Bab. 31 Penerimaan yang Bertentangan

2046 Kata
Hari ini saya dan Mahesa janjian untuk bertemu tetapi saya menunggu Mahesa di taman rumah sakit. Dia lagi sedang yang ada praktek operasi jantung. Ketika saya sedang melamun kan diri saya seorang diri di tempat saya duduki. Yang tak jarang orang berada di tempat yang saya tempati. Ada satu orang anak perempuan yang duduk di kursi rodanya. Ia dengan kedua orang tuanya. Ayah dari anak itu berjongkok di hadapan anak perempuannya, sedangkan ibunya duduk di sebelah saya. Ibunya sempat tersenyum kepada saya. "Numpang duduk, ya, Mbak," ucap dia meminta izin dari saya. Melihat anak itu, dia seperti anak yang 'kurang'. Saya tidak melihat anak itu seperti anak yang normal. Dan saya mendengar ayahnya itu sedang melantunkan ayat Al-quran. Walaupun saya tidak tahu artinya dan masih terdengar asing di telinga saya, tetapi saya tahu kalau ayahnya lagi sedang mengaji di hadapan anaknya. Saya makin penasaran, ayahnya juga memegang Al-quran yang sengaja ditaruh di pangkuan anaknya. Melihat hal itu, membuat saya tertarik untuk menyaksikan interaksi dari ketiga orang tersebut. Saya sedikit mencondongkan tubuh saya ke depan dengan kepala saya menoleh ke samping di mana mereka berada. Ketika bisa saya akhirnya melihat dengan jelas wajah anak tersebut. Saya baru mengetahui kalau anak itu mengalami kebutaan. Saya sampai kembali lagi dengan posisi saya yang sebelumnya, dengan menutup mulut saya memakai kedua tangan saya. Saya tak habis pikir, bahkan tak bisa mempercayai apa yang saya lihat di hadapan saya ini. Anak itu juga ikut mengaji bersama dengan ayahnya sembari tangannya menunjuk Al-quran. Padahal anak itu tidak bisa melihat. Reaksi yang saya tunjukkan ini menarik perhatian sang ibunya juga. Beliau lagi-lagi menyunggingkan senyuman ramahnya kepada saya. "Anak saya mengalami lumpuh otak dari dia sejak lahir. Sehingga membuat dia harus duduk di kursi roda," jelas dari sang ibu. "Dia juga mengalami kebutaan dari sejak lahir," sambung sang ibunda. Sorot dari matanya tidak bisa dibohongi kalau dia sedang bersedih. Dia pasti sangat sedih dengan keadaan anaknya yang seperti itu. Tidak bisa normal seperti anak-anak seusianya. Tentu saja orang tua mana yang tidak ingin anaknya itu bisa seperti anak-anak pada umumnya. Perkembangan tumbuh kembang anak itu pasti terhambat. Penyakitnya itu pasti membuat ototnya jadi kaku, bahkan tak membuat seluruh tubuhnya bisa bergerak. Tetapi yang benar saja apa yang saya lihat itu rasanya nyata. "Saya sebagai orang tuanya Mbak, tidak bisa memberikan apa-apa untuk anak saya. Saya hanya ingin memberikan kasih sayang dan ilmu untuk dia. Bekal di masa depan dia nanti. Biar dikata dia itu memiliki kekurangan, tetapi saya ingin dia bisa juga menonjolkan kelebihan dia, yang dia punya. Karena," sang ibunda tersebut menatap anaknya sembari mengelus pucuk kepala dari anak itu yang tertutupi oleh hijab. Kemudian beliau menatap saya kembali. Senyumannya kali ini benar-benar saya bisa merasakannya, tulus sekali untuk anaknya. "Saya dan suami saya ingin dunia melihat anak saya itu dengan kelebihan yang dia miliki. Bagi kami anak kami itu adalah anak yang unik. Dia anak yang hebat karena dari kekurangannya, dia bisa menghafal 30 juz al-quran. Saya dan suami saya ingin anak saya menjadi seorang hafidz. Menunjukkan kepada dunia bahwa kekurangan tidak akan membatasi kemampuan dan geraknya manusia," ujar beliau tersebut sangat yakin dengan yang dia katakan tetapi mustahil untuk saya logikakan. Apakah memang bisa dunia memandang seseorang itu melihat dari kelebihan yang dia miliki, padahal kekurangannya begitu jelas lebih menonjol. Walau sehebat apapun seseorang, akan tetap saja orang lain menilai dan memandang rendah orang yang memiliki fisik yang cacat. Atau bahkan yang lebih buruknya mereka bakalan diasingkan. Atau lebih yang membuat saya bencinya adalah dipandang dengan tatapan aneh. Seolah orang yang memiliki fisik yang cacat itu memang aneh. Jadi apa yang dikatakan oleh ibu tersebut itu rasanya terlalu jauh angan-angannya. Padahal kenyataannya realistisnya itu tidak begitu. "Saya ingin anak saya ini juga bisa berbaur dengan banyak orang, bisa memiliki kehidupan yang normal," lanjutnya kembali dan saya rasa itu sangat tidak mungkin bisa terjadi pada anaknya. Dengan keadaannya yang seperti itu, Apakah memang benar-benar ada orang yang bisa menerima kehadirannya? Yang bisa menerima keadaannya yang berbeda dari yang lain? Saya rasa itu tidak mungkin terjadi. terlalu berekspektasi tinggi hanya akan membawa kekecewaan yang tak bisa dipungkiri. Rasanya sangat sakit di hati. Dan saya terlalu miris kepada dia untuk mendengarkan kata-katanya yang terlalu idealis. Tidak bisa dengan realistis. "Sudah selesai, ya? Kita kembali ke ruangan, ya," ajak ibu dari anak tersebut. "Mbak kami pamit dulu, ya. Anak saya masih harus menjalani perawatan," pamitnya undur diri dan saya hanya menganggukkan kepala saya saja. Saya bahkan tak mengatakan apa-apa ketika ibu tersebut mengungkapkan perasaan dan bagaimana cara pandang dia. Saya masih bergelut pada logika saya sendiri. Saya ingin mengatakan hal yang saya pikirkan kepadanya tetapi sayangnya saya tidak ingin mematahkan semangat Ibu itu. Lebih baik saya menjaga perkataan saya saja daripada nantinya dia merasa tersakiti oleh ucapan-ucapan saya. "Nayla," panggil seseorang dan suaranya menarik perhatian saya untuk menoleh ke belakang. Rupanya ada Mahesa dengan berbalut tubuhnya oleh jas putih. Saya kembali ke posisi saya semula dan Mahesa mengambil tempat duduk di sebelah saya. "Aku menyaksikan apa yang sedang kamu dan ibu tadi perbincangkan," ucap dia membuat saya berpikir kalo dia ternyata sudah ada di sekitar saya sedari tadi. "Menurut kamu, bagaimana pandangan kamu setelah melihat anak tadi dengan kekurangannya dan juga optimisnya kedua orang tuanya dengan mendukung anaknya supaya bisa maju seperti orang lain?" Saya memandang Mahesa dengan pikiran saya yang masih berputar-putar. Mahesa kemudian mengalihkan perhatiannya ke depan. "Bahkan yang aku lihat dari orang tuanya itu, tidak mau mereka membuat anaknya merasa sedih. Merasakan kekurangan yang anaknya itu sebenarnya punya. Pasti sangat susah dan harus penuh dengan perjuangan, tetapi dengan kasih sayang yang kedua orang tuanya memiliki, membuat mereka kompak untuk bisa memberikan yang terbaik buat anaknya yang mengalami penyakit yang tidak bisa untuk disembuhkan," ujar Mahesa kembali. Lalu dia kembali memandangi wajah saya. "Aku ingin dengar jawaban dari kamu Nayla," katanya lagi dan saya menganggukkan kepala saya. "Mustahil Mahesa. Mustahil hanya dengan dukungan itu saja, anak itu bisa maju. Aku pernah merasakan yang namanya punya fisik yang cacat. Mataku buta sebelah dan aku disingkirkan. Ketika orang tua aku berjuang untuk memberikan yang terbaik buat aku supaya aku bisa memiliki mata yang normal seperti yang lainnya, sampai saat ini dan detik ini pun aku berjuang untuk bagaimana supaya aku tidak merasakan yang namanya kekurangan bahkan di dalam diriku sendiri," jelas saya kepada Mahesa. "Seseorang tidak akan bisa dipandang rendah, dipandang remeh kalau dia memiliki kesempurnaannya. Sebaik-baiknya anak itu dan sehebat-hebatnya kemampuan yang dia punya, dengan bisa menghafal ayat Al-quran di samping dia memiliki kekurangannya, aku rasa itu tidak akan menutup kekurangannya sama sekali. Dan dunia akan tetap memandang seseorang itu lemah bila memiliki kecacatan pada dirinya," pungkas saya. "Tapi yang aku lihat itu adalah optimisnya kedua orang tuanya. Tugas dari kedua orang tuanya itu sudah bagus, sudah benar yang mereka jalankan," kata Mahesa yang entah mengapa, dari yang dia ucapkan itu kepada saya, membuat saya merasa sedih. Jujur saja dari apa yang saya pikirkan tapi melihat bagaimana hati saya dan perasaan yang saya rasakan itu adalah, sebuah keirian. iri karena ketika dulu saya pernah mengalami buta sebelah, pada saat masa kecil saya, Saya tidak mendapatkan support system dari kedua orang tua saya sendiri. Justru mereka bekerja mati-matian tetapi saya juga masih membutuhkan kasih sayang dan dukungan dari kedua orang tua saya. Saya ingin mereka ada untuk saya tetapi karena keadaan dari kekurangan finansial itu yang menyebabkan orang tua saya harus pergi jauh. Dan ketika sembuh saya dituntut untuk menjadi yang sempurna bahkan satu langkah atau lebih maju dari yang lain. Jangan sampai ada kekurangan sedikitpun dari diri saya sendiri. Mama saya selalu menekankan hal itu terhadap saya. Selalu berusaha mendorong anaknya untuk menjadi yang terbaik bahkan menjadi yang sempurna. "Aku juga memiliki pandangan tentang kesempurnaan Nayla. Itu kenapa aku memandang kamu, tidak seperti yang lainnya. Aku nggak tahu kenapa merasa nyaman sama kamu tapi aku sadar akan kekurangan fisik aku juga. Aku laki-laki yang tubuhnya saja itu pendek. Bahkan kamu lebih tinggi dari aku. Dan bagaimana kamu dulu pernah memutuskan aku, rasanya harapan aku untuk mendekati kamu itu minim sekali. Ditambah kamu selalu meninggalkan orang-orang yang mencintai kamu di saat mereka dalam keadaan yang terpuruk." Mahesa bicara tanpa menatap saya. Sorot matanya itu kosong. Dia terlihat sedih dan itu membuat saya merasa bersalah juga. "Kamu mau sampai kapan seperti itu terus Nayla? Kamu tidak akan benar-benar bisa bahagia kalau kamu terus mengikuti apa yang mamah kamu inginkan dan bukan apa yang kamu inginkan. Apa yang mama kamu tentuin juga bakalan kamu juga yang merasakannya dan bukan dia. Coba kamu pikirkan baik-baik lagi," ucap Mahesa yang saat ini dia tengah menyakinkan saya untuk menerima dirinya hadir di dalam kehidupan saya lagi. Mama saya pasti tidak akan menyetujuinya. Tetapi saya selalu terus mengikuti apa yang mama saya katakan dan inginkan. Saya selalu mencari jalan untuk selalu membenarkan apa yang dibilang oleh mama dan apa yang menurut saya itu benar untuk harus saya lakukan. Padahal saya tahu apa yang saya lakukan itu adalah salah dan jahat. "Nay," tiba-tiba saja Mahesa menggenggam tangan kanan saya yang saya letakkan di sebelah tubuh saya. Dia memandang wajah saya penuh dengan keseriusan dan tidak terlihat main-main dengan ucapan dia. "Sepertinya tidak ada salahnya untuk mencoba menerima sesuatu hal yang terkadang tidak sesuai dengan apa yang kita mau," jelas Mahesa semakin membuat saya itu berpikir keras. Saya ingin mencari kebahagiaan saya tetapi kebahagiaan itu selalu saya lepaskan. Saya juga tidak tahu sampai kapan saya harus seperti ini terus? Saya ingin mencari sempurnanya dari seseorang tetapi ketika saya telah mendapatinya, hal pahit harus saya terima. Perasaan harus saya korbankan. Cinta dan hati saya harus Saya abaikan. Dan haruskah saya melepaskan cinta yang saya miliki untuk orang lain? Rasa nyaman itu kembali tumbuh seiring berjalannya waktu, saya bertemu dengan Mahesa dan kami bernostalgia di masa-masa yang pernah kami jalani berdua. Apakah saya harus melepaskan laki-laki seperti dirinya? Ketika kesempurnaan saya anggap akan menjadi sebuah kebahagiaan untuk diri saya tanpa harus merasakan yang namanya kekurangan apapun itu bentuknya, lalu mengapa, ketika saya melepaskan apa yang saya miliki, saya merasa sakit di hati saya. Saya sangat merasa bersalah terhadap apa yang saya lakukan. Saya pikir apa yang dikatakan oleh Mahesa itu ada benarnya. Saya selalu tidak bisa mendapatkan apa yang saya mau dan menjalani apa yang saya inginkan 100%. Dan kemudian, untuk kebimbangan saya, saya berdoa kepada Tuhan saya di gereja. Saya ingin mendapatkan jawaban untuk segala kebimbangan yang saya rasakan. Saya selalu percaya bahwa cinta itu tumbuh dari bagaimana Tuhan memberikannya kepada manusia, termasuk diri saya sendiri. Saya ingin mengakui tentang perasaan saya. Saya tidak ingin membohongi diri saya sendiri sama sekali. Saya menerima Mahesa untuk menjadi suami saya. Memang kita berbeda agama tetapi saya hanya tidak mau ada penghalang di antara kami. Ada banyak orang yang menikah dengan perbedaan agama. Ini soal privasi dan apa yang saya yakini juga Mahesa. Kita sama-sama saling mencintai dan kita tahu apa yang terbaik untuk diri kita berdua. Saya sudah berbuat nekat untuk menikah dengan berbeda agama tetapi saya sudah tidak mau lagi kehilangan orang yang saya cintai. Saya selalu melepaskan orang-orang yang saya sayang dengan banyak alasan yang tidak bisa saya terima di dalam kehidupan saya. Saya sudah tak lagi peduli bagaimana fisik Mahesa. Yang terpenting adalah dia mencintai saya dan dia ingin membahagiakan saya dengan setulus hatinya. Mamah tak bisa melarang saya untuk keputusan saya yang satu ini. Saya sudah sangat meyakini diri saya akan keputusan yang telah saya ambil dan tidak ada satupun orang yang bisa untuk menentang keputusan saya bahkan itu pun dengan termasuk oleh mama. Sudah berapa kali saya selalu melepaskan cinta saya atas dorongan dengan prinsip dan juga orang-orang yang ada di sekeliling saya yang selalu mempengaruhi saya. Sehingga saya sendiri tak bisa membedakan antara mana keinginan saya, mana suara pikiran dan hati saya juga. Bingung harus memilih yang mana untuk hal-hal yang ada di masa depan saya sendiri. Karena itu kedatangan saya di rumah ini bersama dengan seseorang adalah dengan tujuan yang baik untuk memperjuangkan masa depan kami berdua. Saya ingin menerima Mahesa dengan apa adanya yang ada ada di dalam dirinya. Rasanya keutamaan fisik sudah tak lagi menjadi standar untuk saya menerima seseorang selagi dia itu baik dan memperlakukan saya dengan selayaknya. Kami berdua sudah sama-sama yakin atas tujuan kami berdua dan karena itu saya dan Mahesa datang di hadapan keluarga saya. Untuk menyatakan keinginan kami berdua yang ingin menikah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN