Hanya Satu

2141 Kata
Mahesa pulang ke rumah dengan membawa setumpuk buku resep memasak yang dipesan istri Papanya. Ada sekitar delapan sampai sepuluh buku sepertinya. "Tante, ini pesenan bukunya udah aku bawa." Mahesa meneriakkan kalimatnya itu tanpa teriak-teriak keras, jadi mungkin Gressia tidak bisa mendengarnya. Jadi begitu sama sekali tidak ada sahutan dan respon apa-apa dari siapapun yang bisa membalasnya saat ini, ia langsung saja meletakkan setumpuk buku resep memasak itu di atas meja yang ada di ujung dinding sekat ruang tamu dengan ruang keluarga. "Tante.. katanya tadi nitip buku resep? Udah aku bawa." Mahesa masih mencoba terus memanggil istri Papanya yang entah sekarang ada di rumah atau tidak. Sampai sekarang Mahesa tidak menemukan petunjuk apa-apa, selain aroma bau gosong dari arah dapur. Langsung saja ia ke tempat di mana aroma gosong menyengat berasal dan menemukan istri Papanya bersama pembantu di rumahnya membuat kacau dapur ini. Mahesa tidak bisa berkata-kata apa-apa, selain termenung melihat kekacauan yang ada di dapur rumahnya. Sampai saat ini, otaknya tidak bisa mencerna dengan baik mau jadi apa Mama tirinya sekarang ini, istilah gaulnya, apakah Tante Gressia mau cosplay menjadi Chef Renata? "Hei, ganteng." Dan tiba-tiba saja istri Papa melihatnya sedang berdiri di ujung meja dapur dengan tatapan super aneh. "Udah pulang kamu ternyata, mana pesenan Tante?" Mahesa hampir melepas tawanya saat Tante Gressia ternyata bisa separah ini mengacaukan tempat yang bukan menjadi keahliannya. Dari yang Mahesa lihat langsung, ada beberapa noda hitam gosong di area wajah, leher dan bahu juga lengan istri Papa ini. Sayang lepasan tawa itu langsung ditahan kuat oleh sikap tenangnya yang memang kadang-kadang sulit mengontrol di mana dirinya harus diam saja. "Udah kamu beliin, kan Mahesa?" Mahesa buru-buru mengangguk saat ditanya. "Iya, ada. Aku taruh di meja depan, Tan." "Eh, Tante boleh minta tolong anterin nggak?" Tante Gressia berusaha membalik badannya sempurna menatap lurus Mahesa yang berdiri di belakang agak jauh darinya. "Soalnya Tante lagi, ya gini lah." Mahesa tidak bisa memastikan dengan pasti harus merespon bagaimana. "Iya, aku ambilin dulu Tante." Mahesa buru-buru kembali ke tempat awal ia meletakkan setumpuk buku resep memasak pesanan istri Papanya. Begitu sampai lagi di dapur tempat Tante Gressia memaksa bersama pembantunya, buku-buku itu langsung ia taruh si atas meja yang tersisa ruang setelah terjadi kekacauan. "Ya, makasih ya Mahesa." "Sama-sama." Mahesa masih berada di tempatnya setelah membalas ucapan terima kasih dari Gressia. "Ini sebenarnya Tante mau ada acara apaan ya? Kok sampe harus belajar masak dan minta tolong aku beliin buku resep masakan. Padahal kan, dapur dengan bukan tempat Tante banget." "Nggak ada apa-apa sih, Sa." Gressia ternyata masih menyibukkan dirinya dengan beberapa hal tidak penting yang dilakukan di dapur yang sudah penuh bahan masak berserakan. "Tante cuma pengen belajar masak aja, biar bisa masakin kamu nggak cuma yang gampang-gampang aja. Biar ada tantangannya." "Pengetahuan memasak Tante itu, udah lebih dari cukup menurut aku." Mahesa tiba-tiba mengatakan sebuah ungkapan yang selama ini ia rasa. "Tante mungkin nggak cukup bagus dalam bidang memasak, tapi masakan yang bisa Tante masakin buat aku selama ini, udah bisa aku rasain enak banget. Beneran." Gressia langsung tertawa mendengar Mahesa baru saja memujinya. "Bisa kamu ah, buat Tante melting. Tapi Tante juga beneran dan serius pengen belajar masak lebih lagi, biar bisa masakin kamu sama Papa kamu masakan yang lebih bervariasi. Nggak salah, kan?" Mahesa langsung nge-bug saat harus menjawab pertanyaan istri Papanya dengan segala improvisasi yang biasa digunakannya. "Eh.. nggak salah sih. Tapi, kalo keadaan dapur sampe kayak gini.. wajar nggak sih aku kalo heran?" -Bab Selanjutnya- "Hari ini kita ke kantor mertua gue ya." Kezia hampir saja melonjak dari kursi penumpang yang berada di sebelah kiri bangku kemudi. "Mertua lo.. itu kan bokap nyokap gue." Aldo mengangguk-anggukan kepalanya menanggapi keterkejutan Kezia yang memang sedang ia jahili. "Tentu saja, baby. Mertua gue siapa lagi kalau bukan nyokap bokap lo?" "Jijik banget." Bahkan dalam satu kata di kalimat pertama saja Kezia langsung merasakan merinding jijik yang dicampur menjadi satu karena Aldo memanggilnya sedikit tidak normal. "Ngapain kita mau ke kantor gue?" Aldo langsung sedikit menumbuhkan benih siap tertawa terbahak-bahak saat Kezia mengeklaim sesuai yang baginya tidak masuk akal. "Kantor lo? Kantor bokap nyokap lo kali, dasar Kezia. Punya aset dan saham apa lo di sana? Lo aja masih gagap soal bisnis." "Lo tuh yang gagap. Itu kantor Mauran, gue anak bungsunya. Normal kalau nanti sebagian atau bahkan keseluruhan itu bakal turun ke tangan gue. Gimana sih, kerja otak lo?" Aldo benar-benar tidak sanggup lagi harus menahan tertawa yang sudah hampir bertahan di ujung bibir sejak Kezia masih melanjutkan bicara. "Lo emang bagian pewaris harta atau apapun milik Keluarga Mauran, tapi itu semua bakal berubah segampang gue masuk jadi direktur utama di Perusahaan Mauran Group karena gue yang sebentar lagi akan menangin permainan dari ide lo ini." Kezia langsung terdiam saat Aldo baru saja mengatakan fakta atau justru mengancamnya dengan kata-kata bijaksana, atau apapun sebutannya yang jelas Kezia harus sangat hati-hati dalam melangkahkan kakinya. Setidaknya mulai hari ini, titik dimana Aldo mengatakan langkah pertamanya yang ternyata memang cukup next level bagi Kezia yang masih stuck di jaminan blackcard dari Keluarga Raharja. "Kenapa diem aja? Kaget gue udah sejauh ini ninggalin lo?" Kezia benar-benar tidak merespon apa-apa kecuali ekspresi wajahnya yang masih berusaha sedatar mungkin yang ia bisa, agar seseorang yang sedang menyombongkan diri di sebelah tidak semakin melunjak memamerkan langkah-langkah permainannya. *** "Hari ini Kezia udah pulang duluan lagi, di waktu yang sama Aldo juga udah nggak ada posisinya di kampus." Galih memimpin pada opininya yang pertama. Anggota lain memperhatikannya yang sedang berbicara di tengah meja konferensi sembari menunggu minuman penyegar yang dipesan diantarkan. "Mereka bener-bener udah keciduk barengan pulang, sayang kita nggak bisa liat langsung. Bagus banget sih, strategi mereka." Sergio langsung mengemukakan pendapatnya yang hampir sama dengan Galih setelah beberapa minuman yang dipesan sudah mulai diantarkan. Sasi langsung memperhatikan bagaimana Galih yang pertama mengungkapkan opininya hingga Sergio yang menambahkan kemungkinan terjadinya, bahkan bisa dibilang lebih jelasnya. "Bagus banget strategi mereka, belum tentu juga mereka bener-bener pulang bareng, kan? Sekalipun kandidat Kezia-Aldo itu emang kandidat terkuat. Belum tentu di hari ini mereka mutusin pulang bareng." Fajri manggut-manggut, seolah sedang mengikuti skema alur yang Sasi ungkapkan dan sekaligus menyiapkan tambahan perkiraan yang kemungkinan bisa saja benar. "Sasi bener. Belum tentu juga hari ini mereka pulang bareng, karena bisa aja emang kebetulan keadaan yang ngejebak kita untuk berasumsi yang menyimpang dari tujuan kita ngebentuk konferensi ini." Hira baru saja menyeruput jus melonnya, baru setelah setidaknya bulir-bulir halus buah berwarna hijau itu masuk ke dalam tenggorokannya, ia segera sedikit menjauhkan gelas jus itu dari yang awal tepat didepannya. "Itu artinya.. kita masih belum bisa nemuin bukti, yang menjadi tonggak utama keberhasilan konferensi ini. Yang artinya juga.. kandidat terkuat emang ada di Aldo sama Kezia, meskipun masing-masing dari kita emang sulit banget nemuin bukti paling kuat." "Udah gue bilang kan, Kezia-Aldo adalah kandidat terkuat. Lo aja yang nambah-nambahin Mahesa segala." Hira langsung berhenti bicara dan menatap ke arah seseorang yang sudah berani lebih sok bijak di hadapannya dan bahkan anak-anak di satu konferensi ini. "Gue emang juga kandidatin Kak Mahesa sama Kezia ya, tapi gua nggak ada bilang mereka kandidat terkuat. Lagian kenapa sih kalo gua kandidatin Kak Mahesa lo sewot banget, lo aja seenak jidat lo juga nambahin Rere sebagai kandidat." Sergio juga langsung menajamkan tatapan matanya saat Hira pura-pura lebih bijak dari segala kebijakan yang dimiliki anak-anak satu konferensi. "Soalnya Rere emang pantes buat dikandidatin, selama ini dia adalah satu-satunya cewek yang jadi paling special buat Aldo, lo mana tau sejauh apa hubungan mereka. Kalo Mahesa sama Kezia, udah jelas ngarang banget cara kandidatin mereka." "Mau se-special apapun Rere buat Aldo, nggak akan ada gunanya kalau kandidat terkuat masih di Kezia sama Aldo yang bahkan keduanya sama-sama ngeklaim nggak bakalan saling suka." Sergio tertawa kecil. "Ya, iya, sama aja. Lo itu—" "Udah cukup!" Sasi akhirnya menengahi adu mulut yang terjadi antar anggota konferensi ini. "Ok, cukup ya. Lo berdua nggak seharusnya sampe ribut kayak gini, cuma karena masalah kandidat terkuat atau apapun yang berkaitan sama BPK. Semua anggota bebas buat nentuin kandidat mereka semau mereka dan menentukan siapa kandidat terkuat mereka, asal mampu menemukan bukti kuat sebagai pendukungnya. Jadi, mau siapapun yang kalian berdua kandidatin sebagai yang terkuat, bebas. Ya kan.. guys?" Galih dan Fajri buru-buru menanggukan kepalanya setuju dengan yang Sasi baru saja katakan. *** "Ayo, turun!" Jujur, yang Kezia rasakan pertama kali saat mobil Aldo akhirnya berhasil berhenti di depan kantor keluarganya adalah ketar-ketir yang didukung dengan gejolak hati yang memang takut. "Heh, kenapa diem aja Bu? Ini udah sampe di kantornya Ibu loh." Kezia buru-buru memasang arah matanya pada Aldo yang sudah turun lebih dulu dan membukakan pintu mobil untuknya yang masih menata nyawa semoga saja Papa ada sedikit waktu seggang untuk ia bicara. "Iya, iya, ini juga turun." Aldo mungkin memang bisa sombong untuk saat ini, saat dimana ia dipanggil mertuanya pemilik Perusahaan Mauran Group yang sudah diincarnya sebuah posisi direktur utama. Tentu saja hal mudah untuk Aldo bisa mendapatkan posisi tinggi itu di Mauran Group, karena jelas Papa Pandu sangat percaya padanya apalagi setelah menikah dengan putri kesayangannya. "Mau digandeng nggak nih, Bu?" Aldo langsung menyiapkan lengan kanannya, kalau mungkin saja Kezia mau menautkan dengan tangannya. Dan benar saja, lengan itu disambut Kezia entah dengan amarah, kekesalan ataupun keterpaksaan. Aldo dan Kezia. Pasangan fenomenal yang masih terjaga kuat privasinya di mata teman-teman satu kampus, beberapa rekan bisnis yang tidak dekat dengan Keluarga Mauran ataupun Raharja, dan orang-orang lain yang mengenal mereka lewat marga belakang nama mereka. "Mbak Kezia, apa kabar?" Sambutan hangat para staff saat menyambut kedatangannya dengan Aldo, benar-benar membuat Kezia merasa sangat dihormati setelah menikah. Walaupun di sebelum menikah ia hampir diperlakukan sama karena pada dasarnya ia adalah anak pemilik Mauran Group yang terkenal itu. "Baik, terima kasih." "Pak Aldo, anda sudah ditunggu Pak Pandu di ruangannya. Untuk Bu Kezia, juga sudah ditunggu." Aldo melakukan bow yang masih terkesan berwibawa di mata para staff, tetapi tidak untuk Kezia, tentu saja. "Eh, Papa Mama saya udah di ruangan mereka, ya?" Staff yang baru saja memberi info itu tiba-tiba mengubah ekspresi wajahnya, walaupun tidak terlalu kelihatan jelas. "Maaf Bu Kezia, Ibu Mecca sedang tidak ada di tempatnya. Beliau sedang ada keperluan di luar kota, karena proyek di sana membutuhkan beliau langsung untuk memantau perkembangan bisnis." Kezia dan Aldo langsung saling menatap. "Maksud kamu.. Mama saya lagi ada kerjaan di luar kota?" Staff tersenyum simpul. Sudah bisa Kezia lihat jelas, kalau jawabannya adalah iya. "Hei, Papa tunggu dari tadi di dalam, ternyata masih di sini." Suara tegas dan berwibawa kelas atas, terdengar dari arah lift yang baru saja terbuka tidak jauh dari Aldo dan Kezia berdiri untuk sekarang. Begitu menolehkan wajah, Kezia langsung mengembangkan senyum sumringah saking bahagianya dan berlari memeluk laki-laki paruh baya yang sangat berwibawa itu, tanpa peduli siapapun bisa melihat tingkah lakunya. "Papa.. Kezia kangen." "Padahal cuma baru beberapa hari kita ketemu, udah kangen lagi sama Papa?" Meskipun mengatakan ini, Pandu tetap saja membalas pelukan erat putrinya. "Nggak malu sama suami kamu tuh di sana." Aldo ikut menghampiri mertua laki-lakinya dengan langkah biasa saja dan buru-buru menengadahkan telapak tangannya untuk menerima uluran tangan kanan Pandu agar bisa dicium hangatnya. "Apa kabar, Pa?" "Baik dong, Aldo. Kamu sendiri gimana, Kezia nakal atau rewel nggak?" Kezia langsung memukul badan Papa yang bisa dijangkaunya karena baru saja mempertanyakan hal konyol pada Aldo, tepat di depan matanya. "Ih, Papa." Aldo ikut saja tertawa saat melihat Kezia yang memang benar-benar manja terhadap Papa Pandu. "Nggak rewel kok Pa, dia manis dan romantis banget jadi istri. Peka banget, Pa." Papa Pandu terkejut saat Aldo berhasil mengungkapkan kalimat pendek terakhir tanpa ada jaim- jaimnya. *** Saat membuka pintu kamarnya, yang pertama kali Mahesa temui masih sama. Sebuah foto berukuran cukup besar di dalam sebuah frame sederhana yang dihiasi debu sebagai penanda waktu telah cukup berlalu. Mamanya, seseorang yang memang benar-benar berarti dalam hidupnya bahkan bisa menjadi sosok yang dijadikannya sumber bahagia hanya dengan melihatnya mengembangkan senyum termanisnya. Mahesa hanya bisa melihatnya, tanpa kembali merasakan rasa seperti dulu yang sudah berlalu. Tas ranselnya langsung diletakkan di atas meja belajar setelah dilepaskan dari pundaknya yang selama ini sudah cukup digunakan menyimpan banyak bebas walau sama sekali tidak ia perlihatkan. Kata Mama, cara menjadi seseorang yang baik dan kuat di mata siapapun adalah dengan menyimpan rapat-rapat keseluruhan rasa sakit dalam hati. Biarkan saja hati yang terluka bahkan sebagaimana pun parahnya, karena hanya dengan organ terkuat itu kita bisa menerima semua keadaan tidak biasa ini menjadi seolah-olah normal-normal saja. Katakan pada dunia, rasa sakit bukan untuk dipendam atau dijadikan kenangan. Namun jadikanlah rasa sakit sebagai sebuah perjuangan yang memang ditakdirkan kalah untuk sementara, dan kembali berjuang lagi setelahnya, setelah semua cukup baik-baik saja atau setelah Dunia kembali mengira kita sedang bahagia tidak terbebani masalah apa-apa. "Katakan pada dirimu, kamu adalah salah satu wujud terbaik dari jejeran kamu yang begitu banyak." Hanya satu, kata-kata yang bisa Mahesa ingat dengan jelas sampai sekarang bahkan sampai semuanya sudah terjadi karena terlanjur. Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN