Bab. 27 Menerima Kekurangan Pada Diri Seseorang?

1008 Kata
"Menurut kamu sendiri, kamu lebih pilih mana antara cinta atau prinsip yang kamu miliki ketika salah satunya saling bertentangan?" tanya saya kepadanya dengan salah satu alis yang terangkat. Anggaplah saya sedang menguji dirinya dengan pertanyaan itu. Saya ingin mengetahui pendapat dia. Lalu nanti akan saya ceritakan, apa yang memang ingin dia ketahui dari tentang masa lalu saya. "Tergantung. Keduanya memang sama-sama penting untuk aku Nayla," jawab dia terlihat bingung dari ekspresi wajahnya. Tetapi dia memberikan jawaban yang tidak pasti kepada saya.  "Kalau aku memiliki prinsip di mana tidak boleh ada satupun kekurangan. Dan kalaupun aku menemukan kekurangan itu, aku akan berusaha untuk memperbaikinya. Aku ingin terlihat sempurna. Aku tidak ingin dilihat memiliki kekurangan apapun di dalam diriku karena rasanya itu tidak enak. Begitupun juga dengan pasangan aku yang harus bisa memiliki kesempurnaan yang sama. Aku mencintai laki-laki yang pernah bersama dengan aku dulu. Tapi, dia lumpuh karena kecelakaan di hari pernikahan kami. Itu kenapa pernikahan kami ditunda," terang aku kembali mulai mengenang masa lalu. Ini yang sangat tidak saya sukai adalah ketika menceritakan tentang masa lalu. Saya harus kembali mengingat hal-hal yang sudah terlewati oleh diri saya di dalam kehidupan saya sendiri. Rasanya sangat malas untuk menengok ke belakang walau hanya sementara saja. Namun saya harus terpaksa untuk melakukannya demi Galang. "Lalu apa yang terjadi setelahnya?" tanya dia lagi. Saya kemudian menceritakannya saja dengan jujur dan apa adanya. Tidak ada yang saya rekayasa ataupun saya lebih-lebihkan dari apa yang sudah terjadi. saya tahu nantinya Galang akan berpikir hal yang buruk tentang diri saya tetapi saya tidak mempedulikannya. Yang ada di pikiran saya hanyalah saya mengatakan hal yang memang sudah harusnya saya katakan. Saya tidak perlu berpura-pura untuk menjadi seseorang yang bisa diterima oleh Galang. justru saya merasa tambah buruk bila saya harus mengatakan hal yang sekiranya itu membuat diri saya itu bagus.  "Kamu meninggalkan dia?" sahut Galang terdengar sangat terkejut setelah dia selesai mendengar kisah lama saya dari orangnya langsung. "Itu terlalu menyakiti hati dia Nayla," sambung dia lagi. Dari ekspresi wajahnya saja dia tercengang.  "Tapi aku bebas untuk memilih siapa yang pantas untuk menjadi masa depan aku," balas saya. Saya rasa saya telah melakukan apa yang menurut saya sudah benar. kemudian saya melipat kedua tangan saya di atas perut saya. "Dan kalaupun aku masih bersama dengan dia, aku nggak bakal mungkin sama kamu sekarang ini," cetus saya langsung bisa membuat mulutnya itu bungkam. Dia mengangguk dan membenarkan apa yang saya bilang kepada dia. Galang kembali merangkul tubuh saya. Terdengar dia menghela napas pelan. Sikap tenangnya dia ini membuat saya jadi bertanya-tanya. "Menurut kamu gimana setelah kamu mendengar cerita dari aku tentang masa lalu aku? Apa yang kamu pikirkan tentang aku?" tanya saya blak-blakan saja. Saya memang ingin mendengar jawaban yang jujur dari Galang. Saya tidak ingin mendengar kebohongan atau apapun itu hanya untuk menjaga hati saya saja ataupun perasaan saya. Lebih baik dia mengatakan hal yang pahit kalau memang itu adalah kebenarannya, daripada mengatakan hal yang manis tetapi hanyalah sebuah kebohongan yang tak ingin saya dengar sama sekali. "Kamu tidak bisa menerima kekurangan seseorang, begitu?" seru dia yang saya tetap serius dengan lamat-lamat. "Cinta harus menerima apa adanya seseorang Nayla," lanjut dia. "Apalagi kamu telah memilih seseorang itu untuk menjadi pasangan kamu, maka, apapun yang ada di dirinya dan kehidupannya, harus kamu terima kekurangan apapun yang dia miliki. Bukan serta merta malah meninggalkan. Kalau kamu begitu terus, yang ada hubungan itu akan selalu berakhir karena kamu tidak bisa menerima kekurangannya dari seseorang. Mencintai seseorang itu harus terima apa adanya Nayla. Kekurangan seseorang itu yang harus kita cintai juga, itu baru cinta namanya," jelas Galang yang menurut saya itu hanyalah sekedar teori saja. Tetapi secara praktiknya, saya rasa ada banyak perempuan-perempuan yang akan berpikir 1000 kali untuk menerima seseorang yang jelas-jelas kekurangannya itu akan membebani hidupnya. Jangankan hidup pasangannya, bahkan hidup dirinya sendiri pun akan terasa berat untuk dijalani karena kekurangan yang dimiliki itu tidak akan bisa untuk disembuhkan apalagi untuk bisa diatasi. "Enggak segampang apa yang kamu bilang Galang. Mudah kamu bicara seperti itu tetapi prakteknya itu, nggak semua orang bisa," bantah saya. Pada kenyataannya, memang banyak orang yang meninggalkan pasangannya karena kekurangannya bahkan yang menikah saja, ada yang cerai karena permasalahan finansial ekonomi. Selain itu ada juga pasangan yang lagi sedang sakit-sakitnya juga ditinggalkan. Atau dengan kekurangan-kekurangan yang lainnya. Realitanya memang seperti itu bukan? "Kalau kamu punya pandangan seperti itu Nayla, lantas ketika aku aku berada jatuh di bawah, apakah kamu akan meninggalkan aku nantinya?" tanya Galang dengan sorot mata yang khawatir. Terlihat dia begitu ketakutan setelah dia memberikan pertanyaan tersebut kepada saya. Obrolan pada malam itu untuk dua manusia yang saling membuka diri masing-masing dengan perlahan-lahan. Dengan pertanyaan-pertanyaan yang memancing dan pada akhirnya mau tidak mau harus dijawab juga dengan kejujuran yang ada.  "Itu kenapa kamu harus bisa mengimbangi aku Galang kalau memang kamu mencintai aku," kata saya kepada dia. "Di mata aku, kamu sudah sempurna dengan apa yang kamu miliki. Aku udah memilih kamu untuk menjadi pasangan aku, maka dengan itu, kamu harus menjaga apa yang kamu punya. Tidak sulit, kan, karena kamu sudah memilikinya?" Saya mengatakan hal ini kepada dia supaya dia dapat mengingatnya. Supaya dia juga bisa mengerti apa mau saya. Cukup menjaga apa yang sudah dia miliki, baik itu fisiknya dan baik itu kekayaan yang dia punya. Karena itu adalah sumber dari kesempurnaan. Bahkan orang-orang bisa menilainya juga. Saya hanya realistis saja pada hidup. dan lagi pula hidup akan lebih mudah untuk memiliki apa yang sudah seharusnya menjadi tolak ukurnya. Tolak ukur saya adalah fisik pertama itu yang menjadi daya tarik saya. Kedua kekayaan. Seseorang akan lebih mudah menikmati hidupnya bila dia tidak merasakan masalah keuangan apapun itu. Saya sudah pernah merasakan yang namanya kekurangan uang. Hidup rasanya tidak ada gunanya ketika kesulitan dalam financial. Semuanya akan berujung pada stress. Semuanya akan terasa sangat melelahkan bahkan ketika seseorang berada jatuh di bawah, dia akan diasingkan. Saya saja dulunya pernah diasingkan lebih dulu karena mata saya yang pernah buta sebelah. Dan saya tidak mau hidup dalam keadaan seperti itu lagi. Cukup waktu itu saja di masa lalu tetapi tidak untuk saat sekarang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN