, manis tahu dilihatnya," godanya seraya menjawil dagu saya. Namun tak bisa saya pungkiri juga kalau jalan memang orang yang romantis. Dia berusaha untuk mengambil hati saya dan saya selama ini sudah melihat perjuangannya. Karena itu juga saya sudah perlahan-lahan membuka hati saya untuk dia. Kemudian Galang menarik tubuh saya ke dalam pelukannya. Kami duduk bersampingan sembari melihat bulan di atas sana. "Nay, kamu belum jawab pertanyaan aku, loh. Kamu sendiri gimana? Apa kamu belum siap karena kamu masih ada Rasa trauma untuk menikah? Aku tahu kalau kamu gagal menikah dari Vidya. Tapi aku nggak pernah tahu alasan dibalik kamu gagal menikah itu apa? Vidya enggak pernah menjawab pertanyaan aku untuk yang satu itu karena dia merasa tidak pantas untuk menjawab pertanyaan dari aku tentang kamu. Menurut dia itu adalah privasinya kamu. Itu mengapa, dia merasa tidak ada hak untuk menceritakan sesuatu hal tanpa seijin dari kamu," terang Galang. Vidya memang orang yang selalu bisa diandalkan untuk menjaga sebuah rahasia. Saya jadi tidak terlalu takut kalau rahasia saja bisa terbongkar olehnya. Jujur saja rahasia tentang seseorang itu tidak akan bisa menyebar kalau kita tahu tempat dimana kita untuk bercerita dan terpercaya. Itu lebih penting juga lebih baik mempercayakan diri sendiri untuk tidak menceritakan kepada yang lain. Namun karena Vidya adalah sahabat saya dan dia juga ada di satu momen pernah ingin tahu, mengapa saya gagal menikah karena Vidya tahunya setelah dari kecelakaan itu, saya memang menemani Ryan selama satu tahun. Gagal menikah memang karena kecelakaan saat itu Ryan posisinya. Tapi tentu saja, pasti akan ada rumor di mana, tentang hubungan saya itu masih berlanjut terlebih saya saat itu menemani Ryan terus. Orang-orang semuanya berpikir kalau saya tidak akan meninggalkan Ryan dan kami akan tetap melanjutkan hubungan kami lalu menikah. Tapi sayangnya pemikiran-pemikiran hal itu salah besar dan saya telah meninggalkan Rian tanpa ada yang tahu alasannya itu apa. Saya menceritakannya kepada Vidya. Yah, menurut saya memang sebenarnya itu adalah rahasia bagi saya, tetapi karena Vidya adalah teman saya, dia ingin tahu tentang kisah lama saya, maka sebagai bentuk rasa menghargai saya terhadap dia yang menjadi sahabat saya, maka saya ceritakan semuanya kepada dia. "Karena itu juga, aku mau tanya langsung sama kamu. Kenapa kamu gagal menikah di masa lalu?" Yang menjadi pertanyaan Galang mengenai soal masa lalu saya, haruskah saya menceritakannya juga kepada dirinya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN