Bawa Perasaan

2005 Kata
"Makanya lo jangan agresif." Aldo yang baru saja menutup pintu kamarnya langsung diajukan sebuah kalimat yang menyalahkannya dari Kezia. Sontak saja emosinya hampir meledak tetapi tertahan karena ini saat ini sudah sangat larut malam. "Lo nggak usah nyolot ya, kalo aja gue nggak ngelakuin hal kayak tadi. Justru semuanya bakal berantakan bukan sekedar cuma dicurigai." Untung saja kamar mereka berdua lumayan kedap suara, jadi mau berteriak sekencang apapun, orang-orang di luar sedikit kemungkinan akan mendengar apa yang mereka sedang pertengkarkan. Kalau Aldo dan Kezia sudah sama-sama berasumsi dengan opini mereka masing-masing, dan tentu saja ada perbedaan, satu di antara keduanya kemungkinan sangat kecil untuk mengalah. Karena kalau mau saling mengalahkan pun, persenan selisih kekalahan salah satu daripada mereka tidak jauh dari hanya 3%. Kezia melipat kedua tangannya di depan perut bagian atasnya. Dagunya sedikit diangkat seolah sedang menaruh wibawa angkuh saat akan mengeluarkan perkataan pada Aldo. "Rencana lo itu selalu sulit buat dapet kemungkinan nilai yang sempurna. Detailnya aja nggak jelas, mana paham gue kelanjutan skenarionya." Aldo menghela pelan. "Itu cuma karena lo aja yang nggak sanggup ngikutin skenario gue hari ini. Semua kan terjadi secara spontan, normal kalau nggak seratus persen sesuai sama arah rencana gue." "Sama aja." Kezia menekan kalimat itu sampai kedengarannya Aldo tidak dihargai dalam rencana hari ini. "Sama aja ujung-ujungnya Papa sama Mama naruh curiga sama kita, walaupun kesan mereka cuma buat basa-basi. Artinya rencana lo emang nggak pernah semulus yang pernah lo bilang." "Zi, gue udah coba sabar ya.." "Apa?!" Kezia menyipitkan kelopak matanya. "Coba sabar? Lo nggak sabar pun, gue nggak peduli dan nggak akan pernah peduli. Yang gue peduli, cuma gimana skenario selanjutnya buat kita lakuin. Karena kalo aja gue nggak buru-buru ngeles waktu Papa Algo nanya gitu walau basa-basi, semua bakal berantakan." Aldo tidak terima untuk kali ini. Rasanya Kezia memang tidak ada niat untuk menghargainya yang sudah sama-sama berjuang mempertahankan pernikahan ini setidaknya sampai enam bulan. "Oh? Lo aja ya? Lo nggak nganggep gue?" "Kalo lo pantes dianggep, gue pasti anggep." Kezia menunjuk-nunjuk wajah Aldo dengan jari telunjuknya. "Tapi buat kali ini, lo sama sekali nggak berguna tau nggak. Jadi udah keliatan, siapa yang bakal menang diakhir kalau skenario lo aja nggak becus buat bikin Mama sama Papa cuma sekedar senyum liat kita berdua mesra." "Aldo! Please, introspeksi." "Lo yang seharusnya introspeksi, Zia." Dan mungkin jika salah satu dari mereka tidak ada yang rela mengalah dengan diam saja, tidur kurang jadi akibatnya tentu saja. -Bab Selanjutnya- Diam di kelas, sebenarnya bukan Kezia banget. Biasanya Kezia lebih suka mengobrol bersama Hira dan Sasi di kantin, keliling kampus sekadar gabut, mencari Mahesa yang super duper sibuk dan meladeni kelakuan menyebalkan Aldo yang kadang-kadang memang diharuskan untuk diladeni. Perbedaan pagi ini dengan pagi-pagi sebelumnya, adalah bagaimana Kezia yang begitu sampai kampus langsung duduk termenung di kelas. Seolah dunia sedang berhenti, meladeninya yang masih ingin berpikir panjang tentang banyaknya kejadian mengejutkan akhir-akhir ini. "Aduh Zi, tumben banget lo di kelas aja." "Lo kesambet apaan deh, bisa gitu diem aja kayaknya dari awal nyampe sini." Kezia menghela napas begitu oknum Hira dan oknum Sasi saling mengajukan keheranan, juga pertanyaan sok tidak paham. "Nggak kesambet apa-apa, biasa aja apaan sih. Udah diem, gue lagi banyak pikiran." Hira langsung menertawakan ringan apa yang baru saja Kezia katakan. "Katanya nggak kepikiran soal kejadian di toko buku waktu itu, kenapa sekarang kata lo lagi banyak pikiran?" "Ya, lo pikir yang ada di otak gue cuma soal kejadian di toko buku itu doang?" "Kali aja." Kezia menurunkan wajahnya, sampai sebuah notifikasi pesan masuk langsung dibukanya. [Temui saya di taman dekat kampus waktu pulang, ada yang ingin saya sampaikan ke kamu.] Kezia langsung mengangkat kepala setelah membaca isi pesan. [Aku nggak bisa Kak, hari ini aku ada pemotretan. Pulang dari kampus, aku harus buru-buru pergi ke lokasi.] [typing...] sampai [Ya udah asal kamu mau tetap datang ke taman, sebentar saja. Buat ke lokasi pemotretan kamu, biar saya anterin.] Yang awalnya calm, kalau urusannya sudah dengan Mahesa entah bagaimana pun konsekuensinya, Kezia tidak peduli. Dua orang saksi yang masing-masing memilih duduk di bangku kanan dan kiri juga hampir ikut-ikutan jingkrak-jingkrak tidak karuan. "Zi, lo kenapa?" Dan baru ketika pertanyaan itu terdengar, Kezia langsung kembali pada posisi awalnya. Diam dan memainkan handphone-nya seolah sedang tidak terjadi apa-apa selain berjalannya hari yang biasa-biasa saja. "Nggak papa." Aldo cs masuk kelas. Tatapan ketiga gadis yang merupakan susunan Genk angkatan ini langsung memandang beberapa oknum laki-laki yang baru akan mencari bangku di kelas yang sama seperti kemarin-kemarin padahal. "Ngapain liat-liat?" *** Mata Kezia sepertinya sudah lebih tajam dari burung elang yang siap menerkam mangsanya. Wanti-wanti kalau kedua temannya atau si ngeselin Aldo dan teman-teman melihatnya mindik-mindik memilih jalan pintas untuk pergi ke taman di dekat sini yang Mahesa maksud. "Ayo sama saya!" Kezia yang awalnya memiliki detak jantung sama sekali tidak sempurna, tiba-tiba merasa lebih tidak sempurna lagi saat sebuah tangan menarik tangan kanannya yang ternyata si pemilik tangan itu adalah Mahesa sendiri. Sosok dibalik rencana mindik-mindik Kezia untuk bisa pergi ke taman dekat kampus tanpa diketahui teman-temannya. Ikut sajalah, kata Kezia dalam hatinya. Sementara hatinya sudah tidak sanggup lagi menahan tekanan kekuatan rasa yang tidak biasa, raganya justru diam-diam saja seolah sama sekali tidak terjadi apa-apa. "Kita naik mobil saja aja, kamu masuk." Mahesa membuka pintu mobilnya, sementara yang dipersilakan masuk justru sibuk membiarkan matanya melihat lurus-lurus ke arah Mahesa sendiri. Teriak. Berteriak. Itu yang ingin Kezia lakukan saat Mahesa menyuruhnya masuk ke dalam mobil setelah pintunya juga dibukakan. Seolah Mahesa adalah laki-laki kedua setelah Papanya yang akan dijadikan sosok penangkal kemanjaannya yang juga posisi awalnya adalah milik Papa Pandu. "Kamu masuk, atau jalan kaki?" Satu pertanyaan itu berhasil hampir menghancurkan seluruh harapan baik Kezia terhadap Mahesa yang sepertinya tulus mengajaknya pergi berdua. Namun belum sampai Kezia menangkap maksud dari pertanyaannya, Mahesa buru-buru membuang muka seolah sedang menyesali apa yang dipertanyakan pada Kezia baru saja. "Sorry. Maksud saya, kamu harus buruan masuk karena bisa saja teman-teman kamu ada yang melihat kita walaupun cuma sekilas." *** "Jadi, apa yang kamu tau, dari isi hp saya yang berhasil kamu lihat kemarin?" Kezia tidak langsung memberikan jawaban, entah objektif atau masih disertai cerita-cerita pendukung seperti bagaimana ia harus menyasar sampai toilet laki-laki padahal jelas ada logo tertera di pintu awal masuk. Bodoh benar kalau dibeberkan bagaimana rentetan cerita, Kezia bisa sampai menemukan handphone Mahesa. Mahesa menggelengkan kepalanya buru-buru, saat Kezia masih ragu-ragu untuk menjawab sejujur-jujurnya atau setidaknya setahunya agar Mahesa sedikit lega dengan penasarannya. Baru saja masuk kamar dengan membawa handphone yang waktu di kampus ditemukan Kezia, rasanya Mahesa sedikit tidak percaya atau bahkan sama sekali tidak percaya kalau Kezia tidak tahu apa-apa tentang hal-hal di dalamnya. Mahesa memilih pura-pura percaya, karena rasanya kalau benar-benar percaya, seorang Kezia tidak sepenuhnya bisa dipercaya. "Mahesa, udah makan siang?" Mahesa buru-buru menoleh ke arah suara yang terdengar dari ambang pintu kamarnya. Rupanya suara itu adalah suara Tante Gress yang sedang membawakan makan siang untuknya. "Kalaupun udah, kalo Tante masakin buat aku juga, bakal tetep aku makan kok." Mahesa mengembangkan senyum termanis yang ia punya saat Tante Gress menaruh set makan siang untuknya di atas meja. Tante Gress mengembangkan senyum yang juga manis sepertinya, di saat yang sama Mahesa melihat mereka senyuman itu sejajar dengan foto Mama yang masih terpajang jelas di dinding bagian belakang. "Maaf Zi, saya terlalu—" Kezia buru-buru meraih tangan Mahesa dan menggenggamnya. "—Maaf Kak, aku udah nggak jujur." Kezia menatap sorot mata Mahesa yang kemungkinan terlihat tulus juga meminta maaf padanya. "Maaf kalau aku udah ganggu privasi kamu, Kak. Aku udah.. liat histori chat kamu sama seseorang yang nama kontaknya kamu namain.." Mahesa menggelengkan kepalanya cepat-cepat, diikuti gerakan tangan yang sengaja dilepaskan dari genggaman Kezia. "Zia, tolong. Jangan sebut apapun nama kontak yang kamu lihat di hp saya kemarin. Dan maaf.. selama ini saya kurang bisa menghargai kehadiran kamu yang sebenarnya memang ingin selalu ada untuk saya." Kezia sakit melihatnya. Melihat sosok yang ia kagumi sejak hampir tiga tahun lamanya, ternyata tidak sedingin yang orang-orang kira, tetapi justru selemah ini yang baru saja ia tahu kenyataannya. Yang Kezia tahu, Mahesa itu dingin. Entah hati dan juga cara berbicaranya. Yang Kezia lihat, Mahesa itu berwibawa, tegas dan disiplin. Sosok yang benar-benar cukup berbeda dengan dunianya yang selalu dimanjakan oleh Papa. "Maaf kalau saya sudah bersikap dingin sama kamu selama ini. Semenjak kejadian di mana Papa memilih wanita lain untuk menjadi pendamping hidupnya, saya rasa tidak ada harapan lagi untuk hati saya lebih baik dari sekarang saat seseorang ada yang mengetahui sedikit bagian cerita hidup saya. Karena mungkin seseorang itu bisa saja membocorkan semuanya pada siapa saja." Kezia buru-buru menggeleng dengan mengembangkan senyum pada wajahnya, tangannya digerakkan memegang tekuk sampai pipi dan pelipis mata Mahesa. Di sana ia diam saja sampai beberapa saat dan akhirnya memeluk Mahesa. "Itu nggak akan terjadi, Kak." Ucapan itu berakhir saat keduanya saling memeluk, atau lebih tepatnya hanya Kezia yang memeluk. "Buat apa aku ngebocorin semua privasi keluarga kamu? Bener-bener jahat kalau sampai aku setega itu, sama kamu." Baru kali rasanya Mahesa dipeluk sosok perempuan selain Mamanya setelah sekian lama ia mengharapkan ada keajaiban Mamanya bisa kembali memeluknya. Namun justru mengharapkan keajaiban itu membuatnya lelah, hampir setiap kali berharap, Mahesa rasa tidak sedikit Tuhan mengabulkan apa yang ia harapkan. Katanya memang dunia punya kontrol buat mewujudkan apa yang kita mau, tetapi apa alasannya dunia tidak mengijinkan Mahesa merasakannya. "Maafkan saya, Kezia. Hidup saya terlalu berantakan untuk kamu yang sudah terbiasa memiliki keluarga sempurna." "Nggak." Kezia melepas pelukannya terhadap Mahesa, baru setelah itu buru-buru menggelengkan kepalanya. "Aku yang minta maaf karena selalu ganggu hidup kamu selama ini. Aku nggak tau, kalau ternyata kamu nyimpen semua ini dalem-dalem, tapi cerobohnya aku yang segampang itu aku nggak sengaja tahu. Maaf kalau aku selalu buat kesalahan untuk kamu." Mahesa diam saja. Bahkan saat Kezia memeluknya, menangkup kedua pipinya dan menatap sorot mata dengan iris coklat gelapnya. "Tapi sejauh yang aku tahu apapun tentang kamu, aku nggak pernah mencoba lagi untuk bersikap seolah-olah aku yang paling deket sama kamu." Sebenarnya sulit untuk mengatakan ini, karena dalam hati Kezia sendiri masih sangat ingin menjadi sosok terdekat untuk Mahesa setelah hampir tiga tahun selalu gagal. Sayangnya Kezia tidak ingin egois hanya karena kemauannya, karena dari rangkaian kejadian kemarin sampai saat ini, baru sekarang Kezia bisa mengambil pembelajaran tentang arti mengikhlaskan. Di awal sudah jelas Kezia sangat bahagia Mahesa mau menerimanya sebagai sosok yang tahu sebagian cerita hidup laki-laki itu. Namun semakin ke sini saat Mahesa semakin pasrah apa yang akan dilakukannya selanjutnya, Kezia tidak mampu untuk merasa bahagia dibalik semua luka yang Mahesa rasa. "Aku akan tetep bersikap, jadi gadis ambisius yang ngejar-ngejar kamu dari SMA, sampai kamu sendiri yang akan bilang, jangan ganggu saya karena saya sudah mencintai orang lain. Karena cara mengikhlaskan yang paling mudah adalah dengan denger kabar kalau seseorang yang kita anggap special susah memilih jawaban dari hatinya." Mahesa terdiam saat baru kali ini Kezia bersiakp sedewasa ini. Selama yang ia tahu, Kezia itu adalah anak yang manja. Apapun yang menjadi keinginan Kezia, selalu gampang diwujudkan kedua orang tuanya tidak termasuk memilikinya. "Aku akan mundur, kalau kamu udah mutusin buat suka sama seseorang yang bukan aku." Kezia benar-benar tulus mengatakan ini. "Tapi aku akan terus maju, kalau kamu belum juga menemukan seseorang yang menjadi pilihan hati kamu. Karena lebih baik aku sakit karena seseorang yang aku anggap special selama ini ternyata udah milih cewek lain. Daripada aku harus gila, karena mundur deketin kamu, cuma gara-gara kamu selalu dingin sama aku." Kezia langsung membuang muka setelah kalimat yang dalam hatinya keluar dari beberapa detik saja bisa didengar sampai ke telinga Mahesa. Getaran hidup dalam nada-nada kuat olah bicaranya, Kezia sendiri tidak yakin semua yang ia katakan baru saja hanya sebuah ekspresi terbuka yang kadang-kadang muncul karena reaksi spontan. Sayangnya dari kemungkinan yang ada, Kezia rasa itu bukanlah hanya ucapan karena reaksi spontan, tetapi sebuah ungkapan ekspresi yang benar-benar menggambarkan apa yang hatinya rasakan sejak awal memutuskan memilih Aldo sebagai sasaran hati. "Tugasku cuma mencintai dan mengejar Kak, selebihnya ada di keputusan dunia menciptakan rasa ini dan kamu sendiri." Baru kali ini rasanya, Mahesa mampu merasakan bawa perasaan yang sedalam-dalamnya. Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN