"Kak, sorry aku telat."
Yunus baru saja membenarkan posisi Kezia agar bisa tampil sempurna di hadapan kamera. Dalam sekali itu, ia langsung menoleh ke arah suara yang memanggilnya dan didapati seorang gadis yang sama persis seperti kata Sasi.
"Sas, lo yakin dia orangnya?"
Hira berbisik kala seseorang yang baru saja datang itu melewatinya dan Sasi untuk menuju ke arah fotografer Yunus.
"Gue udah coba mengingat seribu kali, tapi emang beneran dia orangnya?"
Sasi mengangguk-angguk. Sementara sosok model yang tengah melakukan pemotretan di depan sana, ikut mengamati si gadis yang baru saja datang dan kedua temannya.
"Ya udah, nggak papa." Yunus langsung menghentikan proses memotret Kezia saat Rere berusaha mendapatkan maafnya. "Untung hari ini bos nggak ngawasin langsung, lo masih selamat. Jadi daripada lo terus aja minta maaf kayak gini, mending pergi ke ruang make up sana."
Yunus langsung terus terang, ia sebenarnya bisa lebih tegas lagi kalau apa yang modelnya lakukan lebih dari ini. Seperti tidak sengaja terlambat, tetapi tidak mengakui kesalahan, dan sama sekali tidak minta maaf padahal jelas Yunus diam karena mengetes atittude model-modelnya. Jadi menurutnya, perilaku Rere masih sangat wajar dan normal.
"Model yang bakal collabs sama aku, dia ya Kak?"
Yunus masih mengecek beberapa jepretannya terhadap Kezia sejauh ini. "Iya, padahal dia nggak pernah telat loh. Datang ke lokasi pemotretan di selalu tepat waktu bahkan bisa aja paling awal."
"Wow."
Yunus terus melakukan pekerjaannya dalam memotret Kezia yang juga masih memasang pose siap potret. "Beneran. Dia benar-benar model yang handal di sini, persis kayak kamu. Difoto sama sekali nggak kaku, dia kayak udah berpengalaman banget. Kayaknya kamu bakalan cocok deh kalo disandingin sama dia, majalah keluar terbaru kali ini pasti pecah karena ada sekaligus kalian berdua."
Kezia mengubah pose, tetapi mode pikirannya masih berpikir. "Masa iya, sih?"
Yunus memotret Kezia lagi, entah yang kesekian kali. "Iya. Pihak majalah emang mungkin juga udah nunggu moment-moment ini deh, karena mempertemukan kalian dari dua tahun lalu tanda tangan kontrak di sini. Aku sama sekali nggak nemu, alasan mereka nggak buat collabs antara kalian berdua sejak lama. Tapi menurut perkiraan mentok aku sendiri, mereka sengaja buat kalian collabs di titik yang mana penjualan majalah akan langsung melesat."
Kezia berulang kali melakukan pose yang selihainya, Yunus juga tetap memasang posisi siap memotretnya sembari mengobrol dan menunggu Rere keluar dari ruang make up.
"Biasa, strategi pasar."
"Strategi yang mana dulu nih, Kak?"
Suara Rere tiba-tiba membuat Kezia menoleh dari posisi awal posenya, sementara Yunus juga menurunkan kamera seraya menatap modelnya yang lain baru saja keluar dari ruang make up. Yang Yunus lihat, strategi pasar perusahaannya benar-benar tidak pernah meleset. Konsep mewah yang dibawakan Kezia dan Rere pasti akan benar-benar membuat penjualan majalah kali ini meledak menurut firasat kuatnya.
"Strategi perusahaan lah." Yunus mengarahkan Rere untuk agak mendekatkan tubuhnya pada Kezia yang duduk di kursi berwarna putih."Mereka benar-benar nggak salah langkah, baru minta kalian berdua collabs sekarang."
Rere memainkan gerakan tangan, kaki dan anggota tubuh lainnya untuk berpose selayaknya model profesional bahkan tanpa sedikit pun arahan dari Yunus kecuali diminta agak mendekat ke arah Kezia. "Ya, aku mah ok-ok aja. Asal gajinya lancar, gue berangkat."
Oh, jadi ini Rere. Tidak sedikit yang membuat Kezia mengatakan 'oh' berkali-kali di dalam hatinya. Pertama, ia baru tahu kalau Rere orangnya sangat santai dan lugas dalam berbicara, terus terang, apa adanya dan yang pasti tidak kebanyakan basa-basi. Kedua, bagaimana Rere berpose benar-benar sama persis seperti yang Kak Yunus deskripsikan sebelum si doi oknum datang, sangat lihai sama sepertinya. Ketiga, pikiran Rere yang sangat realistis. Kesan pertama Kezia waktu Rere bilang asal gaji lancar, di situ pikirannya langsung bisa tahu, kalau Rere benar-benar mementingkan apa yang sudah di depan mata. Dan terakhir, tentang bagaimana kata Sasi kalau Rere kemungkinan besar adalah salah satu dari beberapa cewek Aldo yang sempat mampir ke kampus. Ternyata.. cewek kayak gini type Aldo?
Sebenarnya bukan masalah meremehkan atau apa, tetapi yang Kezia tahu dan rasakan itu lah yang menjadi topik utama dalam pemikirannya dalam menilai seseorang.
"Zi, lo agak ke kanan deh."
Kezia mengikuti instruksi Yunus yang menyuruhnya agak menjauh dari Rere yang memasang ekspresi super sesuai dengan konsep kali ini.
"Lo anak Trisakti, ya?"
Kezia buru-buru melirik wajah Rere yang berpose di dekatnya dengan berdiri. "Iya, Mbak. Kok Mbak Rere tau?"
"Dua cewek yang duduk di sana itu temen lo, 'kan?"
Rere mengarahkan bola matanya ke arah Hira dan Sasi yang juga sama-sama mengarahkan mata pada pemotretan ini. Kezia bisa melihat itu, setelah Rere hampir mengembangkan senyumnya.
"Iya, mereka temen-temen gue."
"Gue pernah ketemu sama yang sisi kanan waktu ke kampus lo." Rere berpose sesuai kelihaiannya dan masih meneruskan bicaranya. "Waktu itu, gue lumayan bingung nyari-nyari kelas cowok gua yang kuliah di kampus yang sama kayak lo. Dan gue ketemu temen lo yang itu, tapi sebelum nanya—"
Rere baru saja diambilkan kursi yang sama seperti yang Kezia gunakan, untuk berpose duduk di sana.
"—cowok gue udah nongol duluan." Di akhir kalimat penjelasan Rere, Kezia sedikit mengeluarkan tawa. "Ya auto gue batalin buat nanya ke temen lo."
Oh. Nyatanya oh yang terakhir masih ada lagi, tentang ternyata Rere si pacar suaminya sangat bucin di luar dugaannya.
"Pacar lo.."
"Namanya Aldo, kalo lo anak kelas ekonomi pasti tau."
Kezia mengangkat sedikit sudut bibir kanannya, namun tidak terlalu tinggi. Hanya samar-samar tetapi Kezia yakin Rere tidak memperhatikannya.
"Gue kenal. Kita satu kelas bahkan dulunya baik-baik juga satu sekolah dan kelas yang juga sama."
Rere langsung menoleh ke arah Kezia, seolah menandakan ia terkejut dengan beberapa rentetan kenyataan kalau Aldo dan Kezia cukup dekat. Walau tidak terdefinisikan dengan jelas, Rere rasa Kezia bukan saingan yang bisa diremehkan. Berlebihan memang, tetapi Rere menjaga ketat Aldo hanya pada perempuan-perempuan tertentu yang sekiranya memang benar-benar memberikan ancaman. Kalau hanya pacar-pacar cadangan yang di bawah sepengetahuannya, Rere rasa Aldo akan secepatnya bosan. Sayang menurutnya akan beda cerita kalau Kezia yang menjadi ancaman penjagaan ketatnya terhadap Aldo.
"Deket juga ya?"
Kezia justru langsung merespon tertawa. "Sama sekali nggak. Gue sama Aldo cuman sebatas kenal, nggak lebih. Kalo lo mungkin mikir jauh karena gue bilang dari awal SMA sampai kuliah sekarang, masih satu kelas sama Aldo, lo salah besar. Gue sama Aldo sama sekali nggak deket, benar-benar cuma sebatas ya.. kebetulan aja bisa satu kelas selama ini, udah."
Rere akhirnya mengembangkan senyum lega, tetapi Kezia juga tidak terlalu percaya itu natural sebagaimana adanya. "Oh, bagus deh."
"Sayang, aku pergi dulu ya. Papa aku udah nelfon aku bolak-balik dari tadi." Sebuah suara yang Kezia, Hira dan Sasi sangat kenali tiba-tiba menggema dari pintu masuk tempat pemotretan ini. "Aku harus buru-buru ke kantor karena udah ditungguin sama Papa Mama."
Kezia langsung berhenti to satu titik saat mata beredar mencari sosok yang sedang berbicara pada Rere hanya melalui pintu ruangan ini. Hira dan Sasi juga melakukan hal yang sama, mereka berdua langsung membulatkan mata melihat ternyata benar-benar Aldo yang ada di sana.
Yang menjadi pusat perhatian tatapan pada gadis-gadis langsung membeku. Walau begitu, ia di sini adalah untuk mengantar Rere bukan berurusan dengan siapapun itu, termasuk Kezia si istri sahnya.
"Iya.. kalau nanti sibuk, nggak papa nggak usah jemput biar aku naik taxi aja."
Aldo menggelengkan kepalanya di ambang pintu ruangan pemotretan sana. "Nggak perlu, nanti selesai urusan aku di kantor, aku langsung jemput kamu secepatnya di sini. Jadi kamu pulangnya tetep sama aku, ok?"
Rere mengangguk karena diperhatikan di depan semua orang. Bahkan di depan gadis yang hampir saja membuatnya harus lebih hati-hati menjaga pacarnya termasuk juga.
Aldo pergi, meninggalkan kesan bertanda tanya di pikiran Kezia dan Sasi.
"Katanya cuma sebatas kenal, kenapa ngeliatinnya gitu banget?"
Kezia buru-buru menyadarkan diri setelah menatap Aldo pergi dari jangkauan pandang matanya. "Lo apaan sih, cowok lo bukan type gue."
"Dih, songong juga lo."
Oh, lagi. Akhir kesan Kezia terhadap Rere sebagai rekan modelnya adalah cara bagaimana gadis itu sembarangan menuduh orang tanpa sopan dan mengatakan sejujur-jujurnya yang kemungkinan dirasa tidak sampai kepikiran perkataan itu dibenarkan apa tidak.
-Bab selanjutnya-
"Jadi lo kerja di perusahaan majalah itu?"
Baru juga Kezia membuka pintu kamar, sambutannya sudah pertanyaan agak pahit dari Aldo yang sempat membuatnya ingin memukul laki-laki ini saja waktu pertama kali menahan gejolak amarah.
Kezia bungkam sampai setidaknya ia sampai di depan kamar mandi untuk siap masuk ke dalam sana. Pertanyaan Aldo bukan masalah, tetapi yang jadi masalah adalah bagaimana pacar Aldo ternyata super bad attitude menurutnya.
"Waduh, ini model ternama tapi fungsi telinganya nggak normal ya?"
"Terserah apa kata lo, gue capek."
Aldo buru-buru berdiri dari awal posisi terlentang memainkan handphone-nya. "Eits! Lo lesu banget habis pulang dari kerja lo.. Kenapa?"
Kezia sama sekali tidak tertarik dengan apapun yang Aldo katakan. Apapun.
"Jangan bilang lo cemburu karena tau temen model lo, adalah cewek gue?"
Kezia baru akan masuk ke dalam kamar mandi, sayang ucapan Aldo yang baru saja hampir membuatnya muntah, untung kesabaran menyelamatkannya. "Lo kalo ngomong pake otak dikit kenapa sih? Nggak usah banyak-banyak, dikiitt aja nggak papa. Biar nggak ngaco ngomongnya."
"Halah.. bilang aja lo cemburu, 'kan?"
"Do, gini ya." Kezia dengan sabar menghela napas dan berusaha memberikan pengertian pada Aldo yang super ngeyel terhadapnya. "Dari segi yang jelas bisa dilihat mata aja deh, gue sama dia udah beda level woy. Gue jauh lebih cantik dari cewek lo, selanjutnya juga gue nggak pernah sudi suka sama lo apalagi sampek cemburu segala."
"Mana ada maling mau ngaku."
"Yang emang nggak ada."
Kezia sudah kehabisan respon di saat energinya yang sudah hampir terkuras habis setelah pulang pemotretan bersama Rere dan Kak Yunus. Collabs kali ini benar-benar membuatnya jadi tahu kalau sosok yang dianggap Aldo sempurna ternyata tidak ada apa-apa di matanya.
Bersambung.