Otak Kezia tidak berhenti bekerja sejak kemarin, benda berukuran kecil itu terus-menerus digunakan secara gila-gilaan. Walau tidak dipergunakan untuk mengurus negara, perwakilan rakyat, atau hal politik apapun, Kezia rasa kepalanya pasti pecah kalau semalam ia meladeni Aldo yang super ngeselin.
Mahesa buru-buru melewatinya, tanpa menoleh, menghiraukan, melihat bahkan menyapa. Kezia juga tidak sempat memikirkan si oknum sejak kejadian di toko buku waktu itu.
"Zi, itu Kak Aldo loh.."
Kezia sempat menoleh ke samping kanan kirinya saat Hira dan Sasi baru saja datang. Ia hanya mengangguk perlahan. "Iya, biarin. Emang nggak seharusnya gue terlalu ambis ngejar-ngejar dia."
Sasi tiba-tiba teringat kalau mereka bertiga pernah dimarahi Mahesa waktu di toko buku. Salah mereka juga sebenarnya, bisa-bisanya segampang itu melakukan penyelidikan tidak penting yang tentu saja menyangkut-pautkan sebuah privasi seseorang. Apalagi seseorang itu adalah Mahesa, crush Kezia sejak masuk SMA.
"Lo.. masih kepikiran soal kejadian di toko buku waktu itu?"
Kezia justru merespon dengan cengiran khasnya. "Ngapain gue kepikiran coba?"
"Emang lo nggak kepikiran?"
"Nggak."
Baru ketika Kezia menggeleng dengan keseluruhan rasa yakin yang dimilikinya, tiba-tiba saja sebuah tangan menarik backpack mininya hingga membuat tubuhnya ikut tertarik dan berbalik.
"ALDOO!"
Kezia langsung menaikkan kalimatnya setinggi dua oktaf dari sebelumnya. Kekesalannya langsung memuncak di bagian tengah atas kepala, siap meledak kapan saja jika sosok di hadapannya saat ini melontarkan satu kata saja.
"Nggak sopan banget narik-narik rambut gue, lo pikir rambut gue apaan?"
Aldo tidak memberikan respon apa-apa, kecuali melakukan gerakan jijik pada bagian jarinya yang baru saja ikut terkena rambut Kezia. "Dih, kutuan lo ya? Atau sarang ketombe? Jijik! Ketauan banget jarang kramas, minyak rambut lo bejibun tuh!"
"BUKAN URUSAN LO!" Kezia benar-benar kesal yang sama sekali tidak dibuat-buat saat ini. Perilaku Aldo terhadapnya memang kadang-kadang sama sekali tidak bisa dimaafkan, tetapi ada juga yang bisa walaupun itu tetap saja terpaksa. "Ngapain sih lo narik-narik rambut orang sembarangan? Nggak sopan banget.. heran."
"Kalau tau rambut lo kotor kayak gitu, gue juga nggak bakal megang sampe narik kali."
Kezia memendam perasaan kesalnya dalam-dalam. Kedua tangannya buru-buru dilipat di depan d**a dengan posisi kepala yang agak dimiringkan seolah sedang mengintrogasi laki-laki gila yang satu ini.
"Tangan lo aja yang dari sananya udah kotor, segala ngomongin rambut gue kutuan, ketombean apalagi segala macem."
Aldo tertawa kecil. Tiga orang laki-laki di belakangnya juga ikut-ikutan saja. Sementara sosok gadis berambut panjang di depannya masih terlihat mengebulkan asap dari kedua lubang hidungnya. Sampai akhirnya ia sendiri yang bosan dan memutuskan untuk masuk kelas, tetapi kini giliran Kezia yang menarik kerah bajunya.
"Baru aja narik sembarangan tas orang dari belakang kayak nggak punya sopan, sekarang lo mau pergi gitu aja tanpa dapet perhitungan dari gue?"
Aldo masih berusaha meremehkan Kezia. Ia hanya tertawa seolah Kezia memang tidak ada apa-apa persis seperti bagaimana ucapannya sendiri yang bilang kalau Kezia tidak lebih dari anak manja yang bersembunyi sebagai sosok pengancam yang handal. "Lo mau apa sih, ha?"
Aldo melangkahkan kakinya semakin mendekatkan wajahnya pada Kezia. "Mau apa, Kezia?"
Kezia masih menahan kekesalannya dalam-dalam sembari menunggu waktu yang tepat untuk mematahkan hidung Aldo dalam hitungan detik. Laki-laki playboy di depannya benar-benar sudah tidak bisa ditoleransi kesalahannya, setidaknya untuk saat ini.
"Mau nonjok lo!"
Bugh!
Benar-benar dalam hitungan detik saja, Kezia menonjok wajah Aldo bagian hidungnya sampai si korban hampir saja terbengkalai ke belakang jika tidak ada Galih, Sergio dan Fajri yang memberikan pertolongan pertama.
Rasanya sedikit plong bagi Kezia, apa yang dia katakan benar-benar ia akan lakukan. Jadi begitu selesai memberikan hukuman pada Aldo, segera saja ia pergi ke dalam kelas bersama kedua temannya.
"Gila Bos, dia beneran Kezia yang kita kenal?"
Galih langsung mengajukan pertanyaaan yang jelas-jelas tidak bisa dijawab oleh siapapun yang kini berada di sana. Termasuk Aldo yang merasa hidungnya hampir patah dibuat Kezia.
***
"Guys, gue ke toilet dulu ya!"
Hira dan Sasi sama-sama saling mengangguk saat Kezia mengatakan akan pergi toilet. Mungkin seperti kebanyakan gadis pada umunya, memastikan dulu penampilan masih fresh atau amburadul sebelum pulang ke rumah. Begitu pikir mereka berdua, sebelum memutuskan duduk di bangku yang ada di teras kelas.
Kezia mempercepat langkah kakinya, entah tidak sabar touch up atau memang sedang menahan pipis. Begitu sampai di area toilet, Kezia segera masuk dan memilih dari deretan beberapa ruang toilet.
Setelah selesai, buru-buru Kezia keluar dari satu ruangan yang dipilihnya tadi. Lalu ia berjalan ke arah wastafel tempat biasanya orang-orang mencuci muka, mencuci tangan atau sekedar bercermin. Di sana, tiba-tiba tatapan matanya menemukan sesuatu, sebuah handphone yang layarnya sedang menyala memperlihatkan chat yang—
Nama kontaknya kok, Tante Caper(istri Papa).
—sampai situ saja Kezia rasanya ngilu membacanya. Namun karena hasrat penasarannya, Kezia akhirnya memberanikan membuka isi chat handphone entah milik siapa itu.
[Hari ini nggak bisa dateng ya, Mahesa?]
[Nggak Tan.]
[Tante tau pasti kamu risih setiap hari Tante tanya hal yang sama, tapi Tante cuma mau kamu secepatnya bisa masuk ke perusahaan Papa kamu.]
[Tapi aku nggak siap.]
[Entah sebenarnya kamu beneran nggak siap, atau memang tidak pernah menyiapkan diri. Tapi perusahaan Papa kamu, suatu hari nanti pasti membutuhkan pewarisnya, satu-satunya itu adalah kamu.]
[Masih simpang siur.]
[Kenapa.. apa semua ini karena masih ada banyak kenangan tentang Mama kamu? Maaf kalau tiba-tiba Tante nggak sopan, nanya-nanya ini ke kamu. Tapi Tante cuma mau.. kamu dapet keseluruhan apa yang seharusnya jadi milik kamu.]
[Nggak mungkin, udah begitu banyak hal dari keseluruhan yang seharusnya aku punya ternyata hilang dan pergi gitu aja. Lagian Mama juga udah masa lalu di keluarga ini, kenangan apapun soal Mama nggak akan mengubah fakta kalau Papa udah nikah sama Tante.]
Kezia membungkam mulutnya, melihat bagaimana chat itu ternyata begitu menyakitkan untuk dibaca. Namun dengan gampangnya, ia membaca chat itu seolah tidak akan ada seseorang yang marah karena privasinya tidak sengaja diketahui orang lain.
"Kamu apakan hp saya?"
Dan.. begitu tiba-tiba saja suara Mahesa menggema di seluruh ruangan yang ada di toilet ini, Kezia sontak berjingkat kaget dan detak jantungnya langsung tidak beraturan.
Mahesa buru-buru menarik handphone-nya sekuat yang ia bisa agar Kezia mau tidak mau menyerahkan benda pipih itu. "Saya tanya Kezia ya.. kamu apakan hp saya?"
Kezia hampir saja kabur dari ruangan ini, jika Mahesa tidak menahan kedua lengannya seolah memastikan Kezia tidak melakukan apapun di luar dugaannya.
"Nggak aku apa-apain Kak."
Mahesa mungkin tidak bisa langsung percaya. Lebih dulu ia menatap dalam-dalam wajah Kezia yang terlihat ketakutan terhadapnya. Karena memang bisa saja, Kezia mengetahui sesuatu dari kesempatan tidak disengaja ini.
"Serius. Buat apa aku bohong buat persoalan yang nggak penting buat aku?"
Sudah gila kalau Mahesa mengelak ucapan Kezia atas dasar alasan Kezia yang selama ini menyukainya.
Bersambung.