"Papa sudah putuskan, kalau suami kamu yang akan menjadi direktur utama di perusahaan ini. Papa masih akan mendampingi Aldo, sampai perusahaan benar-benar bisa kalian pegang sendirian."
Ungkapan Papanya saat ini memang sudah benar-benar valid. Bahkan pada saat keadaan dimana ia tidak bisa melakukan apa-apa untuk mencegah Papanya mempercayai Aldo sebagai direktur utama, karena mungkin memang tidak memungkinkan. Yang bisa ia lihat dengan begitu jelas adalah wajah licik dan menyebalkan dari sosok Aldo yang duduk tepat di sebelahnya.
"Aku bener-bener makasih karena Papa udah mau ngasih posisi tertinggi itu sama aku, tapi apa Papa yakin aku pantes buat bisa berada di posisi yang sama kayak Papa selama ini." Aldo mungkin merasakan dirinya kurang pantas pada sang mertua, entah karena berpura akan sedikit ada drama atau memang karena dirinya sedikit minder dengan posisi yang sama sekali tidak bisa diremehkan.
Kezia langsung mengalihkan pandangannya yang awal lesu tetapi terpaksa harus terlihat bahagia menjadi benar-benar mendapat kesenangan semata karena Aldo memberikan celah untuknya bisa ikut bicara. "Aku rasa juga gitu, Pa. Ini semua.. terlalu cepat untuk Aldo dan aku yang masih awam tentang dunia bisnis. Umur kita masih terlalu kecil untuk megang perusahaan sebesar ini, walaupun masih ada Papa nanti yang dampingi tetep sama aja, kan.. posisi direktur itu milik suami aku, Aldo."
Aldo langsung menolehkan wajahnya pada Kezia yang tiba-tiba ikut bersuara dan hampir saja merusak rencananya, atau memang celahnya bicara adalah langkah yang kurang tepat.
"Walaupun gitu, aku akan berusaha sebaik mungkin untuk bisa jadi direktur yang baik setelah Papa." Aldo menaikkan satu alisnya saat wajahnya tepat bisa menatap wajah Kezia, baru berganti pada Pandu saat ingin memberikan kesan wajah yang serius. "Tentu aja, aku nggak pernah mau buat Papa kecewa udah percayain semua tentang perusahaan ini ke aku. Aku mau.. yang terbaik untuk perusahaan ini. Ya kan, Sayang?"
Kezia ingin muntah. Di dalam kalimat yang membosankan dan menyebalkan, ternyata masih terselip panggilan menggelikan yang ada di bagian akhir kalimat. Kalau saja saat ini ia tidak berada di ruang kerja Papanya di kantor, atau tempat apapun yang kurang aman untuk bertengkar dengan Aldo, Kezia pasti juga mencakar-cakar wajah Aldo yang super sombong itu padahal semua yang terjadi saat ini belum ada apa-apanya dibandingkan apa tujuan mereka sebelumnya.
"Papa percaya sama kamu, tentunya bukan karena tanpa adanya alasan. Papa percaya sama kamu, karena kamu memang menantu Papa satu-satunya yang lumayan berpengalaman dalam bidang bisnis dan Papa lihat kinerja kerja kamu di kampus selama ini, bagus-bagus."
Kezia langsung mengerutkan keningnya saat Papa mengatakan hal yang ia sendiri yang tidak mampu mencernanya. "Maksud Papa apa? kinerja kerja Aldo di kampus.. Papa kok bisa tau?"
Aldo bahkan baru sadar jika Kezia tidak bertanya intens, karena ternyata kalimat terakhir mertuanya memang belum bisa benar-benar dipahaminya.
"Maksud Papa.. tentang kinerja kamu selama kuliah di jurusan ekonomi itu seperti apa, gitu." Papa Pandu mulai menjelaskan, setidaknya yang ini garis besar. "Maaf kalau Papa belum pernah cerita ini sama kalian berdua bahkan, karena Papa memang benar-benar ingin memantau sendiri bagaimana sosok yang akan Papa percaya untuk menjadi pendamping hidup putri Papa dan penerus bisnis Mauran Group. Karena.. memang semuanya diperlukan sebuah realita. Tentang bagaimana seseorang ingin menaruh percaya yang besar, tetapi masih memerlukan bukti kalau incarannya benar-benar bisa dipercaya sesuai ekspektasinya. Singkatnya.. ini seperti cara untuk mendapatkan bukti agar hati lebih bisa memilih sosok seorang yang benar-benar jujur sesuai kata orang-orang."
Aldo dan Kezia yang bisa menggangung dan kagum dengan bagaimana cara sosok seorang Pandu Mauran melakukan tugasnya sebagai sosok yang benar-benar bisa dianggap berwibawa sesuai kenyataannya. Sampai mungkin salah satu dari mereka lupa kalau ini adalah celah yang bisa saja menjadi petaka besar dalam keberhasilan rencana keduanya sampai saat ini.
"Maaf kalau Papa terlalu posesif dalam memberikan rasa percaya pada kalian berdua, terutama kamu Aldo. Yang Papa mau cuma.."
Aldo langsung memberikan senyum simpul saat Papa Pandu akan menyelesaikan kalimatnya. "Aku tau Pa, aku paham. Seperti yang udah aku bilang juga, aku yakin Papa ngelakuin juga karena Papa ingin yang terbaik untuk putri Papa. Aku juga paham mengenai itu."
***
"Gimana soal pencapaian gue hari ini?"
Kezia langsung nyengir saat Aldo tiba-tiba saja langsung mengajukan pertanyaan padanya setelah baru saja menutup pintu kamar setelah masuk. "Maaf ya, nggak minat buat bahas. Urusan gue sekarang, adalah lupain beberapa yang Papa bilang selain apapun yang berkaitan sama tujuan gue. Karena yang gue mau, berharap sama yang terlalu jauh itu mending sama sekali nggak mutusin buat punya harapan, kalau ujung-ujungnya sama-sama sakit. Sama-sama nggak tersisa.. kalau dunia memang punya kontrol untuk buat seolah-olah kita memang harus mengikuti hukum dunia."
Aldo speechless. Satu kata atau istilah dari bahasa Inggris yang saat ini sedang mengisi pikiran Aldo setelah tadi siang berbicara di kantor mertuanya. Aldo sama sekali tidak pernah bisa mengira, kalau Kezia bisa juga bijak dalam berkata-kata apalagi vibe keturunannya persis seperti Papanya. Pandu Mauran.
"Gue—"
"—Ya, lo menang." Kezia mengucapkan itu semudah ia menolehkan kepalanya ke arah Aldo yang masih memasang wajah sombong setengahnya lagi masih terkejut dengan ucapan bijaknya. "Lo menang karena ya.. Papa nggak bakalan ngubah keputusannya. Karena apapun yang Papa bilang langsung adalah mutlak hukumnya. Sosok seorang Pandu Mauran sama sekali nggak akan pernah main-main dalam setiap kata-katanya."
"Maksud lo.." Aldo masih belum bisa jelas memahami bahwa Kezia yang tiba-tiba menerima kemenangan sementaranya, yang entah ke depannya akan bagaimana kelanjutannya.
Kezia masih mengangguk-angguk, kepalanya masih ditolehkan ke arah Aldo dan menatap kedua bola mata laki-laki itu dengan jelas. "Maksud gue ya, lo menang walaupun cuma buat jadi direktur utama di Perusahaan Mauran Group. Sekarang semuanya tinggal progres kita, tergantung gimana usaha kita lebih lanjut untuk mencapai tujuan yang udah nggak lama lagi berakhirnya."
Aldo benar-benar tidak bisa menebak apakah seorang gadis cantik yang kini berbicara cukup bijak di hadapannya, adalah Kezia atau gadis yang mirip dengan istrinya atau apapun ia juga tidak tahu.
"Percuma kan.. kalau lo udah bisa dapet posisi direktur utama di Mauran Group, tapi diakhir lo kalah karena lemah?"
Aldo langsung menurunkan wajahnya kagum yang terkejutnya itu menjadi sedikit atau bahkan banyak kesal karena Kezia tiba-tiba bisa mengejeknya. "Lo—"
"Speechless ya? Gue bisa sebijak tadi waktu berkata-kata padahal posisinya gue lagi nggak aman karena level lo beneran lebih tinggi."
Bersambung.