"Kamu mau menikahi anak saya?" marah mamah dengan nada tinggi dia bicara kepada Mahesa. Mahesa telah mengungkapkan keinginannya untuk menikahi saya. Dan sudah seperti apa yang saya duga sebelumnya, mamah tidak setuju dengan pernikahan saya.
"Nayla, kamu yang benar saja kalau milih calon suami. Emangnya udah nggak ada lagi apa laki-laki yang mau sama kamu selain cowok ini?" Mas Joe menyahuti untuk dia berpihak kepada mama. Saya menatap mas Joe dengan kemarahan juga. Saya tidak ada keharusan untuk mendengarkan pendapat dari Mas Joe soal pernikahan saya dengan Mahesa.
"Mas Joe lebih baik diam saja. Ini urusan aku dan orang tua," tekan saya yang tak mau sama sekali dibantah untuk kali ini. Dan kemudian saya kembali bicara kepada mama dan juga papa. "Aku ingin menikah sama Mahesa," pulang saya untuk kedua kalinya saya mengatakan hal tersebut di hadapan kedua orang tua saya. Saya untuk kali ini bicara dengan lantang dan tak sekalipun membungkam bibir saya untuk diam. Saya ingin melakukan apa yang saya mau lakukan tanpa ada campur tangan dari siapapun dan tanpa larangan dari siapapun. Baik itu mamah ataupun juga dengan papa.
"Tidak!" tolak Mamah mentah-mentah dengan masih pakai nada tinggi dia sampai mama ketika menolak permintaan saya, dia bangun dari tempatnya dan melempar sorot mata yang tajam penuh kemarahan itu kepada saya dan juga Mahesa. "Mamah tidak akan sudi kamu menikah dengan laki-laki yang kamu lihat saja, tinggi badannya saja, masih tinggian kamu Nayla. Dia itu cuma sebatas sampai leher atau sepundak kamu. Kamu itu cantik seperti model, kamu bisa mendapatkan yang lebih dari ini," paper mama sembari menunjuk Mahesa sehingga hal itu membuat percikan-percikan kemarahan di dalam diri saya itu mulai menyala. Saya malah merasa tidak senang ketika Mahesa itu dihina begitu saja fisiknya oleh mama saya.
"Iya. Betul itu apa kata mama. Lagian cowok Lo juga masih gantengan cowok gue juga kali," sahut Shena dengan bumbu membandingkan antara Mahesa dan dengan pacarnya. Mereka ternyata benar-benar ingin memancing emosi saya itu keluar. Saya jarang sekali bicara panjang lebar pada orang tua ataupun pada saudara-saudara saya. Karena setiap saya bersama dengan seseorang dan mereka menemukan kekurangan dari laki-laki yang menjalin hubungan dengan saya. Mereka tidak setuju dan saya selalu mengikuti apa yang mereka mau dan apa yang mereka pikirkan sehingga saya menjadi searah dengan mereka karena saya merasa terpengaruh.
"Shena," panggil saya dengan nada lembut yang sengaja saya buat buat untuknya. "Jangan pernah suka ikut campur dengan urusan yang orang lain punya," pungkas saya penuh penekanan di setiap kata-katanya supaya dia bisa memahami apa yang saya ucapkan. Sebab saya sangat merasa sedih karena dia punya otak itu lemot sekali dan lambat berpikir. "Dan setidaknya cowok gue ini lebih baik daripada cowok yang selalu manfaatin ketololan Lo!" maki saya di ujung kalimat langsung menjadi tambah panas suasana di antara kami semua. Sepasang mata saya sampai terbuka lebar menatap Shena yang tidak terima dengan yang saya katakan.
"Gue itu nggak t***l, ya. Lo jaga mulut Lo!" tandas Shena sudah terpancing emosinya oleh saya. Dia ditahan oleh Mas Joe yang hendak tadinya mau menyerang saya. salah satu sudut bibir saya menaik ke atas membentuk senyuman sinis kepada dia yang saya tunjukkan.
"Lo pikir aja, ya, kalau memang Lo itu nggak t***l seperti yang Lo katakan. Nggak mungkin Lo yang udah berumur 30 tahun lebih, masih aja belum nikah-nikah dan masih saja digoblokin sama cowok. Segitu Lo bilang ke gue, kalo Lo itu nggak t***l? Lo sakit?" tutur saya hampir mau tertawa ketika mengatakan dia itu sakit. Ingin sekali saya teruskan, sakit jiwa dia. Umur dia itu di atas saya. Sudah 30 tahun lebih. Tetapi dia masih tidak bisa pintar-pintar saja memilih laki-laki. Masih mending lebih baik saya.
Sena terpancing emosi oleh perkataan-perkataan saya yang memang sesuai dengan kenyataannya. Saya tidak pernah bicara yang tidak sesuai dengan faktanya tetapi apa yang saya keluarkan dari statement saya ini adalah sesuai dengan fakta yang saya lihat. Sudah seharusnya Shena itu berkaca diri atas ucapan-ucapan saya dan bukannya malah mengurusi atau mencampuri permasalahan saya. Dia tidak bisa memberikan solusi yang baik tetapi dia malah hanya membuat suasana itu tambah panas. Terlebih saya yang sangat tidak menyukainya, membuat saya makin tidak bisa menjaga emosi saya ketika dia ikut bersuara yang padahal saya tidak menginginkan dia untuk mengeluarkan pendapatnya.
Shena sangat pantas untuk disamakan dengan macan betina. Kelakuannya sudah seperti binatang yang main langsung menyerang saya. Dia hampir saja mau menerkam saya kalau tidak ada mas Joe yang langsung menghadangnya. "Lo minggir! Nggak usah halang-halangin gue. Mulut dia itu, mesti gue sumpelin tau gak! Nggak ada otak!!!!" tandas Shena emosi. dia berusaha untuk mencari celah dari posisi Mas Jo yang berdiri di hadapannya bertujuan untuk menghalanginya. "Lo bisa gak, sih, tahan emosi Lo sendiri?" tanya Mas Joe yang ikutan kesal juga. "Nggak bisa!" teriak Shena yang terdengar suaranya itu begitu cempreng. "Kenapa? Lo nggak suka?" tanya Shena balik dengan nada nyolot. Keributan ini akhirnya membuat papa untuk mengeluarkan suaranya. "Kalian semua diam!" titah Papa menginterupsi kami. Dan sejujurnya juga saya merasa teramat malu karena saya jadi ikut terlibat keributan di hadapan Mahesa. Kalau sudah papa yang bicara itu, tidak ada lagi yang berani untuk membantah ucapan papa selain hanya bisa diam dan membungkam, juga memendam kemarahan yang ingin sekali diluapkan, apalagi rasa dendam yang dimiliki dan ingin sekali dilampiaskan. "Kalian semua bertiga seperti tidak ada etika sama sekali," tutur papa terdengar rasa malu atas sikap kami bertiga. Apa mungkin juga berempat termasuk dengan mamah. Kita semua pada menundukkan kepalanya karena tidak berani untuk bertatapan langsung dengan papa, yang berdiri di antara kami semua, yang tengah duduk di tempat masing-masing. "Kenapa kalian membuat Papa merasa sudah percuma telah memberikan pendidikan yang tinggi-tinggi kepada kalian? Begini tatakrama kalian di hadapan tamu?" seru papa sama ponakan kan intonasi bicaranya. Dan dari kami tidak ada satu pun yang berani untuk menjawab sepatah kata pun, apa yang telah papa ucapkan di hadapan kami semua. "Tidak ada sopan santun sama sekali. Kalian udah seperti nggak pernah diajarin sama orang tua," pungkas papah dan kemudian beliau pun duduk kembali di tempatnya. Sekarang bapak menatap Mahesa dengan lamat-lamat. "Kamu bersungguh-sungguh untuk mau menikahi anak saya?" tanya Papah kepada Mahesa. Saya rasa papanya ingin tahu seberapa seriusnya Mahesa terhadap diri saya karena bagi Papa saya ingin sangat berharga.
"Saya sangat serius Om untuk menikahi anak Om. Dan jikapun Om mengizinkan saya untuk menikahinya, saya bakal selalu menjaga Nayla dengan sungguh-sungguh. Saya tidak akan menyakiti hatinya sama sekali dan tidak akan mengecewakan kepercayaan kepada diri saya yang telah menyerahkan anak Om kepada saya," jelas Mahesa penuh dengan lantang ia mengutarakan perasaannya itu kepada papa.
"Anak saya itu sudah gagal menikah dua kali dan saya tidak mau anak saya kembali gagal menikah," ucap papa dengan pandangan sedih, dia menatap ke arah lain. Tentu saja, orang tua mana yang tidak bersedih kalau anaknya harus gagal menikah. Dan dengan segala berbagai alasan. Oleh papa, ia hanya ingin memberikan yang terbaik untuk diri saya saja. "Kalau memang kalian ingin menikah maka Papa akan memberi restu untuk kalian berdua," ucap apa yang begitu mudah dia memberikan izin kepada kami berdua.
"Pah!" Mama merengek sampai menggoyang-goyangkan lengan papa. "Apa-apaan Papa ini main memberikan izin sama Nayla untuk menikah sama laki-laki ini. Dia saja sudah berbeda agama sama kita. Terus ditambah lagi fisik dia ini, lho, Pah. Nggak tinggi. Sedangkan sama Nayla saja itu mereka seperti adik-kakak jatuhnya. Mama mau Nayla mendapatkan pasangan yang sempurna yang dapat mengimbangi anak Mama. Nayla itu bukan anak yang sembarangan Pah. Jadi, Papa jangan asal-asalan aja memilih laki-laki untuk Nayla," beber mamah dengan raut wajah begitu kesal mendengar keputusan papa yang tidak melibatkan mamah lebih dulu untuk memberikan izin kepada saya buat menikah sama Mahesa. Saya sendiri yang mendengarnya saja begitu kaget. Tidak menyangka kalau ternyata papa dapat semudah itu merestui hubungan saya sama Mahesa.
"Yang sempurna itu seperti apa Mah? Papa hanya mau, Nayla itu bisa hidup dengan pilihannya," ujar papa yang tidak sependapat dengan mama.
"Papa kenapa jadi berubah pikiran begini, sih? Kenapa Papa tidak berpihak pada Mama? Padahal Papa tahu, Mama hanya mau memberikan yang terbaik juga untuk Nayla, untuk anak-anak Mama semua. Kita nggak boleh sembarangan saja memilih pasangan untuk anak-anak kita," pungkas mamah emosi.
"Di awal, mungkin Papa selalu saja mendukung Mama. Tapi kali ini tidak. Papa juga tahu mana yang terbaik untuk anak-anak Papa. Dan Mahesa ini bukan orang yang sembarangan. Profesinya saja sudah bagus dan keluarganya saja jelas. Keturunannya bagus semua. Jangan hanya karena alasan Mama menjadi penghalang untuk Nayla menikah dengan laki-laki. Dia sudah gagal menikah dua kali. Papa merasa, selama ini kita sudah salah mendidik anak-anak kita," jelas papa dengan suara yang dalam. Beliau mengejutkan saya akan kalimat terakhirnya.
"Maksud Papa itu apa? Kenapa Papa bilang, kita salah mendidik anak-anak kita? Mama merasa tidak ada yang salah dengan didikan kita?" balas mama, masih dengan sikap keras kepala dia dengan masih memperkuat argumennya dan bagaimana cara Mama berpikir.
"Kita tetap salah telah mendidik anak-anak kita, yang menjadikan tolak ukurnya itu adalah harta, materi, fisik. Padahal kesemuanya itu hanyalah bentuk di awal kita melihatnya saja, tetapi tidak menjamin semuanya itu, bahwa manusia itu baik dari segi kualitas yang ada di dalam dirinya. Itu bukan tolak ukurnya. Papa tidak mau mereka hanya memikirkan soal materi dan fisik yang saja dari seseorang. Sehingga ketika mereka menemukan kekurangan yang ada di dalam diri pasangannya, mereka tidak bisa menerimanya," ucap papa dengan lantang dia mengutarakan pemikirannya yang lain dari apa yang saya pikirkan selama ini dan sadar atau tidak sadarnya, saya merasa bersalah. Teringat akan masa lalu yang pernah saya alami dengan laki-laki yang hampir saja menjadi masa depan saya.
"Lihat Mahesa," Papa menunjuk ke arah Mahesa, seketika itu saya dan Mahesa saling berpandangan, "Mahesa mungkin di mata Mama banyak kekurangan yang dia miliki atau hanya satu tetapi itu fatal untuk Mama. Tapi apakah Mama sudah mengenal di dalam dirinya itu, seperti apakah Mahesa dan kelebihan apa yang dia punya?" tanya Papa yang dapat mampu membungkam mulut Mamah untuk tidak lagi bicara melainkan justru Mamah terdiam akan ucapan-ucapan yang Papah lontarkan kepadanya. Begitupun saya jadi berpikir akan ucapan-ucapan papa atau mungkin, dengan kedua saudara saya yang lainnya juga. "Kenapa kita hanya menilai seseorang itu dari cover-nya saja? Atau mengapa ketika kita menemukan satu kekurangan yang dimiliki oleh pasangan kita harus kita tinggalkan di saat dia juga lagi sedang terpuruk-terpuruknya? Mengapa kita harus mengajarkan anak-anak kita untuk tidak bisa menerima kekurangan. Mengapa kita hanya mengajarkan anak-anak kita hanya memandang satu sisi saja. Kesempurnaan yang menurut kita hanya bisa diukur dari standar yang kita punya saja. Tetapi kesempurnaan itu belum tentu sempurna di mata orang lain dan belum tentu bisa membuat mereka bahagia," papar papa. "Seperti Nayla," tangannya mengarah kepada diri saya tetapi wajah papa menghadap pada mama, "Papa tahu dia merasa sedih harus meninggalkan laki-laki yang dia cintai, di saat mereka lagi sedang masa terpuruknya. Dia bergelut dengan dirinya sendiri akan harus pilih yang mana jalannya. Itu membuatnya semakin buruk. Papa tidak ingin Nayla seperti itu Mama. Anak-anak Papa harus belajar untuk menerima kekurangannya seseorang," tukas papa tegas dengan menunjuk kami satu per satu dan memberikan sorot mata yang tak main-main. Tajam dan wibawa papa itu keluar sebagai pria dan sebagai ayah yang ingin membuat anak-anaknya itu berjalan di jalan yang benar. "Kita tidak ada yang sempurna. Hanya karena fisik yang kita miliki itu bagus dan juga harta yang kita miliki itu banyak, bukan berarti karakter yang kita punya itu berkualitas kalau kita masih mengukur dari sudut pandang obyek yang sewaktu-waktu akan hilang dan rusak," tutur papa bagai kata-kata mutiara yang dia utarakan kepada kami semua. Mengapa selama ini saya tidak bisa menerima pemikiran hal tersebut? Saya masih selalu saja yang namanya berpegang teguh pada apa yang saya tanamkan sejak dulu. Saya sudah pernah merasakan yang namanya kecacatan dalam hidup. Yang pada akhirnya saya harus merasakan hidup jauh dari keluarga. Saya masih berpikir bahwa mereka semua, keluarga saya ini mengasingkan saya di Manado dan tidak mau mengajak saya bersama dengan mereka karena kekurangan yang saya punya. Tentu saja dengan kekurangan yang saya miliki ini akan menjadikan hambatan untuk mereka dan membuat mereka kerepotan harus mengurusi diri saya. Dan Oma juga. Oma sudah tua dan dia tidak bisa mengurus sendiri dia sendiri, hakikat yang sebenarnya seperti itu karena Oma sudah tak sekuat seperti dirinya yang dulu. Namun Oma, juga diasingkan karena kesibukan dari keluarga saya yang tidak akan bisa mengurusi Oma dan tidak akan ada punya waktu yang banyak untuk memperhatikan oma. Sayangnya saya bisa mengerti akan hal itu ketika saya sudah besar. Ketika masih kecil, saya selalu dibohongi dengan hal-hal yang sekiranya bisa untuk mengelabui seorang anak kecil.
"Dan sekarang, Papa berharap kalian bisa mengerti apa yang Papa maksud, apa yang Papa bicarakan kepada kalian semua," seru papa dan diakhiri dengan senyuman. Kemudian papa memandangi saya dan Mahesa secara berganti-gantian. "Mahesa, Nayla, ayo kalian berdua berdiri," titah apa yang langsung kami berdua turuti. Papa lalu memeluk saya singkat sembari membisikkan sesuatu hal kepada saya. "Apapun masalahnya kamu harus tetap bertahan di dalam suatu hubungan. Apapun keadaan dari suami kamu, kamu harus temani dia dan jangan pernah meninggalkannya," pesan Papa kepada saya yang tentu saja akan selalu saya ingat. Setelah itu Papa beralih kepada Mahesa dengan menepuk kedua bahu Mahesa. "Tolong jaga anak perempuan saya. saya percayakan dia kepada kamu karena dia mencintai kamu. Dan kamu jangan pernah menyakiti hati dia." Dan yang dikatakan oleh papa adalah pesan untuk Mahesa. Anggukan Mahesa adalah sebagai janji Mahesa kepada saya dan kepada Papa saya.