Apa yang pernah terjadi di masa lalu seolah kembali terulang di masa yang berbeda. Keluarga saya lengkap kembali untuk memeriahkan acara pesta barbeque yang seringkali keluarga saya adakan. Tetapi bukan hanya keluarga saya saja yang memeriahkannya, melainkan mengundang sanak saudara juga. saudara-saudara saya memeriahkan pesta tersebut bersama dengan pasangan-pasangan mereka masing-masing namun tidak dengan diri saya seorang. Tentu saja membuat hati saya miris melihatnya apalagi memandang kondisi diri saya sendiri. Saya sangat merasa tidak bisa untuk baik-baik saja. Jujur saja saya merasa sangat bingung saat itu terlebih sudah lama saya tidak menghubungi Galang. Saya memang yang menjaga jarak darinya. Kasus dia sudah naik ke pengadilan. Bisnis dia terancam akan bangkrut. Hal ini yang menjadi penyebab, di mana, keluarga saya pun tidak menyetujui lagi hubungan saya dengan Galang. keluarga Galang sama sekali tidak diundang untuk ikutan memeriahkan acara pesta barbeque yang kami adakan. Mama saya sendiri yang melarang saya untuk menghubungi Galang dan juga mama yang melarang saya untuk tidak mengundang Galang dan keluarganya datang ke rumah saya. "Mama tidak ingin terkena masalah apapun dan Mama tidak mau memiliki hubungan apapun sama keluarganya Galang. Mereka hanya akan menjadi benalu untuk keluarga kita Nayla. Kamu harus ingat itu." Mama mengatakan hal tersebut kepada saya sebelum pesta barbeque ini dimulai. Saya tahu beliau lagi sedang mengingatkan saya untuk tidak berani berani mencoba untuk menghubungi Galang. Hati saya ingin tahu keadaan Galang itu seperti apa dan bagaimana kelanjutan dari kabar dia. Namun logika saya sama persis seperti mama. Lagi-lagi saya membenarkan apa yang dibilang sama mamah dan untuk kebaikan saya sendiri di masa depan. Laki-laki yang saya temui, yang hendak akan menikahi saya, dan untuk kedua kalinya lagi-lagi gagal. Saya dihadapkan dengan orang yang berbeda, dengan kejadian yang tidak sama tetapi hasil akhirnya adalah itu yang membuat saya kesal. Haruskah saya menerima kegagalan lagi di dalam kehidupan saya untuk menikah? Kenapa laki-laki yang saya pilih, selalu saja keterima musibah yang sama sekali tidak pernah kami inginkan. Musibah yang pada akhirnya memunculkan kekurangan yang begitu mencolok dan sama tidak bisa ditolerir. Yang pertama kekurangan yang ada pada fisiknya. Ryan yang lumpuh, tidak bisa berjalan, bahkan untuk bekerja pun juga tidak bisa. Yang saya yakini tidak akan bisa untuk menafkahi kehidupan saya, malah justru nanti saya yang harus menafkahi dia. Dan sekarang adalah gilirannya Galang yang harus jatuh miskin. Saya juga tidak mau menanggung beban rasa malu dimana calon suami saya itu terlibat hukum. Citra saya nanti akan ikut-ikutan jadi buruk karena permasalahan dari Galang. calon suami saya bermasalah dan itu juga akan membuat malu untuk keluarga saya sendiri di depan mata siapapun. Ingin tidak peduli dengan apa kata orang-orang tetapi tetap juga tidak bisa diabaikan. Soalnya memang saya juga hidup di sekeliling dengan orang-orang yang begitu berpengaruh. Saya membayangkan kalau saya terus meneruskan hubungan saya dengan Galang dan menikah dengan Galang, Saya yakini, pernikahan saya akan menjadi buah bibir oleh banyak orang. Terutama juga kedua orang tua saya yang malu akan hal itu di hadapan teman-teman mereka semua.
"Loh, kok, sendirian aja, sih, Nayla?" ucap dari salah satu sanak saudara saya yang saya masih bisa mendengar bahwa ada yang lagi sedang membicarakan saya. dan saya juga posisinya lagi sedang main HP sambil duduk saja menyaksikan orang-orang yang sibuk dengan pesta itu tetapi saya memang tidak menikmati pestanya. Karena itu tadi, hati saya merasa ada yang kurang lengkap. Saya tahu apa bagian mana yang kurang lengkapnya namun saya tidak bisa untuk memperbaikinya.
"Calon suaminya itu mana?"
"Eh, dengar-dengar itu, calon suami Nayla terlibat hukum, ya? Isunya, saya, calon suaminya Nayla bakalan benar-benar bangkrut karena banyak yang disita juga asetnya. Gara-garanya juga ada yang korupsi. Aduh pokoknya, mah, kacau balau, deh." Telinga saya sedari tadi itu sudah panas duluan karena mendengar orang-orang pada membicarakan tentang hal buruk soal Galang tetapi mau disalahkan pun juga tidak salah karena memang benar apa yang dibilang. Tetapi yang membuat saya lebih lebih marah lagi, adalah pada Galang yang tidak bisa betul untuk menjaga apa yang sudah dia miliki. Dia tidak bisa mempertahankan apa yang sudah dia punya. Dan sekarang dia harus tersandung masalah yang besar. Belum menikah saja, sudah menjadi bahan omongan. Bagaimana nanti kalau kita berdua beneran menikah? Saya tidak akan bisa mampu untuk melewatinya karena memang sudah menyalahi prinsip saya sendiri. Saya tidak lagi menganggap Galang itu benar-benar sempurna. Dia bakalan jatuh miskin Dan saya tidak mau harus hidup miskin. Saya juga tidak mau kalau sewaktu-waktu nanti menikah, gaji saya lebih besar daripada calon suami saya itu. Saya tidak mau menurunkan kadar kesempurnaan diri saya dan apa yang saya mau dari seseorang.
"Aduh, Nayla bakalan kena masalah juga nanti. Lebih bagus lagi kalau mereka itu gagal menikah dan tidak usah untuk bersama lagi. Bakalan menyusahkan hidup aja. Sayang, loh, Nayla itu, kan, cantik, kualitasnya juga bagus, dia pintar. Wawasannya itu, loh, yang begitu luas dan membuat saya terheran-heran dengan dia sampai bisa terlibat keberhasilannya.
"Mending Nayla cari cowok yang lain aja. Nayla itu kan cantik, masa dia mau menikah sama laki-laki yang gagal, istilahnya itu bakalan bangkrut. Ingatlah cowok di dunia itu nggak cuma satu tetapi ada banyak." Yang dikatakan, oleh Tante saya ada benarnya juga. Saya cantik, pintar, banyak hal-hal positif yang saya miliki. Yang belum tentu juga bisa didapatkan oleh setiap perempuan. dan Galang atau siapapun yang bersama dengan saya harus bersyukur akan hal tersebut. Nyatanya, saya hanya meminta untuk bisa mengimbangi diri saya saja, Galang tidak bisa untuk melakukannya. Masih ada banyak laki-laki di luar sana yang menanti diri saya, yang mau menjadi suami saya. Saya juga yakin sekali kalau di luar sana, pasti ada perempuan yang meninggalkan laki-lakinya ketika laki-lakinya itu harus berhadapan dengan kepolisian. Terlibat permasalahan yang begitu penting. dan pasti banyak perempuan yang realistis hidupnya untuk lebih memilih sendiri saja daripada dia harus menikah dengan laki-laki yang tidak memiliki harta dan kekayaan. Finansial itu sangat penting di dalam kehidupan begitu juga saat menikah. Saya selama hidup tidak mau lagi merasakan kekurangan. Saya sudah merasakan kepahitan itu dan saya selalu berusaha di dalam kehidupan saya untuk memenuhi apapun itu supaya saya tidak merasakan yang namanya kekurangan dan saya tidak akan memilih kehidupan di mana yang akan membuat saya itu merasa kurang untuk setiap halnya.