Bab. 30 Akhir Dari Sebuah Kekecewaan

1028 Kata
"Nayla itu anaknya penurut, dia selalu mengikuti apa kata orang tuanya. Jadi kalau orang tuanya bilang nggak, ya pasti nggak. Dia nggak bakalan pernah membangkang apa yang orang tuanya suruh. Lagian orang tua mana juga yang mau mengizinkan anaknya nikah sama laki-laki yang udah bisa ditebak, gak bakalan bisa menghidupi anak perempuan yang kita rawat mati-matian dari dia kecil," ujar Mama kepada kedua tante saya. Mama saya terus berbincang mengenai diri saya dan membanggakan diri saya pada orang-orang, tetapi hati yang saya rasakan itu lain halnya. Tidak merasa bahagia ataupun senang karena dibanggakan oleh orang tua saya sendiri, melainkan bertolak belakang dengan apa yang dikatakan oleh Mama saya, tetapi saya merasa tidak bisa berbuat apa-apa. Justru saya hanya bisa diam saja mendengarkan mama yang terus berceloteh tentang ini dan tentang itu mengenai anak perempuannya yang selalu saja gagal menikah dengan seorang laki-laki. Kenapa hati saya masih ingin menetap pada Galang? Tetapi logika saya menolak akan hal itu. Saya harus pergi dari kehidupan Galang. Galang bukan lagi menjadi masa depan saya dan harapan saya. Kekurangannya itu tidak bisa saya tolerir sama sekali. Terlihat sangat jahat diri saya kepada orang lain. Meninggalkan selalu laki-laki yang pernah mencintai saya, saat dalam keadaan terpuruk mereka. Namun tidak, logika saya kali itu menang lagi. Saya tahu apa yang telah saya ambil keputusannya itu telah benar. "Kita cukup sampai di sini aja, ya. Mau dilanjutin pun hubungan kita enggak akan sama seperti dulu." Itu yang saya bilang kepada Galang saat saya mengajak Galang untuk bertemu. Dia terlihat senang ketika dia bertemu dengan saya. Apalagi saya lebih duluan yang mengajak dia untuk ketemuan. Di awalnya ketika kita bertemu Galang menceritakan mengenai permasalahannya. Saya juga bertanya itu karena ingin tahu juga awalnya. Namun di akhir sesi cerita tersebut, saya membumbunya dengan bahan yang lain. Galang terlihat sangat terkejut dan dapat saya lihat dari sorot matanya ketika dia mendengar perkataan saya yang pastinya sudah membuat dia makin jatuh lagi mentalnya. "Memangnya kenapa Nayla? Pernikahan kita juga belum kita adakan. Lalu apa yang beda dari hubungan yang kita jalani kalau kita terusin?" tanya dia bertubi-tubi tetapi dia berusaha untuk tetap menenangkan dirinya di hadapan saya. "Lupakan soal pernikahan itu. Hubungan kita udah selesai. Dari keluarga aku pun juga tidak ingin pernikahan itu tetap diteruskan. Hubungan kita udah cukup berakhir sampai di sini saja, yah," kata saya lagi. Tegas dari apa yang saya katakan karena saya tahu apa yang harus saya lakukan dan saya lebih mengabaikan hati saya saja meskipun saat saya mengatakannya itu rasanya sakit sekali. tak bisa saya pungkiri kalau saya tak tega melihat sorot mata Galang yang menandakan kekecewaannya kepada saya. "Karena semuanya sudah berantakan bukan? Aku udah terlibat dengan hukum, bisnis yang aku jalani sekarang udah mulai bangkrut. Keadaan aku sekarang financial sudah benar-benar jatuh. Aku udah terpuruk dan kamu memilih untuk meninggalkan aku dalam keadaan aku yang seperti ini," terang dia dengan tatapan yang tak bisa saya baca. Kosong saja, tak ada yang bisa saya terka-terka darinya. "Tapi, ya, mau bagaimana lagi," Galang menunjukkan senyuman yang saya tahu artinya itu dia sudah benar-benar kecewa pada diri saya dan dengan keadaannya. senyuman yang ia tunjukkan hanyalah untuk memperlihatkan dia berusaha tetap tegar. "Aku juga orangnya cukup tahu diri. Kamu dari keluarga yang berada, Kamu itu cantik, kamu itu pintar, kamu itu sukses dengan bisnis yang kamu punya. Ada banyak laki-laki yang mau sama kamu. Dan sedangkan diri aku ini, apa yang bisa dibandingkan? Toh juga aku tidak bisa memenuhi ekspektasi dari kamu itu. Standar kesempurnaan yang entah, apa gunanya itu, kamu buat itu pada pasangan kamu sendiri," kata dia yang mulai menyinggung hal lain mengenai prinsip saya yang saya punya. "Setiap orang itu nggak ada yang sempurna Nayla. Setiap orang itu punya kekurangannya masing-masing, bahkan diri kamu pun, saya yakin, kamu pasti punya kekurangan. Hanya saja semua orang melihat itu fokus dengan kelebihan yang kamu miliki. Tapi jujur saja dari hati kamu itu, saya sangat miris melihat diri kamu. Mencintai seseorang dengan syarat akan kesempurnaan yang padahal, setiap manusia yang hidup di dunia ini akan selalu diuji dengan banyak hal. Termasuk saya dan termasuk diri kamu juga. Tetapi kamu memilih untuk meninggalkan orang yang sedang membutuhkan kamu. Setiap laki-laki yang memiliki kekurangan, kamu pasti akan meninggalkannya. Entah sadar atau tidak, anda tahu atau tidak tentang diri kamu sendiri, saya rasa kamu tidak benar-benar mengenal diri kamu itu," pungkas dia begitu panjang lebar dia mengatakan hal seperti itu tentang diri saya. Saya hanya bisa terdiam seribu bahasa karena apa yang diucapkan oleh Galang itu tidak ada yang salah dan benar semua. "Oke, deh, saya juga sudah tidak punya harapan apa-apa lagi, dan akan sangat sia-sia juga kalau saya membuang-buang tenaga saya untuk memperjuangkan seseorang yang memang ingin pergi dari kehidupan saya. Dengan alasan saya jatuh miskin. Dan perempuan yang saya cintai, lebih memilih untuk meninggalkan saya dalam keadaan susah." Galang kemudian berdiri dari duduknya. Dia menatap saya dengan tatapan yang tidak lagi seperti biasanya. Biasanya ada keceriaan di matanya ketika dia bertemu dengan saya, tetapi kali ini tidak. Semuanya tergantikan dengan kekecewaan dia yang begitu besar terhadap saya. Sebelum dia pergi meninggalkan saya, dia pun meninggalkan kata-kata untuk terakhir kalinya buat diri saya. "Saya nggak bakalan mengejar kamu Nayla. Saya bakalan lebih memilih untuk membuang hal yang hanya akan menyakiti hati saya saja." Dan jantung saya berpacu begitu cepat dari yang biasanya. Galang pergi tanpa membalikkan tubuhnya sama sekali atau bahkan untuk melihat wajah saya buat terakhir kalinya, itu pun tidak sama sekali. Dan untuk kesekian kalinya saya telah melakukan hal yang sama, namun logika saya yang menang ini tak membuat saya merasa benar-benar bahagia seutuhnya. "Saya tidak tahu, di luar sana ada atau tidak laki-laki seperti yang kamu inginkan," pungkas Galang setelah itu dia benar-benar tak akan lagi mau bertemu dengan saya. Saya sudah meninggalkan Galang dengan tanpa saya membantu dia sama sekali bahkan untuk memberikan semangat kepadanya pun tidak ada, tak sekalipun sama sekali saya lakukan untuk dia. Ketika saya benar-benar mencintai seseorang, dengan perlahan-lahan, batu itu yang keras mulai mengikis. Hati saya tergerak karena mereka selalu memberikan hal-hal yang baik kepada diri saya sendiri. Saya merasa, saya bukanlah saya yang dulu ketika bersama dengan mereka. Apa yang sebenarnya terjadi dengan diri saya sendiri?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN