Aku Kezia

1933 Kata
Kalau Mahesa sudah bilang, artinya memang itu lah yang akan ia lakukan. Jadi seperti bagaimana prinsipnya, hari ini Kezia harus pergi lokasi pemotretan diantarnya. "Saya di luar aja." Baru saat Kezia turun dari mobil, Mahesa baru mengaku tidak ingin ikut gadis itu masuk. Padahal yang mungkin Kezia tunggu adalah bagaimana Mahesa menepati janjinya untuk mengantar ke tempat pemotretan ini, setidaknya sampai di dalam. "Kenapa nggak ikut ikut masuk, Kak?" Kezia meluncurkan pertanyaan itu saat Mahesa seperti sedang menghindari pertanyaan-pertanyaan lain. "Hari ini pemotretan aku cuma sebentar kok, eh— nggak ada pemotretan sih sebenarnya. Cuma, ngeliat konsep yang bakal aku pakai besok. Maaf.." Mahesa mengangguk pelan dan tidak peduli apapun yang Kezia katakan di akhir. "Iya nggak papa, saya tunggu di sini aja. Cuma sebentar juga, kan? Jadi lebih baik saya di sini aja." Kezia memperhatikan gerakan bola mata Mahesa yang iris cokelat gelapnya terlihat malu-malu untuk balas menatapnya dalam. Kezia yakin, Mahesa tidak mau diajaknya masuk karena ya tidak perlu diperjelaskan juga, siapapun akan tahu kalau lebih dulu tahu latar belakang si oknum setidaknya sebagian kecil. "Ya udah kalau gitu." Buru-buru Kezia menjauh dari mobil Mahesa yang di parkiran di tempat terbuka. Langkahnya kini bergerak ke arah tepatnya lokasi pemotretan yang sama seperti sebelumnya melakukan kolaborasi dengan Rere. Sampai sebelum membuka pintu kaca yang tersedia, Kezia lebih dulu menolehkan kepalanya masih ke arah mobil Mahesa di belakang sana. "Hari ini Kak Yunus ada motret di ruangan mana ya?" Pertanyaan Kezia langsung diluncurkan saat pertama kali berada di dalam gedung pada seorang staff wanita. "Lantai dua mungkin, Kak." Kezia mengangguk setelah mendapatkan jawabannya. Pandangan matanya difokuskan mengikuti arah lift yang akan dinaikinya menuju lantai 2. Di dalam lift, pikiran Kezia masih terus diisi oleh ingatan-ingatan kebersamannya dengan Mahesa hari ini. Entah harus senang karena beberapa alasan, atau justru sedih karena ternyata Mahesa bukan seseorang yang sempurna seperti anggapannya selama ini. Begitu lift terbuka, yang Kezia pikirkan masih sama. Tentang bagaimana terang-terangannya mengatakan akan mundur jika Mahesa menyukai seseorang selain dirinya, seolah-olah hatinya akan baik-baik saja jika semua itu benar-benar terjadi. Padahal yang sebenarnya ia rasa, mau apapun alasannya, yang namanya memutuskan untuk mundur mengejar Mahesa adalah sebuah keputusan gila baginya seumur hidup. "Hai, Zi! Gimana kuliah hari ini?" Baru saja masuk ruangan di mana Kak Yunus sedang menjalankan pekerjaannya, pertanyaan yang sama seperti sebelum-sebelumnya kembali atau selalu diajukan ketika pertama kali menyapa. "Nah kan, Kak Yunus yang ditanyain pertama kali, selalu aja soal kuliah." Kezia mencoba merespon bosan bagaimana cara menyapa Kak Yunus yang sama seperti sebelum dan sebelumnya. "Nggak malah nanya, hari ini dianterin siapa? Kok nggak sama temen-temenmu?" Kak Yunus tertawa mendengar Kezia protes hanya karena sapaan membosankannya. "Ya kan, kalo kamu ke sini, selalu jam-jam pulang kuliah. Wajar aku nanya soal gimana kuliah kamu. Tapi btw, emang temen-temenmu dua itu kemana?" Kezia ingin tertawa saja saat pertanyaan itu diajukan padanya. Sampai sebuah senyum terselip di antara bibir bawah dan atasnya, sebelum di dekatkan ke arah telinga Kak Yunus dan laki-laki itu juga menurunkan posisi kepalanya. "Hari ini aku dianterin gebetan." Bisikan itu berhasil membuat Kak Yunus tersenyum puas karena Kezia juga kelewat senang dalam memberitahunya. "Terus di mana dia?" Wajah Kezia langsung berubah kurang semangat saat pertanyaan Kak Yunus tidak sesuai rencana pamernya. "Dia di bawah, nangkring dalem mobil. Mungkin malu ikut aku ke sini." Kak Yunus langsung menertawakan Kezia yang buru-buru mengubah raut wajahnya menjadi kesal. "Loh! Kenapa berubah gitu wajah kamu? Aku kan cuma nanya loh, mana aku tau kalau ternyata gebetan kamu nggak kamu ajak masuk." "Ya udah sih, nggak usah diomongin." Mata kesal yang Kezia perlihatkan pada Kak Yunus, kini dialihkan ke beberapa arah lain hingga berhenti di satu titik Rere baru saja masuk setelah menutup kembali pintu kaca utama. Arah pandangan gadis itu awalnya ke siapa saja yang ada di ruangan ini, tetapi setelah menemukan Kezia yang tepat berada dekat, Kezia justru menjadi sasaran utama. "Gue bisa minta waktu lo nggak?" Rere ternyata langsung mengatakan maksudnya menghampiri Kezia saat baru saja selesai mengobrol santai dengan Yunus. "Ada sedikit yang mau gue omongin." "Boleh sih, di mana?" "Di meja sana aja." Saat Rere menunjuk satu meja dengan dua kursi di ujung ruangan sana, keduanya segera menghampiri tempat yang dimaksud dan Rere duduk lebih dulu, baru setelah itu Kezia. "Katanya lo sama Aldo cuma sebatas kenal, kenapa pagi kemarin lo berantem sama Aldo?" Hampir saja ngakak mendengar itu, Kezia benar-benar tidak hampir pikir Rere mengajaknya mojok dari ruangan hanya untuk membahas Aldo, lagi. "Eh, jadi lo ngajak gue ngobrol di sini, cuma buat bahas Aldo? Nggak penting banget sih. Kirain mau diskusi soal konsep atau apapun yang berhubungan sama karir kita, lah ternyata oh ternyata.." "Emangnya kenapa sih?" Pertanyaan Rere yang kali ini terdengar seperti ada kekesalan dalam hati pengucapnya. "Nggak masalah kan gue nanya soal Aldo ke lo? Gue ceweknya, dan lo satu-satunya anak yang satu kelas sama kayak Aldo yang gue kenal." "Ehm, sorry." Kezia baru saja berusaha memberikan jeda untuk Rere yang hampir emosi menghadapinya. "Masa iya, lo nggak kenal temen-temen Aldo? Galih, Fajri, Sergio.." Rere menahan kekesalannya dalam-dalam, terlihat oleh Kezia tersimpan di bawah posisi dagu. "Lo nggak usah resek deh, gue kenal sama mereka. Sebenarnya lo mau nggak sih gue mintai tolong buat nanya-nanya soal Aldo? Kalo nggak mau kan yang bilang dari tadi." Kezia menghela napasnya hingga beberapa kali saat Rere dilihatnya cukup emosi menghadapinya. Seseorang yang menurutnya ber-atittude cukup bad ini ternyata benar-benar masuk dalam kamus ajaran sikap yang Kezia tentukan sendiri di otaknya. "Wait, lo yang butuh kok lo yang nyolot juga sih?" Rere masih memanas. Padahal Kezia belum mengeluarkan semua yang ia ingin katakan pada Rere yang sembarangan bicara ini. "Gue sebenernya mau-mau aja, lo tanyain. Tapi ya lo kalau nanya yang baik, jangan nyolot. Jatuhnya bukan nanya, malah gue kayak diintrogasi." "Kalau gue emang mau introgasi, mau apa lo?" "Introgasi buat?" "Buat sikap lo yang sembarangan nonjok hidung cowok gue dan cara lo bohong kalau ternyata lo sama Aldo nggak cuma sekedar kenal." Kezia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan arah mata yang ditatapkan ke bawah dengan senyum yang ditarik dari ujung bibir kanan. "Sebenarnya gue nggak ada kewajiban apapun sih buat jawab pertanyaan lo. Karena mau gue jawab atau nggak, lo nggak ada sama sekali hak buat maksa gue." "Lo nggak usah banyak basa-basi, bisa nggak sih?" Pertanyaan Rere yang kali ini kembali dinaikan satu oktaf dari nada sebelumnya yang membuat sosok Yunus di belakang sana menoleh ke arahnya. "Ok, ok, jadi gue jawabnya dari pernyataan pertama ya." Kezia ikut memalingkan wajah ke arah Yunus yang baru saja dibuat terkejut karena nada tinggi Rere. "Alasan gue nonjok Aldo kemarin pagi itu, karena Aldo duluan yang nyari perkara. Seharusnya dia cerita ini dong, ke lo. Lucu juga kalau dia laporan sama lo nggak lengkap, jatuhnya malu dong jadi cowok sampe dibelain ceweknya sendiri." Kezia itu simpel orangnya. Terlalu ribet untuk memikirkan apapun yang dipikirkan orang termasuk apapun respon Rere saat ia terang-terangan berbicara seperti bagaimana logat sehari-harinya. "Zia, gue udah coba ngomong baik-baik ya sama lo." Yang kali ini benar-benar lebih mengejutkan dari sebelumnya. Rere mengangkat tubuhnya dan berdiri di hadapan Kezia, seolah ingin melampiaskan saja kekesalannya pada Kezia saat ini juga. Sayang bukannya membuat Kezia takut atau merasa bersalah, gadis bermarga Mauran itu ikut berdiri dengan wajah tanpa rasa bersalah. "Ya terus lo pikir gue ngomongnya nyolot, apa nggak kebalik?" Yunus melihat Kezia dan Rere sama-sama berdiri dari posisi awal mereka yang masih duduk-duduk saja dalam menyelesaikan masalah keduanya. Kalau dari yang Yunus lihat mereka tidak sedang mengatakan sesuatu yang seru-seru tetapi justru memanas di tengah meja berbentuk bundar yang menjadi pembatas keduanya. "Asli resek ya lo, pantes aja kata Aldo lo nggak punya pacar dari SMA. Karena ya kenyataannya, lo seburuk ini untuk bisa diterima seorang cowok buat jadi pacar lo." Kezia hanya menyelinapkan senyum kecil saat Rere baru saja mengatakan satu fakta yang belum berubah sampai sekarang dan yang jelas baru Aldo saja yang berani mengejeknya karena hal ini. Waktu Kezia pikir apapun yang Rere katakan hari ini ternyata sama sekali tidak penting, Kezia justru segera membalikkan badan dan mengembangkan senyum sebelum membuka pintu kaca dan keluar ruangan. Rere buru-buru mengikuti Kezia, bahkan sampai Yunus harus menahannya untuk ditanyai. "Ada apa, Re?" "Bukan urusan lo." Rere berhasil membuka pintu kaca yang tersedia tanpa harus menjawab pertanyaan apapun yang Yunus ajukan padanya. Padahal bisa saja Yunus mengetahui sedikit tentang Kezia yang cukup dekat dengannya selama ini. "Zi, gue belum selesai ngomong ya buat lo." Rere mengejar Kezia bahkan sampai menaiki lift yang berbeda dan berhenti di lantai bawah yang sama, sampai akhirnya Kezia sendiri memilih berhenti di tengah pintu utama studio ini. "Lo mau apa lagi sih, Re?" "Gue mau, lo pindah kampus biar nggak bisa ketemu sama Aldo." Kezia spontan langsung menertawakan permintaan Rere yang jelas terdengar tidak masuk di akalnya atau siapapun yang mendengarnya. "Dih, siapa lo? Ngatur-ngatur banget soal hidup gue. Yang kuliah kan gue, yang bayar juga orang tua gue sendiri, terus lo ngapain tiba-tiba dateng minta gue pindah kampus gitu aja." "Lo nggak tau diri banget sih." Kezia masih berhenti di depan pintu utama gedung studio pemotretan ini. "Justru lo yang nggak tau diri, sembarangan nyuruh-nyuruh gue pindah kampus padahal nggak ngasih kontribusi apa-apa." Rere masih tidak akan terima kalau Kezia tidak mewujudkan apa kemauannya. "Ya udah, gue yang urus semuanya, termasuk berapapun biayanya." Rere berbicara tentang biaya pada Kezia yang jelas-jelas putri bungsu keluarga ternama dan kaya raya, Mauran. Orang tuanya pemilik sekaligus perintis Mauran Group generasi kedua. Salah sasaran kalau Rere ingin membiayai Kezia jika mau pindah kampus atas permintaannya. "Lo barusan.. bicara soal biaya?" "Iya. Berapapun biaya pindah lo ke kampus yang lain mau di mana pun itu, gue yang bakal bayar. Jadi lo tinggal terima bersih aja out dari kampus yang sama kayak Aldo." Sampai sekian kali pun, jika helaan napas Kezia dibutuhkan, ia akan tetap melakukannya. "Lo nggak tau gue siapa?" "Tau, lo itu cewek resek yang bilang ke gue kalo hubungannya sama Aldo cuma sebatas kenal karena satu kelas sejak SMA, padahal Aldo sendiri bilang kalau kalian sering berantem. Kurang munafik apa, coba?" Entah Kezia yang bodoh, atau keadaan yang benar-benar membuatnya bodoh hanya karena mendengarkan omong kosong Rere yang tidak ada habisnya. Ini adalah wujud asli obrolan tidak penting sama sekali yang terus saja Kezia dengar karena pengucapnya suka nyolot kalau tidak direspon. Kurang bodoh bagaimana lagi? "Aduh Re, omongan lo makin ke sini makin kacau deh." "Loh emang bener kan, lo itu munafik. Bilangnya nggak kenal sama Aldo, padahal kalian sering berantem. Aldo cerita detailnya ke gue." "Tapi Aldo ada cerita nggak, gue anak siapa dan berasal dari keluarga yang gimana?" Rere langsung terkesiap mendengar karisma Kezia saat bertanya sesuatu yang seolah akan menjebaknya, sayang ia tidak akan takut soal apa-apa. Lagi pula, mendengar anak siapapun Kezia dan berasal dari keluarga bagaimana pun juga si gadis di hadapannya ini, Rere rasa tidak ada salahnya. "Aldo sama sekali nggak ada cerita soal itu." Rere buru-buru melipat kedua tangannya di depan d**a. Seolah masih tersimpan sedikit dendam di dalam hatinya, tetapi mendengar yang Kezia akan ungkapkan tidak ada salahnya juga. "Kenalin." Saat Kezia mengulurkan tangan kanannya untuk menjabat tangan Rere, tanggapan Rere justru meremehkannya dengan senyum angkuh. "Oh, ok. Gue Kezia. Nama lengkapnya Kezia Azura Mauran, putri bungsu Keluarga Mauran. Bokap gue pemilik Perusahaan Mauran Group yang investornya selalu ngantri di mana-mana. Nyokap gue sendiri yang handle langsung proses kerja staff di perusahaan. Pasti pernah denger dong, soal Mauran Group? Kalau nggak ya.. kebangetan sih." Kezia meluncurkan sebuah ungkapan kenyataan itu dengan begitu sombongnya. Seolah sedikit fakta tentang nama lengkapnya saja, sudah cukup untuk membungkam Rere yang di awal berniat membayarkannya uang pindah kampus dengan gampangnya. Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN