Bab. 28 Kembali Gagal Menikah?

1002 Kata
Setelah dari perbincangan pada malam hari itu, kita sudah disibukkan dengan momen untuk mempersiapkan pernikahan kami. Sejauh ini yang saya pikirkan ketika waktu itu adalah saya berpikir Galang tidak memiliki permasalahan apa-apa dengan urusan bisnisnya. Galang memang tidak pernah menceritakan tentang permasalahan yang ada di dalam perusahaannya, permasalahan internal. Dan saya juga memang tidak pernah menanyakan hal itu kepada Galang. Melihat Galang terlihat baik-baik saja tetapi nyatanya tidak lah baik-baik saja. Dia menutupinya dari saya. Ada rahasia yang disembunyikan dari saya dan itu baru saya ketahui, saat saya dan keluarga saya diundang untuk acara makan malam di rumah Galang. Kita bercengkrama seperti halnya orang yang sudah lama mengenal satu sama lain. Tidak ada kecanggungan di antara kami apalagi mama yang terus saja asyik berbincang-bincang sama mamahnya Galang. "Kalau bisa nanti waktu pernikahan kita buat acaranya itu mewah kita undang semua orang. Apalagi Galang ini anak tunggal, kan? Ya, kan, Jeng. Kita buat pernikahannya itu benar-benar mewah supaya berkesan untuk Galang, untuk Nayla, dan untuk kita semua," usul mamah yang sebenarnya itu dari hati saya sendiri tidak menginginkan kemewahan walaupun memang, saya ingin pernikahan saya nantinya itu diadakan dengan sempurna tanpa ada yang kekurangan sama sekali. Tetapi saya itu ingin sekali mengundang orang-orang terdekat saja supaya saya bisa merasakan khitmatnya pernikahan itu. Hanya saja namanya orang tua selalu mengatur urusan pernikahan anak anaknya supaya bisa memberikan yang terbaik. Cuman kembali lagi pada keinginan anak-anaknya yang tidak sependapat dengan orang tuanya. Terlalu banyak tapi sebenarnya, karena dari saya dan juga Galang pun tidak menginginkan apa yang mamah inginkan. Berbeda halnya dengan mamahnya Galang itu menyerahkan semuanya kepada anak-anaknya. Terserah pernikahan akan diadakan seperti apa yang penting anak-anak itu bahagia dan senang. Ya tetap saja, mama yang akan memegang kendalinya. Dia ingin semua acara itu harus dilaksanakan dengan kemewahan dan mengundang banyak orang. "Kita bagaimana dengan anak-anak kita aja. Yang terpenting adalah acara pernikahan dari kedua anak kita lancar. Tidak terkendala dengan apapun," ujar papanya Galang. Papanya Galang itu terakhir kali masuk rumah sakit karena sudah sakit-sakitan. Beliau juga sudah pensiun dari mengurus perusahaan, maka dengan itu, dia menyerahkannya kepada Galang. Kedua orang tua Galang ingin anaknya itu bisa segera menikah. Mereka ingin Galang memulai kehidupan barunya dengan saya, dengan perempuan yang baru. Dan supaya masa lalu yang sudah pernah terjadi itu benar-benar tidak lagi membayangi Galang, itu yang ada di pikiran orang tuanya. Galang memang selalu mengatakan dirinya baik-baik saja dan sudah melupakan tentang masa lalunya tetapi orang tuanya memiliki pemikiran yang lain. Orang tuanya selalu beranggapan kalau Galang tidak segera menikah, dia bakalan selalu terkurung dengan bayangan dari masa lalunya yang sangat menyakitkan. Memang orang tuanya tidak percaya bahwa Galang sudah benar-benar move on, karena itu Galang benar-benar didesak untuk bisa secepatnya menikah dan membangun keluarga. Orang tuanya juga sudah sangat mempercayakan Galang dengan saya. Mereka menilai bahwa saya adalah perempuan yang tepat untuk menemani Galang dan menjadi istrinya Galang di masa depan. Saya senang bila dipercayakan oleh kedua orang tuanya. Itu tandanya saya memiliki nilai poin yang baik di mata mereka masing-masing.  Setelah dari perbincangan di antara keluarga kami, kita semua yang ada di rumah Galang kedatangan tamu lagi. Tamunya benar-benar tidak diundang. Karena yang datang adalah dari pihak aparat kepolisian. Kita semua langsung kaget karena ada polisi yang datang ke rumah Galang. Saya ingat saat itu Galang dibawa ke kantor kepolisian untuk diperiksakan sebuah kasus yang terjadi.  Ternyata tanpa saya sadari selama ini Galang telah menutupi sebuah rahasia yang besar. Perusahaan Galang ternyata tidak baik-baik saja melainkan dalam keadaan krisis finansial. Perusahaan Galang yang dioperasikan tengah terlilit hutang terhadap bank dalam jumlah nominal yang sangat banyak bahkan sudah menyentuh triliunan. Galang gagal dalam melakukan investasi. Sebelumnya dia pernah meminjam uang pada bank untuk menutupi kerugian-kerugian yang lainnya juga. Belum lagi, ada permasalahan internal yang mengakibatkan kerugian perusahaan dia semakin besar, untuk perusahaan yang lainnya. Orang kepercayaannya itu tolong menghianati dia dengan melakukan tindak korupsi. Itulah yang saya katakan kepada dia, kalau dia terlalu baik kepada orang lain, pada akhirnya dia juga dirugikan, apalagi dengan orang yang benar-benar dia percayai untuk membantu mengurusi perusahaan yang lainnya juga, dan sekarang dia juga kena imbasnya. Saya sudah lama tak bertemu dengan Galang, mungkin sudah ada satu minggu. Bukan karena saya yang tidak mau menemui Galang yang masih sibuk dalam proses hukum yang sedang berlangsung saat itu, melainkan karena mama yang melarang saya untuk bertemu dengan Galang. "Kamu pokoknya nggak boleh dekat-dekat sama dia, kamu nanti bisa kena masalah karena permasalahan dia, apalagi ini sudah menyangkut soal hukum. Lebih buruk lagi, dia bisa saja membebani kamu dengan meminta kamu membantu melunasi hutang-hutang dia. Mama nggak mau ya kamu sampai melakukan hal itu, nggak perlu. Kalau dia meminta bantuan sama kamu Kamu harus menolak dia, jangan kamu bantu dia. Yang rugi itu nanti kamu Nayla," tekan mama ketika saya, Kak Shena lagi tengah duduk bertiga di ruang tengah. Sedari tadi saya masih mendiamkan mama. Saya terus mendengarkan mama yang berceloteh tentang begini dan tentang begitu. Sekarang saya lagi-lagi berada di fase yang memberatkan dalam kehidupan saya saat itu. Fase di mana saya harus kebingungan antara cinta dan prinsip saya sendiri. Galang saya pastikan sudah dia bakalan bangkrut perusahaannya. Dia sudah menerima kerugian yang sangat besar dan itu sangat tidak mudah untuk dilalui olehnya, apalagi semuanya dia handel ketika orang tuanya itu memang sudah mengurusinya lebih duluan. Dia tidak memulai sesuatu itu dari nol walaupun memang kedua orang tuanya telah memberikan ilmu yang begitu besar untuk dia supaya bisa menjalankan perusahaan yang telah dibangun oleh orang tuanya sendiri. Tetapi saya ragu akan kemampuan dia untuk bisa keluar dari permasalahannya. Bila saya benarkan apa yang mama ucapkan menurut saya itu memang sudah masuk akal. Tetapi, pernikahan saya apakah harus kembali gagal lagi? Saya sebenarnya sangat kesal dengan Galang Kenapa kejadian seperti itu harus terjadi di detik-detik Kami ingin menikah. Kenapa selalu ada saja halangan-halangan yang menjadi rintangan untuk saya bisa membangun sebuah keluarga dan bisa terikat dalam hubungan yang sah? Sebenarnya apa yang salah dan apa yang harus diperbaiki? Mengapa nasib baik, tidak selalu berpihak kepada diri saya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN